Maliq Nganjuk

Maliq Nganjuk Cerita inspiratif dan informatif
(1)

Seorang kreator digital berusia 21 tahun duduk di sebuah podcast Amerika, lalu menyebutkan satu angka yang membuat pemba...
28/04/2026

Seorang kreator digital berusia 21 tahun duduk di sebuah podcast Amerika, lalu menyebutkan satu angka yang membuat pembawa acaranya terdiam: 83 juta dolar dalam dua belas bulan. Tapi yang lebih menarik bukan angka itu melainkan apa yang ia katakan setelahnya.

Sophie Rain, kreator media sosial asal AS, membagikan rincian pendapatannya di podcast The Iced Coffee Hour pada April 2026. Menurut pengakuannya di podcast tersebut, dari 83 juta dolar itu, sekitar 30 juta dolar atau 37 persen langsung dipotong sebagai pajak federal. Klip pernyataannya sudah ditonton lebih dari 2,4 juta kali. Sisanya, kata Sophie, ia alihkan ke properti termasuk peternakan 20 hektar di Florida yang dibelinya secara tunai pada Mei 2025.

Di sini menariknya. Banyak orang Indonesia mengira pajak Amerika "gila tinggi". Padahal lapisan tertinggi PPh Orang Pribadi Indonesia adalah 35 persen hanya selisih dua persen dari top bracket AS. Bedanya, Indonesia mulai mengenakan tarif 35 persen untuk Penghasilan Kena Pajak di atas 5 miliar rupiah setahun. Di Amerika, ambangnya sekitar 626 ribu dolar, atau kira-kira 10 miliar rupiah.

Tarif progresif sering disalahpahami. Banyak yang berasumsi: "Kalau saya tembus 5 miliar, semua penghasilan saya kena 35 persen." Faktanya tidak begitu. Yang kena 35 persen hanya kelebihan di atas 5 miliar. Lapisan di bawahnya tetap dihitung sesuai tarifnya 5 persen untuk 60 juta pertama, lalu 15 persen, 25 persen, 30 persen, baru 35 persen di puncak. Sistem ini disebut tarif progresif berlapis, dan prinsipnya sama persis dengan yang berlaku di AS.

Yang membuat cerita ini relevan untuk kreator di Indonesia bukan sosok Sophie-nya, tapi keterbukaannya. Ia bicara terbuka tentang pajaknya di hadapan jutaan penonton. Sementara di Indonesia, sejak sistem Coretax DJP aktif tahun 2026, penghasilan dari marketplace, program afiliasi, dan pemotong PPh 21 sudah otomatis terlacak. Bagi kreator yang belum tertib lapor SPT, pertanyaannya bergeser bukan lagi "akan ketahuan atau tidak", tapi kapan.

Ada pelajaran sederhana di balik semua angka ini. Pajak progresif berjalan sama, baik di negara berpendapatan tertinggi di dunia maupun di Indonesia. Memahami lapisannya lebih dulu, jauh lebih murah daripada salah hitung di kemudian hari.

SUMBER
The Iced Coffee Hour Podcast (April 2026), Direktorat Jenderal Pajak — UU HPP, Pajak com, Klikpajak (Mekari)

Catatan:
Konten ini disusun dengan bantuan AI. Angka penghasilan yang dikutip berdasarkan pengakuan langsung subjek di podcast, bukan hasil audit independen.

Sepasang orangtua di Yancheng, Jiangsu, China, dibuat bingung oleh perubahan pada putri mereka sendiri. Anak itu lahir p...
20/04/2026

Sepasang orangtua di Yancheng, Jiangsu, China, dibuat bingung oleh perubahan pada putri mereka sendiri. Anak itu lahir pada Mei 2022 dan awalnya tampak seperti bayi lain pada umumnya. Namun, seiring bertambah usia, matanya perlahan terlihat biru dan rambutnya berubah terang.

Perubahan itu tidak datang sekaligus. Justru karena muncul pelan-pelan, kebingungan di rumah itu tumbuh lebih lama. Orangtuanya bukan hanya heran, tetapi juga merasa harus mencari kepastian sebelum menarik kesimpulan apa pun.

Menurut keterangan keluarga yang kemudian dikutip sejumlah media, mereka menjalani beberapa tes DNA. Hasilnya, anak itu dinyatakan sebagai anak biologis mereka. Dari titik itu, arah cerita berubah. Yang semula dipenuhi tanda tanya mulai bergeser menjadi pencarian jawaban tentang riwayat keluarga mereka sendiri.

Dalam penelusuran berikutnya, keluarga mengaitkan penampilan sang anak dengan leluhur Rusia di garis ayah. Namun, bagian ini tidak dijelaskan sepenuhnya sama dalam semua laporan. Karena itu, yang paling aman dipahami bukan dugaan silsilahnya, melainkan penjelasan biologinya secara umum: warna mata dan rambut tidak ditentukan oleh satu gen sederhana, tetapi dipengaruhi banyak gen dan bisa muncul kembali setelah beberapa generasi.

Pada akhirnya, cerita ini bukan terutama tentang penampilan yang berubah. Intinya justru ada pada pilihan orangtua itu: mereka tidak terburu-buru percaya pada dugaan, melainkan mencari kepastian lebih dulu sebelum menerima jawaban yang tidak mereka duga.

SUMBER:
SCMP, China Daily, Shanghai Daily, MedlinePlus Genetics

Antara tahun 1940 dan 1945, rezim N**i memb*nuh lebih dari 200.000 penyandang disabilitas di Jerman. Dokter yang seharus...
17/04/2026

Antara tahun 1940 dan 1945, rezim N**i memb*nuh lebih dari 200.000 penyandang disabilitas di Jerman. Dokter yang seharusnya menyembuhkan justru menyeleksi korb*n. Bus-bus datang ke panti-panti penampungan. Kamar g*s disamarkan sebagai kamar mandi. Hampir semua korb*n punya satu kesamaan mereka tinggal di panti, jauh dari keluarga, jauh dari siapa pun yang bisa melindungi mereka.

Di tengah pembant*ian itu, seorang perempuan dengan Down syndrome hidup tenang di rumah kecil dekat Danau Starnberg, Bavaria. Namanya Alexandrine Irene. Dan alasan dia selamat bukan karena dia bersembunyi. Tapi karena 25 tahun sebelumnya, keluarganya membuat satu keputusan yang berbeda dari semua keluarga bangsawan lain di Eropa untuk tidak menyembunyikannya.

Alexandrine lahir 7 April 1915 di Berlin. Kakeknya Kaiser Wilhelm II, penguasa Kekaisaran Jerman. Ayahnya pewaris takhta. Dalam hitungan minggu setelah kelahirannya, orang tuanya menyadari putri mereka memiliki Down syndrome.

Di zaman itu, aturannya jelas. Anak bangsawan yang lahir dengan kondisi seperti itu harus dileny*pkan dari pandangan — dimasukkan ke panti, dihapus dari foto, dilupakan. Eropa sedang terobsesi dengan eugenika, ilmu yang menyebut manusia seperti Alexandrine sebagai "cac*t" dan "beb*n." Menyembunyikan mereka bukan pilihan, itu kewajiban sosial.

Tapi keluarga Alexandrine memanggil putri mereka "Adini." Mereka membesarkannya di rumah. Memasukkannya ke dalam foto resmi keluarga kerajaan yang disebarkan ke seluruh Jerman. Ibunya menulis bahwa Alexandrine adalah "cahaya matahari rumah kami." Di usia remaja, dia bersekolah di Trüpersche Sonderschule di Jena salah satu sekolah pertama di Eropa untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Lalu Perang Dunia Kedua datang. N**i meluncurkan Aktion T4 — program genosida terhadap penyandang disabilitas. Kakak tertuanya, Wilhelm, tew*s di medan per*ng tahun 1940. Kekaisaran yang dibangun kakeknya sudah lama hancur. Tapi Alexandrine tetap di sana di rumahnya, bersama orang-orang yang mencintainya, bukan di panti tempat bus-bus N**i datang menjemput korb*n.

Dia selamat. Bukan karena keberuntungan. Tapi karena sejak hari pertama, tidak ada yang pernah menaruhnya di tempat di mana dia bisa diambil.

Pada 2 Oktober 1980, Alexandrine meninggal dengan tenang di usia 65 tahun. Di tahun dia lahir, harapan hidup seseorang dengan Down syndrome tidak sampai 10 tahun. Dia melewati dua perang dunia dan satu genosida yang menargetkan orang-orang persis seperti dirinya.

Foto-fotonya masih ada sampai sekarang. Keputusan keluarganya di tahun 1915 untuk mencintainya secara terbuka tanpa malu bukan hanya menentukan hidupnya. Keputusan itu menyelamatkannya.

SUMBER:
Wikipedia
Oxford Academic
Disability Throughout History

Setiap malam, seorang gadis 15 tahun duduk di bangku stasiun kereta bawah tanah New York dengan buku di pangkuan. Kereta...
15/04/2026

Setiap malam, seorang gadis 15 tahun duduk di bangku stasiun kereta bawah tanah New York dengan buku di pangkuan. Kereta datang dan pergi. Orang-orang lewat tanpa menoleh. Tidak ada yang tahu bahwa gadis itu sedang mengerjakan PR dan tidak punya tempat untuk pulang.

Namanya Liz Murray. gadis tunawisma yang mengerjakan tugas sekolah di stasiun kereta itu sekarang lulusan Harvard, penulis buku bestseller di 12 negara, dan pernah berdiri satu panggung dengan tokoh-tokoh besar dunia, termasuk Dalai Lama, Tony Blair, dan Mikhail Gorbachev.

Liz lahir tahun 1980 di Bronx, New York. Kedua orang tuanya pecandu kok*in dan her*in. Rumah mereka hidup mengikuti siklus yang sama setiap bulan. awal bulan uang bantuan sosial dari pemerintah cair, ada makanan ada tawa Lima hari kemudian uangnya habis masuk ke jarum sunt*k. dan hari-hari berikutnya Liz dan kakaknya makan apa saja yang tersisa.

Di sekolah, anak-anak mengejek bajunya yang tidak pernah dicuci dan rambutnya yang penuh kutu. Setiap hari jadi pertarungan antara masuk kelas dan menerima hinaan, atau tidak datang sama sekali.

Lalu diusia 15 tahun semuanya hancur. Orang tuanya berpisah. Ayahnya masuk penampungan tunawisma. ibunya meninggal akibat s*kit yang ia derita.

Liz tidak punya rumah, tidak punya uang, tidak punya orang dewasa yang bisa dia hubungi. Dia belajar bertahan hidup — kereta jalur D paling hangat jam 2 pagi, jadi dia naik berputar-putar sampai pagi untuk menghindari dingin. Kalau tidak di kereta, dia tidur di lorong apartemen orang, di sofa teman, di bangku taman. Makan dari apa yang dia temukan.

Namun dia menolak mengikuti jalan yang sama dengan orang tuanya. Dia melihat ke mana pilihan-pilihan ibunya berujung. Dan dia memutuskan hidupnya tidak akan berakhir seperti itu.

Dia mencari sekolah. Perry Weiner, pendiri Humanities Preparatory Academy di Manhattan, mendengarkan ceritanya dan memberinya satu kursi di kelas. Tidak ada satu pun orang di sekolah yang tahu dia tunawisma. Dia datang lebih pagi dari semua orang, tidak pernah bolos satu hari pun dan mengerjakan setiap tugas di stasiun kereta bawah tanah dengan buku di pangkuan dan lampu neon di atas kepala.

Empat tahun SMA dia selesaikan dalam dua tahun. Lulusan terbaik dari 158 siswa. Nilai rata-rata 95 dan Dia mendapatkan beasiswa dari New York Times lalu diterima di unversitas Harvard.

Tiga tahun kuliah, ayahnya sak*t parah. Liz meninggalkan Harvard untuk merawatnya sampai hari terakhir, tahun 2006 dia kembali dan Lulus tahun 2009.

Sekarang Liz Murray jadi pembicara internasional, konselor, dan pendiri organisasi mentor bernama The Arthur Project Bukunya Breaking Night, jadi bestseller New York Times dan diterbitkan dalam 8 bahasa di 12 negara. Kisah hidupnya difilmkan dan mendapat 3 nominasi Emmy namun dibalik semua itu dia tidak pernah menyalahkan orang tuanya.

SUMBER:
NPR, Wikipedia, Paz de Cristo

Aplikasinya diunduh 100.000 orang di 30 negara. Apple masukkan dalam daftar "New Apps We Love." Media-media besar dunia ...
13/04/2026

Aplikasinya diunduh 100.000 orang di 30 negara. Apple masukkan dalam daftar "New Apps We Love." Media-media besar dunia memberitakannya. Dia diundang bicara di Harvard dan TEDx London. Karyanya dipajang di museum nasional Amerika Serikat.

Semua itu dilakukan oleh seorang gadis 16 tahun yang tidak bisa coding. Dan semuanya bermula dari dua tahun dib*lly habis-habisan di sekolah.

Natalie Hampton, dari Sherman Oaks, California. Waktu kelas 7 dia masuk sekolah swasta khusus perempuan di Los Angeles. Sejak awal dia langsung jadi sas*ran. Diej*k, dih*na, didor*ng ke loker, dis*rang fis*k empat kali. Dia pulang dengan l*ka cak*r dan mem*r di wajah. Hampir setiap hari selama dua tahun, dia makan siang sendirian di kantin. Tidak ada yang mau semeja dengannya.

Waktu dia melapor ke sekolah, yang disalahkan bukan pel*kunya. Natalie yang disuruh ikut konseling — seolah-olah dia yang bermas*lah. Ibunya, Carolyn, menyebut masa itu "periode tergel*p dalam hidup kami." Kecemas*nnya makin parah sampai akhirnya dia harus dirawat di rum*h sak*t.

Kelas 9, dia pindah sekolah. Di sekolah baru, dia langsung diterima. Punya teman. Bisa makan siang bareng orang lain. Tapi setiap kali dia lihat ada anak yang duduk sendirian di kantin, dia hampiri dan ajak gabung. Anak-anak itu akhirnya jadi bagian dari kelompok pertemanannya.

Dari situ dia berpikir — kalau dia sudah baik-baik saja tapi diam aja, dia sama saja dengan orang-orang yang dulu cuma nonton dia makan sendirian.

Umur 15, tanpa bisa coding, dia gambar konsep aplikasi di notebook. Setiap halaman, setiap tombol. Dia kerja bareng coder freelance, testing berbulan-bulan. 9 September 2016, aplikasinya rilis. Namanya Sit With Us. Cara kerjanya simpel — siswa daftar jadi "ambassador" dan buka kursi kosong di meja mereka. Anak yang tidak punya tempat duduk bisa cari meja lewat HP. Privat. Tidak ada yang tahu. Tidak perlu ditolak di depan orang.

Dua minggu pertama, 10.000 download. Yang Natalie bangun bukan teknologi canggih. Dia cuma bangun satu hal yang dulu paling dia butuhkan ketika tidak ada satu temanpun mau mendekatinya.

SUMBER:
NPR, CBS News, Wharton Global Youth Program

Amerika bangun jembatan khusus hewan yang menyelamatkan banyak nyawa termasuk manusiaDi Colorado, Amerika Serikat, jemba...
06/04/2026

Amerika bangun jembatan khusus hewan yang menyelamatkan banyak nyawa termasuk manusia

Di Colorado, Amerika Serikat, jembatan penyeberangan satwa liar terbesar di Amerika Utara kini berdiri di atas salah satu jalan raya tersibuk di negara itu. Lebarnya 60 meter, panjangnya 63 meter dan hampir seluas satu hektar penuh. Di atasnya bukan aspal, melainkan tanah dan tanaman hijau jalur alami yang dibangun khusus agar rusa, beruang hitam, singa gunung, dan puluhan spesies lain bisa menyeberangi enam jalur jalan raya yang setiap harinya dengan selamat.

Tapi cerita di baliknya bukan hanya tentang hewan.

Mary Rodriguez kehilangan ayahnya, Victor, di jalan raya yang sama. Seekor rusa seberat 300 kilogram ditabrak kendaraan lain, terlempar, dan menembus kaca depan mobil sang ayah. Tidak ada yang bisa dilakukan. "Seandainya pagar itu sudah ada," kata Mary, "ayah saya masih bisa bersama kami hari ini."

Selama puluhan tahun, jalan raya besar di Colorado membelah jalur migrasi satwa liar yang sudah ada selama ribuan tahun. Setiap musim, ribuan hewan berpindah mencari makan dan air — dan terpaksa menyeberangi aspal berkecepatan tinggi. Hasilnya: rata-rata satu tabrakan antara kendaraan dan hewan setiap harinya.

Para insinyur tahu masalahnya. Hewan besar menghindari terowongan sempit — mereka tidak bisa melihat ujungnya. Jadi mereka merancang sesuatu yang berbeda: jembatan lebar, terbuka, ditutup tanah dan tanaman agar terasa seperti alam biasa. "Hewan tidak bisa membaca," kata Kara Van Hoose dari Colorado Parks and Wildlife. "Kita tidak bisa pasang papan petunjuk. Kita hanya perlu membuat tempat ini terasa seperti rumah mereka."

Hasilnya terlihat di kamera pengintai — barisan rusa berjalan tenang di bawah langit bersalju, satu demi satu, seperti melintasi padang mereka sendiri. Sejak sistem penyeberangan ini beroperasi penuh, angka tabrakan turun 91 persen.

Indonesia juga punya masalah yang sama dengan versinya sendiri.

Setiap tahun, konflik antara manusia dan satwa liar terus terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Harimau sumatera masuk ke ladang warga. Gajah merusak kebun dan menyerang petani. Pada Maret 2025, seorang petani di Langkat, Sumatera Utara diserang gajah liar di kebunnya sendiri. Di Sumatera Barat, harimau menerkam ternak warga berkali-kali sepanjang Januari 2025.

Penyebabnya satu: jalan raya dan pembangunan yang memotong jalur migrasi satwa yang sudah ada ribuan tahun. Dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 12,5 juta hektar hutan Indonesia hilang. Hewan tidak punya pilihan selain melintasi jalan atau masuk ke permukiman manusia — bukan karena agresif, tapi karena rumah mereka sudah tidak ada.

Sebagai respons, pemerintah Indonesia baru saja memutuskan membangun pagar pembatas sepanjang 138 kilometer di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung — untuk memisahkan gajah dari lahan warga yang sudah berkonflik selama 43 tahun.

Pagar adalah langkah pertama. Jembatan seperti di Colorado adalah langkah berikutnya — bukan sekadar memisahkan, tapi membiarkan keduanya hidup berdampingan, masing-masing dengan jalannya sendiri.

SUMBER:
Colorado Department of Transportation · CBS Colorado · Kompas com

Foto:
Colorado Department of Transportation (CDOT)

Di tengah gemuruh stadion Anfield, ribuan orang berdiri, berteriak, merayakan setiap momen pertandingan. Bagi sebagian b...
01/04/2026

Di tengah gemuruh stadion Anfield, ribuan orang berdiri, berteriak, merayakan setiap momen pertandingan. Bagi sebagian besar orang, itu tentang apa yang mereka lihat di lapangan saat itu.

Tapi bagi Mike Kearney, pengalaman itu datang dengan cara yang berbeda.

Ia tidak bisa mengikuti pertandingan seperti yang orang lain lihat. Sebab kondisi penglihatan yang tidak mendukung untuk itu. Bola, pergerakan pemain, momen gol, semua itu tidak terlihat dengan jelas olehnya. Namun di sampingnya, ada satu orang yang memastikan ia tidak kehilangan satu momen apa pun.

Stephen Garcia.

Sepanjang pertandingan Liverpool FC, Stephen tidak berhenti berbicara. Ia menceritakan setiap umpan. Setiap tendangan sudut. Setiap peluang yang hampir menjadi gol. Selalu dibisikkan ke sahabatnya.

Bukan sekadar komentar — tapi semua cara ia lakukan untuk membawa Mike masuk ke dalam permainan yang sedang berlangsung.

Di saat orang lain sibuk menonton, Stephen memilih untuk membagikan apa yang ia lihat kepada sahabatnya Dan justru karena itu, pertandingan malam itu menjadi sangat meriah.

Sepak bola mungkin dimainkan di lapangan, namun mereka adalah pemenang sebenarnya. dan Di tengah ribuan suara di stadion, yang paling terasa justru percakapan kecil di antara dua orang pemain dalam pertandingan sesungguhnya.

Ada cinta yang tidak cukup hanya dengan hadir. Dan ada kehilangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.Noelia Castillo...
31/03/2026

Ada cinta yang tidak cukup hanya dengan hadir. Dan ada kehilangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.

Noelia Castillo Ramos lahir di Barcelona, Spanyol. Ketika ia berusia 13 tahun, keluarganya hanc*r. Rumah mereka disita. Orang tuanya berpisah. Negara mengambil alih — dan Noelia ditempatkan di panti sosial, jauh dari siapa pun yang ia kenal. Di usia yang paling rapuh, ia tumbuh tanpa pelukan yang seharusnya ada.

Bertahun-tahun kemudian, Noelia hidup dengan rasa sak*t fisik yang permanen dan luk* batin yang tidak pernah sembuh. Pada April 2024, ia mengajukan permohonan resmi kepada negara. Di Spanyol, ada undang-undang yang mengizinkan seseorang untuk meng*khiri penderit*annya secara med*s, jika kondisi fisiknya tidak bisa dis*mbuhkan dan menyebabkan penderit*an terus-menerus tanpa harapan pulih. Permohonan Noelia disetujui pada Juli 2024 — dengan suara bulat dari seluruh 19 anggota komite med*s.

Sang ayah tidak menerima keputusan itu.

Ia berjuang. Bukan sebentar tapi 20 bulan penuh. Lima tingkatan pengadilan: mulai dari pengadilan Barcelona, Mahkamah Tinggi Katalonia, Mahkamah Agung Spanyol, Mahkamah Konstitusi, sampai ke Mahkamah Eropa di Strasbourg, Prancis. Di setiap persidangan ia membawa argumen yang sama: bahwa putrinya tidak sepenuhnya dalam kondisi yang memungkinkan untuk membuat keputusan sebesar itu. Di setiap persidangan, jawabannya sama. Tidak. Di setiap tingkat, hakim menyatakan hal yang sama: Noelia sadar sepenuhnya. Noelia berhak. dan Pada 10 Maret 2026 usaha terakhir ayahnya namun Mahkamah Eropa tetap menolak permohonan tersebut.

Ibunya juga tidak setuju. Tapi ia datang. Ia menyiapkan segala sesuatu untuk hari yang tidak ingin ia bayangkan. Namun di momen terakhir, Noelia meminta semua orang — termasuk ibunya — untuk meninggalkan ruangan. "Aku tidak ingin mereka melihatku menutup mata," katanya dalam wawancara terakhirnya di Antena 3, sehari sebelum kepergiannya.

Pada 26 Maret 2026, prosedur itu dilaksanakan. Noelia pergi sendirian — seperti yang ia inginkan. Di luar rumah sak*t, sekelompok orang berkumpul. Berdoa. Sang ayah tidak terlihat. Sang ibu yang sudah mengucapkan selamat tinggal lebih awal, tidak masuk ke ruangan.

Noelia pergi di 25 tahun. Ia adalah anak yang kehilangan pelukan orang tua di usia 13. Dan di usia 25, ia memilih untuk tidak lagi menunggu sesuatu yang tak kunjung datang dan rasa sakit yang pernah berhenti.

kini Yang tersisa adalah kesedihan orang tua yang sudah berjuang sejauh yang ia bisa. Dan sebuah pertanyaan yang tidak pernah ada jawabannya: apakah yang akan terjadi pada anak-anak yang kehilangan pelindung di usia paling rentan termasuk yang banyak terjadi di sekitar kita, mengingat anak yang kekurangan kasih sayang juga menimbulkan dampak saat ia beranjak dewasa.

SUMBER:
Wikipedia · CNN · AP · The Country · Antenna 3 · Washington Post

Selama ini kita pikir yang terancam PHK karena AI adalah buruh pabrik. Ternyata itu salah.Yang paling cepat terdampak ju...
30/03/2026

Selama ini kita pikir yang terancam PHK karena AI adalah buruh pabrik. Ternyata itu salah.

Yang paling cepat terdampak justru kamu yang kerja di kantor. Yang pakai laptop. Yang dibayar karena bisa berpikir, menganalisis, membuat laporan, menjawab email, dan mengambil keputusan.

Minggu lalu, Wall Street Journal membongkar sesuatu yang menarik dari dalam Meta — induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Mark Zuckerberg sedang membangun AI agent pribadi untuk membantunya menjalankan perusahaan. AI ini membaca semua dokumen internal, merangkum briefing sebelum rapat, dan menandai proyek yang melenceng dari target — tanpa perlu satu pun manajer di antaranya.

Dan itu bukan hanya untuk Zuckerberg.

Di seluruh kantor Meta, karyawan sudah pakai My Claw — AI yang bisa akses riwayat chat dan dokumen kerja, lalu koordinasi dengan rekan kerja atas nama penggunanya. Ada juga Second Brain — dibangun karyawan Meta sendiri, berjalan di atas AI Claude, dan bekerja seperti kepala staf yang tidak pernah tidur.
Bahkan sudah ada ruang di mana AI agent satu karyawan berbicara langsung dengan AI agent karyawan lain. Tanpa manusia di antaranya.
Hasilnya? Output per engineer naik 30% dalam setahun. Pengguna paling aktif naik 80%.

Tapi angka itu punya bayangan panjang.

Meta sedang mempertimbangkan PHK hingga 20% dari hampir 79.000 karyawan — bersamaan dengan rencana investasi AI sebesar $135 miliar tahun ini. Dan ini bukan hanya Meta. Sejak awal 2025, lebih dari 90.000 karyawan teknologi global kehilangan pekerjaannya. Sekitar 1.000 di antaranya ada di Indonesia.

Yang mengejutkan? Laporan Forrester menemukan bahwa 9 dari 10 perusahaan yang mengumumkan PHK "karena AI" — ternyata belum punya teknologinya. Belum dibangun. Belum diuji. AI dijadikan alasan. Bukan penyebab sesungguhnya.

Tapi itu bukan berarti ancamannya tidak nyata.

World Economic Forum mencatat 41% perusahaan global berencana mengurangi karyawan karena otomatisasi. PwC menemukan bahwa skill di sektor yang terdampak AI berubah 66% lebih cepat dari profesi lain. Artinya, bukan hanya pekerjaan yang hilang — tapi keahlian yang kamu miliki hari ini bisa menjadi usang sebelum kamu sempat belajar yang baru.

Dan itu bukan cerita dari negara lain.

Di Indonesia, Bukalapak sudah restrukturisasi. Microsoft Indonesia sudah memangkas. Sektor yang selama ini dianggap aman — administrasi, keuangan, layanan pelanggan — justru yang paling cepat bisa digantikan. Bukan karena pekerjanya tidak kompeten. Tapi karena AI tidak butuh gaji. Tidak butuh BPJS. Tidak butuh cuti lebaran.

Yang perlu kita tanyakan sekarang bukan "apakah AI akan mengambil alih pekerjaan kita?" namun ada satu Pertanyaan yang lebih penting: "Kalau itu terjadi — apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapinya? "



SUMBER:
Wall Street Journal · Axios · TechCrunch · Fortune · WEF · Forrester · PwC · Majapahit Teknologi

Orang tua mana yang tidak bersedih kehilangan putri tercinta mereka seperti yang dialami Yolanda Ramos?Noelia gadis cant...
28/03/2026

Orang tua mana yang tidak bersedih kehilangan putri tercinta mereka seperti yang dialami Yolanda Ramos?

Noelia gadis cantik berusia 25 tahun dari Barcelona, Spanyol ini pergi meningg*lkan dunia pada 26 Maret 2026. Dan kepergiannya bukan tiba-tiba tapi disengaja yang sah menurut hukum negara dan Itu adalah ujung dari sebuah perjalanan panjang yang penuh luk* semasa hidupnya.

Noelia bukan anak yang nakal. Dia tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Sampai orang tuanya berpisah saat ia baru berusia 13 tahun. Di usia yang paling rapuh ia harus kehilangan pegangan. keluarganya kehilangan tempat tinggal saat ia baru berusia 13 tahun. Negara mengambil alih — dan Noelia ditempatkan di panti sosial, jauh dari kedua orang tuanya.

Di sinilah kisah ini dimulai dan menjadi pelajaran yang menyayat hati.

Dalam wawancara televisi yang ia berikan sehari sebelum kepergiannya, Noelia bercerita bahawa Ia diperk*s* bukan sekali, tapi sebanyak tiga kali. Pertama kali itu dilakukan oleh mantan kekasihnya sendiri. Kedua di sebuah tempat hiburan malam oleh dua orang tak dikenal. Dan yang terakhir juga di tempat hiburan malam oleh tiga orang sekaligus. kejadian terakhir terjadi hanya beberapa hari sebelum ia jat*h dari lant*i lima sebuah gedung dalam keadaan put*s asa dan dia selamat dengan posisi kedua kaki lump*h permanen.

setelah semua peristiwa tr*g*is yang pernah dia alami, Noelia tidak pernah kembali menjadi dirinya sendiri seperti yang dulu. Noelia hidup dalam rasa sakit yang tidak pernah berhenti. Tubuh yang tidak lagi bisa ia kendalikan sepenuhnya. Dan luka didalam hati yang tidak pernah terobati.

Pada tahun 2024, Noelia mengajukan permohonan resmi kepada negaranya Di Spanyol, dimana negara tersebut mengesahkan sebuah undang-undang yang mengizinkan seseorang mengakh*r* hid*pnya secara med*s, apabila ia mend*rit* kondisi f*s*k yang tidak bisa disemb*hkan, menyebabkan pend*rit*an yang terus-menerus, dan tidak memiliki harapan untuk dipulihkan.

Permohonan Noelia disetujui oleh komite med*s pada Juli 2024.Tapi ayahnya menolak dan tidak menerima keputusan itu.

Gerónimo sang aqyah berjuang selama 20 bulan. Mendatangi pengadilan sebanyak 5 kali demi putri tercinta, dengan Argumen yang sama bahwa "putrinya tidak sepenuhnya sehat secara mental untuk membuat keputusan sebesar ini" namun hanya penolakan yang ia terima di setiap persidangan demi persidangan . Dan pada 10 Maret 2026 — Mahkamah Eropa pun masih menolak permintaan terakhirnya.

Noelia dinyatakan sepenuhnya sadar dan berhak atas keputusannya sendiri.

Pada tanggal 26 Maret 2026, prosedur itu dilaksanakan. Ibunya Yolanda juga tidak setuju dengan keputusan putrinya Tapi dia tetap menemaninya. Mengucapkan selamat tinggal lebih awal. Menyiapkan sebuah tas untuk hari yang tidak ingin dia bayangkan. Karena itulah satu-satunya yang bisa dilakukan seorang ibu ketika segalanya sudah terlambat untuk diubah.

Ayahnya Gerónimo yang kalah di setiap persidangan. Dan di hari terakhir keputusan itu dijalankan tidak banyak yang bisa ia lakukan. dia tidak terlihat dilokasi sebab kesedihan yang teramat mendalam sebagai seorang ayah.

Noelia adalah salah satu contoh anak yang kehilangan pelukan orang tuanya di usia paling rentan, dan sistem yang seharusnya melindunginya justru tidak mampu menjaganya.

SUMBER:
Wikipedia · Euronews · Antena 3 · AP · El País

Dia pernah disebut "wanita paling jelek di dunia" oleh jutaan orang di internet. Hari ini, jutaan orang yang sama menyeb...
27/03/2026

Dia pernah disebut "wanita paling jelek di dunia" oleh jutaan orang di internet. Hari ini, jutaan orang yang sama menyebutnya inspirasi.

Lizzie Velásquez lahir pada 13 Maret 1989 di Austin, Texas Amerika Serikat. empat minggu lebih awal dari waktu kelahiran dengan berat lahir sekitar 1,2 kilogram. Dokter belum pernah melihat kasus seperti ini sebelumnya. Tubuh Lizzie tidak bisa menyimpan lemak sama sekali. Tidak ada lapisan pelindung di bawah kulitnya. Berat badannya tidak pernah melewati 29 kilogram sepanjang hidupnya.

Orang tuanya membawa pulang bayi kecil itu dan membesarkannya seperti anak-anak lainnya. Tapi dunia di luar rumah tidak selalu ramah. Sejak duduk dibangku taman kanak-kanak. Semua teman Lizzie takut mendekatinya karena kekurangan yang ia miliki.

Sampai suatu malam di tahun 2006, ketika ia berusia 17 tahun. Lizzie menemukan sebuah video di YouTube berjudul "The World's Ugliest Woman." Video itu menampilkan dirinya tanpa izin, tanpa peringatan. Ditonton jutaan orang. Komentar-komentar yang kej*m. Ada yang menulis bahwa hidupnya sebaiknya dihentikan saja. Lizzie membaca semuanya dan beberapa hari tidak keluar kamar, tidak makan merasakan kesedihan yang sangat luar biasa.

Namun dari titik terbawah itu sesuatu berubah. Lizzie memutuskan untuk tidak membiarkan kata-kata orang lain menjadi cermin satu-satunya yang ia miliki. Ia mulai menulis. Mulai berbicara. Mulai berdiri di atas panggung.

Pada 5 Desember 2013, Lizzie berjalan ke atas panggung TEDxAustinWomen dan berbicara selama 13 menit. Judul pidatonya: "How Do YOU Define Yourself?" Video itu kemudian ditonton lebih dari 10 juta kali di seluruh dunia.

Ia menulis empat buku. Kisah hidupnya diangkat menjadi film dokumenter A Brave Heart: The Lizzie Velásquez Story, yang tayang perdana di SXSW pada 2015. Ia keliling dunia berbicara tentang bullying, tentang harga diri, tentang keberanian memilih siapa diri sendiri.

Perempuan yang dulu membaca komentar-komentar paling kej*m di internet itu kini berdiri di hadapan ribuan orang bukan dengan dendam, tapi dengan harapan. Kecantikan sejati bukan apa yang terlihat. Tapi apa yang dipilih seseorang untuk dilakukan dengan hidupnya, meski dunia berusaha membuatnya merasa tidak layak.

SUMBER:
Wikipedia · TEDxAustinWomen · AP News · TODAY · ABC13

Address

Kuniran, Jekek Baron
Nganjuk
64394

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Maliq Nganjuk posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Maliq Nganjuk:

Share