20/05/2026
π° Rupiah terus melemah di kisaran Rp17.500βRp17.700 per USD per Mei 2026. Meski faktor global seperti penguatan Dolar AS dan geopolitik besar, faktor domestik dinilai semakin dominan memperburuk dan memperpanjang tekanan ini.
Faktor Utama di Dalam Negeri
Tekanan Fiskal dan Defisit APBN β Subsidi energi membengkak karena harga BBM ditahan, ditambah beban program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan lainnya. Investor khawatir defisit melebar dan pembiayaan utang.
Capital Outflow β Arus modal asing keluar cukup besar. Review MSCI Mei 2026 menyebabkan outflow pasif hingga US$1,6β1,8 miliar karena isu transparansi.
Faktor Musiman β Permintaan dolar meningkat untuk bayar dividen, cicilan utang luar negeri, biaya haji, dan sekolah luar negeri pada periode AprilβJuni.
Persepsi Pasar β Kekhawatiran soal tata kelola atau governance, termasuk struktur investasi pemerintah yang terpusat, ditambah BI dinilai kurang agresif naikkan suku bunga.
Respons Pemerintah dan BI
Bank Indonesia aktif intervensi di pasar dan siap naikkan BI-Rate jika perlu. Gubernur Perry Warjiyo optimistis rupiah saat ini undervalued dan akan menguat kembali pada JuliβAgustus setelah musim permintaan dolar mereda.
Kesimpulan
Kombinasi faktor domestik struktural ditambah program ambisius dengan tekanan global menciptakan tekanan berat. Tanpa disiplin fiskal lebih ketat, pelemahan ini berisiko memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.