24/02/2026
Empat tahun setelah invasi ke Ukraina, ekonomi Rusia dinilai memasuki “zona kematian,” menurut Alexandra Prokopenko dari Carnegie Russia Eurasia Center. Dalam tulisannya di The Economist, ia menggambarkan ekonomi Rusia seperti pendaki di ketinggian ekstrem: masih bertahan, tetapi menggerogoti kapasitas masa depannya sendiri.
PDB stagnan, pendapatan minyak turun sekitar 50% akibat sanksi Barat, dan defisit anggaran menguras cadangan negara. Ekonomi kini terbelah dua: sektor militer dan industri pertahanan yang diprioritaskan Kremlin, serta sektor sipil yang terabaikan. Pertumbuhan ditopang “sewa militer” — belanja besar untuk industri pertahanan — namun dana itu menghasilkan aset (senjata dan perlengkapan perang) yang pada akhirnya hancur dan tidak menciptakan nilai jangka panjang. Korban militer Rusia diperkirakan mencapai 1,2 juta, termasuk 325.000 tewas, menurut Center for Strategic and International Studies.
Meski bank sentral memangkas suku bunga dan pemerintah berupaya mengendalikan defisit, Prokopenko menilai masalahnya bersifat struktural, bukan siklus biasa. Bahkan pembayaran bunga utang diperkirakan melampaui gabungan anggaran pendidikan dan kesehatan.
Laporan The Washington Post menyebut pejabat Rusia telah memperingatkan potensi krisis keuangan dalam beberapa bulan ke depan, dipicu lemahnya pendapatan minyak, inflasi tinggi, PHK, dan risiko krisis perbankan. Sementara itu, Ukraina terus melakukan serangan balasan; Institute for the Study of War melaporkan Ukraina telah merebut kembali sekitar 168,9 km² wilayah di selatan sejak awal tahun.
Kesimpulannya, Rusia mungkin masih mampu melanjutkan perang dalam waktu dekat, tetapi ketergantungan ekonomi pada sektor militer membuatnya rapuh. Menurut para analis, semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar risiko krisis ekonomi dan sosial di dalam negeri.