Dwi Nella Mustika

Dwi Nella Mustika Mantan Karyawan yang sekarang menjadi ibu rumah tangga yang produktif dari rumah. Aku seorang penulis novel di aplikasi Goodnovel dan KBM App.

Bagi yang minat baca cuuusss cari namaku di aplikasi itu ya Dwi Nella Mustika

23/12/2024

Padahal udah cantik, kenapa masih nggak pe de ... Ketika Istri GEN DUT Dicam pakkan
Bab 4
Penulis: Buku Bunga Btp
Semalaman Nena tidak bisa tidur karena sudah berjanji ke subscribers-nya untuk menampakkan wajah seminggu lagi. Dia butuh waktu beberapa hari untuk memupuk kepercayaan dirinya.
Setelah ada sedikit keberanian yang muncul, Nena mulai menonton video-video tutorial make up. Perlahan ia mulai membel1 alat-alat make up dan kosmetik, tetapi tidak langsung mengaplikasikan pada wajahnya, Nena mencoba tutorial tersebut melalui media kepala boneka. Pertama-tama masih kaku, lama-kelamaan jemari lentik Nena mulai terbiasa mengaplikasikan semua peralatan make up dan kosmetik ke wajah boneka. Ia yakin bisa mengaplikasikan di wajahnya juga selincah saat mencobanya di boneka peraga.
Di hari ke-6 Nena mulai berani menatap wajahnya di cermin dalam waktu yang lama. Sebenarnya dia agak terkejut saat melihat wajahnya yang tirus, tetapi belum berani mengambil kesimp**an kalau ber4t b4dannya sudah turun dr4st1s.
“Kayak bukan wajahku!” serunya melihat wajah di cermin bulat yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil.
Perlahan tangan Nena menyentuh pipinya yang tirus.
“Ada yang salah sama cermin ini!”
Ibu satu orang putra itu meneguk ludah, tetapi memberanikan diri berkresi dengan peralatan make up di mejanya.
“Aku pasti bisa!”

Nena mulai mengaplikasikan kosmetik ke wajah lembutnya. Tak butuh waktu lama karena dia sudah berlatih dengan boneka peraga.

Seharian itu, ia terus menerus merias diri, kemudian menghapusnya, merias lagi, dan menghapusnya sampai benar-benar ahli karena Nena punya ide untuk membuat konten tutorial make up sambil bercerita.

Hari ke-7, tibalah saatnya untuk dia menampakkan wajah di depan layar saat sedang live streaming.

[Miss Na hari ini janji mau menampakkan wajahnya loh, jangan sampai bohong.]
Komentar pertama sudah membuatnya mulai gugup. Sempat muncul rasa tidak percaya diri, padahal ia sudah berlatih bicara di depan kamera.

[Iya, mana nih, Miss Na? Jangan bikin fans kecewa d**g!]
Nena belum menampakkan wajah, masih berupa tangannya saja sambil memainkan anak-anak ayam.

Setelah cukup ramai komen, Nena pun merasa sungkan dan akhirnya menampakkan wajahnya.
“Hai semua!” sapanya riang, padahal tangannya sangat dingin. “Aku Miss Na.”
[Wah! Ternyata Miss Na cantik banget!]
[Ya ampun Kakak cantik banget!]
[Ini bukan filter kan?]

Live streaming Nena yang sudah banjir love dan stiker itu semakin ramai komen.
[Bukan filter kan Miss?]

Nena mengangkat kedua tangan, mencubit pipinya, melambaikan tangan di depan wajah untuk menunjukkan kalau dia tidak pakai filter.
Semua yang menonton live streaming Nena siang itu pun terkagum-kagum. Tidak menyangka di balik layar, yang biasanya hanya tampak tangan, ternyata wajah si pemilik tangan jauh lebih cantik.
[Suaranya merdu, wajahnya cantik p**a, Miss Na paket komplit!]

Pujian yang silih berganti membuat Nena tak percaya kalau ternyata dirinya secantik itu.
Masa sih aku cantik?
Nena yang sebelumnya merasa dirinya tidak cantik, tidak berharga, jadi terkena psikologis, sehingga dia tidak langsung bisa mempercayai pujian-pujian itu.
Sejak menampakkan wajahnya di live streaming, akun ZZ Miss Na semakin dikenal, subscribers-nya juga bertambah terus. Pundi-pundi uang pun berkumpul karena jadi banyak online shop ataupun toko offline yang menawarkan kerja sama end0rse produk.
Tidak aku sangka karena live streaming jadi bisa menabung lebih dari yang aku harapkan!

**

Di tempat berbeda ....

Refiga mulai sibuk mempersiapkan kedatangan Raswan yang kurang dari satu bulan lagi.
Wanita berbibir tipis itu sudah membeberkan ke keluarganya kalau kekasihnya—Raswan—akan melamarnya sep**ang satgas. Pada teman-temannya juga sama, dia berkata kalau akan segera menuju pelaminan.
“Bukannya Raswan masih punya istri ya, Ga?” tanya Lupi—teman akrab F**a di tempat kerja.

“Mau pisah kok, Mas Raswan tuh bilang ke aku kalau dia dan istrinya sepakat akan bercer41 sep**ang satgas,” sahut F**a yang sore itu sedang di-smoothing ulang rambutnya.
Lupi yang sedang creambath di sebelahnya menoleh dengan mengernyitkan dahi. “Mereka punya an4k nggak?”
“Ada satu, cowok. Ah, biar aja ikut ibunya, supaya nggak ganggu hidup baru Mas Raswan denganku.” F**a tampak acuh saja saat membahas masalah an4k, tak berperasaan.
Petugas salon yang menangani rambut F**a ikut nyeletuk, “Kayak aku, Mbak, nikah dapat duda satu an4k, hedeh, anaknya bikin repot! Kadang dia bisikin ke papanya suruh balik lagi ke mamahnya gitu. Hih! Pengen aku tamp0l rasanya kalau nggak ingat dia an4k suamiku! Padahal masih kecil loh, kelas IV SD.”
Refiga menjentikkan jari. “Nah, kek gitu yang aku takutkan juga, Mbak! Anaknya bisa bikin runyam. Walau kayaknya nggak bakal balik juga sih Mas Raswan ke istrinya. Secara istrinya itu gen dut, kum4l, nggak banget deh gayanya, kuper. Jauh lah dari aku yang tiap hari ke salon!” papar wanita berbibir tipis itu lagi.
“Oh istrinya kayak gitu, Mbak,” sahut petugas salon dengan senyum tipis seperti mengejek, “pantesan aja berpaling ya! Kita sih orang perempuan harus bisa jaga penampilan!”
Lupi menengok lagi wanita di sebelahnya yang kini sedang membuka-buka majalah wanita.
“Tapi semisal Mas Raswan cer41 sama istrinya, an4knya itu tetap punya hak loh, Ga.”
Tawa menyeringai keluar dari bibir Refiga. “Alaah Lupi, kamu nggak usah sok baik, kamu juga istri kedua Fredlin kan!”

“Iya, kuakui aku nggak sok suci, hampir nggak ada bedanya sama kamu, tapi kalau soal an4k, aku nggak ngelarang Bang Fred ngurusin an4knya,” balas Lupi seraya membuka-buka aplikasi ZZ di handphone-nya.
“Eh, tapi istri pertama suamimu sebenarnya cantik loh, kenapa bisa kecantol juga sama kamu, Lupi?”

Lupi tertawa. “Namanya juga lagi digoda setan! Main sama sel1ngkuhan katanya lebih nikm4t loh daripada sama istri sah!”

Refiga dan capster salon terkekeh mendengar pernyataan Lupi.
“Kalau Mas Ras lebih menyukaiku jelas sih, istrinya itu kay4k karung beras kum4l!” pukas F**a dan mereka terbahak-bahak lagi.

Tanpa sengaja video Miss Na muncul di akun ZZ Lupi, wanita berambut lurus sebahu melihat ke layar handphone-nya.
“Oh ini seleb ZZ yang namanya lagi booming,” tutur Lupi sambil berdecak kagum dengan kecantikan wanita bernama Miss Na.
Refiga melirik. “Kamu lagi lihat apa?”

BERSAMBUNG

Sudah TAMAT di KBM App
Judul: RUN 2022
Penulis: Buku Bunga Btp
Buku Bunga Btp
Baca selengkapnya di KBM App

Pembelian koin emas bisa langsung menghubungi no Wa di bawah dengan cara kirim chat tanpa spam ( BELI KOIN EMAS KBMAPP PEMBACA RUN ) 👇
WA Penulis: 81327499949 (bunga_btp)

KETIKA ISTRI GEN DUT DICAM PAKKAN PART 1Tahun 2021 .…“Kita berpisah saja setelah aku p**ang satgas!” ucap Raswan seraya ...
20/12/2024

KETIKA ISTRI GEN DUT DICAM PAKKAN
PART 1

Tahun 2021 .…

“Kita berpisah saja setelah aku p**ang satgas!” ucap Raswan seraya memanggul tas ranselnya sebelum masuk ke dalam barisan di tepi dermaga.
Dua KRI—Kapal Perang Republik Indonesia—sudah bersiap memberangkatkan para pasukan yang akan bertugas di p**au terbesar kedua di dunia setelah Greenland.
“Iya, Mas,” jawab Nena—istrinya Raswan.
Wanita bertubuh ge muk itu pasrah saja. Ia menyadari sudah tidak ada kecocokan di antara keduanya. Rumah hijau sederhana mereka akhir-akhir ini hanya dipenuhi pertengkaran demi pertengkaran. Nena tahu pasti ada wanita lain di hati suaminya.
Raswan pergi begitu saja, bergabung dengan para prajurit lainnya. Ibu satu orang anak itu memandang punggung suaminya dengan sorot mata sedih.

Kalau ini menjadi akhir, Tuhan, izinkan aku siap menghadapi ....

Nena memandang ke kanan kirinya, para suami berpamitan ke istri tercintanya dengan suasana penuh haru. Kecup4n di kening ditinggalkan oleh para prajurit untuk istrinya sebagai isyarat rasa kasih dan sayang walau sebentar lagi mereka akan dipisahkan oleh jarak. Tak sedikit para istri yang melepas kepergian suaminya yang bertugas dengan tangis air mata. Hanya Nena yang menangis tidak dengan alasan itu. Ia menangisi diri sendiri karena dicamp4kkan.

Tibalah para pasukan berjajar rapi masuk ke atas KRI. Keluarga yang ditinggalkan serentak histeris dan berlari lebih dekat ke tepi dermaga untuk mengantar yang terkasih. Mereka lari memb4bi but4 demi demi bisa terlihat oleh suami mereka dari atas kapal. Nena pun ditabr4k sana-sini karena tetap berdiri mematung seraya menatap sedih ke arah KRI yang akan berangkat tersebut.

“Gen dut, minggir!” maki seorang rekan sesama istri tentara yang kerap menghina Nena di asmil (asrama militer). Makiannya menambah rasa sakit di hati Nena. Ia pun minggir, menjauh, tanpa ada satu pun yang memperhatikannya.

Dari kejauhan, ibu muda yang datang tanpa riasan itu menatap para prajurit yang melambai penuh haru pada istri yang ditinggalkannya, kecuali satu orang yang tak melakukannya, yaitu Raswan. Suaminya justru terlihat sedang menelepon seseorang.
Nena membalikkan tubuh, tangisannya semakin deras di tengah kerumunan.

Cukup, ini terakhir kali aku menangis untukmu, Mas ....
**

Seminggu kemudian ....
Sudah tidak bisa mengandalkan keu4ngan keluarga dari Raswan, Nena berusaha mencari kerja untuk kebutuhan hidupnya dan putra semata wayangnya. Satu per satu toko, bidang usaha, industri didatanginya. Jawabannya tetap sama, tidak ada lowongan kerja, bahkan banyak pengurangan karyawan efek pandemi.

Nena duduk sebentar di halte tanpa melepas maskernya. Kepalanya bersandar lemah di tiang penyangga sambil menunggu bus.

Gimana nasibku. Harus meyambung hidup pakai apa?
Lowongan kerja dari portal online juga sudah dicoba Nena dengan mengirimkan lamaran kerja dan CV melalui pesan surel, tetapi saat ada panggilan wawancara langsung, rata-rata pencari kerja yang lulus adalah yang bertubuh ideal.

Di seberang halte, beberapa anak yang diduga Nena adalah para pemulung atau pengamen cilik sedang berlari tertawa dan saling berkejaran terlihat begitu damai.
Meraka begitu bebas, seperti tak ada beban, tak terpengaruh dengan pandemi berkepanjangan ini, tak peduli bagaimana dunia memutarbalikkan kehidupan, lirih Nena dalam hati. Wanita berambut lurus sebahu itu memperhatikan langkah-langkah kecil yang terasa bebas. Tak punya belenggu apa pun yang mengikat. Nena pun berdiri, mengikuti jalan ke arah p**ang.
Awal-awal, Nena masih berjalan. Semakin lama, langkahnya semakin cepat dan berubah jadi langkah berlari.
Seperti ini rasanya berlari cepat ....
Air matanya berderai, tetapi bibirnya tersenyum. Dia merasa bebas, sejenak belenggu hidup lepas.

Nena terus berlari, dia mulai ketagihan dengan aktivitas barunya itu.

**

Tahun 2022 ....
Embusan napas pendek, cepat, mengiringi irama langkah berlari Nena. Kerikil-kerikil di sepanjang jalan ditebas dengan langkah kuatnya. Wajah ibu muda itu serius menatap ke depan. Sinar matanya kuat, tak menggoyahkan keyakinannya bahwa dengan terus berlari ia berharap semua dilemanya akan mengikis.
Kedua tangannya berselaras bergerak mengimbangi langkahnya. Dalam larinya ketika kenangan pahit bermunculan, ia semakin memicu langkahnya lebih cepat.
Kenangan pahit itu muncul setiap waktu, menggedor-gedor ruang hatinya tanpa kenal waktu. Lembaran kenangan itu meninggalkan luka.

Semua bermunculan, ketika pertama kali mengetahui chat WhatsApp mes ra suaminya dengan wanita lain, ketika menyadari suaminya sering berbohong sibuk dinas luar padahal bertemu dengan wanita itu, ketika menemukan surat pembelian cincin emas yang ia kira untuknya ternyata bukan, ketika menemukan foto suaminya dan wanita itu di ponsel yang diberi password dan akhirnya mereka bertengkar hebat. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi, Nena lelah. Memilih pasrah dan menyudahi segalanya.
Setiap teringat itu Nena memilih berolahraga, berlari yang paling sering dijalaninya, berharap dengan berlari semua kenangan pahit itu teralihkan, entah berapa kali dalam sehari ia berlari, kadang 3-4 kali dalam sehari, pagi siang sore dan kadang malam.
Telah enam bulan berlalu. Nena mengistirahatkan diri duduk di depan parkiran tank. Napasnya memburu melepas lelah. Ia luruskan kaki ketika duduk.
Angin sore lumayan kencang hingga rambutnya bergoyang dikibas angin. Parkiran begitu sepi karena penghuni asrama rata-rata berkumpul di lapangan voli.
Kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya yang menyelonjor.
Dua orang ibu muda yang berjalan dari lapangan voli melirik takjub ke Nena.
“Bu Raswan!” sapa mereka, masih memanggilnya dengan embel-embel nama suami.

Nena mend**gak. ”Eh, iya Bu Hari?”
Bu Hari dan Bu Erwin berhenti sekadar mengagumi perubahan tubuh Nena. “Kok bisa lang sing begini, Bu? Diet ke tat ya?” tanya Bu Hari.

Nena yang sama sekali tidak merasa lang sing justru bingung.
“Bu Har, jangan bikin saya tambah down,” ucap Nena yang mengira pujian dua rekan sesama istri tentara itu bak majas ironi, bertentangan.

Kedua ibu muda itu justru bengong.

Dipuji kok malah bikin down?
Ibu muda itu berlari lagi, meninggalkan kedua rekannya. Setiap ada yang mengomentari tubuhnya, Nena jadi tidak percaya diri. Dianggapnya itu adalah sindiran. Nena memang belum sadar jika berat tubuhnya turun drastis.
Selama enam bulan ini, dia selalu menghindari kaca maupun cermin karena yang terbayang adalah wajah menyedihkannya. Cermin di rumahnya dilapisi koran lantaran niatnya untuk cepat move on dari segala beban.
Wanita bertubuh tinggi itu belum menyadari penuh bentuk tu buhnya yang sekarang telah berubah.
Baju-baju lama tetap dipakai Nena, walau longgar, dia tidak ingin meyakini kalau longgar. Menganggap bajunya yang cepat melar sehingga dia menjahit atau mengikat sekadarnya saja. Ia pun menghindari bertemu orang-orang, saat olahraga selalu mencari tempat yang sepi. Berkeliling di saat-saat orang jarang berlalu lalang. Nena menjadi tertutup karena ingin menguatkan ment4l saat menghadapi percer4ian nanti. Terkadang omongan tetangga justru tidak membuatnya berpikir jernih.
Nena terus berlari, menyemangati diri.
Satu bulan lagi Mas Raswan p**ang satgas, aku harus sudah siap berpisah!
BERSAMBUNG

Sudah TAMAT di KBM App
Judul: RUN 2022
Penulis: bunga_btp Buku Bunga Btp

Pembelian koin emas bisa langsung menghubungi no Wa di bawah dengan cara kirim chat tanpa spam ( BELI KOIN EMAS KBMAPP PEMBACA RUN ) 👇81327499949 (bunga_btp)

24/05/2024

Dendam yang Terungkap Diusia Pernikahan 10 Tahun

Penulis: Dwi Nella Mustika

Paham agama, rupanya tak bisa meredam hati mas Ibra untuk tidak mengkhianati ku dalam bahtera rumah tangga yang sudah diarungi 10 tahun.

"Mas, ini siapa? Kenapa dia mengirim capture pesan antara kamu dengan dia?"

Aku bertanya pada mas Ibra yang baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri setelah memadu kasih kerinduan sebulan tak mengarungi samudra pahala sang Pencipta.

Dia tampak menghela napas dan dia lepas perlahan, tak ada ketakutan atau kepanikan sama sekali digurat wajahnya.

"Akhirnya kamu tahu, Dik. Sini dulu! Duduk sini! Mas jelaskan semuanya."

Dia memegang pergelangan tanganku, lalu kami duduk di bibir ranjang.

"Dia Annisa, Dik. Dia istriku juga."

Luruh sudah air mataku, mendengar kata yang terucap dari bibir lelaki yang sangat pandai memperlakukan aku layaknya seorang istri. Tidak pernah membentak jika kami berselisih paham, tidak pernah memaksa apa yang tidak bisa aku lakukan.

"Bagaimana bisa, Mas?" Aku menarik tangan dalam genggamannya. Menjauh beberapa senti dari duduk semula.

"Aku menikahinya secara siri, lima tahun lalu. Dia rekan kerjaku, seorang janda tanpa anak. Sering terlibat dalam proyek kerja membuat aku dan dia terlibat hati yang terlarang. Aku takut berdosa terlalu jauh makanya aku putuskan untuk menikahinya secara siri."

"Tega kamu, Mas. Kamu lebih mementingkan ego mu ketimbang memikirkan perasaan aku dan anak semata wayang kita di sini."

Aku dan mas Ibra menjalin hubungan rumah tangga jarak jauh. Dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Keputusan menjalani seperti ini, memang sudah kesepakatan kami berdua.

Sekali dalam sebulan dia akan p**ang menemui ku, begitu kesepatakan kami.

"Maafkan aku, Dik. Semua terjadi begitu saja."

"Bagaimana bisa kamu mengkhianati aku dengan cara seperti ini, Mas? Apa kekurangan ku? Apa karena hubungan jarak jauh jadi kamu mengambil kesempatan?"

"Bukan, bukan itu, Dik. Kamu sempurna, kamu selalu melakukan hal terbaik supaya aku bahagia. Namun, kedatangan Annisa tidak bisa aku tolak, aku jatuh cinta lagi, Dik."

"Jatuh cinta, Mas? Tinggalkan dia, Mas!"

"Bisa tidak aku bisa kelapangan hatimu, Dik! Dia tidak akan menuntut apapun, kok. Dia tidak akan menganggu apapun yang ada pada dirimu. Dia akan bersikap sewajarnya, layaknya istri kedua. Dia juga tidak menuntut secara negara padaku, Dik. Apa bisa aku minta untuk tetap menjadikan dia istri?"

"Astagfirullah, Mas. Kamu sadar tidak berkata apa barusan padaku? Dan, dia sadar tidak mengatakan hal demikian. Dengan kalian menikah secara siri, sama hal sudah mengambil apa yang ada pada diriku secara sembunyi, Mas!"

"Jika tidak secara sembunyi, apa kamu memperbolehkan aku menikah siri dengan Annisa, Dik?"

Dia berusaha meraih tanganku, tapi aku sentak. Rasa jijik membalur dalam tubuhku. Rasanya sulit dipercaya, tubuh lelaki yang aku temani dari nol sudah dijamah perempuan lain selama lima tahun.

"Suruh dia datang ke sini besok! Dan, talak dia di depan aku, Mas!"

"Dalam agama kita, aku tidak salah, Dik. Aku akan bersikap adil sama kamu dan juga Annisa. Selama ini aku tetap memberikan yang terbaik pada kamu dan juga Kinara, bukan?"

Deg!

"Jangan berselimut dengan sikap baikmu selama ini, Mas!"

"Aku tahu, aku salah, Dik. Namun, aku minta kelapangan hati kamu menerima yang sudah terjadi sekarang."

"Sudahlah, Mas. Kamu bisa berkata demikian karena kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Karena kamu tidak pernah menghargai apa yang sudah kamu punya."

"Mengertilah, Dik. Hanya ini yang aku minta pengertian dari kamu. Selama ini aku tidak pernah minta apapun yang tidak kamu sanggup, buk!an?"

Ya Allah, apa yang sedang merasuki suamiku, kenapa dia begitu ingin mempertahankan perempuan itu.

"Baik, Mas. Nampaknya kamu lebih menghargai permintaan perempuan itu ketimbang aku. Tidak apa dan aku tidak akan memaksanya. Jika kamu tidak bisa meningglkan dia. Aku yang akan pergi, aku ingin kita berpisah." Aku bangkit dari duduk menyeka air mata yang tak henti luruh.

"Jangan Dik. Mas tidak ingin kehilangan kamu, Dik. Mohon mengertilah untuk hal ini."

"Maaf, Mas. Imanku belum sampai tahap itu. Jika kamu bilang merelakan diri ini di madu itu adalah pahala besar, aku masih bisa meraih pahala dengan cara lain, bukan cara seperti ini. Kamu sudah mendustai aku selama lima tahun. Dan, kamu masih minta kelapangan hati aku, Mas?"

"Jangan salahkan takdirmu, Dik. Ini takdir kita bersama."

Ku sapu bersih air mata yang masih membasahi wajah ini sebelum masuk ke kamar Kinara. Malam ini, tak sudi rasanya menghabiskan pergantian malam dengan lelaki yang aku kenal ketika kami sama-sama jadi mahasiswa PL di salah satu sekolah. Aku dan mas Ibra berasal dari kampus yang berbeda.

Satu bulan mengabdi jadi mahasiswa PL, dia meminta nomor kontak. Semakin lama semakin intens hingga kami wisuda. Pada akhirnya aku dan mas Ibra menikah ketika baru dua bulan lulus menyandang status sarjana. Meski masih mengandalkan gaji les privat tapi kami bahagia hidup sederhana.

Hingga suatu ketika, saat pernikahan menginjak enam bulan dan aku mengandung buah cinta kami yang sudah disematkan Allah di rahimku selama empat bulan terakhir, mas Ibra dapat pekerjaan di Jakarta berkat rekomendasi temannya semasa sekolah putih d**gker dulu.

"Berangkat lah, Mas. Mungkin ini jalan Allah memberi rezeki pada keluarga kita."

"Iya, Dik. Tapi apa tidak apa-apa kalau kita jarak jauh dulu?"

"Tidak apa, Mas. Sementara paling, aku juga tidak bisa ninggalin ibu."

Ibuku sudah sepuh, sakit-sakitan juga. Tidak tega rasanya meninggalkan dia yang sudah sebatang kara. Apalagi aku, buah cinta satu-satunya dengan almarhum bapak. Bapak sudah menghadap sang Ilahi saat aku berusia lima belas tahun.

***

"Aku pamit, Dik. Aku harap kamu mengurungkan keinginan semalam. Baik-baik di sini!" pintanya ketika sudah berpakaian rapih lengkap dengan koper yang dia bawa kemarin malam.

Aku bergeming, bibir ini berat untuk merespon apa yang diutarakan mas Ibra. Menatapnya saja tidak, kalau bukan menjaga sikap di depan Kinara, enggan rasanya aku bertemu lelaki ini.

"Papa, cepat p**ang ya! Nara mau main sama papa lebih lama."

"Iya, Sayang. Doakan agar kita segera satu rumah ya, Nak."

"Iya, Papa."

Mas Ibra pun memeluk Kinara, putri semata wayang kami yang sudah berusia delapan tahun.

Seperti biasa Kinara melambaikan tangan melepas kepergian papanya ketika hendak masuk mobil yang akan mengantarnya ke bandara.

"Ma, kita kenapa kita tidak ikut saja sama papa ke Jakarta?" tanya Kinara saat mobil yang ditumpangi mas Ibra hilang dalam pandangan.

Pertanyaan yang entah ke berapa kali ditanyakan Kinara padaku. Andai aku bisa memutar waktu.

Sudah tamat di KBM App ya.
https://read.kbm.id/book/detail/571e802a-36bb-4d9d-aed5-d8c4d2137428?af=775e5575-e913-f374-bca6-7f168bdbc53d

Sorotan sorotan

MEMERGOKI SUAMI DI HOTEL Part 2PoV AuthorDi dalam mobil Laniara menangis sejadi-jadinya, berulang kali dia menjambak ram...
05/01/2024

MEMERGOKI SUAMI DI HOTEL

Part 2

PoV Author

Di dalam mobil Laniara menangis sejadi-jadinya, berulang kali dia menjambak rambut lurusnya yang berwarna hitam pekat itu, lalu tertawa sembari menangis, "Hahaha, Mas ... Mas ... Salahku apa, Mas? Apa? Hah!" pekiknya sembari memukul stir mobil. Ini sungguh menyakitkan bagi Laniara, wajahnya sekarang kusut, mata sembab, dan ... rambutnya rontok berserakan di bagian pahanya. Kecantikannya semakin pudar bahkan tak sama sekali terlihat.

"Rasanya aku sudah cukup sabar menghadapi mama dan adikmu, bahkan banyak yang kukorbankan demi kamu dan keluargamu. Tapi nyatanya ini balasan kamu, Mas! Hah!" pekiknya histeris sembari memukul-mukul jok yang dia duduki.

Lelaki yang sudah membersamainya selama ini tak setia seperti yang dia bayangkan. Walaupun beberapa bulan lalu Laniara sudah merasakan kejanggalan, akan tetapi dia berusaha untuk menepisnya karena tidak mau bersuudzon dengan suaminya sendiri.

Apa yang sudah dikorbankan Laniara selama ini? Bagaimana perlakuan mama dan adik iparnya itu selepas Arfan pergi bekerja?

"Kamu memang suami bren*s*k, Mas! Aaaarrrrggghhhhhh ..." pekiknya lagi sambil memukul stir mobil berulang kali. Laniara frustasi. Dia kembali menjambak rambutnya sendiri. Berteriak sekuat tenaga di dalam mobil yang kedap suara. Laniara meronta dan memukul kepala dengan kedua tangannya. Wanita yang mempunyai rambut lurus sepinggang mulai labil.

Sepersekian detik Laniara menyeka setiap air matanya yang tumpah ruah dan membersihkan ingusnya yang mulai meler dengan menyentak tissu yang ada di dashboard. Lalu dia mengacak-acak tas berwarna hitam berbahan kulit seperti mencari sesuatu. Kini sebuah ponsel pintar merk apel sudah berada dalam genggamannya, sepertinya ingin menelepon seseorang.

"Kim, kamu praktik nggak hari ini?" tanya Laniara lewat sambungan telepon.

"Oke, aku ke sana sekarang." Dia melempar ponsel pintarnya itu ke jok samping.

Laniara melaju mobilnya dengan kecepatan tidak stabil, air matanya masih tumpah, berulang kali dia menyekanya, hanya terdengar isakan tangis yang masih tersisa. Dia menghidupkan musik dan memutar volume sampai abis. Laniara tampak menikmati musik rock yang diputarnya. Sesekali dia tersenyum melihat ke arah spion bagian atas.

"Sekalipun kamu menyesal, aku tidak akan tersentuh, Mas! Aaarrrrggghhh ..." teriaknya lagi.

Hampir saja Laniara menabrak pengendara motor karena menerobos perempatan lampu merah. Untung saja tidak ada para aparat yang berjaga di posko perempatan itu. Kali ini dia lolos, entah bagaimana nasib pengendara tadi. Laniara semakin menekan pedal gas mobilnya, jalanan terbilang memang sepi.

💔💔💔

Laniara memarkir mobilnya di halaman praktik dr. Kimmi Yosepha, Sp. K.J begitu namanya yang tertulis di plang dekat pagar sebelum memasuki area praktik yang luasnya tidak seberapa. Tempat praktik berbentuk ruko bertingkat satu.

Sebelum turun wanita berusia dua tujuh tahun ini merapikan rambutnya yang kusut dengan sisir kesayangan yang selalu standby di dalam tasnya. Mengelap wajahnya dengan tissu basah dan memoles sedikit dengan bedak. Sekarang dia terlihat seperti seseorang yang tidak dalam masalah.

"Selamat siang, Mbak Laniara? Apa kabar?" sapa perempuan berkacama dan berkulit bening yang bertugas di meja resepsionis.

"Baik, Mbak. Mbak, dr. Kimminya ada di dalam?" tanya Laniara pada Lili. Laniara berusaha mengukir senyum di bibir tipisnya yang dipoles lipstik merah bata.

"Ada, Mbak. Tapi masih ada pasien, ditunggu sebentar ya, Mbak. Palingan bentar lagi selesai." Laniara mengangguk dan mendudukkan bobot tubuhnya di kursi tunggu yang disediakan. Sembari menunggu Laniara memainkan gadgetnya.

Sapaan Lili sang petugas memberi isyarat bahwa Laniara tidak kali pertama datang ke sini. Ada dengan Laniara sebenarnya?

Dari kejauhan Lili menatap penuh iba pada Laniara yang sedang duduk di kursi tunggu. Mungkin Lili melihat mata Laniara yang terlihat bengkak, atau Lili mengetahui juga apa yang sebenarnya pada diri Laniara?

"Lani ..." panggil seorang perempuan yang tengah berdiri di ambang pintu ruangan praktiknya, memakai gamis berwarna peach berkerudung lebar hingga bawah dada. Dia seorang psikiater bernama dr. Kimmi Yosepha, Sp.K.J.

Laniara berdiri dan memeluk dr. Kimmi terlihat akrab mereka berdua. Siapa dr. Kimmi sebenarnya? Mengapa mereka terlihat begitu akrab?

Laniara dan dr. Kimmi masuk ke dalam ruangan tak lupa pintu ditutup rapat.

"Ada apa, Lan? Kamu ada masalah lagi?" sapa dr. Kimmi setelah mereka duduk.

"Pupus sudah, Kim. Semua pupus sudah," ucap Laniara sembari menyeka air matanya yang sudah jatuh seiring dia berucap.

"Apa yang pupus, Lan? Mertua dan ipar kamu mendesak kamu untuk hamil?" tanya dr. Kimmi penuh selidik. Dia menggenggam tangan kanan Laniara di atas meja kerjanya. Seperti memberi kekuatan pada wanita yang bertubuh langsing dan tinggi semampai itu.

"Mas Arfan berselingkuh dengan Angel, Kim," jawab Laniara lirih. Dia menunduk dalam hanya bulir air mata yang berlomba jatuh membasahi celana berbahan katun yang dipakainya.

"Aku turut prihatin ya, Lani. Sekarang kamu sudah tahu, siapa Arfan sebenarnya. Aku yakin kamu akan mengambil keputusan yang tepat. Namun, yang jelas Arfan bukan lelaki yang patut kamu perjuangkan lagi. Terlebih perlakuan yang sudah diberikan mertua dan ipar kamu selama ini," ujar dr. Kimmi, wanita yang bertubuh sedikit berisi ini beranjak dari duduknya dan memeluk Laniara, tangis Laniara pecah dan menjadi-jadi.

"Aku yakin kamu kuat, Lan. Kamu terlahir sebagai wanita yang kuat, Lan. Aku percaya itu, bukankah selama ini kamu sudah berjuang?" bisik dr. Kimmi disela mereka berpelukan.

"Entahlah, Kim. Aku hanya butuh obat saat ini, kebetulan obat di rumah sudah habis. Bisa kamu resepkan lagi?" tanya Laniara sendu sambil melepaskan pelukan dari dr. Kimmi perlahan diiringi isakan tangis yang masih tersisa.

"Iya, akan kuresepkan. Tapi, ingat ... jangan diminum melebihi dosis ya!" ucap dr. Kimmi sembari kembali duduk di kursi semula, mengambil buku resep yang terletak di samping tangan kanannya, lalu menulis beberapa nama obat yang dibutuhkan oleh Laniara.

"Iya, aku tahu kok, Kim," jawabnya lirih.

"Aku saranin kamu harus keluar dari lingkungan toxic itu, Lan. Lingkungan buruk semakin membuat mental kamu rapuh. Sampai kapan kamu akan ketergantungan obat seperti ini?"

"Sebentar lagi, Kim. Mereka tidak akan bisa menyakitiku lagi," jawab Laniara lirih dan mengelap wajahnya yang masih basah karena air mata yang tersisa. Dr. Kimmi memberikan tissu pada Laniara.

"Aku pamit, Kim," ucap Laniara sembari mengambil kertas resep yang diserahkan dr. Kimmi.

"Kamu hati-hati nyetirnya, Lan. Atau perlu sopirku mengantarmu p**ang?" tawar dr. Kimmi. Laniara menggeleng dan memasukkan kertas resep tadi ke dalam tasnya.

"In syaa Allah, aku akan baik-baik saja, Kim," sahut Laniara berusaha meyakinkan dr. Kimmi. Dr. Kimmi pun mengangguk yakin.

Setelah berpelukan Laniara pamit pada dr. Kimmi, mereka kembali berpelukan.

"Aku kasihan sama kamu, Lan. Sungguh berat ujian yang sedang kamu jalani, semoga Allah selalu menguatkan kamu, Lan. Aku juga rindu dengan sosok kamu sebelum menikah. Kamu wanita pekerja keras, baik hati, dan selalu berprasangka baik pada siapapun," gumam dr. Kimmi setelah Laniara meninggalkan ruang praktiknya.

RILIS DI KbM App dengan judul Memergoki Suami di Hotel dan kalau di Goodnovel judulnya Perceraian yang Terindah

Link KBM App

Ayo bergabung dan subscribe buku MEMERGOKI SUAMI DI HOTEL (TAMAT) agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Dwi Nella Mustika di aplikasi KBM.

MEMERGOKI SUAMI DI HOTEL By Dwi Nella Mustika "Lan ... Mas bisa jelasin apa yang terjadi di kamar hotel tadi." Mas Arfan...
28/12/2023

MEMERGOKI SUAMI DI HOTEL

By Dwi Nella Mustika

"Lan ... Mas bisa jelasin apa yang terjadi di kamar hotel tadi." Mas Arfan memegang tanganku. Namun, kulepaskan dengan pelan. Kancing baju kemeja merah maroon tampak terpasang tidak sesuai pada mestinya.

"Tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi, Mas." Kutatap netranya yang memerah mungkin menyesal setelah aku memergokinya sedang 'bermain' di kamar hotel. Tak lupa kuukir senyum manis pada Mas Arfan - lelaki yang sudah lima tahun menikahiku, akan tetapi belum dikaruniai buah hati.

"Kamu serius, Lan? Kamu tidak marah sama Mas?" tanyanya penuh selidik, seolah tak yakin dengan jawabanku tadi. Dia memutar tubuhku hingga kini aku berhadapan dengan lelaki berambut hitam pekat nan ikal itu.

"Tidak, Mas," jawabku sigap tetap dengan mengukir senyum. Dan, kembali membersihkan meja makan lepas pakai tadi.

"Mas, janji sama kamu, Lan. Mas akan berubah dan tidak akan berhubungan lagi dengan Angel. Maaf ya, Mas sudah khilaf. Mas sadar istri sebaik kamu tidak pantas Mas zolimi."

"Apa yang perlu kamu sesali, Mas? Bukankah menyenangkan kegiatan di atas ranjang tadi? Kau begitu menikmatinya, bukan?" Aku bertolak ke dapur hendak mencuci piring bekas pakai makan malam bersama ibu mertua dan iparku yang sudah duluan masuk ke kamar masing-masing sehabis makan tadi.

"Ini ada apa sih ribut-ribut. Kamu juga Arfan, tidak perlu minta maaf pada istrimu yang tidak bisa memberikan keturunan itu. Baguslah kalau dia sudah tahu, jadi tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Segeralah kamu menikahi, Angel!" ucap Mama. Aku mendengar dengar jelas apa yang dilontarkan dari mulut wanita yang melahirkan Mas Arfan tiga puluh lima tahun yang lalu.

"Ma!" sergah Mas Arfan.

"Apa? Memang begitu 'kan kenyataannya." Mama menyerang Mas Arfan balik.

"Mas Arfan, apaan sih teriak-teriak! Nggak malu apa kedengaran sama tetangga. Gara-gara perempuan yang nggak bisa memberikan Mas anak itu, Mas tega membentak mama," timbrung Ayudia -- adik Mas Arfan.

"Mama mu benar, Mas. Nikahi lah kekasihmu itu, agar hidupmu tidak dibalut dengan zina berkepanjangan. Sudah lah, tidak perlu berdebat lagi, lalukan apa yang diminta mama dan adikmu," ujarku sembari berlalu melewati Mas Arfan yang masih mematung di dekat meja makan. Dan menatap mama dan Ayudia bergantian yang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.

Sorot mata kedua perempuan yang sangat berarti bagi Mas Arfan memang sama sekali tak bersahabat menatapku, tentu ini bukan kali pertama.

"Nah gitu, d**g. Jadi perempuan kudu tahu diri. Masa selama lima tahun keguguran mulu!" tambah Mama. Namun, aku enggan menanggapinya dan tetap melanjutkan langkah.

"Tidak, Lan. Aku tidak akan menikahi Angel. Aku hanya ingin memiliki satu istri, yaitu kamu." Dia mengikutiku dari belakang sewaktu masuk ke dalam kamar. Memegang pundakku, akan tetapi kutepis pelan.

"Jangan berbohong padaku, Mas. Aku tahu, dari lubuk hatimu terdalam pasti kamu juga ingin mempunyai keturunan. Dan ... benar apa yang dikatakan mama, tak perlu berharap banyak dariku, istri yang selalu keguguran."

"Tapi ... Lan?"

Aku menatapnya, "mandilah! Aku tidak ingin tidur dengan tubuhmu yang belum suci."

💔💔💔

"Halo, Vi. Apa kabar? Tumben nelfon?" sapaku ketika telfon tersambung dengan Vita temanku di kantor lama sebelum memutuskan resign tiga tahun belakang. Aku yang tengah menyetrika pakaian terhenti seketika mendengar dering ponsel.

"Enggak, kamu dimana? Aku lagi di hotel Brisma, barusan lihat Mas Arfan, suami kamu berduaan dengan perempuan. Kamu segera ke sini ya! Aku takutnya salah ngasih info dan takut juga menyebar fitnah."

"Apa? Kamu serius? Atau jangan-jangan salah orang, Vi? Atau mungkin rekan kerjanya Mas Arfan kali, Vi. Biasanya Mas Arfan memang biasa meeting di hotel, Vi," sahutku tak percaya.

"Duh, Lan. Mana ada rekan kerja kalau jalan rangkulan, pelukan gitu. Makanya kamu ke sini saja, udah dulu ya, aku cuma nyampein itu aja."

Sambungan telepon dengan Vita terputus, aku masih mematung. Rasanya tidak percaya akan apa yang dikatakan Vita, tetapi ...

"Ma, aku pergi dulu ya mau ke supermarket," pamitku pada mama mertua yang sedang menonton televisi di ruang tengah sendirian. Aku terpaksa berbohong, takutnya nanti malah mama menghubungi anaknya, dan bisa-bisa aku gagal membuktikan ucapan Vita.

"Halah ... bilang aja mau shopping. Kamu keenakan jadi istri, Lan. Udah nggak kerja, nggak bisa punya anak, bisanya cuma ngabisin uang Arfan saja. Jadi istri itu kudu tahu diri dikit."

"Iya, Ma," jawabku pelan dan berlalu. Ini bukan kali pertama mama mertua berceloteh seperti itu, mungkin sudah ratusan bahkan ribuan kali. Terlebih sejak aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku sebagai sekretaris tiga tahun lalu karena ingin program punya anak.

Kulaju mobil sedan hitam metalik dengan kecepatan sedang menuju hotel yang alamatnya sudah dikirim Vita via WhatsApp padaku. Tadinya aku sempat tak ingin membuktikan omongan Vita tadi, namun demi menjawab semua kecurigaanku beberapa bulan ini. Tidak ada salahnya aku bergerak dan melihat sendiri apakah benar yang dikatakan Vita.

Setelah memarkir mobil, sasaranku menemui receptionist terlebih dahulu.

"Mbak, apakah di sini ada tamu yang bernama Bapak Arfan Broto?" tanyaku pada perempuan berbalut busana d**gker itu.

"Sebentar, Bu. Saya cari dulu." Dia langsung memainkan keyboardnya.

"Ada, Bu. Memangnya ada perlu apa, Bu?"

"Saya boleh minta kunci serepnya? Dia suami saya, yang tengah bersama dengan perempuan lain di dalam kamar."

"Tapi ... Bu. Saya tidak bisa menyerahkannya, ini privasi tamu, dan -,"

"Mbak mau hotel ini saya viralkan di sosial media karena menampung pasangan mesum?" potongku dengan nada mengancam.

Dengan gemetar dia langsung menyerahkan kunci berbentuk ATM itu padaku. Mungkin takut.

Memasuki lift menuju lantai lima dan berjalan di lorong-lorong kamar, suasana sepi mungkin karena aku datang di jam kerja. Aku mengatur napas dan beristighfar, meminta pada sang Pemilik agar dikuatkan jika memang hal terburuk yang aku lihat. Napasku mulai tak beraturan, tubuh semakin gemetar, jantung memompa darah sudah tak normal lagi.

Menempelkan kartu dan menekan handle pelan, aku berusaha agar tidak menimbulkan bunyi.

Kret!

Rupanya pintu mengeluarkan bunyi ketika aku membukanya. Dan ... seketika netraku memanas menyaksikan mereka yang sedang 'bergelut' di atas ranjang. Aku berusaha agar air mata tak tumpah. Dua pasang mata itu terperangah, aktivitas yang mengasyikkan itu seketika terhenti, dan menatapku yang berdiri di ambang pintu.

"Laniara ..." Mas Arfan dan Angel serentak menyebut namaku.

Dia, Angel. Aku tahu betul siapa wanita yang tengah membersamai suamiku itu.

Mereka kelimpungan saat tertangkap basah, kocar-kacir mengambil pakaian yang berserakan di lantai kamar.

"Tidak perlu kocar-kacir seperti itu, Mas. Lanjutkan saja aktivitas yang mengasyikkan bagimu itu!" Kutinggalkan mereka dengan pintu menganga.

"Lan ... tunggu! Mas bisa jelasin semuanya ..." sorak Mas Arfan yang masih terdengar olehku walaupun samar. Aku mempercepat jalanku, agar lelaki yang masih berstatus suami itu tidak bisa mengejarku.

Tidak perlu dia melihat aku menangis bahkan rapuh akan sakit yang sudah dia goreskan barusan.

Judul di KbM Memergoki Suami di Hotel dan judul di Goodnovel Perceraian yang Terindah. NOVEL INI SUDAH TAMAT BISA BACA MARATON DI APLIKASI YA

Address

Lubuk Begalung
Padang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dwi Nella Mustika posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share