11/01/2026
“Mau tahu di mana hati suamimu?”
Lihat ke mana uangnya pergi.
Kalimat ini terdengar keras.
Tapi sering kali itulah kebenaran yang Allah tunjukkan tanpa perlu banyak kata.
Bukan karena cinta harus selalu diukur dengan uang, melainkan karena harta adalah amanah,
dan amanah selalu diletakkan di tempat yang paling penting.
Dalam Islam,
nafkah bukan sekadar kewajiban finansial.
Ia adalah bentuk ibadah,
bukti tanggung jawab,
dan tanda keseriusan seorang lelaki dalam memimpin rumah tangga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dinar yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.”
(HR. Muslim)
Artinya apa?
Allah sendiri memuliakan laki-laki
yang mengutamakan keluarganya,
bukan yang sibuk menyenangkan dirinya sendiri.
Perempuan sering kali tidak menuntut banyak.
Ia hanya ingin merasa aman.
Aman secara lahir.
Aman secara batin.
Aman karena tahu suaminya berpihak padanya.
Bukan sekadar ucapan “aku cinta kamu”,
tetapi keputusan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Lihatlah…
ketika uang begitu mudah keluar
untuk hobi, gengsi, atau kesenangan pribadi,
namun terasa berat
saat istri membutuhkan
di situlah Allah sedang memperlihatkan
ke mana arah hati itu condong.
Karena hati selalu mengikuti apa yang paling kita cintai.
Aku tidak sedang mengajarkan perempuan
untuk bersikap matre.
Islam tidak pernah memuliakan ketamakan.
Tapi Islam juga tidak mengajarkan perempuan untuk dizalimi,
atau dibiasakan kuat sendirian
sementara suaminya merasa bebas dari tanggung jawab.
Suami yang benar-benar bertakwa
akan merasa takut kepada Allah
ketika melihat istrinya kelelahan.
Ia akan berpikir:
“Ini amanahku.”
“Ini ladang pahalaku.”
“Ini jalan surgaku.”
Bukan:
“Ah, dia kan bisa sendiri.”
Dan ketahuilah wahai para istri,
Allah Maha Adil.
Setiap tetes lelahmu,
setiap sabarmu yang ditahan,
setiap air mata yang kamu pendam demi menjaga rumah tangga,
tidak ada satu pun yang sia-sia di sisi-Nya.
Tapi Islam tidak meminta perempuan untuk terus diam
ketika haknya diabaikan.
Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang paling bertanggung jawab.
Dan cinta sejati bukan yang pandai berkata,
tetapi yang tak tega melihat istrinya kekurangan.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi,
melainkan untuk mengingatkan.
Karena harta boleh sedikit,
tapi arahnya harus benar.