25/07/2026
Lempap Si Pemuda Pemalas
Di sebuah kampung yang terletak di kaki perbukitan, hiduplah seorang pemuda bernama Lempap. Namanya terkenal di seluruh kampung, tetapi bukan karena keberanian atau kepandaiannya. Ia dikenal sebagai pemuda paling pemalas.
Saat pemuda lain bangun sebelum fajar untuk membantu orang tua di sawah atau berlatih silat di balai desa, Lempap masih tidur p**as di atas tikar usangnya. Karena sifatnya itu, ia sering menjadi bahan ejekan.
"Hei Lempap! Kalau ada lomba tidur, kau pasti juaranya!" teriak seorang pemuda.
Teman-temannya tertawa.
Bahkan beberapa pemuda yang hanya menguasai sedikit ilmu silat sering merundungnya. Mereka mendorong bahunya, menyuruhnya mengangkat barang, atau mempermalukannya di depan orang banyak. Lempap hanya menunduk dan memilih diam.
Di kampung itu, diam dianggap tanda kelemahan.
Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, Lempap tinggal bersama ibunya yang sudah mulai renta dan dua adik perempuannya yang telah tumbuh menjadi gadis cantik. Banyak pemuda kampung diam-diam menyukai kedua adiknya.
Meski sering dicap pemalas, Lempap sebenarnya bekerja sebagai pelayan di rumah seorang guru tua yang dihormati seluruh daerah.
Guru tua itu bernama Ki Waskita.
Setiap hari Lempap menyapu halaman, mengambil air sumur, memasak, dan membersihkan rumah. Namun tak seorang pun menganggap pekerjaannya berarti.
"Apa hebatnya jadi pelayan?" kata orang-orang.
Yang tidak mereka ketahui, Ki Waskita bukanlah guru biasa. Ia adalah pendekar tua yang pernah menggemparkan dunia persilatan puluhan tahun lalu sebelum memilih mengasingkan diri.
Suatu sore, ketika Lempap selesai mengangkat kayu bakar, sekelompok pemuda menghadangnya di jalan.
"Lempap! Sudah lama kami tidak melihat kemampuanmu!" ejek salah satu dari mereka.
Tanpa menunggu jawaban, seorang pemuda mendorong dada Lempap hingga terjatuh ke tanah.
Tawa pun pecah.
Lempap bangkit perlahan, membersihkan debu dari pakaiannya, lalu berjalan pergi tanpa membalas.
Pemuda-pemuda itu semakin puas melihatnya.
Namun dari kejauhan, Ki Waskita yang sedang duduk di bawah pohon beringin memperhatikan semuanya.
Malam harinya, saat Lempap menghidangkan teh, Ki Waskita bertanya,
"Lempap, mengapa kau tidak melawan mereka?"
Lempap tersenyum tipis.
"Saya memang tidak bisa silat, Guru."
Ki Waskita menatapnya tajam.
"Kalau begitu, mengapa napasmu tetap tenang saat jatuh? Mengapa langkahmu tidak goyah saat berjalan p**ang?"
Lempap terdiam.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjadi pelayan, Ki Waskita melihat langsung ke mata pemuda itu.
"Aku ingin tahu satu hal, Lempap. Apakah kau benar-benar pemalas... atau hanya sedang menyembunyikan sesuatu?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening.
Di luar rumah, angin malam berembus perlahan.
Dan jauh di dalam hati Lempap, tersimpan sebuah rahasia yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Bersambung...