28/09/2021
Judul :
Part IX dan Part X
(Penyesalan)
Menyesal. Sesungguhnya, sampai hari ini, detik ini, saya menyesal telah membaca buku itu, mencari-cari tahu urusan dunia alam ghaib. Tidak seharusnya seorang manusia mengusik-usik apa-apa yang ada di dimensi lain. Tapi apa daya, saya duluan yang terpancing, ketika dulu sekali, saya diusik oleh makhluk halus untuk pertama kalinya.
Sudah cukup banyak yang saya ketahui. Saya mencoba mencocok-cocokkan apa yang saya ketahui dengan apa yang saya alami.
Jika dulu guci dapat bergerak dengan sendirinya, berarti apa benar ada jin yang menggerakkannya?
Dari mana asal gigi itu?
Kenapa keris itu dulu bisa berpindah tempat?
Jika memang jin bisa menggerakkan dan memindahkan benda
benda, lantas ada alasan apa dibalik mereka melakukan itu?
Apakah selama ini saya telah berteman dengan jin?
Jika memang ada jin yang sekuat itu sampai bisa menggerakkan benda-benda, kenapa mereka harus ada di rumah kami?
Kenapa harus saya, yang mengalami ini semua sejak awal?
Semakin lama waktu berjalan, ternyata justru semakin banyak pertanyaan-pertanyaan itu muncul.
Tanpa saya sadari, saya telah mendalami kehidupan alam ghaib terlalu dalam. Sesungguhnya saya tidak siap untuk menerima konsekuensinya. Saya menjadi lebih peka terhadap hal-hal aneh, saya semakin sering mengalami gangguan. Rasanya menjadi semakin sulit untuk diterima oleh orang-orang, bahkan kerabat terdekat sendiri. Saya tidak bisa menceritakannya, karena mereka tak akan percaya.
Buku itu, buku yang ternyata banyak menuai pro dan kontra diluar sana. Saya benci buku itu. Saya tidak peduli apakah isinya benar atau tidak. Tapi, apa yang terjadi sangat mirip dengan apa yang saya alami.
Sejak saat itu p**a, rasanya ‘teman’ saya menjadi semakin kuat dan menjadi-jadi. Saya seakan tahu jika ada orang yang tidak baik di sekitar saya, cukup sekedar melihat wajahnya dan cara dia berbicara. Saya menjadi orang yang emosian. Rasanya sulit untuk mengontrol emosi.
Masa SMP merupakan masa puncaknya saya menjadi pribadi yang berbeda. Bisa dibilang, saat itu saya menjadi orang yang temperamental. Di sisi lain, saya menjadi pribadi yang s**a dengan hal-hal ghaib. Saya tidak pernah membayangkan akan jadi seperti itu.
Di sekolah dulu, ada seorang guru yang (maaf) kurang saya s**ai. Saya tidak s**a cara becandanya yang selalu mengorbankan seseorang. Guru yang lucu memang menyenangkan, tapi tidak kalau dia bercanda karena mengejek satu murid dan murid-murid lain ikut menertawakan. Beliau sudah seringkali menjadikan saya bahan untuk candaannya. Saya tahu teman-teman saya tertawa bukan karena merendahkan saya, tapi yang jelas, saya merasa beliau tidak pantas melakukan itu. Ada perasaan dendam yang membara di dalam diri saya.
Di satu kesempatan, saya dengan sengaja menumpahkan tinta spidol diatas kursi guru, tentu saja karena kursi itu warnanya juga hitam. Saya menunggu saat-saat beliau duduk diatas kursi itu. Beliau sedang mengenakan celana berwarna abu-abu. Begitu ia duduk, ada rasa senang yang luar biasa di dalam benak saya. Saya menunggu sampai saatnya dia berdiri dan membelakangi kami.
Saat itu terjadi, teman-teman saya semuanya tertawa melihat celananya sudah penuh dinodai tinta. Dia mencoba mengusap-usap celananya dengan tangannya karena panik, namun tangannya justru semakin kotor dan teman-teman yang lain justru semakin tertawa. Wajahnya merah padam. Saya tersenyum dengan senang dan licik. Beliau melihat saya. Sepertinya beliau tahu saya lah yang ada dibalik kejadian itu. Beliau hanya keluar dari kelas dan tidak kembali lagi. Saat beliau berjalan keluar kelas, dia terus melihat saya dan saya tidak takut untuk terus menatap matanya. Saya sempat melihat ada ekspresi takut di wajahnya. Tapi saya merasa puas. Beliau bahkan absen selama tiga hari.
Setelah kejadian itu, beliau tidak pernah lagi menjadikan saya bahan olokan. Sepertinya beliau sudah berubah, namun tidak dengan saya. Di masa-masa itu, saya selalu mengantongi gunting atau pisau cutter. Saya pernah disidang di kantor kepala sekolah karena saya pernah menodongkan pisau cutter ke teman saya yang sering mengolok-olok saya, dan lehernya terluka cukup parah. Saya juga pernah dengan sengaja mendorong teman saya yang sedang hendak menuruni tangga kemudian berlari dan bersembunyi. Saya juga pernah mencampurkan alkohol ke botol minuman teman saya dan membuatnya pusing dengan hebat dan dilarikan ke UKS. Saya juga pernah merobek ban sepeda motor guru. Semua itu saya lakukan atas dasar rasa benci karena merendahkan saya. Saat itu cukup banyak orang-orang yang mengatakan saya gila karena sering membawa benda tajam. Pihak sekolah sepertinya sudah capek dengan aduan-aduan dari murid lain mengenai tingkah saya. Tapi, kebetulan sekali di masa SMP, prestasi saya justru meningkat. Saya beberapa kali membawa nama sekolah mengikuti kejuaraan. Dan saya juga sudah menyumbangkan piala untuk sekolah itu. Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa sekolah tetap mempertahankan saya.
Awalnya, semua itu hanya didasari rasa benci, tapi lama kelamaan, saya jadi lebih sering melakukannya karena saya merasa senang. Ya, dulu saya sempat menjadi orang yang senang melihat orang menderita karena tindakan saya. Seperti saat saya mencekik teman saya yang tak bersalah, melihatnya merintih kesakitan dan sesak nafas, merupakan hal yang menyenangkan bagi saya.
Suatu hari, setelah jam olahraga, ada teman saya yang mengolok-olok saya karena tidak ikut bermain sepak bola, melainkan hanya duduk menyendiri. Saya sangat membencinya. Kebetulan sekali, saya bertemu dia sedang sendiri masih mengganti baju di dalam bilik toilet. Saat dia keluar dari bilik, saya langsung menghimpitnya ke pojokan, mencekiknya sambil menodongkan pisau cutter ke arah matanya. Dia merintih kesakitan, matanya memerah, dia meronta-ronta dengan hebat. Sayang sekali, tubuhnya kurus dan lebih kecil dari saya. Saya membenturkan kepalanya ke dinding. Saat itu, air matanya mengalir deras. Dia memohon agar saya berhenti dan dia berjanji tidak akan mengulanginya dan tidak akan bilang ke siapapun. Akhirnya saya melepaskannya dan ia terjatuh.
Entah kenapa, saat itu saya merasa sangat senang dan sangat puas.
Setelah kejadian itu, saya pergi ke toilet di lantai atas. Toilet lantai 3, toilet yang paling jarang digunakan, paling gelap dan paling sepi se-antero sekolah itu, toilet yang sering digunakan para guru saja. Itupun kalau toilet khusus guru sedang penuh. Saya duduk di dalam bilik toilet dan tertawa-tawa sendiri. Saya memang merasa gila tapi saya seakan tidak peduli. Tidak lama setelah saya tertawa-tawa, saya terdiam. Dan tanpa saya sadari saya mengeluarkan air mata. Tidak tahu kenapa tapi memang benar, saya menangis. Tidak tahu apakah karena menyesal atau karena apa. Paha saya terasa panas dan perih. Saya membuka celana, dan, ada bekas cap tangan disitu. Ukurannya lebih besar dari ukuran tangan saya saat itu. Saya terheran-heran. Kenapa bisa ada bekas itu. Bekas itu, terlihat seperti ada yang menampar paha saya dengan keras.
Saya hanya menunduk termenung melihat bekas cap tangan itu. Ada bau belerang, ya, bau yang sama dengan yang pernah tercium di dekat lemari dulu. Saya tidak tahu asalnya dari mana. Saya menoleh ke kanan dan kiri dengan perlahan. Saya merasa ada sesuatu yang lain di dalam bilik berukuran 2 x 2 meter itu. Saya memberanikan diri melihat ke atas. Astaga. Ada sosok hitam yang sepertinya sejak tadi memperhatikan saya dari atas sana. Sosok itu mengintip dari bilik sebelah. Saya tidak sempat melihatnya dengan jelas karena saya langsung menundukkan kepala saya. Yang saya ingat, sosoknya gelap, wajahnya tak terlihat, telinganya panjang dan tak berambut.
Saya langsung bergegas keluar dari toilet, dan ternyata berpapasan dengan bapak guru. Ya, bapak guru yang dulu mengolok-olok saya. Saya berhenti sebentar untuk mengucapkan salam hormat, yang harus dilakukan murid ketika berpapasan dengan guru.
“Kamu.. bisa bicara sebentar tidak.” Beliau menghentikan langkah saya.
“Ya, ada apa pak?” Saya bertanya kembali. Sebenarnya saya takut.
“Kamu itu…” Dia memutar-mutarkan jarinya seakan ia bingung.
“Em.. kenapa ya pak.”
“Bapak.. minta maaf ya. Maaf.”
“Maaf kenapa ya pak.”
“Maaf, bapak dulu pernah ngejek-ngejek.”
“Oh, iya, nggak apa-apa kok pak.” Sahut saya.
“Iya. Sekali lagi maafkan bapak.”
“Iya pak, gak apa apa kok, serius. Saya juga sudah lupa.”
Saya kembali melanjutkan langkah. Saat itu sepertinya saya memang sudah benar-benar memaafkannya. Ternyata cukup dengan kata maaf darinya, saya bisa luluh.
“Oh, ya.” Beliau kembali menghentikan langkah saya.
“Ya, kenapa lagi pak?”
“Ng… tolong sampaikan maaf saya.”
“Loh kan tadi udah pak??”
“Iya, satu lagi. Sampaikan maaf saya sama dia.”
“Maksud bapak?”
“Iya, mohon sampaikan padanya, jangan ganggu saya lagi. Saya minta maaf.”
“Saya nggak ngerti pak.” Saya merinding. Saya bingung.
“Sewaktu bapak pergi meninggalkan kelas, waktu saya kena tinta.
Saya tahu itu kamu yang melakukannya. Tapi, saat itu bapak juga melihat ada ‘orang’ lain yang berdiri di belakang kamu. Wajahnya kelihatan marah.”
Saya hanya terdiam seribu bahasa. Bulu kuduk saya berdiri dengan hebatnya. Saya tak percaya ucapannya. Tidak mungkin.
“Sejak itu bapak sakit demam. Dia datang terus.” Beliau kembali melanjutkan ceritanya.
Tidak sampai ia selesai berbicara, saya langsung pergi meninggalkannya. Kepala saya terasa pusing. Pantas saja, sejak kejadian itu dia seakan tidak berani melihat saya. Saya bingung. Saya sadar, tidak seharusnya saya berbuat separah itu. Apa mungkin, selama ini teman-teman saya yang dianiaya juga melihatnya?
Saya bahkan merasa kalau selama ini saya melakukan itu diluar keinginan saya. Karena jujur, setiap kali saya menganiaya teman saya, meskipun saya tertawa, batin saya menangis.
Saya menyadari perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri. Bahkan, gangguan yang saya alami, kini sudah masuk menjadi bisikan-bisikan halus di dalam benak saya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya menjadi lebih peka terhadap hal-hal ghaib. Yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh orang lain termasuk keluarga saya sendiri.
Di masa-masa SMP lah, ada kegiatan lain yang sering saya lakukan selain menyendiri di dalam ruangan. Saya sering berjalan-jalan sendiri, mengelilingi danau dan taman kompleks.
***
(Api Unggun)
Ya, masa SMP merupakan masa yang sulit bagi saya. Saat beranjak remaja memang membingungkan, ditambah lagi dengan adanya intervensi dari masa lalu, ‘gangguan’ dan faktor eksternal lainnya.
Sewaktu duduk di bangku kelas 3 SMP, semuanya memuncak. Banyak pikiran yang harus membebani saya. Tapi untunglah, di masa SMP p**a, saya mengenal orang-orang baru, sahabat yang bisa menerima saya dan selalu bisa pengertian, meskipun di sisi lain banyak yang takut dengan tingkah saya. Kehadiran ‘teman’ itu semakin terasa nyata. Setiap kali ada orang yang mengganggu saya, orang itu pasti seakan menerima hukumannya, dan tidak mengulanginya lagi. Saya juga semakin peka terhadap gangguan. Setiap kali saya pergi ke tempat-tempat yang punya latar belakang horor, pasti saya yang paling pertama diganggu.
Pernah suatu saat, saya bersama perkump**an keluarga-keluarga di kompleks, pergi ke daerah Dataran Tinggi untuk liburan singkat. Kami menginap di mess perusahan perkebunan karena kebetulan salah satu tetangga kami merupakan pejabat di perusahaan itu.
Bangunannya memang bangunan tua, lokasinya berada di atas bukit, masih di dalam pekarangan penginapan itu. Kami tiba di sana sekitar sebelum maghrib. Suasananya sangat enak, udaranya segar, banyak pepohonan dan bunga-bunga (bukan syahr*ni yaaa).
Anak-anak perempuan pada sibuk berfoto ria di pekarangan itu. Kebetulan saat itu, saya termasuk yang paling muda, remaja lain yang ikut juga kebanyakan sudah SMA, bahkan kuliah. Jadi saya harus siap ketika disuruh ini-itu. Saat itu saya menjadi fotografer dadakan bagi mereka yang narsis. Hingga akhirnya, saya memfoto kak Risma (nama samaran) di bawah sebuah pohon besar. Entah kenapa, sebelum memfoto, seakan ada bisikan dari ‘teman’ saya untuk tidak melakukannya. Rasanya berat, saya merasa tidak s**a berada di bawah pohon itu. Tapi, saya akhirnya tetap memfoto kak Risma.
Semuanya berjalan lancar, ibu-ibu mempersiapkan makan malam, bapak-bapak mempersiapkan perlengkapan untuk acara bakar-bakar dan karaoke.
Setelah makan malam, ibu-ibu sudah siap-siap untuk bernyanyi. Kak Risma sedang duduk di sofa sambil memperhatikan sesuatu di hp nya. Teman-temannya langsung mengganggunya, penasaran apa yang sedang ia lihat. Ternyata, di foto itu, ya, yang saya foto tadi, jika dilihat secara seksama, ada sosok lain yang sedang ikut duduk di sampingnya. Percaya atau tidak. Teman-temannya sebenarnya juga ketakutan, saya bisa melihatnya. Tapi karena tidak ingin merusak suasana, teman-teman yang lain hanya tertawa-tawa demi menghibur kak Risma yang wajahnya sudah pucat. Saat itu pun saya sebenarnya sudah tidak mood mau keluar dari rumah penginapan, padahal teman-teman yang lain sudah mengajak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar. Ya, tahu lah, di umur remaja, kami sering s**a iseng mencari-cari tempat yang menyeramkan kemudian lari ketakutan bersama-sama. Tapi, sayangnya saya sudah tidak lagi ingin melakukannya. Saya sudah cukup bermain-main dengan hal-hal itu.
Akhirnya, kak Risma memang benar-benar tidak ikut bermain dengan teman teman seusianya yang lain. Dia hanya tiduran di kamar, katanya dia merasa tidak enak badan. Sedangkan kami, beberapa yang masih tergolong masih lebih muda dari remaja-remaja lain, tetap melancarkan ‘ekspedisi’ itu. Sebelum memulai ‘ekspedisi’, kami menyempatkan untuk membantu bapak-bapak membakar api unggun. Saat api unggun mulai menyala, ada perasaan tidak enak di dalam diri saya. Ada seorang bapak-bapak lain, sepertinya iya bukan dari rombongan kami. Mungkin ia penduduk setempat, atau si penjaga rumah. Ia terus memperhatikan kami, tapi rasanya ia lebih lama memperhatikan saya. Akhirnya, kami berjalan-jalan melihat-lihat bangunan lain yang kosong. Sebenarnya, selagi kami berjalan-jalan, saya sudah melihat ada sosok makhluk kecil yang mengikuti kami dari belakang sejak awal. Tapi saya hanya diam saja. Tentu saja bakal ada makhluk halus yang mendatangi kami, karena dari awal niat kami memang sudah untuk itu, sehingga aura negatif itu terpancar.
Kami melewati lorong di luar kamar-kamar. Saya sempat mendengar ada yang memanggil-manggil nama saya. Tapi, kali ini, teman-teman yang lain juga mendengarnya. Di saat yang bersamaan, pintu di sebelah kami diketuk dengan sangat halus.
Kami langsung lari ketakutan. Saat itu p**a, lantunan suara ibu-ibu karaoke yang terdengar dari kejauhan pun berhenti. Sambil kebingungan, kami tetap berlari menuju rumah tempat kami menginap.
Setibanya di sana, ternyata, ada yang sedang kesurupan. Bang Ari (nama samaran), sedang didudukkan oleh bapak-bapak di sofa. Wajahnya pucat. Bibirnya membiru. Lingkar matanya menghitam.
Kami semua hanya memperhatikan dari jauh karena ibu-ibu melarang kami mendekat. Saya menatap bang Ari dari kejauhan, penasaran. Tiba-tiba dia membuka matanya dan melihat saya. Ia pun teriak dengan kencangnya. Semua pun panik.
“Mana si pak tua?? Tolong panggilkan dia, cepat!!” teriak si bapak yang sedang memegangi bang Ari.
Ternyata, si pak Tua itu adalah orang yang memperhatikan kami saat membakar api unggun tadi. Ternyata dia memang penduduk setempat yang dipercayakan untuk menjaga area penginapan. Ia juga mengaku dapat ‘menyembuhkan’ orang yang sedang keras**an.
Bang Ari masih teriak dengan sangat kencang sambil melihat ke arah saya. Saya takut sekali saat itu. Sorot matanya begitu mengerikan.
Akhirnya, setelah dibaca-bacakan doa dari Pak Tua, bang Ari mulai tenang. Ia ditidurkan di sofa, sambil diusap-usapkan minyak angin. Sedangkan kami, hanya terdiam, sampai akhirnya bapak-bapak mengajak kami keluar ruangan untuk kembali menikmati hidangan.
“Jangan lagi memulai keributan!” Sahut Pak Tua.
Pak Tua mengatakan kalau sejak awal kami sudah tidak sopan. Beliau mengatakan, ternyata selama ini belum ada gangguan seperti itu di tempatnya.
“Baru kali ini, ada yang sampai kayak gini.” Dia berkata sambil menatap saya dengan tajam.
Sejak awal dia melihat saya, memang dia selalu menampakkan sorot mata yang tajam.
Beliau mengatakan bahwa tingkah kami sangat mengganggu. Adanya api unggun di dekat pohon besar itu, ibu-ibu juga bernyanyi dengan sangat kencang, dan lagi, menurutnya, dia melihat ada beberapa diantara kami yang pacaran diluar batas di area taman yang gelap.
Seketika itu p**a, suasana languns menjadi tidak enak. Semuanya terlihat lemas. Ibu-ibu juga memutuskan untuk tidak melanjutkan bernyanyi.
Kami memutuskan untuk mematikan api unggun, dan tidur. Rasanya itu liburan paling tidak enak yang pernah saya alami. Kami hanya direncanakan untuk menginap semalam. Sedangkan malam itu, semuanya terasa gagal.
Saat kami mendekati api unggun, api itu malah menyemburkan benda-benda yang ia bakar di dalamnya. Tangan saya sampai terpercik bara api dan menyisakan luka yang berbekas sangat lama. Beberapa teman dan bapak-bapak lain juga turut terkena bara api itu. Api itu justru semakin membara, menjadi-jadi. Akhirnya tidak ada yang berani mendekat. Api unggun yang awalnya direncanakan untuk kami duduk mengelilinginya, justru harus dijauhi. Tidak lama sejak kami berjalan meninggalkan api unggun, api itu mengecil dengan cepat. Cepat sekali hingga akhirnya hingga menyisakan arang-arang sisa pembakaran. Semuanya langsung memutuskan untuk tidur. Para bapak-bapak memang sejak awal sudah ditugaskan untuk tidur di ruang tengah yang luas, karena jumlah kamar tidur yang terbatas. Tapi, saat saya pergi ke toilet di tengah malam, mereka semua tidak ada. Mungkin mereka tidur di mobil masing-masing karena mungkin disana lebih hangat daripada di ruang tengah yang luas, dalam kondisi jendela yang tidak bisa ditutup.
Saya dan teman-teman lainnya, malam itu kesulitan tidur. Kami semua tidak ada yang berbicara, tapi semuanya ketakutan. Semuanya berebutan untuk tidur di bagian yang paling jauh dari jendela kamar. Karena kamar kami langsung berhadapan dengan pohon besar itu.
Keesokan paginya, suasana sudah lebih baik. Ibu-ibu mempersiapkan sarapan. Kak Risma sudah lebih enakan. Bang Ari sudah terbangun tapi dia masih lemas dan diam saja. Bapak-bapak kembali ke dalam rumah. Ternyata benar, mereka tidur di mobil masing-masing.
Suasana masih sedikit gelap. Udara begitu dingin.
Saat itu diantara teman-teman seusia saya lainnya, saya paling cepat bangun. Akhirnya, saya harus bersedia, disuruh bapak-bapak. Hampir semuanya, bahkan ayah saya sendiri, ikut menyuruh saya untuk mengambil barang-barang yang masih berada di mobil. Akhirnya, salah seorang dari ibu-ibu bertanya.
“Kenapa dia aja sih dari tadi yang disuruh-suruh?? Kasian tau, baru bangun udah disuruh ini itu.” Ia bertanya kepada sekump**an bapak-bapak yang sedang asyik merokok.
Akhirnya, salah seorang bapak-bapak memulai cerita. Ternyata mereka masih takut untuk kembali ke mobil. Tadi malamnya, mereka semua, di mobil masing-masing, diganggu oleh ‘makhluk lain’. Ada yang mobilnya diguncang-guncang, ada yang dibisikkan sesuatu, ada yang dipercikkan air, ada yang dipanggil namanya, sampai ada yang menggelitik kakinya.
Saat itu p**a saya merinding ketakutan. Suasana kembali menjadi tidak enak saat itu. Tapi, karena mereka sudah terlanjur ketakutan, mereka memilih untuk tetap di mobil, daripada harus berjalan cukup jauh dari parkiran menuju mess.
Siangnya, saat hendak p**ang, Pak Tua menghampiri saya. Saya takut sekali. Saat itu ia masih dengan sorot matanya yang begitu tajam. Dia melihat saya dari atas sampai bawah.
“Siapa kau??” Dia bertanya dengan logat batak.
Tapi, anehnya, dia tidak melihat ke wajah saya saat menanyakan itu.
Dia melihat ke belakang saya. Sedangkan saat itu, tidak ada orang lain di belakang saya. Hanya tembok.
“Pergi kau!! Pergi sana!!” dia berteriak.
Saya tidak tahan dengan teriakan itu. Saya tidak s**a. Saya langsung pergi meninggalkannya tanpa berkata apapun. Saya memasuki mobil. Dia masih berdiri di tempat yang sama, sambil memperhatikan kami yang bergerak pergi satu per satu. Liburan yang aneh.
Banyak teman-teman saya yang saat itu sudah mengetahui kisah saya. Tapi mereka tentu sebatas mendengar dan memberi nasihat. Karena saya juga tahu, tidak banyak yang bisa mereka lakukan.
Sejak saat itu p**a, banyak teman saya yang penasaran dan ingin ikut ‘merasakan’ gangguan-gangguan itu. Sungguh bodoh.
Untuk pertama kalinya, saya membawa seorang teman, dengan tujuan agar ia bisa ikut merasakannya. Sebelumnya, jika ada teman ke rumah, tujuannya ya hanya untuk bermain, atau, belajar.
Sebenarnya saya agak takut kalau sampai ada yang terjadi diluar ekspektasi.
Saya bilang kepada teman saya, kalau saya tidak tahu apakah akan ada gangguan atau tidak. Saya sudah bersiap-siap, jika memang ternyata tidak ada apa-apa, nantinya akan disebut pembohong atau apapun itu. Malam itu, dia datang dengan alasan ke orangtuanya, bahwa kami akan belajar kelompok. Saya pun menggunakan alasan yang sama ke orang tua saya. Setibanya di rumah, saya langsung membawa dia ke tangga di dapur. Tidak disangka, ternyata wajahnya sudah cukup pucat saat itu, padahal saya merasa biasa saja. Mungkin karena saya sudah biasa atau karena ia sudah terpengaruh cerita saya selama ini. Kemudian, saya mengajaknya untuk duduk-duduk di kamar kosong itu. Awalnya dia sempat menolak, tapi akhirnya ia memberanikan diri. Kami pun duduk di ruangan itu. Kami hanya membaca komik sambil bercerita-cerita. Lama kelamaan, suasana kembali hangat, dari awalnya dia tampak ketakutan, saat itu sepertinya ia sudah biasa saja, bahkan mungkin bosan karena ia tak juga mendapat ‘gangguan’ yang dia inginkan.
“Mana nih kok nggak ada juga.” Tanyanya.
“Aduh, udah lah, lebih bagus nggak ada.”
“Ih janganlah, penasaran tau.”
“Terserah.”
“Halooo sini lah, main-main sama kami. Kok ngumpet!” teriaknya.
“Huss jangan! Udah gila ya!” saya mengumpat.
“Ga asik! Sini lah kalo berani!!”
“Nah elu tadi ketakutan. Aku ngga tanggung jawab ya kalo ada apa-apa.”
Tiba-tiba saja. Saya mendengar suara nafas. Persis seperti saat dulu pertama kali saya mengajak ‘dia’ berbicara. Tapi sepertinya teman saya itu tidak mendengarnya.
“Tuh, denger nggak. Dia udah datang. Aku pergi dulu ya, takut juga.”
“Ah, mana sih nggak ada.”
“Denger aja baik-baik. Diem aja dulu.”
Dia diam, menutup matanya sambil menajamkan pendengaran. Saat itu p**a, dia pun benar-benar terdiam. Ya, diam seribu bahasa. Wajahnya pucat. Dia memegang tangan saya. Tangannya dingin.
“Tuh kan udah aku bilang. Malah nantangin.”
“Aku….. mau p**ang aja.”
Ternyata, dia sadar telah melakukan kesalahan. Meskipun saya sudah cukup terbiasa, tapi sesungguhnya saya tidak pernah terhindar dari rasa takut setiap kali ada gangguan. Saat kami hendak berdiri, dia malah kembali terduduk. Dia menunjuk-nunjuk arah belakang saya. Lagi dan lagi. Dia terbata-bata. Sepertinya dia melihat sesuatu. Saya pun ketakutan. Saya hanya diam melihat wajahnya. Kemudian dia menutup matanya sambil berteriak menyesal. Akhirnya kami pun dengan perlahan keluar dari kamar, meskipun rasanya ingin berteriak, tapi tidak mungkin karena saya tidak mau dimarahi orang tua karena tindakan kami.
Saya awalnya tidak memperbolehkan dia p**ang, sampai abang saya p**ang, karena jujur, saya juga sebenarnya tidak berani untuk kembali ke lantai atas, meskipun saya ke kamar saya sendiri, bukan ke kamar kosong itu. Tapi, karena dia sudah tidak tahan, akhirnya saya memperbolehkan dia p**ang, dengan syarat, dia tidak akan cerita ke siapapun. Dia pun pergi dengan sepeda motornya, sampai-sampai dia lupa membawa tasnya.
Ya, masa SMP memang begitu sulit. Tapi, akhirnya saya punya waktu kosong yang berlimpah saat libur setelah UN SMP. Libur yang begitu panjang. Saya mencoba diam-diam untuk menggunakan masa libur itu untuk kembali mencari tahu ada apa. Tapi, kali ini, saya tidak hanya mencari tahu apa yang terjadi di rumah ini, tapi juga mencari tahu apa yang terjadi dengan saya.
Bersambung ke Part selanjutnya.
Credit : Hafizwidjojo