06/01/2021
Dalam keadaan sedikit kesal, Fatir pun pergi membeli makan malam dengan sedikit rasa kesal di hatinya. Tetapi bagaimanapun rasa kesal itu, ia tetap berusaha menerima apa yanh sudah dipilihkan oleh kesua orang tuanya. Karena fatir percaya, hidupnya akan mendapat ridho Allah jika perjalanan hidup yang ia tempuh juga mendapatkan ridho dari orang tuanya.
Dalam perjalanan.
HP Fatir berdering, ternyata itu adalah panggilan dari Ayah Nadia.
Ia memasang headset yang ada di dashboard mobil, agar bisa berbicara dengan tenang sembari menyetir.
"Assalamualaikum, Om. Ada apa?"
"Waalaikumsalam, Nak. Bagaimana keadaanmu, baik-baik saja?"
"Alhamdulillah baik, Om."
"Sukurlah. Om tak perlu lagi menanyakan kabar Nadia, karena dengan melepasnya hidup denganmu pasti ia akan baik-baik saja. Benar bukan?"
"Alhamdulillah Nadia baik, Om. Pasti aku selalu menjaganya dengan baik," ucap Fatit. Di sambut gumaman dalam hati 'justru hidupku yang tidak baik karenanya.'
"Sukurlah. Lalu bagaimana hubungan kalian, sudah mulai membaik bukan? Om berharap, semakin lama Nadia akan semakin bisa mengerti dan berubah lebih baik. Walaupun sampai kini, ia terus meminta bercerai denganmu saat di telepon. Tapi tak pernah om dengarkan."
"Ya, Alhamdulillah, Om ... Aku akan coba perlahan memperbaiki sikap kekanakannya. Karena sudah tugas sebagai imam yang baik, untuk membimbing makmumnya. Begitu kan, Om?"
"Ya, benar, Nak. Itulah mengapa Om yakin. Kamu adalah orang yang tepat buat anak Om satu-satunya itu. Oh ya, Nak. Kalau ada waktu kamu bisa datang ke rumah?"
"Ke rumah? Insha Allah aku usahakan. Kapan dan ada masalah apa, Om?"
"Begini, Nak. Saat ini Om sudah mulai sakit-sakitan. Sementara, sekarang hanya hidup sendiri dengan pembantu semenjak Mama Nadia wafat. Ada sedikit yang mau diserahkan ke kamu."
Seketika.
Fatir merasa heran. Apa yang akan diberikan? Sedangkan pemberian pertama saja dengan menyerahkan Nadia, sampai kini masih membuat hidupnya penuh konflik. Lalu, akan ada konflik apa selanjutnya?
"Maaf kalau boleh tahu, apa itu, Om?"
"Om mau berhenti berbisnis dan ingin menikmati masa tua. Jadi Om mau kamu yang meneruskan bisnis ini. Kamu bisa, 'kan?"
"Tapi saya masih bekerja, Om. Tidak mungkin ...."
"Kamu resain saja. Om yakin, dengan meneruskan bisnis ini. Kehidupan kamu dan Nadia pasti lebih baik. Percayalah."
"Baiklah, Om. Nanti kita sambung lagi, ya. Ini aku lagi beli makan malam."
"Ok, Nak. Om tunggu kedatanganmu. Salam buat Nadia, ya. Assalamualaikum ...."
"Iya, Om. Waalaikumsalam ...."
------------------------------
Bagi Fatir.
Harta bukanlah segalanya, karena ia seorang pekerja keras yang selalu ingin berhasil karena kerja keras bukan pemberian. Apalagi, memegang sebuah amanah bukanlah hal yang mudah baginya.
Tapi jika ditolak.
Mungkin nantinya ia akan melukai orang yang sudah yakin memberikan kepercayaan padanya. Dan itu sulit.
Malam itu dalam perjalanan kembali, ia terus galau memikirkan pembicaraan Ayah Nadia barusan. Bagaikan memakan buah Simalakama.
Sesampainya di rumah.
Fatir turun dari mobil dengan membawa beberapa bungkusan makanan. Setelah membuka pintu, keadaan rumah terlihat sunyi. Bahkan suara TV di kamar Nadia pun tak terdengar.
Ahh ...pasti Nadia sudah ketiduran. Tapi aku harus membangunkannya, agar tidak sakit karena belum makan.
"Nad ... Nadia?"
Fatir terus memanggil sembari mengetuk pintu. Tetapi tidak ada jawaban, sampai akhirnya Fatir memutuskan masuk ke dalam kamar. Dan benar, ternyata Nadia sudah tertidur dengan HP masih di telinga. Sepertinya ia ketiduran.
Seketika.
Fatir terdiam melihat Nadia tidur hanya menggunakan tanktop dan celana pendek, yang hanya berukuran satu jengkal dari pinggang sang Istri. Bagaimanapun, Fatir adalah lelaki normal. Tubuhnya bergetar karena takut tak mampu menahan diri karenanya.
"Nad ... Nadia ... bangun. Makan malam dulu," ucap Fatir sembari menggoyang telapak kaki Nadia.
Tak lama.
Nadia terbangun dan langsung terkejut!
"Hahh! Kamu mau apa?! Pergi atau aku tetiak sekarang!"
"Bukan begitu, Nad. Aku mau bangunin kami buat makan malam. Lagian, aku mana doyan lihat wanita kurus kaya kamu," cetus Fatir sembari membuang muka.
Bukannya marah.
Nadia justru menggoda dengan mendekati Fatir sembari berbisik di telinganya.
"Bener, Om? Kami tidak tergoda denganku? Bukankah aku wanita muda yang seksi?"
Seketika, tubuh Fatir bergetar.
Kini jarak Nadia dengan dirinya hanya benerapa centimeter saja.
"Nad ... pakaian lihat pakaian kamu. Jangan begini, aku takut ...."
"Kenapa, Om? Kamu bergairah denganku? Silakan saja," ucap Nadia sembari berbisik mendesah.
"Nad ... stop. Jangan seperti ini."
Jantung Fatir semakin berdegub kencang. Sampai akhirnya Nadia mengatakan.
"Hello ... Om-om buncit! Selamat, Anda kena PRANK! Sudah, aku mau makan," ucap Nadia sembari berjalan ke luar pintu kamar.
Sementara.
Fatir menghela napas panjang, sembari beristighfar. Astaghfirullahaladzim ...
Saat hendak ke luar kamar, Fatir melihat HP Nadia yang masih menyala. Ternyata sejak tadi, panggilannya masih berlangsung. Dan yang paling mengejutkan, tercantum nama Bram di sana. Mantan kekasih Nadia.
Dan entah kenapa, Fatir merasa sedikit sesak di dada saat melihatnya.
Apakah kini, sudah ada cinta untuk Nadia?
-----------------------------
Next?
Jangan lupa subscribe dan bintang limanya di KBM App. Biar cepat update. ππ
Link: https://kbmapp.com/book/detail/ac809112-3cba-af64-a85e-0964c114bce0?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b