01/06/2026
Mama Yasinta dan Kolonisasi Kesadaran
Kasus Mama Yasinta tidak cukup dibaca sebagai persoalan pilihan politik individu semata. Terlalu sederhana jika publik hanya diminta menerima situasi ini dengan alasan bahwa setiap orang berhak menentukan sikap politiknya sendiri. Dalam konteks Papua yang masih dibayangi relasi kuasa yang tidak setara, pertanyaan yang lebih penting justru adalah: sejauh mana sebuah pilihan benar-benar lahir dari kesadaran yang bebas?
Mama Yasinta dikenal sebagai sosok yang sejak lama menyuarakan keresahan atas penghancuran tanah dan hutan adat Papua. Karena itu, ketika beliau kemudian tampil berulang kali di ruang publik untuk menyerang film maupun pihak-pihak yang selama ini berada dalam lingkar perjuangan yang sama, wajar jika muncul pertanyaan kritis. Apakah suara yang disampaikan itu benar-benar lahir dari kehendak yang bebas, atau merupakan hasil dari tekanan dan pengaruh kekuasaan yang bekerja secara halus?
Pemikir antikolonial Frantz Fanon pernah menjelaskan bahwa kolonialisme tidak hanya bekerja melalui penguasaan wilayah dan sumber daya alam. Kolonialisme juga berusaha menguasai kesadaran. Tujuannya bukan sekadar mengendalikan tanah, tetapi juga membentuk cara berpikir mereka yang dijajah. Ketika hal itu terjadi, korban kolonial dapat perlahan menggunakan bahasa, logika, dan cara pandang kolonial untuk melihat dirinya sendiri maupun perjuangan rakyatnya.
Dalam konteks inilah laporan keluarga mengenai kondisi Mama Yasinta perlu diperhatikan secara serius. Jika benar terdapat proses pengondisian, pendekatan kekuasaan, atau penggunaan fasilitas tertentu untuk membentuk narasi yang kemudian dipertontonkan kepada publik, maka persoalan ini tidak lagi sekadar menyangkut pilihan pribadi. Yang sedang berlangsung bisa jadi merupakan bentuk hegemoni modern.
Antonio Gramsci menyebut hegemoni sebagai kemampuan kekuasaan membentuk cara berpikir masyarakat sehingga dominasi tidak lagi tampak sebagai paksaan. Penindasan menjadi terlihat wajar, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang masuk akal. Dalam situasi demikian, kekuasaan tidak perlu selalu menggunakan kekerasan karena ia telah berhasil bekerja melalui kesadaran.
Fenomena ini juga dapat dipahami sebagai apa yang disebut sebagai kesadaran semu (false consciousness). Melalui rasa takut, isolasi, tekanan sosial, pendekatan simbolik, tawaran ekonomi, atau operasi media yang terus-menerus, seseorang dapat diarahkan untuk menerima narasi yang pada akhirnya justru melemahkan perjuangan kolektif yang selama ini ia hidupi.
Karena itu, publik tidak seharusnya berhenti pada narasi “menghormati Mama Yasinta” tanpa melihat konteks yang lebih luas. Menghormati seseorang tidak berarti menutup ruang kritik terhadap struktur kekuasaan yang mungkin sedang bekerja di belakangnya. Kritik terhadap sistem tidak boleh dipelintir menjadi serangan terhadap individu.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang Mama Yasinta. Yang dipertaruhkan adalah bagaimana suara, pengalaman, dan luka masyarakat adat Papua diposisikan dalam ruang politik. Ketika tubuh dan suara masyarakat adat digunakan untuk membenarkan atau melemahkan perjuangan rakyatnya sendiri, maka yang sedang terjadi bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan pertarungan atas makna, kesadaran, dan masa depan Papua itu sendiri.
Kolonialisme yang paling berbahaya bukan hanya yang merampas tanah, hutan, dan kekayaan alam. Kolonialisme yang paling berbahaya adalah yang berhasil masuk ke dalam kesadaran, hingga mereka yang tertindas tanpa sadar berbicara dengan bahasa yang digunakan untuk mempertahankan penindasan itu sendiri.
Repost: Viktor Yeimo