Berguru Pada Alam

Berguru Pada Alam seni memaknai kehidupan Seni Memaknai Kehidupan!!
(253)

Kalau s**a pantai jangan beli rumah di pantai. Kalau s**a kolom renang, jangan bikin kolam renang di dalam rumah, kalau ...
09/01/2026

Kalau s**a pantai jangan beli rumah di pantai. Kalau s**a kolom renang, jangan bikin kolam renang di dalam rumah, kalau s**a gunung, jangan beli rumah di gunung. Karena sesuatu akan kehilangan istimewanya jika kita miliki.

Cukup liburan sejenak dari rutinitas untuk
bisa menikmati tempat yg istimewamu itu.

ini bukan cuma soal teman hidup pasangan hidup tapi semuanya yg hidup. Kalau sudah tiada baru terasa kehadirannya berharga

Jadi ingat Tendangan Kungfu Legend Emyu Eric Cantona ke arah Pengemar Cristal Palace 25 Januari1995, cuma bedanya diluar...
09/01/2026

Jadi ingat Tendangan Kungfu Legend Emyu Eric Cantona ke arah Pengemar Cristal Palace 25 Januari1995, cuma bedanya diluar lapangan
Sepak bola selalu mengajarkan satu hal. Ada batas yang tidak boleh dilewati. Dan minggu ini, Liga 4 DIY menjadi panggung untuk sebuah keputusan yang paling keras sekaligus paling mengejutkan.

Nama itu kini jadi perbincangan. Dwi Pilihanto Nugroho, pemain KAFI Jogja FC. Bukan karena gol indah. Bukan karena assist manis.

Tapi karena sebuah tindakan yang dinilai terlalu berbahaya, sampai membuatnya harus menerima hukuman paling berat yaitu larangan bermain seumur hidup.

Semua terjadi di Lapangan Sitimulyo, Bantul, dalam laga Liga 4 DIY melawan UAD FC, Selasa, 6 Januari 2026. Pada menit ke-73, sebuah duel bola yang seharusnya biasa berubah menjadi adegan yang membuat stadion mendadak sunyi.

Dwi mengangkat kakinya terlalu tinggi, sebuah gerakan yang kemudian mendarat tepat di wajah pemain lawan yang sedang menguasai bola.

Korban jatuh terkapar. Penonton terdiam. Suasana mencekam. Yang bikin orang semakin geram di lapangan, wasit hanya mengeluarkan kartu kuning.

Namun pertandingan selesai bukan berarti cerita ikut selesai. Video insiden itu meledak di media sosial. Viral. Dan kali ini, publik tidak mau menerima “cukup kartu kuning.”

Gelombang protes datang dari mana-mana. Banyak yang menilai ini bukan lagi pelanggaran biasa, tapi aksi yang bisa mengancam keselamatan pemain. Desakan pun mengarah langsung ke Panitia Disiplin (Pandis) PSSI Asprov DIY.

Rabu, 7 Januari 2026, Pandis PSSI DIY menggelar rapat intensif. Hasilnya? Dwi Pilihanto dinyatakan melanggar Pasal 48 Jo. Pasal 49 Jo. Pasal 10 Jo. Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025.

Dan hukuman yang dijatuhkan bukan main-main yaitu denda Rp 1 juta dan larangan total seumur hidup dari seluruh aktivitas sepak bola di bawah naungan PSSI.

Bukan skors 3 pertandingan. Bukan larangan 6 bulan. Tapi seumur hidup. Ini disebut sebagai salah satu sanksi paling keras yang pernah dikeluarkan Asprov PSSI DIY.

Meski vonisnya keras, Pandis masih membuka pintu jika sang pemain ingin mengajukan banding secara resmi. Namun pesan utama dari keputusan ini sudah jelas yakni keselamatan pemain adalah harga mati.

Bukan hanya pemain yang jadi perhatian. Asprov PSSI DIY juga menyoroti keputusan wasit yang hanya mengeluarkan kartu kuning di momen yang dianggap “horor”.

Wasit tersebut kini disebut sedang menjalani evaluasi dan pembinaan intensif, demi meningkatkan keamanan dan kualitas Liga 4 ke depan.

Sportivitas dan fair play harus tetap dijaga dalam olahraga bukan cuma sepakbola. Emosional sesaat hanya akan membuat rasa penyesalan seumur hidup.

Macam macam komentar Netijen :

-Dilarang berkencimpung di dunia sepak bola seumur hidup, apakah itu jadi pemain, pelatih, official atau yg lainya denda 10 milyard dan terakhir kasus hukum diproses.
Ini untuk efek jera kpd pemain yg lain dan supaya persepak bola an RI tertib maju dan mendunia...

-di kumpulkan saja, kemarin ada hlimi dari jatim sekarang ada lagi dari jogja.. Besok kalo udah terkumpul 11 biar jadi klub Shaolin soccer 😁

-Alhamdulillah 🤲🤲🤲🤲
Jd pelajaran utk semua pemain
Utk semua cabor junjung tinggi sportifitas

-Kenapa tidak berpikir untuk bermain dengan baik dan sportivitas serta menjamin keselamatan sesama pemain sebagai ladang untuk mencari nafkah serta mengembangkan potensi diri, semoga menjadi intropeksi diri pada setiap pemain 🙏🙏🙏

Teh Sariwangi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) resmi menjual unit bisnis teh Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa, en...
09/01/2026

Teh Sariwangi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) resmi menjual unit bisnis teh Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa, entitas milik Grup Djarum, dengan nilai transaksi sekitar Rp1,5 triliun.

Pengalihan dilakukan melalui penandatanganan Business Transfer Agreement (BTA) pada 6 Januari.

Unilever menyatakan penjualan ini tidak berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan, meski Sariwangi berkontribusi sekitar 2,7% pendapatan dan 3,1% laba bersih.

Pelepasan tersebut merupakan bagian dari strategi pemurnian portofolio untuk memperkuat bisnis inti dan mengembalikan nilai kepada pemegang saham. Transaksi ditargetkan rampung sepenuhnya pada 2 Maret 2026.

*sumber Suaradotcom

Grup Djarum produk utama rokok ini sangat bagus manajemennya disaat produk rokok yg lain kelimpungan. Bank BCA klub sepakbola Como dan Sekarang Branding Teh Terkenal Sariwangi ini menjadi prototipe dan contoh tentang sebuah manajemen yg cantik.

Tahun 2025, pemerintah harus membayar bunga utang sebesar Rp 552 triliun. Di saat yang sama, utang pokok yang jatuh temp...
09/01/2026

Tahun 2025, pemerintah harus membayar bunga utang sebesar Rp 552 triliun. Di saat yang sama, utang pokok yang jatuh tempo—baik dalam maupun luar negeri—mencapai Rp 800,3 triliun. Total kewajiban pembayaran utang dan bunga mencapai Rp 1.352,3 triliun. Angka ini harus dibandingkan secara jujur dengan penerimaan pajak 2025 yang ditargetkan sebesar Rp 1.917,6 triliun. Artinya sederhana namun mengkhawatirkan: sekitar 70 persen penerimaan pajak negara habis hanya untuk membayar bunga dan utang.

Bandingkan kondisi ini dengan negara-negara ASEAN lain. Hampir tidak ada negara di kawasan yang membiarkan porsi penerimaan negara tersedot sedalam itu hanya untuk melayani utang.

Di Vietnam, misalnya, rasio pembayaran bunga dan pokok utang terhadap penerimaan negara berada di kisaran 20–25 persen. Pemerintah Vietnam menjaga disiplin fiskal ketat, menahan belanja nonproduktif, dan memastikan utang diarahkan langsung ke sektor manufaktur dan ekspor. Pajak masih berfungsi sebagai instrumen pembangunan, bukan sekadar alat bertahan.

Thailand dan Filipina berada pada level menengah. Rasio pembayaran utang mereka berkisar 30–35 persen dari penerimaan negara. Meski menghadapi perlambatan ekonomi dan defisit fiskal, ruang belanja produktif masih tersedia. Negara masih mampu membiayai pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur tanpa sepenuhnya bergantung pada utang baru.

Malaysia sedikit lebih berat, dengan rasio sekitar 35–40 persen, namun tetap berada dalam koridor kehati-hatian fiskal. Pemerintah Malaysia secara terbuka mengakui tekanan utang dan mulai melakukan konsolidasi anggaran, termasuk reformasi subsidi dan penguatan basis pajak.

Singapura berada di kategori tersendiri. Meski rasio utangnya tinggi secara nominal, hampir seluruhnya bersifat domestik dan ditopang oleh sovereign wealth fund. Pembayaran bunga utang kurang dari 10 persen penerimaan negara, sehingga tidak relevan dibandingkan dengan negara berkembang seperti Indonesia.

Dengan perbandingan ini, posisi Indonesia menjadi anomali di kawasan. Tidak ada negara ASEAN lain yang membiarkan hingga 70 persen penerimaan pajaknya habis untuk membayar utang dan bunga. Ini bukan semata soal besaran utang, melainkan soal struktur fiskal yang kehilangan fungsi strategisnya. Ketika pajak lebih banyak digunakan untuk membayar masa lalu ketimbang membiayai masa depan, APBN berhenti menjadi alat transformasi ekonomi. Tanpa reformasi struktural, kita menghitung hari menuju kebangkrutan seperti Sri langka, Nepal dan Venezuela.

*sumber Erizeli Jely Bandaro

Akhirnya, Gus Yaqut Ditetapkan Tersangka oleh KPK. Ramai publik marah ke KPK karena terlalu lama menetapkan tersangka. B...
09/01/2026

Akhirnya, Gus Yaqut Ditetapkan Tersangka oleh KPK. Ramai publik marah ke KPK karena terlalu lama menetapkan tersangka. Bulan berganti, isu berputar-putar seperti kipas angin rusak, netizen mendidih, kopi warkop berkali-kali dingin sebelum kejelasan datang. “KPK ini nunggu wahyu apa?” begitu kira-kira suara kolektif rakyat. Akhirnya, setelah kesabaran publik nyaris jadi barang langka, apa yang diinginkan itu datang juga. KPK, dengan langkah yang ingin tampak gagah berani, resmi menetapkan Gus Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka.

Seruput Koptagul dulu, wak. Agar, saat membaca narasi ini terasa aura nikmatnya kopi. Pelan-pelan bacanya. Yang ngudut silakan. Now, kita lanjutkan.

Penetapan itu bukan kabar burung, bukan bisik grup WhatsApp, bukan tafsir liar netizen. Konfirmasi resmi disampaikan langsung oleh Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto yang menyatakan, mantan Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, telah berstatus tersangka dalam perkara dugaan korupsi kuota haji 2024. Ini bukan drama karangan publik. Ini pernyataan institusi. Stempel negara. Hitam di atas putih.

Di titik itu, langit runtuh pelan-pelan.

Gus Yaqut bukan figur sembarangan. Ia bukan hanya mantan Menteri Agama. Ia simbol. Anak kiai, adik Ketua Umum PBNU, wajah Islam moderat Indonesia yang sering dipamerkan ke dunia. Jabatan Menteri Agama sendiri sudah setara altar suci republik, mengurusi iman, doa, dan rukun Islam kelima. Maka publik menaruh harapan berlapis, semoga kekuasaan kali ini benar-benar bersanding dengan akhlak.

Sayangnya, harapan itu menunggu terlalu lama.

Saat isu kuota haji mencuat, saat aroma tak sedap mulai tercium, KPK memilih senyap. Kata pendukungnya, bekerja diam-diam. Kata publik, terlalu lama. Setiap hari tanpa kepastian terasa seperti ejekan halus. Netizen mulai bertanya, apakah hukum masih punya nyali ketika berhadapan dengan tokoh besar, atau hanya garang pada kelas menengah ke bawah.

Lalu 9 Januari 2026, semua spekulasi berhenti. Status tersangka diketok. Gus Yaqut pun resmi masuk buku sejarah kelam Kementerian Agama sebagai Menteri Agama kedua dalam sejarah Indonesia yang berstatus tersangka korupsi, setelah Suryadharma Ali pada 2014. Seperti lelucon yang terlalu pahit untuk ditertawakan, kasusnya lagi-lagi soal haji. Ibadah paling sakral, paling emosional, dan paling rawan dijadikan ladang dosa administratif.

Haji yang ditempuh dengan air mata, tabungan belasan hingga puluhan tahun, antrean yang lebih panjang dari daftar tunggu keadilan, justru berulang kali tersandung di meja pejabat yang seharusnya paling takut pada dosa. Rukun Islam kelima seperti punya magnet khusus bagi godaan duniawi. Jika setan punya divisi birokrasi, urusan haji tampaknya selalu jadi proyek unggulan.

Netizen pun berpesta, pesta amarah. Meme, sindiran, sumpah serapah, dan humor getir tumpah ruah. Ada yang memuji KPK karena akhirnya berani. Ada yang mencibir karena terlalu lama. Ada p**a yang muak karena polanya selalu sama, ribut dulu, senyap lama, baru tersangka. Dukungan bercampur sinisme. Lega bercampur jijik.

Dari lingkar keluarga, publik teringat bagaimana Gus Yahya, sang abang sekaligus Ketua Umum PBNU, sebelumnya menyatakan percaya adiknya tidak bersalah saat kasus masih berupa dugaan. Kini, setelah status tersangka diumumkan secara resmi oleh pimpinan KPK, yang terdengar lebih banyak adalah sunyi. Di negeri ini, wak, diam elite jarang dibaca sebagai netral. Diam sering diartikan sebagai kelelahan moral kolektif.

Yang membuat kisah ini terasa epik sekaligus menjijikkan bukan hanya soal pasal dan penyidikan, tapi pengkhianatan simbolik. Jika dugaan ini terbukti, maka ini bukan sekadar korupsi uang negara, melainkan korupsi kepercayaan umat. Jamaah mengurus niat dan doa, sementara kebijakan diduga mengurus peluang. Rakyat menabung kesabaran, elite diduga menukar kuota dengan kepentingan.

Kini, Gus Yaqut resmi menyandang status tersangka. Publik akhirnya mendapatkan apa yang mereka tuntut, meski terlambat. Tapi satu pertanyaan besar masih menggantung, lebih berat dari koper haji mana pun, apakah keberanian KPK ini akan berhenti di satu nama, atau baru pembuka bagi borok yang lebih dalam?

Karena pada akhirnya, wak, koruptor itu memang menjijikkan. Namun koruptor yang bersembunyi di balik jubah agama, itu bukan sekadar menjijikkan. Itu membuat rakyat muak sampai ke ulu hati, dan bertanya dengan getir, jika urusan Tuhan saja bisa dipermainkan, lalu apa lagi yang masih pantas kita sucikan?

*sumber Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Mens Rea menjadi pertunjukan komedi tunggal yang tak hanya lucu, juga penuh sarkasme dan kritik politik. Pandji Pragiwak...
09/01/2026

Mens Rea menjadi pertunjukan komedi tunggal yang tak hanya lucu, juga penuh sarkasme dan kritik politik. Pandji Pragiwaksono tak hanya menyasar para politisi, juga para pemilihnya.

Kita tidak bisa merubah situasi di dunia, tapi kita bisa merubah mindset cara melihat dunia.Kalau s**a pantai jangan bel...
09/01/2026

Kita tidak bisa merubah situasi di dunia, tapi kita bisa merubah mindset cara melihat dunia.

Kalau s**a pantai jangan beli rumah di pantai. Kalau s**a kolom renang, jangan bikin kolam renang di dalam rumah, kalau s**a gunung, jangan beli rumah di gunung. Karena sesuatu akan kehilangan istimewanya jika kita miliki.

Cukup liburan sejenak dari rutinitas untuk
bisa menikmati tempat yg istimewamu itu.

Dalam hidup, tak semua hal berada dalam kendali kita. Ada kondisi, kenyataan, dan peristiwa yang datang tanpa kita minta dan tak bisa kita ubah. Namun di saat seperti itulah, kita dihadapkan pada pilihan : menyerah pada keadaan atau bertumbuh karenanya.

Ketidakmampuan mengubah situasi seringkali adalah undangan untuk mengasah mengolah ketangguhan batin, spiritualitas kehidupan.

Mengubah diri bukan berarti menyerah atau kalah. Justru sebaliknya itu adalah bentuk keberanian paling murni. Menerima kenyataan dan kemudian beradaptasi, memaknai ulang, serta menemukan cara baru untuk melangkah adalah bentuk kedewasaan emosional dan spiritual adalah hakikat hidup yg sejati.

Pada akhirnya, kekuatan manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia bisa mengatur dunia luar, tetapi dari seberapa besar ia bisa menata ruang hati di dalam dirinya sendiri di tengah situasi kehidupan dunia yg tak bisa ditebak.

Sebab, ketika dunia tak berpihak, jiwa diri yg kokoh tetap bisa menciptakan ruang harapan.

Kalau menurut hematmu hal ini penting, kau akan menemukan jalan dan jawaban, namun jika hal ini tak pernah kau akan nemu alasan.

"Kita ini sudah terbiasa menilai dan baru bisa menghargai seseorang cuma dari status sosial, pencapaian gelar titel dan jabatannya ajah!!"

Sangat sedikit bahkan jarang sekali orang mau menerima apalagi sudi menghargai orang lain dari kejujuran integritas dan kinerja yg nyata.

Akibatnya kita mengalami kesulitan untuk bisa menyeleksi mana yang benar berkompetensi dan mana orang yg cuma omong besar doang.

Memang sudah menjadi pola kebiasaan kita ketika ingin mendapatkan sesuatu itu selalu tiba-tiba mendadak jadi baik, berempati tinggi seolah-olah sangat peduli dan jadi serba tau.

Tapi biasanya nanti watak kepribadian yg asli baru ketahuan setelah mendapatkan amanah trust kepercayaan dari khalayak pelanggan ini hanya akan bisa teruji oleh masa dan waktu.

"Untuk pola kaum bakulan, para wirausaha itu lebih mudah di tandai cirinya, selama masih konsisten buka berarti ia diterima pelanggan".

Jangan dikira gampang buka terus konsisten itu butuh nafas panjang, tak sembarang orang sabar tekun telaten bisa mengatur temponya.

Bagi kebanyakan orang itu cenderung baru menilai ide gagasan seseorang itu dari siapa dulu yg bicara, pola ini sarat kepentingannya.

Dan hanya ada sebagian kecil orang yg menilai ide gagasan dari lawan bicaranya, siapapun tak peduli orangnya kalau memang bagus diterima dan kalau salah juga mau menerima kalah ini hanya berlaku bagi orang yg fokus menyelami.

Orang yg sangat dikuasai ego dan tendensius kepentingan pribadi akan sulit menerima ini.

Sebab orang yang benar-benar niat belajar itu tidak akan menyerang fisik dan latar belakang sosialnya, ia lebih berfokus pada ide gagasan siapa saja yg lebih logis realistis yg bisa untuk direalisasikan dalam situasi sesuai jamannya.

Tak sedikit orang yang masih termangu-mangu dilangit sementara lupa realitas kaki menginjak bumi, type orang yg seperti ini kalau punya ide gagasan sangatlah baik, tapi realisasi bulsh*t!!

Seperti melihat Bunga dalam cermin, tak ubah ibarat anak kecil buta bernyanyi lihat kebunku?

"Korbannya biasanya orang yg mudah kagum, gampang woow, karena semua itu sebagai pelarian sesaat aja, yg problem sebenarnya adalah adanyakrisis identitas , ia tidak bisa terima realita hidupnya, boro-boro bersyukur".

Dan pahitnya volume orang model terakhir ini tidak sedikit dan terus menerus berkembang karena memang peminatnya sangat banyak.

☕ Sinau kemandirian
___________________________________________

Ingat kita tidak bisa merubah orang lain, paling poll cuma mengganggu mindset cara pola berfikir dari orang lain. Itupun bagi mereka yg terbiasa berfikir.

Mindset Pikiranmu sangat menentukan arak kompas mata angin perjalanan hidupmu.

Mindset Pikiran membentuk badan. Circle Komunitas jaringan sangat menentukan sepuluh, duapuluh tahun nasib kedepan.

Stand-up komedi enggak boleh lucu, tapi giliran debat cawapres boleh lucu. 🗿"Becandaan diseriusin yg serius dibecandain"
09/01/2026

Stand-up komedi enggak boleh lucu,
tapi giliran debat cawapres boleh lucu. 🗿

"Becandaan diseriusin yg serius dibecandain"

Banyak orang cerita tasawuf tapi hidupnya tidak bertasawuf, banyak orang bicara filsafat tapi hidupnya tidak berfilsafat...
09/01/2026

Banyak orang cerita tasawuf tapi hidupnya tidak bertasawuf, banyak orang bicara filsafat tapi hidupnya tidak berfilsafat, dan banyak juga orang seniman tetapi hidupnya tak berkesenian

Obyektif itu sulit, tidak mudah dan hampir tidak mungkin karena adanya ego diri yang melekat dan mengikat kuat dalam mindset dan pikiran.

Dari sinilah munculnya sikap kultus dan kefanatikan itu yg akhirnya justru membuat orang semakin tidak pernah bisa obyektif.

Segala sesuatu dilakukan sebagai pembelaan itu justru dengan sadar bukan karena tidak sadar seperti yg sering orang katakan, sebab semua orang tau bahwa Tuhan itu maha Tau.

Semua orang beragama meskinya tau dan pasti sadar itu. Tapi karena ada ego pikiran yg sudah melekat akhirnya mencari pembenaran.

Segala pengetahuan dari akal dan pikiran akan bekerja sesuai dengan kepentingan pemikirnya

Makanya bicara obyektif itu tidak mudah, sulit sekali, karena melepaskan kepentingannya itu sungguh sangat tidak mudah sekali, hari ini.

Selalu ada kepentingan dibalik segala bentuk type dan jenis kepribadian dalam kehidupan.

,☕☕ Kopi pahit WEKA Express*

Percuma menjelaskan kepada orang-orang yang membencimu dan sekaligus orang-orang yg memujimu. Jika hal itu bagimu penting kalian akan menemukan jawaban, tapi jika bagimu hal itu gak penting kalian cuma akan menemukan alasan. Gunakan waktumu untuk mengerjakan sesuatu ide-ide yg baru

Yakinlah Kita semua tetap terus akan bisa tumbuh, tetapi meski harus bisa melewati patah dulu. Untuk pembentukan Mental....
09/01/2026

Yakinlah Kita semua tetap terus akan bisa tumbuh, tetapi meski harus bisa melewati patah dulu. Untuk pembentukan Mental.

Kalau mau jujur, banyak keadaan hidup yg tak sesuai dengan angan dan harapan. Entah itu soal saudara, tentang percintaan, pekerjaan penghasilan, pertemanan ataupun pasangan.

Kadang kita mesti turun gunung hanya untuk menyamakan frekuensi, kadang mesti harus berlari kesana-kemari untuk dapatkan presisi.

Ketika engkau sedang mengungkapkan satu sisi kebaikan dari seseorang, entah itu saudara teman ataupun pasangan, sebenarnya dirimu itu sedang menyembunyikan satu sisi tentang keburukannya, yang sudah bisa anda maklumi.

Dan ketika dirimu sedang menjelek-jelekkan seseorang, yang terjadi sebenarnya adalah anda sedang sulit untuk terima kelebihannya terima prestasi orang lain, dan anda tak mau tau, gak mau mengakui kehebatan orang lain.

Kebiasaan orang itu dalam memberikan opini, stegmen penilaian atau apapun saja mestinya anda bisa berdiri di sela selanya, berusaha tuk berposisi dicelah tengah-tengahnya, agar bisa seimbang, sedikit agak mendekati obyektifitas.

Akan tetapi yang sering terjadi sekarang ini dalam kehidupan sehari-hari adalah : orang menilai segala sesuatu itu mengikuti seleranya, menuruti s**a atau bencinya, latar belakang akademisnya, miskin atau kayanya, cakep atau jelek ayu rupanya, nenen moyangnya, pengaruh dari massanya dan banyak sebagai alasannya.

Akibatnya kejernihan bukan yang kita dapatkan tetapi malah semakin memperkeruh keadaan.

Walaupun sedikit dan memanglah sangat sulit, kalau tidak dimulai dari kita lalu siapa lagi yang akan kembali menanamkan nilai-nilai kebaikan, menumbuh kembangkan poin-poin kejujuran??

Apapun konsekvensinya kita siap, selama niat kita bener bener murni menyuarakan keadilan, mengungkapkan sebuah kejujuran itu seperti berjalan di tengah malam yang sunyi, 'ora akeh seng mbaturi', sepi dan cuma berjaran sendiri.

Hidup kita ini mesti harus punya prinsip!!
Ojo ubyag ubyug lan yo Ojo grudag-grudug!!
Ora nduwe prinsip, koyo manuk emprit!!.

☕ kopi pahit WEKA Express

Percuma kau menjelaskan pada orang yang membencimu sekaligus orang yg memujimu!! Gunakan waktumu untuk mengerjakan sesuatu

🔥❤️☕ Catatan yang Terserak WEKA Express

Bubarkan DPR yang selalu memproduksi undang2 untuk menyengsarakan rakyat dan melindungi oligarki. Nalar mereka gak jalan...
09/01/2026

Bubarkan DPR yang selalu memproduksi undang2 untuk menyengsarakan rakyat dan melindungi oligarki. Nalar mereka gak jalan, hanya membeo ketua partai

Address

Ngawinan
63283

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Berguru Pada Alam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Berguru Pada Alam:

Share

The Wisdom of mBah Nun

Maiyah Itu Adalah …

1. Maiyah adalah di mana saja kita berada – di rumah, ditempat bekerja, di rumah ibadah maupun di pasar, di jalan dan di manapun saja – selalu kita bersama Alloh dan Rosululloh. Kapan saja kita sadar maupun tidur, di pagi hari, siang, sore, atau malam hari – selalu kita bersama. Maiyah adalah membangun perlawanan Badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala tindakan membangun rumah-rumah yang menjauhkan manusia dari Alloh dan Rosullulloh, terhadap konsep pasar dunia yang menyepelekan Alloh, terhadap manajemen penataan kehldupan yang mendhalimi Alloh dan Rosululloh. 2. Maiyah adalah dengan siapapun saja kita berada – dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan masyarakat, bahkan ketika kita sedang berada di tengah makhluk-makhluk Alloh yang memusuhi kita – selalu kita bersama Alloh dan Rosululloh.Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala kekuasaan yang tidak menghadirkan Alloh dan Rosululloh didalam bangunan keluarga-keluarga manusia, didalam peta pergaulan masyarakat. 3. Maiyah adalah apapun yang kita alami- kegembiraan atau kesedihan, kekayaan atau kemiskinan, kesepian atau tidak kesepian, di kesunyian atau di keramaian, dalam keadaan sehat atau sakit, dalam kekalahan atau kemenangan – selalu kita bersama Alloh dan Rosululloh. Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala macam sistem dan ideologi kehidupan yang membangun kesedihan manusia, yang memiskinkan manusia di tengah luasnya rahmat dan rizqi Alloh, yang mengucilkan kemanusiaan, yang menyakiti dan menyakitkan manusia, yang memenangkan energi setan dan menindas Rahman-Rahim Alloh didalam bangunan negeri dan negara manusia. 4. Maiyah adalah apapun sebab-sebab kehidupan yang menimpa kita – ketika dijunjung atau dicaci, ketika dipuji atau dihina, ketika ditemani atau dikucilkan, ketika diangkat atau dijatuhkan, ketika disayang atau tak diperdulikan, ketika disapa atau diacuhkan, ketika diberi atau dicuri- akibatnya hanya satu: ialah selalu kita bersama Alloh dan Rosululloh.Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala jenis kebudayaan, segala jenis benda teknologi, sastra dan lagu, kesenian dan kerajinan, berita dan hiburan – yang menjunjung kebodohan dan mencaci ilmu, yang memuja kekonyolan dan melecehkan derajat manusia, yang membiayai besar-besaran kehinaan nilai, yang menghancurkan kehormatan makhluk Alloh, yang mencuri Rahmat Alloh untuk kepentingan sendiri. 5. Maiyah adalah apaun yang kita jumpai atau menjumpai kita – batu, air langit, dedaunan, cahaya, kegelapan, kaca, keburaman, peristiwa, sejarah, revolusi dan amuk, peluru, otoritas yang memals**an kekuasaan Tuhan, angin, nafas dan seluruh badan kita sendiri – rnembawa kita untuk selalu bersama Alloh dan Rosululloh. Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan berilmu matang terhadap segala bentuk kekuasaan dan pemerintahan yang memperlakukan alam dan kehidupan manusia untuk makar kepada kehendak suci Alloh yang di-informasikan melalui Rosullulloh. 6. Maiyah adalah apapun yang mengepung kita dan menyerbu kita – roh halus, jin setan, energi liar, santet dan tenung, dzat-dzat makar, rudal, kelicikan penguasa, kesombongan cendikiawan, getaran-getaran kejahatan dalam ilmu dunia dan kendaraan informasi, nafsu kaum munafiqin, tipuan kaum musyrikin dan Eyuan kaum dholimin – tidak mengakibatkan apa-apa kecuali istiqamah kebersamaan kita dengan Alloh dan Rosullulloh. Maiyah adalah perlawanan Badar yang sabar dan ilmu matang untuk membangun Daulah Maiyatullah, kebersamaan dengan Alloh dan Rosululloh, kerajaan syukur kepada Alloh dan pemerintahan terima kasih kepada Rosululloh, beriringan dengan idzinillah dan qudntillah membaur seluruh alam dan kehidupan manusia bersama Rosululloh untuk bertasbih dan bersujud kepada Alloh.

Maiyah- Luasan

Warga Kiai Kanjeng Sepuh berkeliling ke mana-mana, ke rumah-rumah masyarakat, ke alun-alun, lapangan masjid atau kelurahan, gedung olah raga, jalan raya, trotoar atau dimana pun saja: melakukan maiyahan – Bercelana putih, berbaju putih, bertutup kepala putih. Belum tentu karena mereka orang-orang alim (istilah ini sungguh menggelikan), religius, rajin shalat, suntuk wiridan. Pakaian putih-putih itu bukan kostum pentas, dan sama sekali tidak diperuntukkan bagi siapa pun yang melihatnya. Pakaian putih itu mereka peruntukkan bagi diri mereka sendiri. Mereka itu orang-orang yang mengerti bahwa hidup mereka masih kotor, masih banyak dosa dan maksiat, kepada rnanusia maupun maksiat kepada Alloh. Maka mereka memerlukan dorongan dan rangsangan untuk melakukan proses pembersihan diri “reresik”. Maka putih-putih itu mereka tujukan kepada suasana hati dan konsentrasi pikiran mereka sendiri, agar kalau bisa jangan menerus-neruskan yang kotor-kotor, yang belum tentu baik dan benar, yang tidak sejati dan tidak abadi.Jadi benar-benar pakaian putih itu bukan show custome bagi para penonton atau siapapun, melainkan untuk dirinya sendiri. Kalau pun kepada Tuhan mereka persembahkan putih-putih itu, bukan untuk melaporkan kesucian, melainkan justru untuk mengakui kehitaman.