Selaparang Televisi

Selaparang Televisi media lokal. info & hiburan
(1)

“Ketika Asap Kopi Padam, Ombak Tak Lagi Menyapa : Dengarlah Suara Lirih dari Teluk Ekas”Cerpen : Amaq BagokEkas, dulu ia...
21/06/2025

“Ketika Asap Kopi Padam, Ombak Tak Lagi Menyapa : Dengarlah Suara Lirih dari Teluk Ekas”

Cerpen : Amaq Bagok

Ekas, dulu ia adalah puisi yang dibisikkan alam setiap pagi. Lautnya jernih seperti cermin surga, angin membelai lembut daun waru, dan dari warung kecil milik Inaq Sebah, asap kopi mengepul seperti doa yang naik perlahan ke langit.

Aroma kayu bakar dan gula merah menyambut siapa pun yang singgah. Tamu-tamu asing duduk bersila, tertawa, menyapa anak-anak yang berlarian membawa kelapa muda.

Tak jauh dari sana, Salim anak muda yang belajar surfing tanpa guru, mempersiapkan papan selancar tuanya. Setiap pagi ia menyeka permukaannya dari embun malam, menanti tamu yang akan ia pandu menari di atas ombak. Ekas bukan sekadar tempat. Ia adalah kehidupan.

Namun itu cerita lama. Hari ini, segalanya berubah.

Perahu-perahu cepat datang dari arah barat. Mereka tak lagi singgah. Tamu-tamu asing dibawa langsung ke tengah Teluk, parkir di laut tanpa jejak di pasir. Tak ada sapaan, tak ada singgahan. Warung Inaq Sebah dilalui tanpa dilirik.

Gelasku, katanya pelan tinggal jadi saksi. Kompor jarang menyala. Anak-anaknya menatap kosong jalan setapak yang dulu ramai. Di sudut pondoknya, papan selancar Salim berdebu. Tak ada lagi tawa, hanya sunyi yang diam-diam memekakkan hati.

Dan ketika dunia maya sibuk memutar video seorang bupati yang suaranya meledak memecah angin pantai, hanya sedikit yang mau mendengar suara lain, suara Inaq Sebah dan Salim. Suara yang pelan, tapi menyesakkan dada.

Padahal yang penting bukan suaranya. Tapi *mengapa* suara itu muncul?

“Bupati Iron,” kata Salim, “mungkin keras suaranya. Tapi kami tahu... itu karena keluhan kami tak pernah cukup keras untuk didengar.”

Iron, sang Bupati, datang bukan sebagai pejabat yang ingin mencuri perhatian. Ia datang sebagai seorang ayah yang mendengar tangis anak-anaknya di tengah malam. Ia menyuarakan kegelisahan warga yang kehilangan ruang hidup di tanahnya sendiri.

“Orang boleh datang ke Ekas,” gumam Inaq Sebah. “Silakan. Tapi jangan lupa... kami juga hidup di sini. Kami bukan hantu di pesisir. Kami juga butuh makan.”

Ia tahu banyak netizen kecewa. Tapi ia hanya ingin bicara pada mereka yang belum pernah duduk di bangku reyot warungnya, menyeruput kopi hitam dengan latar laut biru yang pernah ia banggakan.

*“Saudara-saudaraku yang menonton dari jauh,”* ucapnya lirih, *“jangan hanya lihat videonya. Pahamilah luka kami.”*

Karena bagi Inaq Sebah dan Salim, yang menyakitkan bukan suara tinggi seorang pemimpin. Tapi ketidak adilan yang diam-diam menyusup, menghapus nama mereka dari peta harapan.

Mereka tak ingin membenci siapa pun. Tak ingin konflik. Tak ingin melarang orang datang. *Mereka hanya ingin dilibatkan, diakui, dan diberi tempat.*

Mereka berharap para pemimpin, baik di kantor pemerintahan, gedung DPRD, maupun dinas-dinas pariwisata dan yang menyebut diri aktivis, berhentilah saling menyalahkan dan menyisihkan yang kecil. *“Hentikan debat kosong yang tak menyentuh nasib kami,”* bisik Salim. *“Lihat kami. Dengar kami.”*

Ekas bukan panggung politik. Ia adalah rumah. Rumah bagi siapa saja, *tapi jangan lupa: rumah juga punya tuan.* Yang lebih dulu menanam pohon, menimba air, dan menyalakan bara kopi pagi.

Pagi itu, Inaq Sebah kembali menyeduh kopi. Bukan untuk tamu, tapi untuk harapan. Sementara Salim memanggul papan selancarnya, berjalan menyusuri pasir yang kini sepi. Ia masih percaya, ombak hari ini bisa membawa pesan damai.

Karena Ekas… adalah milik kita bersama.
Karena Ekas… bukan untuk direbut, tapi untuk dirawat bersama.

20/07/2024

Untung gak kenapa napa

26/06/2024

Objek Wisata Bukit Kayangan di Desa Labuhan Lombok

Pemerintah Desa Labuhan Lombok perkenalkan Objek Wisata Bukit Kayangan yang akan dijadikan sebagai pusat pariwisata di desa tersebut.

Berita ini menjadi salah satu yang kami turunkan dalam program berita Jendela Selaparang edisi Senin, 20 Desember 2021 disamping berbagai kabar menarik lainnya.

Program Jendela Selaparang hadir setiap hari Senin - Sabtu jam 19.00 Wita hanya di Selaparang TV.

Update terus wawasan anda dengan informasi aktual lainnya seputar Lombok Timur & daerah lainnya di Nusa Tenggara Barat, melalui Selaparang Televisi-Channel 50 UHF Lombok

15/03/2024

Masih rezekinde arane Amaq 😇

Dua ekor sapi milik Abdul Sukur alias Amak Marzuki, yang diketahui hilang dicuri, berhasil ditemukan di dusun Sukadana, Desa Bagik Payung Timur, Kecamatan Suralaga (Kamis, 14/03)

Amaq Marzuki sebelumnya mengetahui kedua sapinya hilang sekitar pukul 8 malam dan kemudian segera menghubungi aparat yang kemudian dibantu warga mencari kedua sapi miliknya itu.

Mendapat informasi dari warga di jalur pencarian bahwa ada orang mencurigakan yang membawa sapi, Amaq Marzuki beserta rombongan pencari kemudian berhasil menemukan kedua sapinya terikat di pohon pisang, setelah sekitar hampir tiga jam melakukan pencarian.

Saat ini kedua ekor sapi yang ditaksir berharga 30 juta Rupiah tersebut telah berada kembali ke tangan pemiliknya.


Via: (Supriadi Takeo Takasi)
Cc:

Address

Nusana

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Telephone

+6237623838

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Selaparang Televisi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share