05/10/2026
Dituduh Menghapus Data Project Garuda, Nadira Membongkar Rekaman CCTV Arga dan Alya yang Diam-Diam Mencuri Token Keamanan Perusahaannya
PARTE 1
“Kalau kamu masih menganggap aku istrimu, jelaskan kenapa perempuan itu keluar dari kamar kita memakai jubah tidurku.”
Aku, Nadira Prameswari, pulang ke Jakarta dua hari lebih cepat dari perjalanan audit di Surabaya. Aku sengaja tidak memberi tahu siapa pun karena ingin mengejutkan suamiku, Arga Mahendra.
Ternyata justru aku yang mendapat kejutan.
Begitu pintu apartemen kami di Kuningan terbuka, suara Arga terdengar dari kamar mandi.
“Sayang, bantu gosok punggungku, dong.”
Tanganku masih menggenggam gagang koper ketika pintu walk-in closet terbuka.
Seorang perempuan keluar.
Alya Permata.
Sahabat masa kecil Arga yang selama tiga tahun pernikahan kami selalu diperkenalkan sebagai “sudah seperti adik sendiri”.
Rambut Alya basah. Tubuhnya dibungkus jubah tidur abu-abu milikku. Bahkan sandal krem yang dipakainya adalah sandal yang kubeli saat ulang tahun pernikahan kami.
Wajahnya sempat pucat.
Namun hanya beberapa detik.
“Kak Nadira? Kok pulang sekarang? Bukannya lusa?”
Aku menatapnya.
“Jadi aku seharusnya tidak pulang hari ini?”
Pintu kamar mandi terbuka.
Arga keluar dengan handuk melilit pinggang. Begitu melihatku, langkahnya berhenti.
“Nadira?”
Aku mengangkat ponsel dan menyalakan perekam suara.
“Siapa yang tadi kamu panggil ‘sayang’?”
Arga langsung mendekat.
“Kamu salah paham.”
“Jawab.”
Alya buru-buru menyela. Katanya bajunya terkena kopi sehingga Arga mempersilahkannya mandi dan meminjam pakaianku.
Aku bertanya sederhana.
“Kalau cuma terkena kopi, kenapa rambutmu ikut basah?”
Dia terdiam.
Arga malah membentakku.
“Jangan interogasi Alya seperti penjahat!”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku mati.
Aku baru pulang dari perjalanan kerja. Perempuan lain mandi di rumahku, memakai pakaianku, sementara suamiku justru takut perempuan itu tersinggung.
Aku berjalan menuju lemari.
Ketika pintunya kubuka, napasku tertahan.
Di salah satu sisi tergantung beberapa blus, rok, pakaian tidur, bahkan tas kosmetik yang jelas bukan milikku.
Aku mengambil sebuah kartu membership spa dari dalam tas itu.
Bulan lalu Arga mengatakan kartu tersebut hadiah dari klien.
Nama pada kartu itu tertulis: Alya Permata.
“Alya cuma sering menginap kalau kamu dinas,” kata Arga akhirnya. “Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menoleh perlahan.
“Sering?”
Alya menangis.
“Kak, aku sendirian di Jakarta. Arga satu-satunya orang yang kuanggap keluarga.”
Aku tertawa pendek.
“Kalau begitu, mulai malam ini cari keluarga lain.”
Aku meminta Alya mengemasi semua barangnya.
Arga marah dan menuduhku kejam.
Aku tidak berdebat lagi.
Aku mengambil laptop kerja, beberapa pakaian, lalu pergi ke hotel.
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Namun sebagai kepala internal audit dan compliance di Nusantara Data Solusi, aku terbiasa tidak mempercayai sesuatu tanpa bukti.
Aku menyimpan rekaman percakapan kami. Aku juga teringat sesuatu yang selama ini kuanggap sepele.
Dua bulan sebelumnya, aku memasang kamera kecil di ruang kerja rumah setelah beberapa dokumen audit perusahaan berpindah tempat tanpa sepengetahuanku. Kamera itu menghadap meja kerja, bukan kamar tidur.
Aku membuka penyimpanan cloud.
Ada puluhan rekaman.
Sebelum sempat memeriksanya, pukul 07.15 keesokan pagi direktur IT menelepon.
Suaranya panik.
“Nadira, kamu di mana?”
“Hotel. Kenapa?”
“Server audit bermasalah. Sejumlah file investigasi dan backup proyek utama dihapus tadi malam.”
Aku langsung duduk tegak.
“Kapan?”
“Pukul 02.13.”
“Itu tidak mungkin. Aku tidak masuk sistem semalam.”
Di ujung telepon hening.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat darahku seperti berhenti mengalir.
“Log menunjukkan penghapusan dilakukan menggunakan akun administrator milikmu.”
Empat puluh menit kemudian aku tiba di kantor.
Arga sudah berada di ruang rapat bersama direktur dan tim keamanan informasi. Ia bekerja sebagai manajer pengembangan bisnis di perusahaan yang sama.
Alya juga ada di sana sebagai staf project coordination.
Begitu aku masuk, Alya menunduk.
Arga malah berkata dingin, “Masalah rumah tangga jangan sampai membuatmu melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Kamu menuduhku?”
“Aku tidak menuduh. Sistem yang mencatat.”
Direktur IT memperlihatkan log.
Username-ku.
Credential-ku.
Bahkan kode otorisasi milikku.
Jika investigasi awal itu dipercaya, aku bisa kehilangan pekerjaan dan menghadapi proses hukum.
Aku menatap Arga.
Dia tidak tampak bingung.
Dia tampak terlalu tenang.
Saat itulah aku teringat kamera di ruang kerja rumah.
Karena laptop yang biasa kugunakan untuk mengakses token keamanan…
semalam tertinggal di meja apartemen.
Dan hanya ada dua orang di sana setelah aku pergi.
Arga dan Alya.
Ketika aku membuka aplikasi kamera, sebuah notifikasi muncul:
Motion detected — 01.58 WIB.
Tanganku berhenti di atas layar.
Aku belum tahu apa yang terekam.
Namun Arga tiba-tiba berdiri dan berkata,
“Nadira, sebelum kamu membuka apa pun, kita bicara berdua dulu.”
Tatapan matanya membuatku sadar.
Dia tahu persis apa yang mungkin kulihat.
Dan aku tidak bisa percaya apa yang akan terjadi setelah ini…