11/02/2026
Aku Benci Larangan Ibu (Hingga Aku Menjadi Ibu)
Dulu, rumah bagiku adalah penjara dengan aturan besi yang dibuat oleh satu orang: Ibu.
"Jangan pulang lewat jam tujuh malam," "Jangan pakai baju seketat itu," "Jangan berteman dengan si itu, dia pengaruhnya buruk," hingga "Jangan makan pedas malam-malam, nanti perutmu sakit."
Aku tumbuh dengan rasa sesak. Bagiku, Ibu adalah sosok yang hobi merusak kesenangan. Aku pernah sengaja melanggar aturannya hanya untuk melihat wajahnya yang merah padam karena marah. Saat itu, aku berpikir Ibu hanya ingin berkuasa. Aku berjanji pada diriku sendiri: "Kalau nanti aku punya anak, aku akan jadi ibu yang keren, yang membebaskan segalanya."
Waktu berlalu. Aku menikah dan akhirnya menimang bayiku sendiri.
Malam itu, di tengah hujan badai, anak perempuanku yang berusia tiga tahun tiba-tiba demam tinggi. Aku panik luar biasa. Aku terjaga sepanjang malam, mengganti kompres setiap lima belas menit, dan berdoa dalam tangis agar rasa sakitnya pindah kepadaku saja. Saat itulah, sebuah ingatan muncul: bayangan Ibu yang duduk di samping tempat tidurku saat aku tipus, dengan mata yang merah karena kurang tidur selama berhari-hari.
Saat anakku mulai beranjak remaja, aku mulai berubah menjadi sosok yang dulu aku benci.
"Jangan pulang terlambat, Nak, di luar berbahaya," kataku suatu sore. Anakku menghentak kaki, menatapku dengan tatapan tajam yang sangat kukenal—tatapanku dulu kepada Ibu. "Mama cerewet banget! Mama nggak mau aku bahagia ya?" teriaknya sebelum membanting pintu kamar.
Aku terpaku di depan pintu. Hatiku perih, bukan karena bentakannya, tapi karena baru saat itu aku paham.
Setiap larangan yang Ibu ucapkan dulu bukan karena dia ingin berkuasa, melainkan karena dia ketakutan. Ketakutan akan dunia yang jahat, ketakutan akan rasa sakit yang mungkin menimpa buah hatinya, dan ketakutan bahwa dia gagal melindungiku.
Malam itu, aku menelepon Ibu. Begitu suaranya terdengar di ujung telepon, air mataku luruh.
"Bu, maafkan aku. Sekarang aku mengerti kenapa Ibu dulu selalu bilang 'jangan'."
Ibu di seberang sana hanya terkekeh pelan, suara yang kini terdengar begitu menenangkan. "Selamat datang di klub 'Ibu yang Cerewet', Nak. Sekarang kamu tahu, kan, kalau cinta itu memang sering kali terdengar seperti omelan?"
Aku menutup telepon, menatap pintu kamar anakku, dan tersenyum tipis. Aku akan tetap menjadi ibu yang cerewet, karena sekarang aku tahu, di balik setiap kata "jangan", ada doa yang tak putus agar ia baik-baik saja.