Tribun West Papua

Tribun West Papua Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Tribun West Papua, News & Media Website, Nabire.

04/07/2026

Aparat Indonesia sedang Brvtal di tengah rakyat Sipil 🔥✊✊

Statement on the Reported Killings of Civilians in Intan Jaya, Central Papua2 July 2026I strongly condemn the reported k...
04/07/2026

Statement on the Reported Killings of Civilians in Intan Jaya, Central Papua
2 July 2026

I strongly condemn the reported killing of civilians during the ongoing Indonesian military operation in Intan Jaya, Central Papua. Reports of repeated military operations, including the reported use of drone attacks, have raised grave concerns about the safety and protection of civilians.

The Regent of Intan Jaya has publicly acknowledged that the victims are civilians and expressed deep disappointment that state security forces failed to distinguish between civilians and OPM members.

Intan Jaya is facing a deepening humanitarian crisis. Civilians continue to bear the devastating consequences of the conflict, with many living in fear, displacement, and insecurity. No civilian should be forced to flee their home or fear for their life because of armed conflict.

One of the reported victims has been identified as Oto Sani Tigau, a 19-year-old civilian from Mamba Village, Sugapa District, Intan Jaya Regency. According to reports, he disappeared on 29 June 2026 and his body was found on 1 July 2026 behind the Habema TNI Post in Mamba Village. Reports allege that he had sustained multiple gunshot wounds and other injuries consistent with torture. These allegations are deeply disturbing and demand urgent scrutiny.

If these allegations are substantiated, they may constitute serious violations of international human rights law and, where applicable, international humanitarian law. Such allegations must never be ignored.

I therefore call for:

* An immediate, independent, impartial, and transparent international investigation into the reported killings and other alleged abuses in Intan Jaya.
* Full protection for civilians and unhindered humanitarian access to affected communities.
* Accountability for anyone found responsible for unlawful killings, torture, or other violations of international law.
* Close monitoring of the situation by the United Nations, governments, churches, regional organizations, and international human rights organizations.

The people of Intan Jaya deserve justice, protection, and accountability. The international community must not remain silent in the face of these serious reported allegations. Every civilian life has equal value, and every credible allegation of abuse deserves an independent investigation.

Benny Wenda
Interim President of West Papua

Dua Orang Ibu Rumah Tangga Korban Serangan Bom di Intan Jaya Saat Drone dan Helikopter Militer Indonesia Melakukan Opera...
21/06/2026

Dua Orang Ibu Rumah Tangga Korban Serangan Bom di Intan Jaya Saat Drone dan Helikopter Militer Indonesia Melakukan Operasi di Pemukiman Warga Sipil, TPNPB: Prabowo Subianto, Letkol Inf Wirya Arthadiguna dan Jajaran Aparat Militer Indonesia Pelaku Kejahatan Perang di Papua, Karena telah Mengorbankan Warga Sipil secara Langsung

Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Minggu, 21 Juni 2026

Silahkan Ikuti Laporan Dibawa Ini.!

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap VIII Intan Jaya dari markas bahwa, serangan "bom" yang dilancarkan oleh aparat militer Indonesia terhadap rakyat Sipil di Papua.

Pada 18 Juni 2026 adalah salah satu bukti dari perlakuan tersebut itu kepada ibu Agolu Pogau dan Ibu Otovina Hogajau, di siang hari (lihat gambar 1 dan 2). Perihal peristiwa itu terjadi di kampung Danggoa, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya terjadi saat aparat militer Indonesia melakukan satu dari sekian berulang operasi udara menggunakan helikopter dan drone militer Indonesia.

Maka dari itu pernyataan Letkol Inf Wirya Arthadiguna yang dikeluarkan oleh melalui media-media nasional yang menyebutkan bahwa aparat militer Indonesia tidak melakukan serangan bom di Intan Jaya itu menurut kami, TPNPB Kodap VIII Intan Jaya adalah "Tidak benar! "

Aparat militer Indonesia sedang menutupi kejahatan perang di Intan Jaya karena telah mengorbankan warga sipil saat serangan bom dilakukan. Penggunaan senjata berat oleh aparat militer Indonesia seperti drone, pesawat super tucano dan helikopter militer dalam operasi di Papua telah memakan banyak korban jiwa di Intan Jaya, Puncak, Lanny Jaya, Pegunungan Bintang, Nduga, Puncak Jaya dan wilayah konflik lainnya.

Sehingga, PBB atau Persekitan Bangsa-Bangsa segera mengirimkan "Tim Investigasi" dalam penyelidikan kejahatan perang di Papua dan memberikan mandat kepada Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM PBB untuk melakukan investigasi serta memberikan bantuan kemanusiaan bagi 122.931 warga sipil yang mengungsi diberbagai daerah di tanah Papua, sebagaimana dalam laporan yang dikeluarkan oleh Human Rights Monitor per Juni 2026.

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya juga melaporkan bahwa operasi udara menggunakan drone dan helikopter militer Indonesia telah meningkat sejak tahun lalu hingga sekarang di Intan Jaya dan telah mengobarkan dua orang ibu rumah tangga, sejak terjadinya serangan bom terhadap Gereja Katolik di Intan Jaya pada 17 Mei 2026 dan serangan bom pada 18 Juni 2026 kemarin, aparat militer Indonesia masih terus melakukan operasi berskala besar namun, operasi dan serangan bom tersebut bukan diarahkan kepada pasukan TPNPB.

Murni serangan itu ditujukan kepada ibu-ibu, anak-anak, gereja dan pemukiman warga sipil di Intan Jaya.

Oleh sebab itu, presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Agus Subyanto dan jajarannya harus bertanggung jawab atas kejahatan perang di Papua karena telah mengorbankan warga sipil secara langsung.

P*S TPNPB juga melaporkan bahwa akibat dari serangkaian operasi militer sejak tahun 2019 hingga serangan bom di Intan Jaya yang mengakibatkan dua orang ibu menjadi korban sehingga warga sipil di kampung-kampung yang berada di Distrik Agisiga, Distrik Hitadipa dan Distrik Sugapa tidak melakukan aktivitas dengan baik seperti berkebun dan berburu karena drone dan helikopter militer Indonesia terus melakukan operasi udara di perkebunan dan pemukiman warga sipil sehingga warga ketakutan dan banyak orang sudah mengungsi di Nabire, Timika dan sebagian lainnya di Jayapura untuk mencari perlindungan. Kami juga melaporkan penggunaan senjata berat oleh aparat militer Indonesia di Intan Jaya sejak 15-21 Juni 2026 itu tercatat 3 unit helikopter militer dan belasan drone yang difasilitasi oleh bom sementara jumlah personil militer Indonesia sangat banyak.

Dalam hal tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB meminta kepada PBB agar segera mengeluarkan mandat kepada Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM PBB untuk melakukan investigasi dan penyelidikan kejahatan perang di Papua serta memberikan bantuan kemanusiaan terhadap 122.931 warga sipil yang mengungsi di berbagai daerah di Tanah Papua akibat konflik bersenjata terjadi antara Tentara Pembebasan Nasional Papua dan aparat militer Indonesia.

Pemberian bantuan kemanusiaan oleh PBB dan lembaga-lembaga HAM internasional terhadap pengungsi internal di Papua ini harus dilakukan karena Palang Merah Indonesia dan pemerintah Indonesia sedang membiarkan para pengungsi yang tersebar di hutan-hutan dan daerah lainnya di Papua tanpa adanya bantuan kemanusiaan sehingga krisis kemanusiaan terhadap pengungsi sedang terjadi. Banyak pemgungsi kelaparan, kesakitan dan kematian terus meningkat akibat tidak adanya perhatian serius oleh Palang Merah Indonesia terhadap pengungsi internal di Papua sehingga PBB harus turun tangan menangani krisis kemanusiaan akibat konflik bersenjata.

Demikian Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Minggu, 21 Juni 2026 oleh Sebby Sambom Jubir TPNPB OPM.

‎Dan terima kasih atas kerja sama yang baik.

‎Penanggungjawab Nasional Komando Markas Pusat Komando Nasional TPNPB-OPM.

‎Jenderal Goliath Tabuni
‎Panglima Tinggi TPNPB-OPM

‎Letnan Jenderal Melkisedek Awom
‎Wakil Panglima TPNPB-OPM

‎Mayor Jenderal Terianus Satto
‎Kepala Staf Umum TPNPB-OPM

‎Mayor Jenderal Lekagak Telenggen
‎Komandan Operasi Umum TPNPB-OPM

🔥✊✊✊

Dua Orang Ibu Rumah Tangga Korban Serangan Bom di Intan Jaya Saat Drone dan Helikopter Militer Indonesia Melakukan Opera...
21/06/2026

Dua Orang Ibu Rumah Tangga Korban Serangan Bom di Intan Jaya Saat Drone dan Helikopter Militer Indonesia Melakukan Operasi di Pemukiman Warga Sipil, TPNPB: Prabowo Subianto, Letkol Inf Wirya Arthadiguna dan Jajaran Aparat Militer Indonesia Pelaku Kejahatan Perang di Papua, Karena telah Mengorbankan Warga Sipil secara Langsung

Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Minggu, 21 Juni 2026

Silahkan Ikuti Laporan Dibawa Ini.!

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap VIII Intan Jaya dari markas bahwa, serangan "bom" yang dilancarkan oleh aparat militer Indonesia terhadap rakyat Sipil di Papua.

Pada 18 Juni 2026 adalah salah satu bukti dari perlakuan tersebut itu kepada ibu Agolu Pogau dan Ibu Otovina Hogajau, di siang hari (lihat gambar 1 dan 2). Perihal peristiwa itu terjadi di kampung Danggoa, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya terjadi saat aparat militer Indonesia melakukan satu dari sekian berulang operasi udara menggunakan helikopter dan drone militer Indonesia.

Maka dari itu pernyataan Letkol Inf Wirya Arthadiguna yang dikeluarkan oleh melalui media-media nasional yang menyebutkan bahwa aparat militer Indonesia tidak melakukan serangan bom di Intan Jaya itu menurut kami, TPNPB Kodap VIII Intan Jaya adalah "Tidak benar! "

Aparat militer Indonesia sedang menutupi kejahatan perang di Intan Jaya karena telah mengorbankan warga sipil saat serangan bom dilakukan. Penggunaan senjata berat oleh aparat militer Indonesia seperti drone, pesawat super tucano dan helikopter militer dalam operasi di Papua telah memakan banyak korban jiwa di Intan Jaya, Puncak, Lanny Jaya, Pegunungan Bintang, Nduga, Puncak Jaya dan wilayah konflik lainnya.

Sehingga, PBB atau Persekitan Bangsa-Bangsa segera mengirimkan "Tim Investigasi" dalam penyelidikan kejahatan perang di Papua dan memberikan mandat kepada Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM PBB untuk melakukan investigasi serta memberikan bantuan kemanusiaan bagi 122.931 warga sipil yang mengungsi diberbagai daerah di tanah Papua, sebagaimana dalam laporan yang dikeluarkan oleh Human Rights Monitor per Juni 2026.

TPNPB Kodap VIII Intan Jaya juga melaporkan bahwa operasi udara menggunakan drone dan helikopter militer Indonesia telah meningkat sejak tahun lalu hingga sekarang di Intan Jaya dan telah mengobarkan dua orang ibu rumah tangga, sejak terjadinya serangan bom terhadap Gereja Katolik di Intan Jaya pada 17 Mei 2026 dan serangan bom pada 18 Juni 2026 kemarin, aparat militer Indonesia masih terus melakukan operasi berskala besar namun, operasi dan serangan bom tersebut bukan diarahkan kepada pasukan TPNPB.

Murni serangan itu ditujukan kepada ibu-ibu, anak-anak, gereja dan pemukiman warga sipil di Intan Jaya.

Oleh sebab itu, presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Agus Subyanto dan jajarannya harus bertanggung jawab atas kejahatan perang di Papua karena telah mengorbankan warga sipil secara langsung.

P*S TPNPB juga melaporkan bahwa akibat dari serangkaian operasi militer sejak tahun 2019 hingga serangan bom di Intan Jaya yang mengakibatkan dua orang ibu menjadi korban sehingga warga sipil di kampung-kampung yang berada di Distrik Agisiga, Distrik Hitadipa dan Distrik Sugapa tidak melakukan aktivitas dengan baik seperti berkebun dan berburu karena drone dan helikopter militer Indonesia terus melakukan operasi udara di perkebunan dan pemukiman warga sipil sehingga warga ketakutan dan banyak orang sudah mengungsi di Nabire, Timika dan sebagian lainnya di Jayapura untuk mencari perlindungan. Kami juga melaporkan penggunaan senjata berat oleh aparat militer Indonesia di Intan Jaya sejak 15-21 Juni 2026 itu tercatat 3 unit helikopter militer dan belasan drone yang difasilitasi oleh bom sementara jumlah personil militer Indonesia sangat banyak.

Dalam hal tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB meminta kepada PBB agar segera mengeluarkan mandat kepada Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM PBB untuk melakukan investigasi dan penyelidikan kejahatan perang di Papua serta memberikan bantuan kemanusiaan terhadap 122.931 warga sipil yang mengungsi di berbagai daerah di Tanah Papua akibat konflik bersenjata terjadi antara Tentara Pembebasan Nasional Papua dan aparat militer Indonesia.

Pemberian bantuan kemanusiaan oleh PBB dan lembaga-lembaga HAM internasional terhadap pengungsi internal di Papua ini harus dilakukan karena Palang Merah Indonesia dan pemerintah Indonesia sedang membiarkan para pengungsi yang tersebar di hutan-hutan dan daerah lainnya di Papua tanpa adanya bantuan kemanusiaan sehingga krisis kemanusiaan terhadap pengungsi sedang terjadi. Banyak pemgungsi kelaparan, kesakitan dan kematian terus meningkat akibat tidak adanya perhatian serius oleh Palang Merah Indonesia terhadap pengungsi internal di Papua sehingga PBB harus turun tangan menangani krisis kemanusiaan akibat konflik bersenjata.

Demikian Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Minggu, 21 Juni 2026 oleh Sebby Sambom Jubir TPNPB OPM.

‎Dan terima kasih atas kerja sama yang baik.

‎Penanggungjawab Nasional Komando Markas Pusat Komando Nasional TPNPB-OPM.

‎Jenderal Goliath Tabuni
‎Panglima Tinggi TPNPB-OPM

‎Letnan Jenderal Melkisedek Awom
‎Wakil Panglima TPNPB-OPM

‎Mayor Jenderal Terianus Satto
‎Kepala Staf Umum TPNPB-OPM

‎Mayor Jenderal Lekagak Telenggen
‎Komandan Operasi Umum TPNPB-OPM

🔥✊✊✊

20/06/2026

STATEMENT OF CONDEMNATION

URGENT REPORT – INTAN JAYA, WEST PAPUA
18 June 2026

I condemn the reported use of drones by Indonesian military forces against civilians in Intan Jaya, West Papua.

According to reports from the area, Indonesian military forces (TNI) allegedly dropped a bomb from a drone on a civilian settlement in Danggoa Village, Agisiga District, Intan Jaya Regency, on 18 June 2026.

The victim, an elderly woman, had reportedly just returned from her garden and was washing sweet potatoes when the explosion occurred. The attack allegedly resulted in her death.

Brief chronology:

The woman returned home after harvesting food from her garden.
While washing sweet potatoes, an explosive device was reportedly dropped from a drone.
The explosion caused fatal injuries.

Local sources further report that in conflict-affected areas, drones are being used in military operations and that explosive devices or landmines have allegedly been placed along footpaths used by civilians.
Victims name :
Mrs. Otovina Hogajau – sustained injuries to her right thigh.
Mrs. Agolu Pogau – sustained injuries to the left side of her chest.

If these reports are confirmed, they represent a grave violation of human rights and raise serious concerns under international humanitarian law. The use of military force against civilians, particularly women, children, and elderly people, is unacceptable.

I call for an immediate, independent, and transparent investigation into these allegations. The international community, human rights organizations, churches, and relevant United Nations mechanisms should closely monitor the situation and ensure accountability for any violations that may have occurred.

The protection of civilians must remain the highest priority in all circumstances

Post Liar 🔥✊✊✊

STATEMENT OF CONDEMNATIONURGENT REPORT – INTAN JAYA, WEST PAPUA18 June 2026I condemn the reported use of drones by Indon...
20/06/2026

STATEMENT OF CONDEMNATION

URGENT REPORT – INTAN JAYA, WEST PAPUA
18 June 2026

I condemn the reported use of drones by Indonesian military forces against civilians in Intan Jaya, West Papua.

According to reports from the area, Indonesian military forces (TNI) allegedly dropped a bomb from a drone on a civilian settlement in Danggoa Village, Agisiga District, Intan Jaya Regency, on 18 June 2026.

The victim, an elderly woman, had reportedly just returned from her garden and was washing sweet potatoes when the explosion occurred. The attack allegedly resulted in her death.

Brief chronology:

The woman returned home after harvesting food from her garden.
While washing sweet potatoes, an explosive device was reportedly dropped from a drone.
The explosion caused fatal injuries.

Local sources further report that in conflict-affected areas, drones are being used in military operations and that explosive devices or landmines have allegedly been placed along footpaths used by civilians.
Victims name :
Mrs. Otovina Hogajau – sustained injuries to her right thigh.
Mrs. Agolu Pogau – sustained injuries to the left side of her chest.

If these reports are confirmed, represent a grave violation of human rights and raise serious concerns under international humanitarian law. The use of military force against civilians, particularly women, children, and elderly people, is unacceptable.

I call for an immediate, independent, and transparent investigation into these allegations. The international community, human rights organizations, churches, and relevant United Nations mechanisms should closely monitor the situation and ensure accountability for any violations that may have occurred.

The protection of civilians must remain the highest priority in all circumstances

Repost Liar 🔥✊✊✊

TPNPB Komnas spokesperson Sebby Sambom stated that on June 19, 2026 in Yahukimo region there was a forceful r**e of a ho...
20/06/2026

TPNPB Komnas spokesperson Sebby Sambom stated that on June 19, 2026 in Yahukimo region there was a forceful r**e of a housewife around Blue River.

According to Sambom, the victim who was heading to the garden early in the morning was suddenly forcibly stopped and threatened by a group of armed Colonial Indonesian military members before committing a rotating r**e.

Editor liar
🔥✊✊

Urgent Attention‼️Under the regime of Indonesian President Prabowo Subianto, reports indicate that the Indonesian milita...
20/06/2026

Urgent Attention‼️

Under the regime of Indonesian President Prabowo Subianto, reports indicate that the Indonesian military carried out an aerial bombing attack on Sunday, 7 June 2026.

According to reports, the attack targeted civilian residential areas in Melagi District, Wunapunggu Village, Lanny Jaya Regency, in Papua Highlands Province. A teenager, Penti Weya, aged 18, was reportedly killed during the attack.
How many more West Papuan lives must be lost before the international community supports the West Papuan struggle for freedom and self-determination? MSG Networks Hind Ka Napak Ko Jawab - MSG Lion Heart 2 Marine Security Guard - MSG Duty 😭😭🔥✊✊

Address

Nabire

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tribun West Papua posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share