Echomora

Echomora For the thoughts you can’t say out loud. Where silence speaks the loudest. 🌙

09/04/2026

"You kept pushing forward, even when the world went silent. Your strength is a masterpiece, unseen by many, but felt by all."





Not every step gets noticed.Not every effort gets seen.But you kept going anyway.And that matters more than you think.  ...
08/04/2026

Not every step gets noticed.
Not every effort gets seen.
But you kept going anyway.
And that matters more than you think.





08/04/2026

"Not everyone who seems distant... chose to be that way.
Sometimes, it's the result of hurtful expectations piling up."





Not everyone who seems distant…chose to be that way.Sometimes, it’s what happenswhen expectations hurt too many times.  ...
07/04/2026

Not everyone who seems distant…
chose to be that way.

Sometimes, it’s what happens
when expectations hurt too many times.





07/04/2026

"You’re not lazy…
You’re just mentally exhausted.”





Some days, it’s not about pushing harder.It’s about giving yourself permission to pause.You’ve done more than you think....
06/04/2026

Some days, it’s not about pushing harder.
It’s about giving yourself permission to pause.

You’ve done more than you think.





The thoughts that echo when everything goes quiet.
06/04/2026

The thoughts that echo when everything goes quiet.

IBU MEMINTAKU PERGI SEJAUH MUNGKIN, AGAR BAPAK TIDAK MENCELAKAIKU. SEMENTARA IBU SUDAH BABAK BELUR DITANGANI BAPAK.***“C...
20/02/2026

IBU MEMINTAKU PERGI SEJAUH MUNGKIN, AGAR BAPAK TIDAK MENCELAKAIKU. SEMENTARA IBU SUDAH BABAK BELUR DITANGANI BAPAK.

***

“Cepat pergi, Insan! Jangan sampai bapakmu tahu kamu ada di sini…!”

Aku hampir tak mengenali suaraku sendiri. Parau. Pecah. Bukan lagi suara seorang ibu yang lembut, tapi suara perempuan yang sedang kehabisan waktu.

Angin malam menyusup lewat celah dinding bambu yang lapuk. Bau tanah basah bercampur darah yang mengering di pipiku. Dari kejauhan, suara tadarus terdengar sayup dari masjid. Ramadan baru saja dimulai. Seharusnya malam ini penuh doa.

Tapi di dapur rumahku, yang ada hanya ketakutan.

Insan berdiri di depanku. Tubuhnya masih kecil, tapi matanya menyala seperti api yang tak mau padam.

“Tapi Ibu sedang terluka. Bagaimana aku bisa lari dan membiarkan Ibu sendirian?”

Hatiku seperti diremas. Aku mendorong pundaknya dengan sisa tenaga yang gemetar. Telapak tanganku terasa dingin—mungkin karena hujan, mungkin karena aku tahu keputusan ini akan menghancurkan kami berdua.

“Ibu akan baik-baik saja, Nak. Percayalah kali ini.”

Aku berbohong.

Wajahku berdenyut. Sudut bibirku terasa perih setiap kali aku bicara. Tulang rusukku seperti terbakar setiap kali aku menarik napas. Siang tadi, ketika matahari Ramadan masih tinggi dan perut kami seharusnya menahan lapar, suamiku menghajarku tanpa ampun.

Bukan pertama kali. Tapi mungkin kali ini yang paling membuatku takut.

“Ibu bohong…” suara Insan bergetar. “Wajah Ibu hancur dan Ibu bilang akan baik-baik saja?”

Gedoran pintu depan membuat jantungku hampir meloncat keluar. Makian itu… aku hafal betul nadanya. Bau minuman keras selalu datang bersama amarahnya.

“Dengarkan Ibu sekali ini saja, Insan. Pergilah sebelum dia mendobrak pintu itu!”

Ia menggeleng. Air matanya jatuh. Tapi tubuhnya tetap tegak di depanku.

“Tidak, Bu! Aku tidak akan pergi. Aku akan lindungi Ibu.”

Oh Tuhan… justru itu yang paling kutakutkan.

“Kamu tidak tahu apa yang bisa dia lakukan kalau sedang murka!” suaraku pecah jadi isakan. Aku memegangi rusukku yang nyeri. “Kamu masih anak kecil.”

“Aku bukan anak kecil lagi!”

Lampu bohlam di dapur berkedip lemah. Dalam cahaya kuning yang sekarat itu, aku melihat wajah anakku—wajah yang masih terlalu muda untuk menyimpan kebencian sebesar itu.

Aku tidak ingin dia tumbuh dengan tangan berlumur dosa. Aku tidak ingin dia menjadi bayangan lelaki yang melukaiku.

“Ibu mohon… jangan buat Ibu merasa bersalah karena melibatkanmu.”

Ia menatapku dengan amarah dan luka yang bercampur jadi satu. Aku tahu ia merasa gagal melindungiku. Padahal seharusnya akulah yang melindunginya.

“Kenapa Ibu selalu menyuruhku lari? Kenapa tidak membiarkanku melawan?”

Karena dia bapakmu.

Dan aku tidak sanggup melihat darah dagingku berdiri melawan darah dagingku sendiri.

“Karena kamu tidak akan pernah menang,” kataku lirih. “Dan Ibu tidak mau kehilangan kamu.”

Petir menggelegar di luar. Gedoran makin keras. Aku tahu waktuku habis.

“Lihat Ibu, Nak.”

Ia terdiam. Air matanya membuat wajahnya terlihat jauh lebih kecil dari usianya.

“Kalau kamu tetap di sini, dia bisa mencelakai kita berdua.” Aku menahan tangis yang hampir pecah. “Pergilah yang jauh. Hiduplah di tempat lain. Lupakan Ibu. Lupakan ayahmu. Anggap kami hanya bagian buruk dari masa lalumu.”

Mengucapkan itu rasanya seperti mencabut jantungku sendiri.

“Ibu…”

Suara itu membuatku hampir runtuh. Tapi aku tidak boleh lemah. Tidak malam ini.

Aku menggenggam bahunya kuat. Mengumpulkan keberanian terakhir yang tersisa dalam tubuhku yang babak belur.

“Pergilah, Nak. Ibu sayang kamu.”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sadar…

Kadang cinta seorang ibu bukan tentang memeluk dan mempertahankan.

Kadang cinta berarti melepaskan, meski itu menghancurkan dirinya sendiri.

baca selengkapnya di aplikasi KBM App.
Judul: Jauhkan Aku Dari Apa yang Aku Inginkan.
karya: Sutan Marajo Jr

Beginikah Rasanya Dipeluk Seorang Bapak?DI TUBUH ANAK INI, ADA SEBAGIAN DIRIKU DI DALAMNYA.Part 8"Ya Hayyu ya qayyumm......
15/02/2026

Beginikah Rasanya Dipeluk Seorang Bapak?

DI TUBUH ANAK INI, ADA SEBAGIAN DIRIKU DI DALAMNYA.

Part 8

"Ya Hayyu ya qayyumm... Yaa Allah... Hamba mohon keajaiban mu untuk anakku Sagara Ya Allah" Arumi tak henti-hentinya berdzikir.

Lampu indikator ruang operasi akhirnya padam.

Arumi yang sejak tadi meremas tangannya sendiri sambil merapal doa tanpa henti, langsung bangkit berdiri. Kakinya gemetar saat melihat pintu otomatis itu terbuka.

Elio keluar lebih dulu. Wajah dokter tampan itu terlihat sedikit pucat—efek pengambilan darah dalam jumlah banyak secara mendadak—namun sorot matanya menyiratkan kelegaan.

"Dokter..." Suara Arumi tercekat. "Sagara..."

Elio menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Dia pejuang yang tangguh, Bu Arumi. Operasinya berhasil. Pendarahannya sudah berhenti dan masa kritisnya sudah lewat. Dia anak yang kuat."

"Alhamdulillah..." Arumi langsung merosot kembali ke lantai. Tangisnya pecah. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru yang membuncah.

Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat. "Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih..."

Elio menatap wanita yang bersimpuh di depannya itu. Ada perasaan aneh yang menjalar di dada Elio. Melihat ketulusan cinta Arumi pada Sagara, padahal wanita itu sendiri baru saja mengakui bahwa Sagara bukan darah dagingnya.

"Bangunlah, Bu Arumi," ucap Elio, suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya, meski wibawanya tetap terasa. "Jangan menangis di lantai kotor begini."

Arumi menghapus air matanya kasar, lalu berdiri dengan canggung. Ia menatap Elio dengan tatapan penuh hutang budi. "Terima kasih banyak, Dokter Elio. Dokter sudah menyelamatkan nyawa anak saya... Saya... saya tidak tahu harus membalas dengan apa. Darah Dokter sudah mengalir di tubuh Sagara. Saya berhutang nyawa untuk Sagara pada dokter"

"Itu intinya," potong Elio cepat. Tatapannya berubah serius, mengunci manik mata Arumi. "Karena darah saya sekarang mengalir di tubuh anak itu, saya rasa saya berhak tahu kebenarannya."

Arumi tersentak. "Maksud Dokter?"

"Ikut ke ruangan saya. Sekarang. Ada hal medis dan non-medis yang harus kita bicarakan mengenai Sagara."

Tanpa menunggu jawaban, Elio berbalik badan, melangkah tegas menuju ruang kerjanya. Arumi menelan ludah susah payah. Ia ingin menolak, tapi bagaimana mungkin ia menolak perintah orang yang baru saja mendonorkan darah untuk anaknya? Dengan langkah berat, Arumi mengekor.

Ruangan kerja Elio terasa dingin dan mengintimidasi. Aroma antiseptik dan buku-buku tebal yang berjajar rapi membuat Arumi semakin merasa kecil.

"Duduk," titah Elio.

Arumi duduk di ujung kursi, tangannya saling meremas di pangkuan. Ia merasa seperti terdakwa yang sedang diinterogasi.

Elio duduk di kursi kebesarannya, menatap Arumi lekat-lekat selama beberapa detik sebelum membuka suara.

"Tadi di depan ruang operasi, saat kamu panik... Kamu bilang kamu bukan ibu kandungnya," Elio memulai pembicaraan langsung ke inti. "Benar begitu?"

Wajah Arumi pias. Ia merutuki mulutnya yang tidak bisa dikontrol saat panik tadi.

"S-saya..." Arumi tergagap, matanya bergerak gelisah menghindari tatapan tajam Elio. "Saya cuma panik, Dok. Saya bingung harus cari donor ke mana, makanya saya bicara ngawur."

"Bicara ngawur?" Elio tersenyum miring, senyum yang tidak mencapai mata.

"Bu Arumi, saya ini dokter. Secara medis, golongan darah Sagara itu AB Rhesus Negatif. Sangat langka. Sementara kamu... dari data administrasi rumah sakit saat pendaftaran tadi, golongan darahmu O Positif. Secara genetika, mustahil ibu bergolongan darah O melahirkan anak bergolongan darah AB."

Arumi membeku. Ia lupa bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli medis. Kebohongannya patah seketika.

"Jadi, siapa Sagara sebenarnya?" desak Elio. Nada suaranya rendah, namun menuntut.

"Siapa orang tuanya? Dan kenapa anak dengan golongan darah langka seperti itu bisa hidup bersamamu saat ini?"

Arumi menunduk dalam. Ia tidak mungkin menceritakan aib keluarganya. Ia tidak mungkin bilang bahwa adiknya, Diva, membuang bayi itu di panti asuhan lalu ia memungutnya kembali.

"Dia... Dia anak yang dititipkan Tuhan pada saya, Dok," jawab Arumi lirih, namun tegas.

"Siapapun orang tua kandungnya, mereka sudah tidak menginginkannya. Bagi Sagara, sayalah ibunya. Dan bagi saya, dialah segalanya. Hanya itu yang perlu Dokter tahu."

"Tidak menginginkannya?" Elio membeo. Rahangnya mengeras. Ingatannya kembali pada Aldi, adiknya yang tidak bertanggung jawab.

"Apakah ayahnya seorang pria yang... meninggalkan ibunya?"

Arumi mendongak kaget. Pertanyaan itu terlalu spesifik.

"Saya tidak tahu soal Ayahnya," elak Arumi cepat. "Saya hanya merawatnya sejak bayi merah. Sejak dia... dibuang."

Satu kata itu. Dibuang.

Kata itu menghantam dada Elio dengan telak. Jadi benar. Keponakannya dibuang. Cucu keluarga Adhitama dibuang seperti sampah. Kemarahan pada Aldi dan wanita yang melahirkan Sagara semakin membara di dada Elio.

"Baiklah jika kamu belum mau jujur sepenuhnya," Elio menyandarkan punggungnya, mengubah strategi. Ia tidak boleh terlalu agresif atau Arumi akan kabur membawa Sagara.

"Tapi ingat satu hal, Bu Arumi. Sagara butuh pemulihan panjang. Dan karena darah saya ada di tubuhnya, saya akan memantau perkembangannya secara pribadi. Jangan coba-coba menyembunyikan apapun lagi."

"Saya... Saya permisi mau lihat Sagara, Dok," Arumi buru-buru bangkit. Ia merasa sesak berada di ruangan itu. Tatapan Dokter Elio seolah menelanjangi semua rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama lima tahun ini.

"Silakan."

Arumi bergegas keluar, menutup pintu ruangan itu dengan jantung yang masih berpacu gila-gilaan.

Sepeninggal Arumi, Elio tidak tinggal diam. Keyakinannya sudah bulat seratus persen.

Sagara adalah anak Aldi. Golongan darah langka itu adalah stempel tak terbantahkan dari garis keturunan Adhitama. Dan Arumi... wanita itu jelas menyembunyikan identitas asli orang tua Sagara.

Elio mengambil ponselnya, menekan panggilan cepat nomor 1.

"Halo, Raka," ucap Elio dingin.

"Siap, Bos. Ada perintah?" suara di seberang menjawab sigap. Raka adalah orang kepercayaan Elio, detektif swasta yang biasa menangani masalah "bawah tanah" keluarga Adhitama.

"Saya kirimkan foto KTP seorang wanita bernama Arumi. Dia sekarang ada di Rumah Sakit Medika Pusat."

"Oke. Apa yang harus saya cari?"

"Gali semuanya sampai ke akar-akarnya," perintah Elio tajam. "Cari tahu siapa keluarganya, siapa orang tuanya, dan cari tahu siapa saudara perempuannya. Saya curiga, Arumi ini hanya 'tangan' yang memungut dosa saudaranya."

"Siap, laksanakan. Besok pagi laporannya sudah di meja Bos."

Elio mematikan sambungan telepon. Ia memutar kursi kerjanya menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta.

"Kamu boleh menyembunyikannya dari dunia, Arumi," gumam Elio pelan, matanya berkilat penuh ambisi.

"Tapi kamu tidak bisa menyembunyikan darah daging Adhitama dari keluarganya sendiri. Sagara akan kembali pada kami. Dan kamu... akan kita lihat, apakah kamu pahlawan atau justru penculik bertopeng malaikat."

Bersambung...
Yuk baca kelanjutannya di aplikasi KBM app ya kak
JUDUL : JANGAN BERHENTI JADI IBUKU
PENULIS : ERIN MARTA LINA

Aku Tidak Pernah Menduga, kalau Keponakan Yang Kucari, Ternyata Begitu Sehat dan Tampan. Namun, Di Hari Pertama Jumpa, D...
11/02/2026

Aku Tidak Pernah Menduga, kalau Keponakan Yang Kucari, Ternyata Begitu Sehat dan Tampan. Namun, Di Hari Pertama Jumpa, Dia Malah Kecelakaan.

Part 7

Elio baru saja memasukkan jas putihnya ke dalam tas. Pikirannya masih dipenuhi rencana bagaimana cara membawa Sagara dan Arumi ke hadapan Papanya. Tapi sebelumnya ia harus memastikan bahwa benar dugaannya.

"Tapi entahlah bagaimana caranya. Baru kali ini aku se yakin ini pada sebuah kebetulan" gumamnya.

Namun, belum sempat ia menutup pintu mobil, suara decit ban yang bergesekan kasar dengan aspal memekakkan telinga.

CIIIITTTT!

BRAAAK!

Suara benturan keras itu terdengar mengerikan. Diikuti jeritan histeris orang-orang di sekitar gerbang sekolah.

"SAGARA!"

Teriakan itu. Elio kenal suara itu. Itu suara Arumi saat memanggil Sagara tadi.

Jantung Elio seakan berhenti. Tas di tangannya terlepas begitu saja. Tanpa pikir panjang, kakinya berlari secepat kilat menuju kerumunan di depan gerbang.

Pemandangan di sana membuat darahnya mendidih sekaligus beku seketika.

Sebuah mobil sedan hitam tancap gas, kabur meninggalkan jejak asap tebal. Sementara di tengah jalan, tubuh kecil Sagara tergeletak tak bergerak. Darah segar mulai mengalir dari kepalanya, membasahi aspal yang panas.

"Saga! Bangun, Nak! Sagara!" Arumi bersimpuh, tangannya gemetar hebat hendak menyentuh tubuh putranya tapi takut menyakiti. Wajahnya pucat pasi, air mata membanjir deras. "Tolong! Tolong anak saya!"

Elio menerobos kerumunan. Naluri dokternya mengambil alih.

"Minggir! Jangan dikerubungi! Beri jalan!" Teriak Elio lantang.

Ia berlutut di samping Arumi. Jemarinya dengan cekatan memeriksa nadi karotis di leher Sagara. Lemah. Sangat lemah. Napasnya pun satu-satu.

"Dokter... Tolong Sagara, Dok... Tolong..." Arumi mencengkeram lengan kemeja Elio, matanya nanar penuh keputusasaan.

"Tenang Bu, saya tangani." Elio mengangkat tubuh Sagara dengan teknik yang hati-hati agar tidak memperparah cedera tulang belakang. "Buka pintu mobil saya! Cepat!"

Elio berteriak pada satpam sekolah yang bengong.

Tanpa menunggu ambulans yang pasti akan lama, Elio membawa Sagara ke mobil pajero sport miliknya. Arumi ikut masuk di kursi belakang, memangku kepala Sagara yang berdarah dengan tangisan yang tak putus-putus.

"Bertahanlah Jagoan... Bertahanlah..." bisik Elio sambil menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melesat membelah jalanan kota, menyalip kendaraan lain bak orang gila.

Sesampainya di lobi IGD RS Medika Pusat—rumah sakit milik keluarganya sendiri—Elio langsung membunyikan klakson panjang.

"Brankar! Cepat bawa brankar! Pasien trauma kepala berat! Anak-anak!" Teriak Elio begitu turun dari mobil.

Para perawat dan dokter jaga yang melihat siapa yang datang langsung bergerak sigap. Mereka tahu, jika dr. Elio sudah berteriak seperti itu, artinya keadaan darurat tingkat tinggi. Apalagi ini RS milik ayahnya.

"Siapkan ruang operasi CITO! Hubungi dr. Bambang spesialis bedah saraf sekarang juga! Bilang saya yang perintah!" Titah Elio sambil berlari mendorong brankar Sagara menyusuri lorong rumah sakit.

"Baik, Dok!"

Arumi berlari kecil mengikuti di belakang, napasnya tersengal, bajunya penuh noda darah Sagara.

"Maaf Bu, Ibu tunggu di sini. Kami akan melakukan tindakan penyelamatan." Seorang perawat menahan Arumi di depan pintu ruang tindakan zona merah.

"Tapi anak saya... Sagara..."

"Percayakan pada kami, Bu. Ada dr. Elio di dalam. Dia dokter terbaik."

Pintu tertutup. Lampu indikator menyala merah.

Arumi merosot ke lantai. Kakinya lemas tak bertulang. Ia memeluk lututnya sendiri, gemetar hebat. Bayangan tubuh Sagara yang terpental tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Ya Allah... Jangan ambil Sagara... Cuma dia alasan hamba hidup... Arumi merapal doa di sela isak tangisnya.

Tiga puluh menit berlalu seperti tiga puluh tahun bagi Arumi.

Pintu ruang tindakan terbuka. Elio keluar dengan wajah tegang, masker medisnya menggantung di leher. Jas kemejanya yang mahal kini ada bercak darah.

Arumi langsung berdiri, menyongsong Elio.

"Gimana Sagara, Dok? Dia selamat kan?"

Elio menatap wanita di depannya. Ada rasa iba, tapi situasi ini terlalu kritis untuk basa-basi.

"Kondisinya kritis, Bu Arumi. Ada pendarahan di otak dan limpa yang pecah akibat benturan. Kita harus segera operasi sekarang juga untuk menghentikan pendarahan internalnya."

"Lakukan, Dok! Lakukan apapun! Saya mohon!" Arumi memohon, hampir bersujud.

"Masalahnya..." Elio menggantung kalimatnya, tampak frustrasi. "Stok darah di bank darah rumah sakit sedang kosong untuk golongan darah Sagara."

"Golongan darah?" Arumi bingung.

"Sagara kehilangan banyak darah. Golongan darahnya AB Rhesus Negatif. Itu golongan darah yang sangat langka di Indonesia, Bu. Stok PMI kosong, donor keliling juga belum ada yang cocok."

Arumi ternganga. AB Rhesus Negatif?

"Kami butuh donor dari keluarga kandung secepatnya. Ayah kandung biasanya memiliki probabilitas kecocokan paling besar. Di mana suami Ibu? Atau saudara kandung Sagara? Hubungi mereka sekarang! Kita berpacu dengan waktu!" desak Elio. Sebenarnya ia tahu jawabannya, tapi ia ingin memancing Arumi.

Wajah Arumi pucat, seputih kapas.

Keluarga kandung?

Sagara bukan anak kandungnya. Golongan darah Arumi O Positif. Jelas tidak bisa mendonor.

Satu-satunya yang memiliki ikatan darah dengan Sagara adalah Diva—ibu kandungnya—dan laki-laki yang menghamilinya dulu.

"Bu Arumi! Kenapa diam saja? Hubungi Ayahnya Sagara! Nyawa anak ini ada di ujung tanduk!" Sentak seorang perawat yang mendampingi Elio, panik melihat monitor tanda vital di dalam ruangan yang mulai menurun.

Arumi panik luar biasa. Tangannya gemetar merogoh ponsel butut dari saku celananya.

"I-iya... Saya hubungi... Saya hubungi..."

Arumi menekan nomor kontak yang dinamai 'Ibu'. Meski ia sudah diusir, meski ia dibenci, ia harus mencoba. Demi Sagara. Demi cucu mereka sendiri!

Tuuuuut.... Tuuuuut....

Panggilan tersambung. Arumi menahan napas.

"Halo?" Suara Bu Sri terdengar ketus.

"Bu! Ibu tolong! Ini Arumi! A- aku butuh bicara dengan Diva , golongan darah Diva ap-"

"Heh Arumi! Bertahun-tahun gak ad kabar. Untuk apa kamu mencari Diva heh? Untuk apa? Hidup kami sudah tenang tanpa kamu ya! Jadi gak usah kembali lagi ke keluarga ibu yang baru ini!"

KLIK.

Telepon dimatikan sepihak.

Arumi menatap layar ponselnya dengan tatapan tak percaya. Hancur. Hatinya remuk redam. Bagaimana bisa nenek ibu kandungnya sendiri setega itu?

"Bu Arumi! Pasien detak jantungnya melemah!" Perawat berteriak dari dalam.

Arumi dengan tangan gemetar mencoba menekan nomor Diva.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Arumi mencoba menekan nomor Pak Agung.

"Nomor yang Anda tuju, sedang sibuk..."

Ditolak.

Dunia Arumi runtuh. Ia memandang Elio dengan tatapan kosong, air mata membasahi pipinya tanpa henti. Ponsel di tangannya terjatuh ke lantai.

"Gak ada... Gak ada yang mau angkat, Dok..." lirih Arumi, suaranya parau penuh keputusasaan. "Saya... Saya bukan ibu kandungnya... Saya nggak bisa kasih darah saya..."

Akhirnya rahasia itu terucap saking putus asanya.

Elio menatap Arumi lekat. Ia sudah menduga hal ini. Namun melihat Arumi hancur karena ditolak oleh keluarganya sendiri—keluarga yang seharusnya melindungi Sagara—membuat rahang Elio mengeras menahan amarah.

"Dokter Elio! Tekanan darah turun drastis! 60 per 40! Kita kehilangan dia!" Teriak perawat histeris.

Arumi menjerit tertahan, menutup wajahnya, siap menerima kabar terburuk.

Namun, Elio tiba-tiba melangkah maju. Ia menggulung lengan kemejanya dengan kasar. Tatapannya tajam, penuh determinasi.

"Siapkan kantong darah," ucap Elio dingin dan tegas pada perawat.

"Tapi Dok, kita belum dapat donor—"

"AMBIL DARAH SAYA!" Bentak Elio menggema di lorong IGD. "Golongan darah saya AB Rhesus Negatif. Sama persis dengan anak itu. Ambil sebanyak yang dia butuhkan!"

Arumi mendongak, menatap punggung tegap dokter itu dengan tatapan tak percaya.

Sama persis?

Elio menoleh sekilas ke arah Arumi yang masih syok di lantai.

Bersambung...
Yuk baca kelanjutannya di aplikasi KBM app ya kak
JUDUL : JANGAN BERHENTI JADI IBUKU
PENULIS : ERIN MARTA LINA

🔴 Aku pikir perempuan gila itu sudah tenang… sampai hujan dan sesuatu yang menjijikkan jatuh di depan mataku.Judul: Pere...
06/02/2026

🔴 Aku pikir perempuan gila itu sudah tenang… sampai hujan dan sesuatu yang menjijikkan jatuh di depan mataku.

Judul: Perempuan Gila Yang Melahirkan
Penulis: Sutan Marajo Jr

Aku dan Vira saling pandang.
Semakin lama berbicara dengan Ratih, kepalaku semakin dipenuhi kebingungan. Tatapan matanya meloncat-loncat antara sadar dan tidak. Aku memberi isyarat pada Vira—jangan terlalu menanggapi ucapannya.

“Baiklah, Ratih… kamu sudah agak mendingan?” suara Vira terdengar lembut. “Aku bantu bersihin badan kamu, ya? Kita pulang.”

Ratih mendecih kasar.
“Jangan pegang-pegang aku. Kamu tidak pantas, Vira!”

Aku belum sempat bereaksi ketika wajah Ratih mendadak berubah. Dia meringis, mengerang, lalu berpegangan pada dinding gubuk. Rasa mulas kembali menghajarnya.

Dan saat itulah…
aku melihat sesuatu yang membuat dadaku serasa diremas.

“Ya Tuhan… apa itu, Vir?!” aku berteriak tanpa sadar.

Ratih mengangkat roknya, mengejan keras—dan sesuatu jatuh ke tanah dengan suara gedebuk.

“Ya Allah… itu tali ari-ari dan plasentanya!” teriak Vira panik. “Ratih! Bayimu mana?! Di mana bayimu?!”

Ratih sama sekali tak menjawab.
Dengan santainya, dia mengambil gumpalan daging berlumur cairan merah itu… lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

Di titik itu, aku menyerah.

Aku berlari keluar pondok dan memuntahkan semua isi perutku di bawah hujan. Dadaku sesak, kepalaku berdenyut, dan pikiranku kosong.

“Ini apa, Vira?” suara Ratih terdengar dari dalam. “Ini bayiku? Kok bentuknya begini? Hahaha….”

Tawanya terdengar ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang baru saja melahirkan.

“Ratih! Jangan bercanda!” Vira terdengar hampir menangis. “Taruh itu! Taruh di bawah!”

Aku melihat Vira merebut plasenta itu. Ratih langsung mengamuk, berteriak-teriak seperti kesetanan. Suara jeritannya bercampur hujan dan petir—membuat malam itu terasa makin tidak nyata.

“Apa sebenarnya yang ingin Engkau perlihatkan, Tuhan…?” Vira terisak. Aku hanya bisa berdiri kaku, tak tahu harus berbuat apa.

Lalu Ratih mendadak terdiam.
Dia menoleh ke langit.

“Hujan…?” katanya pelan.
Lalu wajahnya berubah ceria.

“Hujaaaan! Horee! Horeee!”

Dia berlari keluar pondok.
Menari.
Tertawa.
Membiarkan hujan mengguyur tubuhnya yang kotor dan berdarah.

Vira hendak mengejarnya, tapi aku menahan tangannya.

“Biarkan saja…,” kataku pelan.

“Tapi, Bang… dia masih sakit….”

“Orang gila tidak merasakan sakit,” jawabku, meski suaraku sendiri bergetar. “Biarkan hujan mencuci tubuhnya. Lihat… dia bahkan seperti tidak habis melahirkan.”

Namun aku salah.

Beberapa saat kemudian, langkah Ratih mulai oleng.
Tubuhnya goyah…
lalu terjerembab ke rerumputan.

Diam.
Tak bergerak.

“RATIIIH!” Vira menjerit histeris sambil berlari ke arahnya.

Aku hanya terpaku.
Basah oleh hujan.
Dan sadar… malam ini masih jauh dari kata selesai.

👉 Baca selengkapnya di aplikasi KBM App.
Judul: Perempuan Gila Yang Melahirkan
Penulis: Sutan Marajo Jr





Address

Padang
Padang
25113

Telephone

+81268325540

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Echomora posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Echomora:

Share