The Khan

The Khan Perkayalah dirimu dengan harta, maka cobaan hidupmu akan semakin besar. Perkayalah dirimu dengan membaca, maka pengalaman hidupmu akan semakin bertambah

17/07/2021
Yang mau tau aja 😏
17/07/2021

Yang mau tau aja 😏

10/01/2021

(Wanita Teman Tidurku)


Semua hal aneh itu dimulai saat aku menginjak kelas tiga Sekolah Dasar. Saat semua anak yang seharusnya lebih banyak bermain dengan teman sebaya, tapi tidak bagiku. Aku lebih senang menyendiri. Baik saat di sekolah maupun saat berada di rumah. Mungkin, sebahagian dari mereka menganggapku seorang anak yang bodoh dan kurang pergaulan. Walau hal itu dapat kutepis dengan hasil rapor yang tak pernah keluar dari grup tiga besar di kelas.

Ya. Seperti itulah keadaan yang mereka lihat. Tetapi tidak dengan yang kulihat. Saat mereka melihatku berbicara seorang diri, itu tidak benar. Saat aku terlihat tertawa seorang diri, sesungguhnya itu salah. Saat itu, ada seorang wanita berambut panjang yang s**a datang saat aku sedang bermain seorang diri. Ia sering mengajak untuk bermain petak umpet, menggambar, bahkan kadang kami bermain ke salah satu rumah yang telah lama kosong. Tempat di mana ia s**a duduk di atas atap atau mengintip dari balik jendela.

Saat di sekolah. Aku mempunyai teman bermain yang bernama Kliwon. Ia seorang anak baik, walau sekalipun aku tak pernah melihatnya ikut belajar atau mengenakan seragam sekolah. Tapi ia anak baik, tak pernah sekalipun mengejek atau menjahatiku seperti anak-anak lainnya. Bahkan kadang, ia selalu membantuku saat yang lain menjahati. Seperti melempar atau kadang menunjukkan wajah buruk, yang kadang aku sendiri ikut ketakutan saat melihatnya.

----------------------------------------

"Kamu sedang bermain apa, Dek?" tanya Ibu yang menegurku saat sedang mencoret-coret sebuah buku gambar di ruang tamu.

"Lagi menggambar, Bu. Ibu mau lihat?" tanyaku polos.

Sejak kecil. Aku sangat s**a dengan pelajaran menggambar. Bahkan, hampir setiap minggu Ibu harus membelikan buku gambar yang baru. Karena telah habis kucoret dengan bermacam gambar.

"Ia sini. Ibu mau lihat."

Ibu datang sembari mengambil buku gambar yang ada di hadapanku. Ia terdiam, kemudian menatap ke seluruh sudut ruang tamu.

"Apa ini, Nak? Siapa yang sedang kamu gambar?" tanyanya.

Aku hanya menunjuk ke dia. Seorang wanita berambut gimbal yang sedang duduk, tepat di depanku. Rambutnya panjang terurai, tetapi agak berantakan. Ia tersenyum dengan wajah seperti sedang memakai bedak yang cukup tebal. Sangat putih.

"Siapa, Nak?" tanya Ibuku sekali lagi.

"Sudah, Bu. Ibu gak akan kenal dia. Biar aku terusin menggambarnya," cetusku.

"Sudah jangan gambar ini lagi. Kamu gambar yang lain saja," ucap Ibu sembari membawa gambar yang tadi kubuat. Tampaknya, Ibusangat membencinya.

"Ibuku marah, Buk," ucapku pada wanita yang tadi meminta untuk digambar.

Ia hanya tersenyum. Kemudian mengajak pergi bermain ke luar rumah. Aku hanya diam, mengikuti sembari terus melihat rambutnya yang terseret sampai di lantai. Sangat panjang.

Banyak permainan yang kami mainkan malam itu. Hingga akhirnya, ibu datang dan membawaku masuk untuk segera tidur. Padahal, sampai di dalam kamar wanita itu pun tetap mengikuti dan duduk di atas lemari sambil menggoyangkan kakinya. Sesekali, ia melempar sebuah bunga kecil agar mata ini tak terpejam. Dan terus bermain sampai larut malam.

-----------------------------

"Riki ... bangun, Nak. Ini sudah pagi!" teriak Ibuku dari arah dapur, sembari memasak untuk menyiapkan sarapan. Sementara, Kakakku sudah bangun terlebih dahulu dan sedang membantu ibu.

Kami hanya tinggal bertiga di rumah. Sedangkan Ayahku sangat jarang pulang karena bekerja sebagai Kontraktor, di luar kota.

Kuhapus mata dengan jari. Sembari mencoba untuk mengembalikan kesadaran. Saat semuanya mulai aman kembali, aku pun turun dari tempat tidur untuk menuju ke kamar mandi. Tetapi saat akan melangkahkan kaki, sekelebat terlihat dalam bayangan mata ini. Sesuatu yang sangat mengerikan.

Ya.
Tergambar jelas di mataku tentang seorang wanita sedang berlari, sembari memegangi kepala yang bercucuran darah. Ia menangis. Kemudian di belakangnya ada seorang Pria berbadan besar yang sedang mengejar.
Apa itu?

Aku tahu. Ini adalah sesuatu yang tak lama akan terjadi. Karena bukan baru satu atau dua kali tergambar hal seperti ini di kepalaku. Tapi sudah berulang, dan nyata akan terjadi setelahnya.

"Hey! Anak ganteng Ibu kok melamun. Mandi sana, lihat itu sudah jam setengah tujuh. Nanti kamu terlambat ke sekolah. Ayo lekas mandi."

"Bu ... aku melihat sesuatu yang mengerikan," ucapku.

Sontak.
Ibuku langsung terdiam dan menatap wajahku.

"Apa yang kamu lihat, Nak?"

"Ada seorang Ibu-ibu sedang berlari sambil memegangi kepalanya yang berdarah, Bu. Dan dibelakangnya, ada seorang Bapak yang mengejar."

Ibuku hanya diam. Terlihat ia sangat terkejut mendengar perkataanku.

"Lalu?"

"Itu saja, Bu. Aku tidak lihat apapun lagi."

"Ya sudah. Mungkin kamu hanya terbawa mimpi. Mandi sana, Kakakmu sudah seleasai, tuh."

"Ia, Bu."

-------------------------

Selesai mandi dan sarapan. Aku, Kaka dan ibu bersiap untuk segera berangkat ke sekolah. Dengan menggunakan sepeda motor. Seperti biasa, aku selalu duduk di depan dekat stang motor. Sedangkkan Kakak, di belakang sembari memegangi baju Ibu.

Sejak dalam perjalanan menuju sekolah, bayangan itu terus datang. Entah beberapa kali. Wanita berbaju warna biru yang sedang berlari dengan kepala berdarah, sambil terus menamgis. Bahkan, kucoba memejamkan mata ini agar tak lagi muncul bayangan itu. Tetapi tetap saja, datang dan datang lagi. Sampai akhirnya, semua menjadi nyata saat kami berhenti di sebuah persimpangan.

--------------------
Next?

  Hari sudah gelap.Kami baru sampai di Lembah Jati. Lembah jati adalah tempat yang cukup jauh dari pemukiman penduduk. D...
10/01/2021




Hari sudah gelap.
Kami baru sampai di Lembah Jati. Lembah jati adalah tempat yang cukup jauh dari pemukiman penduduk. Dahulu, tempat ini dijadikan tempat pembuangan mayat korban perampokan dan pembunuhan.
Jalanan sekitar lembah jati hanya ada pepohonan rindang dan tebing yang lumayan curam. Sementara lampu penerang jalan hanya ada beberapa saja yang masih menyala. Memang sangat sulit mencari Cindy di tempat yang seluas ini, tetapi aku harus tetap melakukannya.

Tidak mungkin.
Aku membiarkannya di tempat seperti ini malam-malam begini. Bagaimana kalau sampai ada binatang buas?

Tak lama.
Dari kejauhan aku melihat ada sebuah mobil dan beberapa unit motor terpakir di pinggir jalan.

"Siapa itu, Pak? Bukan perampok? Coba pelan sedikit," perintahku kepada Pak Darno, agar segera memperlambat laju kendaraan. Sembari memperjatikan siapa yang sebenarnya ada di sana.

"Kalau saya lihat, Pak. Mereka seperti orang-orangnya Bang Jack. Kalau tidak salah."

Benar juga.
Tadi aku yang menyuruh mereka datang ke sini, gumamku.

"Baik, Pak. Coba kamu telpon Jack sekarang. Pastikan bahwa memang benar dia yang ada di sana."

Pak Darno pun kembali menghubungi Jack, untuk memastikan siapa yang ada di sana.
"Ya, Pak. Benar. Mereka adalah orang-orang Bang Jack. Kita bisa langsung ke sana?"

"Ok kalau begitu. Kita kesana."
Baru saja Pak Darno hendak menjalankan mobil, yang tadi sengaja ia berhentikan terlebih dahulu. Tiba-tiba saja kami melihat beberapa orang anggota Jack berlarian, dari dalam lembah di pinggir jalan. Mereka seperti sedang ketakutan oleh sesuatu. Entah apa itu.

"Stop, Pak! Tunggu saja di sini. Sepertinya mereka sedang ketakutan dan akan segera pergi. Tunggu sana di sini, lalu jegat mereka."

"Baik, Pak."

Pak Darno pun keluar dari dalam mobil untuk menungu mereka. Aneh sekali, dengan badan sebesar mereka apa yang harus ditakutkan?
Hantu?
Apa mungkin mereka diganggu hantu?
Sesampainya mereka di dekat mobil, aku pun langsung keluar dan mendengar pembicaraan mereka.
Terlihat wajah mereka sangat pucat, bagaikan baru bertemu malaikat pencabut nyawa. Apa sebenarnya yang terjadi?

"Ada apa? Mengapa kalian semua lari? Bukannya kalian ditugaskan Jack di sini untuk mencari Kera peliharaanku?!"

"Ma-ma-maaf, Bos. Kami tadi sudah menangkap Kera itu, tetapi seketika ada sesosok makhluk seperti Kera raksasa datang yang menyerang dengan membabi buta."

Kera raksaaa?
Apa itu adalah ....

"Tunggu dulu. Kalian jangan pergi. Jelaskan padaku bagaimana bentuk Kera raksasa itu?"
Perlahan.
Salah satu dari mereka menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Tetapi tetap, sesekali mereka masih melihat ke arah lembah. Takut Kera raksasa itu mengikuti.

"Bentuknya seperti Kera biasa, Bos. Cuma giginya bertaring panjang. Matanya merah menyala. Ia sangat kuat. Bahkan kami sampai terpental kesana kemari karenanya."

Ya, itu dia.
Itu Iblis Kera yang berada di rumahku. Lalu, buat apa ia berada di sini? Lalu apa alasannya Kera itu menyerang mereka?
Tidak.
Cindy harus segera ditemukan malam ini. Apapun alasannya!

"Sudah. Kalian jangan pergi. Temani aku ke sana. Tunjukkan di mana kalian melihat Kera peliharaanku."

"Ta-ta-tapi, Bos?"

"Baiklah. Jika kalian tidak mau, aku akan menelpon Jack dan menyuruhnya ke sini sekarang. Biar dia tahu, bagaimana anak buahnya bekerja," ucapku sembari mengeluarkan HP dari saku celana. Guna menakuti mereka.

"Jangan, Bos! Baik kami akan menemani ke sana. Tapi kami akan mencari kayu dulu untuk menjaga-jaga."
"Ok. Saya tunggu."
*******
Cerita ini sudah ending di Aplikasi ya, Gaes. Yang mau e-booknya. Silakan japri/inbox.

 ! Hal itu.Dimanfaatkan para pekerja wanita, untuk selalu menggodanya ketika jauh dari suami-suami mereka. Dengan harapa...
08/01/2021

!


Hal itu.
Dimanfaatkan para pekerja wanita, untuk selalu menggodanya ketika jauh dari suami-suami mereka. Dengan harapan, akan disayang dan diberikan keistimewaan selama bekerja. Oleh sang Mandor.
Padahal.
Aku pernah mendengar jika tangan kanan Bos itu juga memiliki wanita simpanan di mana-mana. Dan yang lebih mengherankan, salah satunya masih berstatus Istri orang.

"Berkumpul semua!" Mandor Sarman berteriak, agar kami segera berkumpul di dekatnya.

Ya.
Seperti biasa, ia akan membagikan tugas yang harus kami kerjakan hari ini. Mendengar, semua pekerja pun datang termasuk aku.
Tepat di area perkebunan, kami pun saling berdiri layaknya anak sekolah yang akan mengikuti upacara bendera.
Semua pria dibagi tugas berdasarkan keahliannya masing-masing. Kemudian mereka, langsung mengambil peralatan di dalam gudang dan langsung berangkat ke tempat yang sudah ditugaskan. Tak ada lagi yang berkumpul.

Setelah mereka berangkat.
Lalu kami kaum wanita pun dibagikan tugas. Ada sebahagian yang memupuk tanaman, membersihkan rerumputan, dan ada yang menanam bibit.
Alhamdulillah, aku mendapatkan tugas membersihkan rerumputan hari ini. Karena ini adalah tugas yang cukup ringan buat wanita hamil sepertiku, tak harus mengangkat pupuk di punggung, atau menggali tanah untuk menanam bibit.

Mbak Ratih.
Adalah orang yang dipilih untuk bersama denganku. Ya, ia adalah orang yang cukup baik. Kadang, banyak hal yang sering aku ceritakan padanya. Tentang permasalahan hidup ini.
"Ok. Jika semuanya susah paham. Silakan pergi ke lapak masing-masing!" arahan Mandor Sarman yang kemudian pergi meninghalkan kebun.
Kamipun langsung beranjak mengambil peralatan ke gudang. Untukku, hanya menggunakan arit kecil yang akan digunakan untuk membersihkan rerumputan yang juga berada di sana.

"Enak, yah kalau wanita hamil. Kerjaannya dapat yang mudah terus. Maunya sadar diri d**g, kalau sudah gak pantas kerja ya jangan bekerja lagi. Mau brojol di hutan kali, ya?"

-----------------------------
Jangan lupa, beri subscribe dan beri bintang lima di KBM App.
Aku Masih Hidup, Mas! :
https://kbmapp.com/book/detail/299727a6-3740-fd17-daa1-e7a08b66895e?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b
-------------------------------------

Aku tahu.
Wanita yang ada di sebelahku ini sengaja mengatakannya, untuk menyindir. Seketika, sesak pun terasa di dada ini. Rasanya, ingin sekali kujawab semua omongan itu.
Tetapi tidak, aku harus lebih kuat.
Mbah Ratih pun datang dan menyentuh tanganku. Matanya memberikan isyarat, yang aku tahu itu bermakna agar tak mendengarkan apa yang mereka katakan. Ya, ia adalah satu-satunya orang yang paham akan keadaanku.
Seperti yang pernah ia ceritakan.

Jika ia pernah mengalami hal yang sama sepertiku, ketika ia tinggal di kampung ini sebagai seorang janda beranak dua. Tetapi, semuanya berakhir ketika ia memilih menikah lagi dengan salah satu pemuda Kampung Bukit. Yang berusia, beberapa tahun lebih muda darinya.

Seperti itu juga, hal yang selalu ia katakan padaku. Agar meninggalkan Mas Putra dan mencari suami lain yang tidak bekerja ke luar kota. Dan memilih untuk tetap bersama Istrinya. Entahlah, sampai saat ini tak pernah terbesit olehku tentang hal itu. Mas Putra akan tetap kutunggu, karena ia di sana juga berjuang demi kebahagiaan dan masa depan calon bayinya ini. Juga aku.
---------
Kuanggukkan kepala.
Pertanda memahami apa yang ia isyaratkan.
"Peralatanmu sudah, Yu? Ayo kita berangkat ke lapak," ajak Mbak Ratih.

"Sudah, Mbak."

Kami pun meninggalkan gudang dan berangkat ke lapak kerja yang suda diperintahkan. Berdua.

"Yang sabar ya, Yuk. Ingat kandunganmu. Jangan pikirkan omongan mereka," Mbak Ratih mencoba menenangkanku saat dalam perjalanan.

"Ya, Mbak. Aku akan berusaha kuat sekuat-kuatnya untuk hal menghadapi ini. Karena aku tak ingin terjadi apa-apa dengan bayi ini," sahutku.

Aku sadar.
Tak ada jalan lain bagiku, selain tetap bersabar. Walaupun hati ini berkata sudah tidak sanggup lagi menerima ini terus menerus. Aku lelah.

"Bagaimana kabar suamimu, Yuk? Apakah baik-baik saja?"

"Insha Allah baik, Mbk. Kemarin ia juga baru kirim sedikit uang buatku."

"Alhamdulillah ... lalu kapan Suami kamu pulangnya?"

"Belum bisa dipastikan, Mbak. Cuma aku berharap, ia akan kembali saat anak ini akan lahir nantinya. Karena memang, aku inginkan hal itu sejak dulu."

"Iya, Yuk. Semoga saja. Cuma kalau ada butuh bantuan sesuatu, datang saja ke rumah Mbak. Nanti pasti bakal dibantu kalau memang mampu."

"Iya, Mbak. Terima kasih."

Memang.
Jika ditanyakan tentang kebutuhan, pasti sangat banyak yang kubutuhkan. Terutama saat malam tiba. Tetapi tidak mungkin, semua ini memang harus kuhadapi sendiri. Tanpa menyusahkan siapapun.
---------------
Sampainya di lapak, kami pun berpisah. Mbak Ratih kini berjarak sekitar lima puluh meter dariku. Memang tak begitu jauh, tetapi pehonan kebun yang besar dan semak, membuat kadang kami terasa sendiri di tempat ini.
Kugantungkan bekal di sebuah ranting pohon, kemudian mulai membersihkan rerumputan yang tingginya hampi selutut ini. Aku harus cepat, karena sesekali Mandor akan datang memantau. Jika tidak ada bekas yang sudah dikerjakan maka ia akan marah.
Saat sedang asik membersihkan.
Tiba-tiba saja ada suara aneh kudengar. Ya, suara yang sama seperti malam tadi. Ia memanggilku lagi.

"Ayuu ... Ayu ...." Suara itu berat dan datar.

Bersumbang ......

KBMAPP | Babang Khan

  Dalam keadaan sedikit kesal, Fatir pun pergi membeli makan malam dengan sedikit rasa kesal di hatinya. Tetapi bagaiman...
06/01/2021




Dalam keadaan sedikit kesal, Fatir pun pergi membeli makan malam dengan sedikit rasa kesal di hatinya. Tetapi bagaimanapun rasa kesal itu, ia tetap berusaha menerima apa yanh sudah dipilihkan oleh kesua orang tuanya. Karena fatir percaya, hidupnya akan mendapat ridho Allah jika perjalanan hidup yang ia tempuh juga mendapatkan ridho dari orang tuanya.

Dalam perjalanan.
HP Fatir berdering, ternyata itu adalah panggilan dari Ayah Nadia.
Ia memasang headset yang ada di dashboard mobil, agar bisa berbicara dengan tenang sembari menyetir.

"Assalamualaikum, Om. Ada apa?"

"Waalaikumsalam, Nak. Bagaimana keadaanmu, baik-baik saja?"

"Alhamdulillah baik, Om."

"Sukurlah. Om tak perlu lagi menanyakan kabar Nadia, karena dengan melepasnya hidup denganmu pasti ia akan baik-baik saja. Benar bukan?"

"Alhamdulillah Nadia baik, Om. Pasti aku selalu menjaganya dengan baik," ucap Fatit. Di sambut gumaman dalam hati 'justru hidupku yang tidak baik karenanya.'

"Sukurlah. Lalu bagaimana hubungan kalian, sudah mulai membaik bukan? Om berharap, semakin lama Nadia akan semakin bisa mengerti dan berubah lebih baik. Walaupun sampai kini, ia terus meminta bercerai denganmu saat di telepon. Tapi tak pernah om dengarkan."

"Ya, Alhamdulillah, Om ... Aku akan coba perlahan memperbaiki sikap kekanakannya. Karena sudah tugas sebagai imam yang baik, untuk membimbing makmumnya. Begitu kan, Om?"

"Ya, benar, Nak. Itulah mengapa Om yakin. Kamu adalah orang yang tepat buat anak Om satu-satunya itu. Oh ya, Nak. Kalau ada waktu kamu bisa datang ke rumah?"

"Ke rumah? Insha Allah aku usahakan. Kapan dan ada masalah apa, Om?"

"Begini, Nak. Saat ini Om sudah mulai sakit-sakitan. Sementara, sekarang hanya hidup sendiri dengan pembantu semenjak Mama Nadia wafat. Ada sedikit yang mau diserahkan ke kamu."

Seketika.
Fatir merasa heran. Apa yang akan diberikan? Sedangkan pemberian pertama saja dengan menyerahkan Nadia, sampai kini masih membuat hidupnya penuh konflik. Lalu, akan ada konflik apa selanjutnya?

"Maaf kalau boleh tahu, apa itu, Om?"

"Om mau berhenti berbisnis dan ingin menikmati masa tua. Jadi Om mau kamu yang meneruskan bisnis ini. Kamu bisa, 'kan?"

"Tapi saya masih bekerja, Om. Tidak mungkin ...."

"Kamu resain saja. Om yakin, dengan meneruskan bisnis ini. Kehidupan kamu dan Nadia pasti lebih baik. Percayalah."

"Baiklah, Om. Nanti kita sambung lagi, ya. Ini aku lagi beli makan malam."

"Ok, Nak. Om tunggu kedatanganmu. Salam buat Nadia, ya. Assalamualaikum ...."

"Iya, Om. Waalaikumsalam ...."

------------------------------

Bagi Fatir.
Harta bukanlah segalanya, karena ia seorang pekerja keras yang selalu ingin berhasil karena kerja keras bukan pemberian. Apalagi, memegang sebuah amanah bukanlah hal yang mudah baginya.

Tapi jika ditolak.
Mungkin nantinya ia akan melukai orang yang sudah yakin memberikan kepercayaan padanya. Dan itu sulit.
Malam itu dalam perjalanan kembali, ia terus galau memikirkan pembicaraan Ayah Nadia barusan. Bagaikan memakan buah Simalakama.

Sesampainya di rumah.
Fatir turun dari mobil dengan membawa beberapa bungkusan makanan. Setelah membuka pintu, keadaan rumah terlihat sunyi. Bahkan suara TV di kamar Nadia pun tak terdengar.

Ahh ...pasti Nadia sudah ketiduran. Tapi aku harus membangunkannya, agar tidak sakit karena belum makan.

"Nad ... Nadia?"

Fatir terus memanggil sembari mengetuk pintu. Tetapi tidak ada jawaban, sampai akhirnya Fatir memutuskan masuk ke dalam kamar. Dan benar, ternyata Nadia sudah tertidur dengan HP masih di telinga. Sepertinya ia ketiduran.

Seketika.
Fatir terdiam melihat Nadia tidur hanya menggunakan tanktop dan celana pendek, yang hanya berukuran satu jengkal dari pinggang sang Istri. Bagaimanapun, Fatir adalah lelaki normal. Tubuhnya bergetar karena takut tak mampu menahan diri karenanya.

"Nad ... Nadia ... bangun. Makan malam dulu," ucap Fatir sembari menggoyang telapak kaki Nadia.

Tak lama.
Nadia terbangun dan langsung terkejut!

"Hahh! Kamu mau apa?! Pergi atau aku tetiak sekarang!"

"Bukan begitu, Nad. Aku mau bangunin kami buat makan malam. Lagian, aku mana doyan lihat wanita kurus kaya kamu," cetus Fatir sembari membuang muka.

Bukannya marah.
Nadia justru menggoda dengan mendekati Fatir sembari berbisik di telinganya.

"Bener, Om? Kami tidak tergoda denganku? Bukankah aku wanita muda yang seksi?"

Seketika, tubuh Fatir bergetar.
Kini jarak Nadia dengan dirinya hanya benerapa centimeter saja.

"Nad ... pakaian lihat pakaian kamu. Jangan begini, aku takut ...."

"Kenapa, Om? Kamu bergairah denganku? Silakan saja," ucap Nadia sembari berbisik mendesah.

"Nad ... stop. Jangan seperti ini."

Jantung Fatir semakin berdegub kencang. Sampai akhirnya Nadia mengatakan.

"Hello ... Om-om buncit! Selamat, Anda kena PRANK! Sudah, aku mau makan," ucap Nadia sembari berjalan ke luar pintu kamar.

Sementara.
Fatir menghela napas panjang, sembari beristighfar. Astaghfirullahaladzim ...

Saat hendak ke luar kamar, Fatir melihat HP Nadia yang masih menyala. Ternyata sejak tadi, panggilannya masih berlangsung. Dan yang paling mengejutkan, tercantum nama Bram di sana. Mantan kekasih Nadia.
Dan entah kenapa, Fatir merasa sedikit sesak di dada saat melihatnya.
Apakah kini, sudah ada cinta untuk Nadia?
-----------------------------

Next?
Jangan lupa subscribe dan bintang limanya di KBM App. Biar cepat update. πŸ™πŸ™
Link: https://kbmapp.com/book/detail/ac809112-3cba-af64-a85e-0964c114bce0?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

BABANG KHAN GIVE AWAYHai, Gaes!Babang Khan mau buat Give Away kecil-kecilan berhadiah:1. Juara Pertama: e-book Istri dar...
05/01/2021

BABANG KHAN GIVE AWAY

Hai, Gaes!
Babang Khan mau buat Give Away kecil-kecilan berhadiah:
1. Juara Pertama: e-book Istri dari Neraka seharga 45k.
2. Juara kedua: Pulsa senilai 20k.
3. Juara ketiga: Pulsa senilai 10k.

Nah, buat yang mau ikutan caranya sbb:
πŸ‘‰ Share postingan ini dengan tag lima orang teman dan akun Babang Khan.

πŸ‘‰ Pilih salah satu cerbung Babang Khan di KBM App yang kalian s**a.
@ Istri Dari Neraka
@ Aku Masih Hidup Mas
@ Kera Itu Ibumu
@ Darah Malam Pertama Istriku
@ Misteri Sinden Mayyit
@ Kembalinya Sunti
@ Kumpulan Kisah Nyata Misteri
@ Anak Jin di Rahimku

πŸ‘‰ Lalu jelaskan alasan kenapa kalian s**a cerbung tersebut. Misal karena alur cerita, tokoh, misteri, dll. Penjelasan minimal dua paragraf dengan tulisan yang rapi ( Minimal kalimat tidak disingkat) sesingkat hubungan kamu dengannya. πŸ™ˆπŸ™ˆ

πŸ‘‰ Sertakan link cerita tersebut sesuai dengan cerita yang kalian tulis. Tinggal copy.

πŸ’š Kera Itu Ibumu :
https://kbmapp.com/book/detail/dceb8932-1a8e-4892-7eb7-8ebba7de8dec?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

πŸ’š Istri dari Neraka :
https://kbmapp.com/book/detail/0aae1226-e090-44cb-b9cb-92835ed7480e?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

πŸ’šDarah Malam Pertama Istriku :
https://kbmapp.com/book/detail/e7efa60e-3c54-1877-9955-6a08bfe186ad?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

πŸ’š Misteri Sinden Mayyit
https://kbmapp.com/book/detail/7f5d684b-b957-e7be-978d-2437f8305945?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

πŸ’š Kembalinya Sunti
https://kbmapp.com/book/detail/2d6d92eb-a6b6-c0c1-6874-fd7dcdf59621?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

πŸ’š Kumpulan Kisah Nyata Misteri
https://kbmapp.com/book/detail/ef3b24bc-1d70-d913-3d43-09f6ca42f629?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

πŸ’š Anak Jin di Rahimku :
https://kbmapp.com/book/detail/5c72bf5e-e0cb-fd19-a025-1b26c5a110cc?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

πŸ’š Aku Masih Hidup, Mas! :
https://kbmapp.com/book/detail/299727a6-3740-fd17-daa1-e7a08b66895e?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

Contoh:

BABANG KHAN GIVE AWAY

Istri Dari Neraka

Ceritanya penuh misteri dan air mata. Ketika membaca, saya seakan ikut masuk ke dalam cerita. Pokoknya bikin baper dan penuh dengan air mata dst ..... (Minimal dua paragraf. Semakin banyak semakin baik).

Yuk baca ceritanya di:
https://kbmapp.com/book/detail/0aae1226-e090-44cb-b9cb-92835ed7480e?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

---------------------------------------------

Hal yang dinilai.
@ Kerapian tulisan.
@ Kesesuaian dengan cerita.
@ Penjelasan yang kocak merupakan nilai plus. Tapi tetap sopan.

Posting di wall kalian masing-masing Lalu salin link postingan ke kolom yang telah disediakan di bawah. GA ditutup pada 16 Januari 2021.

Tempat setot link:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=438731297264154&id=100033818633472

NB:
Untuk yang kurang jelas, silakan tanya di kolom komentar. Buat yang kurang kasih sayang, harap bersabar. Kita sama! πŸ™ˆπŸ™ˆ

KBMAPP | Babang Khan

  Setelah sedikit penjelasan dari Pak Dirman. Akhirnya Dokter Arya mengerti dengan keadaan saat ini, yang tidak memungki...
05/01/2021




Setelah sedikit penjelasan dari Pak Dirman. Akhirnya Dokter Arya mengerti dengan keadaan saat ini, yang tidak memungkinkankuuntuk dirawat di rumah sakit. Ia hanya memberikan suntikan dan beberapa resep obat yang harus segera dimakan.
Akhirnya.
Kami pun terus melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Sukurlah, jantungku kini sudah mulai mereda. Baru beberapa saat berjalan, HP Pak Darno pun berdering.

"Angkat dulu, Pak. Siapa tahu itu kabar mengenai Maya," ucapku

Pak Darno pun melihat nama yang tertera di layar HP-nya. Dan benar, itu adalah panggilan dari salah satu preman bayaranku.

"Ini dari Bang Jack, Pak. Baiklah, saya kepinggir dahulu."

Terlihat.
Pembicaraan mereka sangat serius. Bisa jadi, ada kabar penting dari Jack.
Mudah-mudahan saja.

"Maaf, Pak. Neng Maya sudah ditemukan oleh Bang Jack, sekarang sudah dimarkasnya. Lalu bagaimana?" tanya Pak Darno, sembari memegang HP yang masih tersambung dengan Jack.

"Markas? Dimana markas mereka?"
"Katanya daerah Pasar Palam Hijau, Pak. Apa kita menuju ke sana saja?"

Maya?
Apa dia cuma menemukan Maya?
Lalu Cindy bagaimana?!

"Coba tanyakan ke Jack. Apakah Kera yang bersama Maya juga sudah ia temukan?"

Pak Darno pun berbicara dengan Jack.
Tetapi, dari cara bicara mereka sepertinya Maya tidak bersama Cindy.

"Maaf, Pak. Kata bang Jack ...."

"Sudah. Saya sudah tahu kalau Cindy tidak bersama Maya. Sekarang, suruh Jack bawa Maya ke rumah. Kemudian suru dia cari Cindy sampai ketemu. Katakan juga, kalau sampai tidak ketemu maka pekerjaannya bakal terancam!"

"Siap, Pak."

Jack.
Adalah salah satu Penguasa Pasar Palam Hijau. Ia mendapatkan hasil dari memungut uang keamanan di sana. Sementara, aku adalah pemilik dari tujuh puluh persen tempat usaha di Palam Hijau. Dengan mudah, kekuasaannya bisa hilang dengan sesaat. Jika aku menginginkannya.

Uang.
Jika ada uang, semua masih bisa diatasi. Selama masih ada orang-orang yang isi kepala dan hatinya masih bisa dibeli.
*********

Hari pun semakin gelap, sementara kami belum juga sampai di rumah. Semoga saja, semua keaadaan ini akan segera membaik.

Cindy.
Kamu dimana sayang ....
Maafkan aku, tidak bisa menjagamu dan mendidik anak kita dengan baik hingga kini. Semoga kamu kini masih baik-baik saja sayang ....
Tak terasa.
Air mata ini menetes dengan sendirinya.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Cindy sekarang. Jika memang Maya tadi telah ....
Tidak.
Itu jangan sampai terjadi!
Maya harus baik-baik saja.

"Dari kepolisian belum ada kabar juga, Pak?" tanyaku sembari menghapus air mata.

"Belum, Pak. Apa nanti kita langsung sunggah ke Polres?"

"Tidak usah. Kita langsung pulang saja. Saya harus membuat perhitungan dengan Maya."
"Baik, Pak."

Kini.
Terbayang semua kenangan kami di dalam pikiran ini. Bagaimana dahulu Cindy berkorban dengan memilih meninggalkan orang tuanya yang kaya raya, hanya untuk hidup bersamaku yang hanya seorang pengangguran.

Jangankan rumah.
Pekerjaan saja cuma buruh kernet bangunan. Yang tidak menentu penghasilannya. Kadang ada dan tidak.
Tapi Cindy.
Selalu setia dan percaya aku bisa membahagiakannya suatu saat nanti. Ia tidak pernah perduli, bagaimana Saudara-saudaranya menghinaku. Tetap, cintanya tak pernah luntur hingga kini.

Bahkan.
Seumur hidup sekalipun, aku tidak akan sanggup membalas besarnya cinta yang ia berikan dengan yang sama. Hingga akhirnya, kami memilih jalan itu. Ya, jalan yang mampu merubah nasib kami seketika.

Petir pun menyambar kuat.
Sepertinya akan segera turun hujan.

"Coba telpon lagi si Jack. Tanyakan apa ia sudah menemukan Cindy? Ini sudah mau hujan."

"Baik, Pak. Saya berhenti dulu."

Setelah memarkirkan mobil di rest area, Pak Darno pun kembali menghubungi Jack. Perlahan, aku mendengarkan baik-baik apa yang mereka bicarakan.
Entahlah, pirasatku selalu mengatakan kalau Cindy masih hidup.

"Bagaimana, Pak?" tanyaku setelah melihat mereka selesai bicara.

"Mereka belum menemukan Cindy, Pak. Tetapi, mereka sudah tahu kalau ia masih hidup."

"Tahu? Darimana mereka tahu?"

"Neng Maya yang mengatakan. Katanya, Cindy terlepas di jalan saat mereka ingin membuangnya ke daerah Lembah Jati, Pak."

"Lembah jati?! Mereka ingin membuangnya kesana? Dasar anak kurang ajar!"

"Sabar, Pak. Kita masih bisa menyusul ke sana untuk mencarinya. Lagian, Neng Maya juga masih muda. Ia masih labil, Pak," ucap Pak Darno berusaha menenangkannu.

"Ya, sudah. Sekarang kita langsung menuju Lembah Jati."

"Baiknya Bapak makan dulu, ini sudah hampir malam. Ingat kesehatan, Pak ...."

"Ya, sudah. Bapak turun sebentar dan beli makanan di Minimarket. Saya makan di dalam mobil saja. Sekalian Bapak juga."

Pak Darno pun turun untuk mencari makanan di Minimarket yang ada di Rest Area jalan Tol.
-----------------------
Bersambung.

 ! ( AMHM ) Apa pernah sekali saja, aku mengadu akan kesusahan itu padanya?Lalu kenapa, selalu ada saja yang s**a menyin...
04/01/2021

! ( AMHM )


Apa pernah sekali saja, aku mengadu akan kesusahan itu padanya?
Lalu kenapa, selalu ada saja yang s**a menyinggung peasaan ini?
Ya Tuhan, berikanlah aku kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi ucapan seperti mereka. Hingga hati ini, tak semakin pedih terasa.

Sepanjang perjalanan, tak hentinya tanganku ini menghapus air mata. Kain yang kubawa untuk menghapus air mata, kini harus basah karena air mata yang tak henti menguras dada ini.
Setelah setengah perjalanan, aku berhenti di sebuah pohon yang agak rindang. Ya, inilah tempatku biasa beristirahat saat akan pergi dan pulang bekerja.

Terkadang, aku hanya memijat kaki hingga rasa pegalnya hilang. Dan napas ini kembali normal, tak lagi sesak karena jauh berjalan.

Tak lama.
Ada beberapa orang pria yang akan berangkat ke kebun, untuk bekerja. Ya, mereka adalah orang-orang yang sering menggangguku saat tak terlihat oleh istrinya.
Seketika, jantung ini semakin berdebar melihat tatapan mereka yang kini sedang melirikku. Dengan mata jelalatan khas pria.

"Ayu ... capek, ya? Sini abang gend**g ...," ucap salah seorang pria, yang datang mendekatiku.

Rasa takut pun kini mulai menguhantuiku. Apalagi, sampai kini belum ada terlihat para wanita yang lewat. Ya Tuhan ....

"Tidak usah, Mas. Terima kasih," sahutku datar.

"Sudahlah, Yuk. Tak apa, kok. Mas tahu kamu haus belaian, 'kan? Tenany saja, di sini cuma ada kami. Tidak akan ada yang melihat," ucap pria itu, sembari berusaha memegang wajahku dengan tangan kasarnya.

Kutepiskan tangan itu.
Dan segera berusaha dengan cepat untuk bnagkit. Tetapi apa yang terjadi?! ia menangkap pergelangan tangan ini dan menggenggamnya dengan erat. Sakit.

Sementara para Pria lain hanya tertawa melihatku kesakitan. Seolah aku adalah bahan mainan buat mereka.

"Lepas, Mas. Atau aku akan teriak?!"

"Silakan teriak. Toh belum ada siapapun di sini, teriaklah!"

Kutatap ke sekitar, benar yang dikatakannya. Hanya ada mereka dan pepohonan saja di sini.
Bagaimana ini?

Baiklah.
Aku tidak perduli. Aku harus teriak.

"Tolong ... tolong ...." Aku berteriak sekuatnya.

Hingga akhirnya.
Ia melepaskan genggaman tangan ini dan langsung pergi dengan yang lain meninggalkanku.

"Awas kau!"

Lagi.
Ancaman itu kembali ia berikan, dengan sorot mata yang begitu menakutkanku. Entahlah, entah kapan hal ini akan segera berakhir.
Mas Putra, aku ingin kau segera pulang. Aku takut Mas. Gumamku sembari menghapus air mata ini.

Merasa mereka sudah pergi jauh di depan. Akupun mulai melangkahkan lagi kaki ini. Sementara pergelangan tangan ini kini membiru, bekas genggaman pria kasar itu.

Ingin.
Aku ingin sekali menceritakan kejadian ini pada istri-istri mereka.
Tetapi, apa mungkin mereka percaya? Yang ada nantinya, aku hanya dianggap pengganggu suami mereka. Ya, karena tidak adanya Mas Putra di sini. Suamiku.


Lagi.
Kulanjutkan perjalanan menuju tempat bekerja. Sampi kini, masih terasa menyesak dada ini merasakan hal yang baru saja terjadi. Aku tahu, ini adalah salah satu cobaan yang harus dilewati dalam menjalani hidup. Tetapi jika boleh meminta, aku tak ingin merasakan sesakit ini, Tuhan.

Kaki yang masih terasa sangat lemah, kini kupaksakan untuk terus melangkah menuju tempat bekerja. Sadar, aku sangat menyadari tak akan ada konsekuensi bagi orang yang terlmabat datang. Kecuali potong gaji, atau yang paling akhir adalah dipecat.

Alhmadulillah.
Akhirnya aku sampai di kebun sebelum sang pemilik datang. Jadi masih ada kesempatan beberapa saat bagiku, untuk sekedar beristirahat sembari mengatur napas. Sebelum melakukan pekerjaan yang sebentar lagi akan diarahkan Mandor, yang sebentar lagi akan datang.
-----------------------------------------
Dari tempatku beristirahat.
Para kaum Pria terus melirik dari tempat mereka berkumpul. Ya, tempat barang-barang peralatan memanen diletakkan. Atau lebih tepatnya, gudang sederhana yang hanya terbuat dari tiang kayu hutan dan anyaman bambu sebagai dindingnya.

Entah.
Apa yang sedang mereka bicarakan, tentang wanita yang tengah hamil sepertiku. Yang pasti, tatapan mereka terasa begitu memandang rendah diri ini. Seandainya dapat mengatakan, ingin rasanya berteriak dan mengatakan kalau aku bukan wanita rendah! Aku wanita bersuami yang sah, yang ditinggalkan karena ingin mencoba merubah hidup kami jadi lebih baik lagi. Ya, aku sangat ingin meneriakkannya pada mereka.

Tapi apalah daya.
Aku hanya wanita lemah. Dan jika memang harus kuungkapkan, sudah dipastikan akan semakin banyak perlakuan kasar yang akan mereka berikan. Pedih.

------------------------------

Mandor pun datang.
Sementara, para pekerja wanita lain berjalan mengikutinya. Mandor Sarman, adalah orang kepercayaan bagi pemilik kebun ini. Apa yang diucapkannya, maka itulah yang akan dipercaya oleh bos.

***************
Bagi link lagi, semoga yang baca mau subscribe dan beri bintang lima di Aplikasi. Selain bilang 'Next'. πŸ™ˆ
Aku Masih Hidup, Mas! :
https://kbmapp.com/book/detail/299727a6-3740-fd17-daa1-e7a08b66895e?af=fb2ee0c3-6ff8-de68-1564-978acba9066b

Address

Medan

Telephone

+6285372999449

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when The Khan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category