08/04/2026
Saat Jalan Salib di Sumpango, Guatemala berlangsung,
di tengah keramaian orang yang datang untuk menyaksikan sebuah peristiwa iman…
terjadi sesuatu yang tak pernah direncanakan.
Di antara adegan demi adegan, ketika penderitaan diperagakan,
seekor anjing liar tiba-tiba muncul.
Ia menggonggong ke arah para “prajurit”…
bukan sekadar suara, tapi seolah sebuah protes.
Seolah ia ingin berkata: “Hentikan itu.”
Ia bahkan menarik jubah mereka,
berusaha menghentikan apa yang baginya terlihat nyata.
Karena baginya…
itu bukan sekadar drama.
Bukan akting.
Yang ia lihat hanyalah seseorang yang sedang menderita.
Lalu saat sang pemeran Yesus terjatuh, lemah dan terbaring di tanah…
anjing itu mendekat.
Ia tidak berkata apa-apa.
Ia tidak mengerti cerita yang sedang dimainkan.
Namun ia memilih untuk tetap di sana…
di sisi orang yang terluka.
Seolah ia ingin menemani.
Seolah ia ingin menghibur dengan caranya sendiri.
Di saat banyak orang hanya menonton…
ia justru merasakan.
Karena belas kasih sejati tidak membutuhkan kata-kata.
Tidak membutuhkan penjelasan.
Cukup hati yang peka… dan kasih yang tulus.
Dan pada hari itu,
seekor makhluk yang tak bisa berbicara…
justru menunjukkan arti kemanusiaan
dalam bentuk yang paling murni. 🙏