09/01/2026
Saya mempekerjakan sahabat saya sebagai pembantu rumah tangga, dengan membayarnya 4 juta Rupiah sebulan. Setelah dua minggu, saya perhatikan ayah mertua saya, yang sebelumnya lemah dan sakit-sakitan serta kesulitan berjalan, tiba-tiba menjadi jauh lebih sehat, sementara sahabat saya tampak pucat dan kurus. Ia bahkan meminta kamar kedap suara. Saya segera menanyai sahabat saya, dan ia mengungkapkan kebenaran yang mengerikan.
Namaku Nia, menikah dengan pria dari jauh di kota Medan, tinggal di rumah tiga lantai milik keluarga suami di kawasan Perumnas. Pekerjaanku di sebuah agency iklan di pusat kota Jakarta membuatku hampir seharian tidak di rumah. Ayah mertua – Pak Bambang, sebelumnya kondisinya lemah, sering mengeluh nyeri sendi, berjalan lambat sehingga segala urusan rumah semakin butuh perhatian.
Tepat saat itu, sahabatku – Sari, menganggur setelah perusahaan ekspor-impor lamanya bangkrut, harus mengatur tempat tinggal sementara. Kasihan pada teman, aku mengusulkan: "Bagaimana kalau kamu ke rumahku jadi asisten rumah tangga sementara? Aku bayar gaji empat juta Rupiah sebulan, kamu sekalian dapat tempat tinggal dan penghasilan."
Sari ragu sebentar lalu menerima. Aku sangat lega, karena Sari adalah teman dekatku sejak masa SMA, sifatnya lemah lembut, teliti, dan sangat tahu diri. Aku yakin dia akan cocok dengan keluarga suamiku.
Dua minggu pertama, semuanya lancar. Sari bekerja teliti, masakannya sesuai selera Pak Bambang, membersihkan rumah dengan rapi. Ayah mertuaku tampak jauh lebih santai, setiap pagi bahkan ke beranda menyiram tanaman – hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Tapi kemudian aku mulai menyadari perubahan-perubahan yang… tidak wajar.
Ayah mertuaku tiba-tiba menjadi sangat ceria, selalu tersenyum, makan dengan enak. Hal anehnya adalah perubahan itu justru bertolak belakang sepenuhnya dengan Sari. Wajah Sari pucat pasi, matanya berkantung hitam, tubuhnya kurus. Suatu hari tanganku baru menyentuh pundaknya, dia langsung kaget seolah ditakuti.
"Sari, kamu tidak sehat?" – tanyaku khawatir. Sari hanya tersenyum kecut: "Mungkin karena belum terbiasa dengan ritme hidup baru…"
Tapi tatapan menghindar darinya membuat hatiku gelisah. Aku mulai curiga. Setiap malam setelah jam sembilan, Sari sering berada di dapur sangat lama, terkadang lebih dari setengah jam padahal tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan. Saat kutanya, dia hanya menjawab berbelit-belit. Pernah tanpa sengaja kulihat pintu kamar ayah mertua terbuka sedikit, dia berdiri di dalam, sementara Sari ketakutan berdiri di lorong, tangannya gemetar.
Perasaan ketidaknyamanan di hati semakin besar. Puncaknya adalah suatu malam, saat seluruh keluarga sedang makan nasi, Pak Bambang tiba-tiba meletakkan mangkok lalu menyatakan: "Ayah mau merenovasi lantai satu. Bangun satu kamar pribadi, kedap suara dan dikunci dari dalam. Ini harus segera dilakukan."
Suamiku, Ardi, mengerutkan kening: "Ayah mau buat kamar kedap suara untuk apa? Di rumah kita kan tidak ada yang perlu sampai segitunya?". Dia membentak: "Ayah perlu ya dibikin! Tidak usah banyak tanya!". Seluruh meja makan hening. Kulihat sekilas wajah Sari menjadi pucat.
Malam itu juga, aku tidak bisa tidur. Sebuah rasa takut samar terus membayangi pikiran, mendorongku mencari jawaban. Pagi berikutnya, kubawa Sari ke warung kopi dekat rumah, memutuskan untuk menanyakan yang sebenarnya. Duduk berhadapanku, Sari menunduk. Kutempatkan tanganku di meja, dengan suara serius: "Sari… jujurlah. Ada sesuatu yang terjadi di rumahku?"
Pada awalnya Sari diam. Tapi saat kupegang erat tangannya, dia menangis tersedu-sedu: "Nia… aku minta maaf… Aku takut bilang karena khawatir kamu syok. Tapi aku… aku mendapat tekanan dari Pak Bambang."
👇👇