24/06/2026
Bismillah...
Taubatnya Harut dan Marut
Mulanya Allah memberi tahu bahwa tidak lama lagi akan diciptakan manusia di muka bumi ini.
Para malaikat yang merasa lebih berhak bertanya, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" (Al-Baqarah: 30)
Allah menjawab, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Malaikat kembali berkata, "Tuhan...! Kami lebih patuh kepada-Mu daripada anak Adam!"
Allah berfirman, "Hadirkan dua dari kalangan malaikat, Aku turunkan ke bumi, kemudian kalian lihat bagaimana mereka berdua berbuat?"
Malaikat menjawab, "Ya Tuhan, Harut dan Marut telah siap menjalankan tugas."
Harut dan Marut adalah dua nama dari sekian banyak malaikat. Keduanya kemudian diturunkan ke bumi, hidup layaknya penghuni bumi.
Kepada mereka Allah perlihatkan keindahan berupa pemandangan yang mempesona, dan hadirlah seorang perempuan yang sangat cantik jelita.
Keduanya terpikat dan jatuh hati. Mereka berkenalan, saling membisikkan kata-kata mesra, dan meminta kesediaan perempuan itu untuk dinikahi.
Namun perempuan itu bersikap jual mahal; jinak seperti merpati, ketika didekati ia menjauh, dan ketika dijauhi ia mendekat.
Perempuan itu berkata, "Tidak mau..., sampai kalian benar-benar cinta kepadaku, mengatakan tidak ada cinta lain selain kepadaku, cintaku hanya untukmu." Permintaan itu berarti cinta seratus persen kepadanya, yang sama artinya tidak ada lagi cinta kepada Allah โ hal itu sama dengan syirik.
Mereka menjawab, "Demi Allah, kami tidak bersedia mengucapkannya, kami tidak akan menyekutukan Allah selamanya."
Perempuan itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa seorang anak kecil. Keduanya masih tetap berhasrat ingin menikahinya, dan kembali meminta supaya perempuan itu bersedia diajak bertemu.
Perempuan itu kembali menolak, "Tidak mau, demi Allah, sampai kalian bersedia membunuh anak ini."
Keduanya terkejut mendengar permintaan itu dan berkata: "Mustahil kami berani membunuh, padahal Allah telah mengharamkan pembunuhan." Sekali lagi mereka menolak permintaan perempuan itu.
Perempuan itu pun pergi meninggalkan mereka, lalu kembali membawa secawan anggur. Saat itu di langit maupun di bumi, meminum anggur belum ada yang melakukannya dan hal itu belum dilarang.
Perempuan itu berkata: "Kalau begitu, minumlah anggur ini. Jika kalian meminumnya, aku bersedia menjadi milik kalian berdua."
Harut dan Marut berpikir sejenak, "Minum anggur bukanlah perbuatan maksiat, bukan pembunuhan, dan bukan p**a menyekutukan Allah." Akhirnya keduanya bersedia meminumnya.
Setelah mabuk, hilanglah kesadaran mereka akan ketakutan kepada Allah. Hawa nafsu pun menguasai diri. Mereka akhirnya bersaksi cinta seratus persen kepada perempuan itu, lalu melakukan hubungan terlarang, dan tanpa sadar membunuh anak kecil yang dibawa perempuan itu.
Saat kesadaran kembali pulih, keduanya tersentak kaget dan menyesal luar biasa. Mereka sadar telah melakukan tiga dosa besar: syirik, zina, dan pembunuhan.
Dengan penuh penyesalan, keduanya berdoa: "Ya Allah, dosa sebesar ini tidak layak kami terima ampunan-Mu. Namun jika Engkau menghukum kami sekarang juga, maka para malaikat lain akan berbangga diri dan merasa lebih suci, padahal mereka tidak tahu kelemahan diri sendiri. Berilah kami hukuman yang berlangsung sampai hari kiamat nanti."
Allah mengabulkan permohonan itu. Keduanya dihukum digantung di sebuah sumur dekat kota Babil, negeri Irak. Mereka disiksa di antara langit dan bumi, tergantung dengan kaki ke atas dan kepala ke bawah. Setiap hari mereka menangis dan berdoa memohon ampunan Allah hingga saat ini, dan akan terus demikian sampai datangnya hari kiamat.
Pesan moral dari kisah ini:
1. Tidak ada makhluk yang benar-benar sempurna selain Allah. Malaikat pun ketika diberi hawa nafsu dan ujian, ternyata masih bisa tergelincir ke dalam kesalahan.
2. Jangan pernah merasa paling benar atau paling suci, karena kelebihan yang kita miliki semata-mata karunia Allah.
3. Dosa-dosa besar sering kali bermula dari hal yang dianggap kecil atau remeh, seperti anggur dalam kisah ini yang menjadi pintu masuk dosa-dosa lainnya.
Cerita ini mengandung pelajaran berharga tentang sifat manusia dan batasan makhluk.
Semoga bermanfaat, silakan save, share, tanpa harus izin, jangan lupa ikuti, sukai dan bagikan agar tidak ketinggalan artikel ku yang lain.