24/08/2026
Mentawai Lama, Kemajuan Pembangunan
Dua puluh tahun lebih Mentawai menjadi kabupaten,
namun rakyat masih bertanya dalam kesunyian:
ke mana arah kemajuan yang dijanjikan?
Di tengah laut yang luas dan tanah yang kaya,
mengapa kesejahteraan terasa begitu jauh dari mata?
Wahai Bupati dan Wakil Bupati,
wahai DPRD yang duduk mewakili suara rakyat,
apakah suara dari dusun-dusun
masih terdengar sampai ke ruang rapat?
Kami tidak meminta istana,
kami tidak meminta kemewahan,
kami hanya ingin pembangunan yang adil,
jalan yang layak, jaringan yang kuat,
pendidikan yang mudah dijangkau,
dan kebutuhan hidup yang tidak menjadi barang mewah.
Dua puluh tahun lebih…
hutan kami terus menjadi cerita,
kayu-kayu pergi meninggalkan p**au,
namun rakyat bertanya:
siapa yang benar-benar menikmati kekayaan itu?
Pariwisata pun dijanjikan sebagai masa depan,
ombak dan pantai dipuji sampai ke negeri seberang,
tetapi masyarakat di kampung masih bertanya,
apakah mereka menjadi bagian dari kemajuan,
atau hanya menjadi penonton di tanah sendiri?
Dan tentang minyak serta kebutuhan sehari-hari,
rakyat kecil kembali menunggu kepastian.
Kapan gas elpiji 3 kilogram
benar-benar mudah hadir di Mentawai?
Sampai kapan memasak menjadi perjuangan,
sementara janji pembangunan terus diucapkan?
Kami mendengar banyak istilah di tengah masyarakat:
“mafia kayu”, “mafia pariwisata”, dan “mafia minyak”.
Entah benar atau hanya keresahan yang tumbuh,
namun satu pertanyaan harus dijawab dengan jujur:
mengapa rakyat begitu mudah kehilangan kepercayaan?
Jika memang tidak ada permainan,
buktikan dengan keterbukaan.
Jika ada yang mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat,
hukum harus berdiri tanpa memilih kawan.
Mentawai tidak miskin oleh alam,
jangan sampai miskin karena tata kelola.
Mentawai tidak kekurangan keindahan,
jangan sampai kekurangan keberanian
untuk membela rakyatnya sendiri.
Wahai para pemegang kekuasaan,
jabatan bukanlah panggung untuk dipuji,
tetapi amanah untuk membuktikan:
bahwa pembangunan bukan sekadar angka dan proyek,
melainkan perubahan yang benar-benar dirasakan rakyat.
Dua puluh tahun lebih telah berlalu,
jangan biarkan generasi berikutnya
mengulang pertanyaan yang sama:
“Mentawai sudah lama menjadi kabupaten…
tetapi kapan kemajuan pembangunan
benar-benar sampai kepada rakyat?”
Mafia Jaringan
Dan kini rakyat kembali bertanya
tentang jaringan yang datang membawa harapan.
Katanya Mentawai sudah mengenal 4G,
namun mengapa sinyal masih seperti dibatasi ruang dan waktu?
Di empat dusun, satu kekuatan dibebankan,
jaringan datang, tetapi tak cukup untuk kebutuhan.
Seorang ibu ingin melihat wajah anaknya di perantauan,
video call terputus, suara hilang di tengah kerinduan.
Maka muncullah pertanyaan dari hati masyarakat:
adakah permainan di balik lemahnya jaringan ini?
Adakah kepentingan yang lebih besar
daripada hak rakyat untuk berkomunikasi?
Kami tidak meminta internet
hanya untuk TikTok dan hiburan.
Kami ingin menghubungi anak-anak kami
yang sedang mengejar pendidikan di tanah seberang.
Jika Mentawai benar-benar sedang menuju kemajuan,
mengapa jaringan dasar masih menjadi perjuangan?
Jangan sampai rakyat terus bertanya tentang
“mafia jaringan” dan kepentingan di balik keterbatasan,
sementara pemerintah hanya berkata:
“4G sudah ada.”
Sebab bagi rakyat,
4G bukan sekadar tulisan di layar ponsel,
melainkan jembatan kerinduan,
jembatan pendidikan,
dan jembatan antara orang tua
dengan anak-anaknya yang jauh di perantauan.
dan