Gung

Directions Contact the business

Gung

Dituduh Menghapus Data Project Garuda, Nadira Membongkar Rekaman CCTV Arga dan Alya yang Diam-Diam Mencuri Token Keamana...
05/10/2026

Dituduh Menghapus Data Project Garuda, Nadira Membongkar Rekaman CCTV Arga dan Alya yang Diam-Diam Mencuri Token Keamanan Perusahaannya
PARTE 1

“Kalau kamu masih menganggap aku istrimu, jelaskan kenapa perempuan itu keluar dari kamar kita memakai jubah tidurku.”

Aku, Nadira Prameswari, pulang ke Jakarta dua hari lebih cepat dari perjalanan audit di Surabaya. Aku sengaja tidak memberi tahu siapa pun karena ingin mengejutkan suamiku, Arga Mahendra.

Ternyata justru aku yang mendapat kejutan.

Begitu pintu apartemen kami di Kuningan terbuka, suara Arga terdengar dari kamar mandi.

“Sayang, bantu gosok punggungku, dong.”

Tanganku masih menggenggam gagang koper ketika pintu walk-in closet terbuka.

Seorang perempuan keluar.

Alya Permata.

Sahabat masa kecil Arga yang selama tiga tahun pernikahan kami selalu diperkenalkan sebagai “sudah seperti adik sendiri”.

Rambut Alya basah. Tubuhnya dibungkus jubah tidur abu-abu milikku. Bahkan sandal krem yang dipakainya adalah sandal yang kubeli saat ulang tahun pernikahan kami.

Wajahnya sempat pucat.

Namun hanya beberapa detik.

“Kak Nadira? Kok pulang sekarang? Bukannya lusa?”

Aku menatapnya.

“Jadi aku seharusnya tidak pulang hari ini?”

Pintu kamar mandi terbuka.

Arga keluar dengan handuk melilit pinggang. Begitu melihatku, langkahnya berhenti.

“Nadira?”

Aku mengangkat ponsel dan menyalakan perekam suara.

“Siapa yang tadi kamu panggil ‘sayang’?”

Arga langsung mendekat.

“Kamu salah paham.”

“Jawab.”

Alya buru-buru menyela. Katanya bajunya terkena kopi sehingga Arga mempersilahkannya mandi dan meminjam pakaianku.

Aku bertanya sederhana.

“Kalau cuma terkena kopi, kenapa rambutmu ikut basah?”

Dia terdiam.

Arga malah membentakku.

“Jangan interogasi Alya seperti penjahat!”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku mati.

Aku baru pulang dari perjalanan kerja. Perempuan lain mandi di rumahku, memakai pakaianku, sementara suamiku justru takut perempuan itu tersinggung.

Aku berjalan menuju lemari.

Ketika pintunya kubuka, napasku tertahan.

Di salah satu sisi tergantung beberapa blus, rok, pakaian tidur, bahkan tas kosmetik yang jelas bukan milikku.

Aku mengambil sebuah kartu membership spa dari dalam tas itu.

Bulan lalu Arga mengatakan kartu tersebut hadiah dari klien.

Nama pada kartu itu tertulis: Alya Permata.

“Alya cuma sering menginap kalau kamu dinas,” kata Arga akhirnya. “Jangan dibesar-besarkan.”

Aku menoleh perlahan.

“Sering?”

Alya menangis.

“Kak, aku sendirian di Jakarta. Arga satu-satunya orang yang kuanggap keluarga.”

Aku tertawa pendek.

“Kalau begitu, mulai malam ini cari keluarga lain.”

Aku meminta Alya mengemasi semua barangnya.

Arga marah dan menuduhku kejam.

Aku tidak berdebat lagi.

Aku mengambil laptop kerja, beberapa pakaian, lalu pergi ke hotel.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Namun sebagai kepala internal audit dan compliance di Nusantara Data Solusi, aku terbiasa tidak mempercayai sesuatu tanpa bukti.

Aku menyimpan rekaman percakapan kami. Aku juga teringat sesuatu yang selama ini kuanggap sepele.

Dua bulan sebelumnya, aku memasang kamera kecil di ruang kerja rumah setelah beberapa dokumen audit perusahaan berpindah tempat tanpa sepengetahuanku. Kamera itu menghadap meja kerja, bukan kamar tidur.

Aku membuka penyimpanan cloud.

Ada puluhan rekaman.

Sebelum sempat memeriksanya, pukul 07.15 keesokan pagi direktur IT menelepon.

Suaranya panik.

“Nadira, kamu di mana?”

“Hotel. Kenapa?”

“Server audit bermasalah. Sejumlah file investigasi dan backup proyek utama dihapus tadi malam.”

Aku langsung duduk tegak.

“Kapan?”

“Pukul 02.13.”

“Itu tidak mungkin. Aku tidak masuk sistem semalam.”

Di ujung telepon hening.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat darahku seperti berhenti mengalir.

“Log menunjukkan penghapusan dilakukan menggunakan akun administrator milikmu.”

Empat puluh menit kemudian aku tiba di kantor.

Arga sudah berada di ruang rapat bersama direktur dan tim keamanan informasi. Ia bekerja sebagai manajer pengembangan bisnis di perusahaan yang sama.

Alya juga ada di sana sebagai staf project coordination.

Begitu aku masuk, Alya menunduk.

Arga malah berkata dingin, “Masalah rumah tangga jangan sampai membuatmu melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kamu menuduhku?”

“Aku tidak menuduh. Sistem yang mencatat.”

Direktur IT memperlihatkan log.

Username-ku.

Credential-ku.

Bahkan kode otorisasi milikku.

Jika investigasi awal itu dipercaya, aku bisa kehilangan pekerjaan dan menghadapi proses hukum.

Aku menatap Arga.

Dia tidak tampak bingung.

Dia tampak terlalu tenang.

Saat itulah aku teringat kamera di ruang kerja rumah.

Karena laptop yang biasa kugunakan untuk mengakses token keamanan…

semalam tertinggal di meja apartemen.

Dan hanya ada dua orang di sana setelah aku pergi.

Arga dan Alya.

Ketika aku membuka aplikasi kamera, sebuah notifikasi muncul:

Motion detected — 01.58 WIB.

Tanganku berhenti di atas layar.

Aku belum tahu apa yang terekam.

Namun Arga tiba-tiba berdiri dan berkata,

“Nadira, sebelum kamu membuka apa pun, kita bicara berdua dulu.”

Tatapan matanya membuatku sadar.

Dia tahu persis apa yang mungkin kulihat.

Dan aku tidak bisa percaya apa yang akan terjadi setelah ini…

“Suami Mempermalukan Istrinya di Pesta Kantor Demi Sekretaris Hamil, Hingga Kedatangan Asisten Pribadi Nadira Membongkar...
05/10/2026

“Suami Mempermalukan Istrinya di Pesta Kantor Demi Sekretaris Hamil, Hingga Kedatangan Asisten Pribadi Nadira Membongkar Kekuasaan yang Selama Ini Disembunyikannya”
PARTE 1

“Kalau kamu berani membalas tamparannya, kita cerai malam ini juga!”

Kalimat Arga Pratama terdengar jelas di ballroom hotel mewah di Kuningan, Jakarta.

Ratusan tamu mendadak diam.

Beberapa detik sebelumnya, sekretaris pribadinya, Alya Maharani, baru saja naik ke panggung dan menampar wajahku di depan direksi, klien, serta seluruh karyawan.

Pipiku panas.

Tapi aku tidak menyentuhnya.

Aku hanya menatap Arga—suamiku selama tiga tahun.

Malam itu adalah pesta akhir tahun Pratama Karya. Arga baru dipromosikan menjadi Direktur Komersial. Di atas panggung, beberapa menit sebelumnya, dia bahkan berkata dengan suara penuh emosi:

“Orang yang paling berjasa dalam perjalanan saya adalah istri saya, Nadira.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Ironisnya, sebagian besar orang di perusahaan menganggapku hanya perempuan biasa yang beruntung menikahi Arga.

Mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya.

Aku sengaja membiarkan mereka tidak tahu.

Namun sebelum aku sempat mengangkat gelas untuk membalas senyum Arga, Alya menerobos naik ke panggung.

PLAK!

Tamparannya membuat kepalaku sedikit berpaling.

“Aku hamil anak Mas Arga!”

Suara Alya bergetar, tetapi wajahnya penuh kemenangan.

Tangannya melindungi perut yang mulai terlihat.

“Dan dokter bilang kemungkinan besar laki-laki. Sampai kapan kamu mau mempertahankan pernikahan yang sudah tidak berarti?”

Ballroom langsung dipenuhi bisikan.

Aku menatap Arga.

Aku menunggu satu hal sederhana: dia berdiri di samping istrinya.

Ternyata aku terlalu berharap.

Arga justru berlari memeluk Alya.

“Kamu baik-baik saja? Perutmu tidak sakit?”

Alya menangis di dadanya.

Barulah Arga menoleh kepadaku.

Bukan rasa bersalah yang kulihat.

Melainkan kemarahan.

“Nadira, jangan membuat masalah malam ini.”

Aku hampir tertawa.

“Aku yang membuat masalah?”

“Alya sedang hamil,” katanya tegas. “Apa pun yang terjadi antara kita, jangan sentuh dia.”

Aku menunjuk pipiku.

“Dia baru menamparku.”

Arga terdiam sesaat sebelum mengatakan sesuatu yang menghancurkan sisa penghormatanku kepadanya.

“Biarkan saja sekali ini. Anggap demi anakku.”

Lalu dia mendekat dan berbisik cukup keras hingga orang-orang di barisan depan mendengarnya.

“Kalau kamu berani membalasnya, kita cerai malam ini juga.”

Alya menatapku dari balik bahunya dengan senyum kecil.

Aku memandang lelaki yang tiga tahun lalu bahkan belum mampu membayar cicilan mobilnya sendiri.

Lelaki yang kuperkenalkan kepada jaringan bisnis yang kemudian membuka jalan kariernya.

Lelaki yang setiap malam berkata kesuksesannya adalah kesuksesan kami bersama.

Ternyata setelah berhasil berdiri tinggi, orang pertama yang ingin diinjaknya adalah aku.

Aku tersenyum.

“Baik.”

Arga mengernyit.

“Baik apa?”

Aku berdiri.

Kemudian berjalan ke depan Alya.

Senyumnya semakin lebar karena mengira aku akan menyerah.

Aku mengangkat tangan.

PLAK!

Aku membalas tamparannya.

Alya kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai.

Ballroom meledak oleh teriakan.

“Aduh! Perutku!”

Arga langsung murka.

“NADIRA!”

Dia hendak menerjangku.

Namun dua petugas keamanan yang sejak tadi berada dekat pintu segera menahannya.

“Lepaskan saya! Kalian tahu saya siapa?!”

Aku membuka tas tanganku.

Mengeluarkan sebuah map tipis.

Lalu menjatuhkannya di depan Arga.

Dia melihat tulisan di halaman pertama.

PERMOHONAN PERCERAIAN.

Wajahnya membeku.

“Bukankah kamu sendiri yang meminta cerai?”

Aku menatapnya.

“Aku hanya mempercepat keinginanmu.”

Saat itulah pintu ballroom terbuka.

Seorang perempuan berblazer gelap masuk dengan langkah cepat. Dia adalah Siska, asisten eksekutifku.

Dia berhenti beberapa meter dariku.

“Bu Nadira, maaf mengganggu.”

Semua orang menoleh.

Siska melanjutkan dengan suara tenang:

“Untuk proyek investasi senilai sekitar Rp22 triliun yang akan masuk ke Pratama Karya…”

“Apakah Ibu masih ingin melanjutkannya?”

Wajah Arga langsung kehilangan warna.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, dia menatapku seolah baru menyadari bahwa dia sama sekali tidak mengenal perempuan yang dinikahinya.

Apa yang terjadi setelah itu bahkan tidak pernah dibayangkan siapa pun di ruangan tersebut…

**Istri yang Dianggap Bodoh Menelan Empat Kapsul Berbahaya, Lalu Menghilang—Suaminya Baru Tahu Ia Pemegang Saham Terbesa...
05/10/2026

**Istri yang Dianggap Bodoh Menelan Empat Kapsul Berbahaya, Lalu Menghilang—Suaminya Baru Tahu Ia Pemegang Saham Terbesar Perusahaannya**
PARTE 1

“Pak Arga… Bapak benar-benar membiarkan Bu Nadira menelan empat kapsul itu sekaligus?”

Pertanyaan Dimas membuat Arga Pratama mengangkat wajah dari laptopnya. Direktur utama Pratama Farma itu masih duduk santai di ruang kerja rumahnya di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

“Kenapa?” katanya datar. “Dia percaya apa pun yang kukatakan. Aku bilang itu suplemen kalsium, dia langsung meminumnya.”

Wajah Dimas seketika pucat.

“Pak, itu bukan suplemen.”

Senyum Arga menghilang.

“Itu sampel formulasi hormon eksperimental yang bulan lalu dikirim Alya. Produk itu belum mendapat izin edar. Empat kapsul sekaligus bisa menyebabkan keracunan serius!”

Arga berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

Ia berlari ke lantai dua.

“Nadira!”

Kamar utama kosong.

Tempat tidur sudah dirapikan. Lemari pakaian hanya kehilangan beberapa potong baju sederhana. Di atas nakas terdapat botol putih tanpa label—kosong.

Di sampingnya ada secarik kertas.

Arga mengambilnya.

Hanya satu kalimat.

Arga, kamu menang. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, tangan Arga gemetar.

Rekaman CCTV menunjukkan Nadira meninggalkan rumah tiga jam sebelumnya. Perempuan itu mengenakan tunik lama, membawa tas kain kecil, lalu berjalan melewati gerbang tanpa sekali pun menoleh.

Teleponnya mati.

Namanya tidak tercatat di rumah sakit mana pun.

Tidak ada transaksi tiket pesawat, kereta, maupun bus antarkota menggunakan identitasnya.

Seolah-olah Nadira sengaja menghapus dirinya sendiri.

Arga baru teringat asal botol itu.

Sebulan sebelumnya, Alya Mahendra—perempuan yang dicintainya sejak sebelum menikah—mengirim beberapa “suplemen kesehatan” ke rumah.

Pagi tadi Nadira bertanya, “Mas, ini obat apa?”

Arga bahkan tidak mengangkat kepala.

“Kalsium.”

Nadira mempercayainya.

Seperti selama tiga tahun terakhir ketika Arga memberinya obat pengatur hormon dan menyebutnya vitamin biasa.

Pernikahan mereka memang tak pernah dibangun atas cinta.

Almarhum kakek Arga mencantumkan syarat aneh dalam surat wasiat: Arga hanya memperoleh hak kendali atas saham keluarga jika menikahi Nadira Prameswari.

Nadira adalah anak yatim yang dibesarkan sebuah yayasan sosial di Yogyakarta.

Menurut berkas yang pernah dilihat Arga, pendidikannya biasa saja. Setelah sekolah ia pernah bekerja sebagai kasir minimarket, pelayan kedai kopi, dan resepsionis.

Arga merasa dipermalukan karena harus menikahinya.

Selama tiga tahun, ia menyediakan rumah, uang, dan nama keluarga.

Tetapi tidak pernah hati.

Pukul tiga pagi, di tengah hujan Jakarta, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Pemakaman Nadira bukan urusan keluarga Pratama. Jangan mencarinya lagi.

Arga menatap kata pemakaman sampai napasnya terasa berat.

Keesokan paginya Alya datang membawa koper.

“Aku pikir sekarang aku bisa pindah ke sini,” katanya. “Barang-barang Nadira sudah dibuang, kan? Aku tidak mau memakai sesuatu bekas dia.”

Arga mengangkat botol putih kosong.

“Nadira meminum empat kapsul dari botol yang kamu kirim.”

Wajah Alya berubah.

“Aku tidak tahu isinya—”

“Jangan bohong. Asistenmu sudah mengaku kamu yang meminta labelnya dilepas.”

Alya terdiam.

Lalu ia mendekat dan menggenggam tangan Arga.

“Kalaupun terjadi sesuatu pada Nadira… kamu masih punya aku.”

Arga menarik tangannya.

“Keluar.”

Tiga hari kemudian polisi menemukan petunjuk terakhir.

CCTV memperlihatkan Nadira memasuki sebuah gang sempit di dekat Kali Pesanggrahan saat hujan deras.

Tidak ada rekaman dirinya keluar lagi.

Tim pencarian menyisir sungai.

Tak ditemukan jasad.

Namun enam hari setelah Nadira menghilang, bencana lain menghantam.

Semua pemasok tanaman obat Pratama Farma dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta secara serentak menghentikan pengiriman.

Saham perusahaan jatuh.

Arga membanting laporan ke meja.

“Kenapa mereka melakukan ini?”

Dimas menatapnya lama.

“Karena selama dua tahun terakhir mereka bekerja bukan karena Bapak.”

Arga mengernyit.

“Mereka bekerja karena Bu Nadira.”

Dan saat itulah Arga menyadari bahwa perempuan yang selama ini dianggapnya tidak berguna ternyata memegang sesuatu yang bahkan tidak mampu dibeli oleh seluruh kekayaan keluarga Pratama.

Ia sama sekali belum tahu bahwa itu baru permulaan.

Tidak ada yang bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini…

**Tujuh Tahun Bersama, Tapi Tiga Hari Sebelum Pernikahan Aku Baru Tahu Suamiku Diam-Diam Menikahi Cinta Pertamanya di Sw...
05/10/2026

**Tujuh Tahun Bersama, Tapi Tiga Hari Sebelum Pernikahan Aku Baru Tahu Suamiku Diam-Diam Menikahi Cinta Pertamanya di Swiss**
PARTE 1

“Sayang sekali. Menurut Ibu, perempuan yang dulu tetap lebih cocok untuk Arga.”

Kalimat itu kudengar tujuh tahun lalu, saat pertama kali datang ke rumah keluarga pacarku untuk makan malam menjelang Idulfitri.

Namaku Nadira Prameswari.

Saat itu aku baru selesai membantu membereskan meja makan. Ketika hendak membawa piring ke dapur, aku mendengar Bu Ratna—ibu Arga—mengucapkan kalimat itu dengan suara pelan.

Aku berhenti sesaat.

Perempuan yang dulu?

Arga tak pernah bercerita banyak tentang mantannya.

Beberapa hari kemudian aku diam-diam bertanya kepada teman-temannya.

Jawaban mereka hampir sama.

“Namanya Alya. Cinta pertama Arga waktu kuliah.”

“Hubungan mereka sebentar. Alya pindah ke luar negeri, lalu mereka putus.”

“Sudah bertahun-tahun. Arga pasti sudah lupa.”

Aku percaya.

Karena setelah itu Arga bersamaku selama tujuh tahun.

Kami melewati masa ketika dia belum punya apa-apa, saat kariernya baru dimulai di Jakarta, sampai akhirnya dia menjadi manajer di sebuah perusahaan konsultan besar.

Aku menemaninya dari kontrakan kecil sampai kami mampu mencicil rumah sendiri.

Dan tiga hari lagi, kami akan menikah.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan.

Malam itu Arga mengatakan sedang ada perjalanan bisnis ke Singapura.

Aku sendirian di rumah, memeriksa daftar tamu pernikahan menggunakan laptopnya.

Tiba-tiba sebuah notifikasi WhatsApp Web muncul.

Pesan dari sahabatnya, Dimas.

“Ga, lo serius kemarin menikah secara simbolis dengan Alya di Swiss?”

Tanganku berhenti.

Pesan berikutnya muncul.

“Tiga hari lagi lo menikah sama Nadira!”

“Walaupun pernikahan kalian di Swiss bukan pernikahan resmi secara hukum Indonesia, apa lo nggak takut Nadira tahu?”

Dadaku terasa sesak.

Beberapa detik kemudian Arga membalas.

“Gue sadar apa yang gue lakukan.”

Lalu pesan lain muncul.

“Itu janji gue sama Alya sejak umur delapan belas tahun.”

“Dia cuma minta satu hal ini dari gue. Gue harus menepatinya.”

Aku menunggu.

Lalu Arga mengetik lagi.

“Soal Nadira…”

Tulisan “typing…” muncul lama.

Sampai akhirnya:

“Dia nggak akan tahu.”

“Setelah pulang, gue akan anggap semuanya nggak pernah terjadi.”

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Jadi perjalanan bisnis itu bohong.

Dengan tangan gemetar, kubuka percakapan Arga dan Alya.

Yang kutemukan jauh lebih menyakitkan.

Mereka tidak pernah benar-benar berhenti berhubungan.

Alya mengirim foto kucing.

Arga membalas:

“Lucu. Mirip kamu.”

Alya mengeluh tentang pekerjaan.

Arga menjawab:

“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku selalu ada.”

Pernah apartemen Alya mati listrik dan dia mengaku takut sendirian.

Arga hanya membalas dua kata:

“Tunggu aku.”

Tanggalnya membuat tubuhku membeku.

Malam itu aku sedang sakit hebat di rumah.

Arga pergi terburu-buru dengan alasan ada masalah kantor.

Ternyata dia pergi menemui Alya.

Namun yang paling menghancurkanku adalah percakapan satu bulan terakhir.

Arga memilih lokasi upacara untuk Alya.

Gaun.

Dekorasi.

Bunga.

Bahkan ketika Alya bingung memilih veil atau tiara, Arga membuat tiga presentasi berbeda untuk membantunya memilih.

Sementara untuk pernikahanku?

“Arga, resepsi di Jakarta atau Bandung?”

“Terserah kamu.”

“Temani aku fitting gaun?”

“Aku sibuk.”

“Dekorasinya bagaimana?”

“Kamu putuskan saja.”

Selama ini aku mengira Arga memang lelaki yang tidak peduli detail.

Ternyata aku salah.

Dia bisa sangat perhatian.

Hanya saja bukan kepadaku.

Pagi harinya aku menelepon sahabatku, Sari.

“Aku mau membatalkan pernikahan.”

Sari mengira aku bercanda.

“Pernikahanmu tiga hari lagi!”

Aku menunjukkan semua screenshot.

Wajahnya perlahan pucat.

“Jadi ketika semalam kamu masih mengecek lighting ballroom sampai tengah malam…”

Aku tersenyum pahit.

“Arga sedang menikahi cinta pertamanya di Swiss.”

Hari itu juga aku mendatangi wedding organizer dan membatalkan semuanya.

Saat pulang, Arga mengirim foto lounge bandara.

“Perjalanan bisnis selesai. Capek banget.”

Aku hampir tertawa.

Namun kemudian mataku menangkap sesuatu di sudut foto.

Tangan seorang perempuan.

Di jari manisnya terpasang cincin berlian.

Aku mengenal cincin itu.

Setahun lalu aku pernah memilih model yang sama.

Arga mengatakan:

“Cincin seperti ini terlalu mewah buat kamu.”

Ternyata bukan terlalu mewah.

Cincin itu hanya disiapkan untuk perempuan lain.

Lalu teleponku berdering.

Bu Ratna.

“Nadira, besok makan siang di rumah, ya. Arga sudah pulang.”

Dia tertawa kecil.

“Oh iya, dia membawa teman lamanya juga.”

“Namanya Alya.”

Aku memejamkan mata.

Tujuh tahun lalu, Bu Ratna berkata perempuan yang dulu lebih baik dariku.

Besok…

aku akhirnya akan duduk satu meja dengan perempuan itu.

Dan mereka sama sekali belum tahu bahwa pernikahanku dengan Arga sudah kubatalkan.

Aku sendiri bahkan tidak percaya apa yang akan terjadi di meja makan itu…

**Dipecat Istri Sendiri, Direktur Teknologi Baru Sadar Tiga Paten Miliaran Rupiah Pergi Bersamanya dari Perusahaan**PART...
05/10/2026

**Dipecat Istri Sendiri, Direktur Teknologi Baru Sadar Tiga Paten Miliaran Rupiah Pergi Bersamanya dari Perusahaan**
PARTE 1

“Nama saya masuk daftar PHK. Dua menit kemudian, saya sudah resmi keluar—tanpa mereka sadar tiga paten inti perusahaan ikut pergi bersama saya.”

Email berjudul “Penyesuaian Struktur Organisasi” masuk pukul 09.07 pagi.

Saya membukanya sekali.

Di halaman ketiga, nama saya tercetak jelas:

Nadira Prameswari — Senior Security Engineer.

Saya tidak marah. Tidak bertanya. Tidak menelepon siapa pun.

Saya hanya menutup dokumen itu, mencabut charger laptop pribadi, lalu mengangkat tanaman sirih gading yang sudah tiga tahun menemani meja kerja saya.

Di sekeliling, orang-orang mulai berbisik.

“Serius Nadira kena?”

“Bukannya dia tim inti Proyek ASTRA?”

“Kalau dia pergi, modul enkripsinya bagaimana?”

Saya pura-pura tidak mendengar.

Sepuluh menit kemudian saya duduk di ruang rapat kecil bersama HR dan Clarissa Mahendra, asisten baru Direktur Teknologi.

Perempuan itu baru bekerja enam bulan, tetapi sikapnya seolah seluruh lantai ini berada di bawah kendalinya.

“Kami melakukan evaluasi berdasarkan efisiensi biaya dan kebutuhan organisasi,” katanya sambil menggulir tablet. “Posisi Mbak Nadira dinilai tidak lagi sesuai dengan arah perusahaan.”

Saya hampir tertawa.

Tiga tahun terakhir, saya menghabiskan malam, akhir pekan, bahkan Lebaran kedua setelah menikah untuk membangun fondasi keamanan Proyek ASTRA.

Dan sekarang saya disebut tidak efisien.

Saya hanya bertanya, “Pak Arga tahu saya masuk daftar ini?”

Jari Clarissa berhenti sesaat.

Arga Pratama.

Direktur Teknologi PT Langit Nusa Teknologi.

Dan suami saya.

“Pak Arga sedang rapat dengan calon mitra strategis,” jawab Clarissa. “Daftar ini sudah melalui koordinasi tim eksekutif dan HR.”

Jawaban yang sempurna.

Tidak mengatakan iya.

Tidak mengatakan tidak.

Saya mengambil pulpen.

Menandatangani surat pemutusan hubungan kerja.

Clarissa tampak terkejut.

“Mbak Nadira tidak ingin mengajukan keberatan?”

“Tidak.”

“Mungkin masih ada beberapa hal yang bisa—”

“Bukankah tadi Anda bilang keputusan ini final?”

Dia terdiam.

Saya berdiri dan pergi.

Saat kembali ke meja, layar komputer kantor masih menampilkan potongan kode terakhir yang saya kerjakan untuk ASTRA.

Saya menatapnya beberapa detik.

Lalu logout.

Barang pribadi saya hanya sebuah mug, tanaman kecil, buku kriptografi tua, dan satu bingkai foto pernikahan.

Saya memasukkan semuanya ke kardus.

Ketika melewati ruang kerja Arga, pintunya tertutup.

Di balik kaca buram, saya bisa melihat beberapa eksekutif sedang rapat.

Hari itu mereka sedang membahas kerja sama bernilai hampir Rp11 triliun dengan perusahaan telekomunikasi besar.

Produk utama yang mereka jual?

ASTRA.

Saya terus berjalan.

Lift turun satu lantai lalu berhenti.

Pintu terbuka.

Arga masuk.

Begitu melihat saya membawa kardus, wajahnya berubah.

“Nadira? Kamu mau ke mana?”

“Pulang.”

“Kenapa barangmu—”

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, ponselnya berbunyi.

Dia membaca sebuah notifikasi, lalu mengerutkan kening.

“Nadira, tiga lisensi paten atas namamu baru saja berakhir masa izinnya untuk perusahaan.”

Saya mengangguk.

“Iya.”

Arga menatap saya.

Saya mengangkat kardus sedikit.

“Asisten barumu baru saja memecatku.”

Wajahnya langsung pucat.

“Apa?”

Saya menekan tombol lantai dasar.

Barulah Arga seperti menyadari sesuatu yang jauh lebih buruk.

“Tunggu. Tiga paten itu…”

Saya tersenyum tipis.

“Bukankah perusahaan sedang melakukan efisiensi?”

Pintu lift terbuka.

Saya melangkah keluar.

Tepat sebelum pintunya menutup kembali, saya mendengar Arga berteriak memanggil nama saya.

Karena tiga paten yang lisensinya baru saja berakhir itu bukan teknologi sampingan.

Ketiganya adalah fondasi yang membuat ASTRA bisa berfungsi.

Dan beberapa jam lagi, suami saya harus mempresentasikan ASTRA dalam rapat kontrak terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Sementara orang yang memiliki teknologi intinya…

baru saja mereka pecat.

Mereka benar-benar belum tahu apa yang akan terjadi berikutnya…

**Di Pemakaman Ayahnya, Laras Memaksa Mengganti Nama Anaknya—Tak Disangka, Sang Ibu Membuka Rahasia Keluarga yang Disimp...
05/10/2026

**Di Pemakaman Ayahnya, Laras Memaksa Mengganti Nama Anaknya—Tak Disangka, Sang Ibu Membuka Rahasia Keluarga yang Disimpan 28 Tahun**
PARTE 1

“Kalau Ibu tidak mengizinkan nama belakang anakku diganti hari ini, pemakaman Ayah tidak akan dilanjutkan.”

Kalimat putriku, Laras, membuat seluruh rumah duka di Semarang mendadak sunyi.

Jenazah suamiku, Hadi Santoso, bahkan belum diberangkatkan ke pemakaman.

Foto Hadi masih berdiri di antara rangkaian bunga putih. D**a masih menyala. Kerabat yang datang sejak pagi bahkan belum selesai menyampaikan belasungkawa.

Namun Laras berdiri di depan foto ayahnya dengan wajah tenang, sementara suaminya, Arga Pratama, berdiri beberapa langkah di belakang.

“Selama ini Arga tinggal bersama keluarga kita,” katanya. “Anak kami juga memakai nama keluarga Santoso karena permintaan Ayah. Tapi sekarang Ayah sudah tidak ada.”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Laras melanjutkan.

“Aku ingin nama Damar Santoso diubah menjadi Damar Pratama.”

Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

Aku menatap keluarga besan di barisan depan.

Pak Surya dan Bu Ratna—orang tua Arga—duduk berdampingan. Mereka mencoba memasang wajah sedih, tetapi aku menangkap tatapan puas di mata Bu Ratna.

Seolah mereka sudah menunggu hari ini.

Dua puluh delapan tahun aku dan Hadi membangun Santoso Food dari kios kecil di Pasar Johar menjadi perusahaan makanan dengan ratusan karyawan.

Kami tidak kaya sejak awal.

Hadi mengurus produksi. Aku mencatat keuangan, mencari distributor, bahkan mengantar pesanan sendiri dengan motor tua.

Ketika Laras lahir, Hadi menangis sambil memeluknya.

Dia selalu berkata, “Aku tidak butuh anak laki-laki. Laras cukup.”

Tahun lalu, kami menyerahkan operasional perusahaan kepada Laras.

Kami percaya padanya.

Apalagi Arga bersedia masuk ke keluarga kami dan setuju anak mereka memakai nama Santoso.

Hadi sangat bahagia.

Namun tiga bulan lalu, kanker hati merenggutnya.

Dan sekarang, sebelum tubuhnya dimakamkan, putrinya sendiri ingin menghapus satu hal yang sangat berarti baginya.

Bu Ratna mendekat lalu memegang tanganku.

“Bu Maya, jangan terlalu dipikirkan. Damar tetap cucu Ibu. Hanya namanya yang kembali ke keluarga ayahnya.”

Aku menarik tanganku perlahan.

Laras menatapku.

“Ibu sudah tua. Setelah ini biar aku dan Arga mengurus perusahaan. Ibu cukup istirahat.”

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada soal nama.

Jadi ini bukan hanya tentang Damar.

Mereka juga ingin menyingkirkanku dari perusahaan.

Kakak sepupuku, Tante Rini, langsung berdiri.

“Laras! Ayahmu belum dimakamkan!”

Namun Laras justru menjawab dingin.

“Ini urusan keluarga kami.”

Aku bangkit.

Semua mata mengikutiku.

Aku berjalan sampai berdiri tepat di hadapan putriku.

Wajahnya masih cantik seperti ketika aku mengantarnya ke sekolah dua puluh tahun lalu.

Aku mendekat ke telinganya.

“Laras,” bisikku, “sebenarnya Ibu menyimpan satu rahasia tentang dirimu selama lebih dari dua puluh tahun.”

Wajah Laras berubah.

“Apa maksud Ibu?”

Pak Surya ikut berdiri.

“Rahasia apa?”

Aku menatapnya.

Aneh.

Dia terlihat jauh lebih gugup daripada Laras.

Aku kemudian menatap foto Hadi.

“Tidak hari ini.”

“Maksud Ibu apa?” Laras mendesak.

“Hari ini kita mengantar ayahmu.”

Aku menyuruh keluarga Arga pulang setelah acara penghormatan selesai.

Malamnya, aku pulang sendirian.

Aku masuk ke kamar lama Laras.

Semuanya masih seperti dulu.

Piala sekolahnya.

Foto wisuda.

Boneka yang dibelikan Hadi ketika Laras berumur tujuh tahun.

Aku membuka lemari bawah dan mengambil sebuah album tua.

Di antara foto-foto itu terselip sebuah amplop cokelat yang tidak pernah kubuka lagi selama dua puluh delapan tahun.

Tanganku gemetar.

Sebelum meninggal, Hadi sempat berpesan kepadaku:

“Kalau Laras salah jalan, tarik dia kembali sekali saja.”

Aku memejamkan mata.

“Mas Hadi,” bisikku, “aku akan menepati janjiku.”

Keesokan paginya Laras menelepon.

“Ibu harus memberi jawaban sebelum pemakaman.”

Aku terdiam.

Lalu ia mengucapkan kalimat yang membuat darahku membeku.

“Kalau Ibu tidak setuju Damar menjadi Pratama, aku tidak akan ikut mengantar Ayah sampai Ibu berubah pikiran.”

Tanganku mencengkeram amplop tua itu.

Saat itulah aku sadar.

Rahasia yang selama hampir tiga dekade kami kubur mungkin harus dibuka tepat di depan foto ayah yang paling mencintainya.

Dan Laras sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi…

**Diusir Ibu ke Lorong Gelap, Gadis 9 Tahun Menyelamatkan Pria Sekarat—Permintaannya Setelah Itu Mengubah Seluruh Hidupn...
04/10/2026

**Diusir Ibu ke Lorong Gelap, Gadis 9 Tahun Menyelamatkan Pria Sekarat—Permintaannya Setelah Itu Mengubah Seluruh Hidupnya**
PARTE 1

“Daging udangnya untuk adikmu. Kamu anak perempuan, makan kepalanya saja—lumayan buat kalsium.”

Malam itu, Ibu membeli satu kilogram udang windu.

Di meja makan, semua daging udang yang sudah dikupas ditumpuk di piring adikku, Dimas. Sementara di mangkukku hanya ada beberapa kepala udang dan sisa kulit.

Namaku Sari. Umurku sembilan tahun.

Dimas baru tujuh tahun, tetapi di rumah kami, dia seperti seorang raja kecil.

“Dia masih masa pertumbuhan,” kata Ibu setiap kali aku bertanya mengapa makanan kami berbeda. “Kamu kakaknya. Harus mengalah.”

Aku sudah terbiasa.

Namun malam itu, sikuku tak sengaja menyenggol mangkuk nasi Dimas hingga jatuh.

Ibu langsung menamparku.

Plak!

“Dasar anak tidak berguna!”

Belum sempat aku mengambil mangkuk itu, Ibu menyeret lenganku dan mendorongku keluar apartemen sederhana kami di Jakarta Barat.

Pintu dibanting.

Aku berdiri sendirian di lorong yang gelap.

Dari balik pintu terdengar suara kartun dan tawa Dimas sambil menikmati udangnya.

Aku duduk memeluk lutut.

Lalu—

BRAK!

Seseorang jatuh dari tangga lantai atas.

Seorang pria sekitar tiga puluh lima tahun mengenakan setelan mahal terguling hingga berhenti tepat di depanku.

Aku membeku.

Tangannya menekan perut.

Darah merembes di sela-sela jarinya.

Pria itu mengangkat wajah pucatnya.

“Tolong… panggil ambulans.”

Tangannya tiba-tiba mencengkeram pergelangan kakiku.

Dengan susah payah, dia melepas jam tangan dari pergelangan tangannya lalu menyodorkannya kepadaku.

“Ambil ini.”

Aku menatapnya.

“Jual saja. Harganya cukup untuk membeli rumah kecil.”

Aku tidak mengambilnya.

“Aku tidak butuh rumah.”

Pria itu menatapku aneh.

Aku menunjuk pintu apartemen di belakangku.

“Kalau Om selamat… bawa aku pergi dari sini.”

Dia terdiam.

“Apa?”

“Aku tidak minta makan udang. Aku bisa tidur di lantai. Bisa mencuci pakaian, menyapu, apa saja.”

Aku menatap matanya.

“Asalkan jangan suruh aku kembali ke rumah itu.”

Dari dalam terdengar suara Ibu.

“Dimas, ayo makan satu lagi. Ini udangnya paling besar!”

Pria itu memandang pintu tersebut cukup lama.

Kemudian menatap pipiku yang masih merah bekas tamparan.

“Baik.”

Dia memasukkan jam itu ke tanganku.

“Kalau aku tidak mati malam ini, aku akan membawamu pergi.”

Aku tidak menelepon ambulans.

Aku justru menyeretnya ke ruang kosong di bawah tangga dan menyembunyikannya di antara kardus serta papan bekas.

Tubuhnya berat sekali.

Tanganku lecet.

Namun aku terus menariknya sedikit demi sedikit.

Aku mengambil jaket tua yang dibuang penghuni lain dan menutup tubuhnya.

“Om jangan mati.”

Matanya hampir tertutup.

“Kenapa?”

“Karena kalau Om mati… aku tidak punya tempat untuk pergi.”

Selama tiga hari berikutnya, pria itu bersembunyi di sana.

Aku mencuri separuh jatah roti sarapanku sendiri untuknya. Sisa nasi sekolah kubawa pulang. Ketika dia demam, aku memasukkan es ke kantong plastik dan menempelkannya ke dahinya.

Pada malam ketiga, demamnya akhirnya turun.

Dia menggigit roti keras yang kubawa.

“Namamu siapa?”

“Sari.”

“Nama lengkap?”

Aku menunduk.

“Sari Wulandari.”

Dia memperhatikanku lama.

Lalu bertanya pelan,

“Kalau aku benar-benar membawamu pergi, kamu berani meninggalkan keluargamu?”

Aku mengangguk.

Tanpa ragu.

Pria itu mengembalikan jam mahal tersebut ke sakuku.

“Besok pagi, bawa barangmu.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Om serius?”

“Aku sudah berjanji.”

Aku hanya memiliki sebuah tas sekolah usang, beberapa buku dan satu pensil pendek.

Pagi berikutnya, ketika hendak berangkat, Ibu berteriak dari dapur.

“Sari! Cuci sepatu sekolah Dimas dulu!”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menjawab,

“Tidak.”

Ibu keluar membawa spatula.

“Apa katamu?!”

“Aku tidak akan mencucinya lagi.”

Wajahnya berubah merah.

“Kamu berani melawan Ibu?!”

Aku membuka pintu.

Ibu mengangkat spatula seolah hendak memukulku.

Namun kali ini aku tidak menunduk.

“Aku mau pergi.”

Aku melangkah keluar.

Di bawah gedung, pria yang kuselamatkan sudah menungguku di samping sedan hitam.

Wajahnya masih pucat, tetapi penampilannya sama sekali berbeda.

Rapi. Tegas. Berwibawa.

Dia membukakan pintu mobil.

“Mulai hari ini,” katanya, “kamu ikut aku.”

Saat mobil meninggalkan kompleks, aku melihat Dimas berdiri di jendela apartemen kami.

Aku tidak melambaikan tangan.

Aku bahkan tidak tahu bahwa pria yang kubawa roti keras selama tiga malam itu bukan orang biasa.

Dan aku lebih tidak tahu lagi siapa yang sedang menunggu kami di balik gerbang rumahnya.

Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah gerbang itu terbuka…

Address

Lingkungan TP45 Pendem
Negara
82211

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Gung:

Shortcuts

Share

Category