16/03/2026
*Syair Perpisahan dengan Ramadan*
Wahai hamba Allah, dengarlah seruan,
Ramadan hendak pergi tinggalkan kenangan.
Tak tersisa kecuali sedikit waktu,
Hari dan malamnya hampir berlalu.
Siapa yang t'lah berbuat baik di dalamnya dahulu,
Sempurnakanlah sebelum ia berlalu.
Siapa yang lalai dalam langkah dan jalan,
Tutuplah kini dengan kebaikan.
Karena amal dinilai pada penutupnya,
Di akhir langkah tampak hakikatnya.
Maka manfaatkan sisa malam yang ada,
Dan hari-hari yang hampir sirna.
Titipkan padanya amal kebaikan,
Yang kelak menjadi saksi di hadapan Tuhan.
Di hadapan Raja Yang Maha Mengetahui,
Tiada amal yang tersembunyi.
Ucapkanlah salam saat ia pergi,
Dengan penghormatan yang paling suci.
Karena hari-harinya t'lah berlalu cepat,
Sedang ketaatan belum kita perbuat.
Dosa-dosa telah tercatat di dalamnya,
Sementara kita lalai menjaganya.
Waktu berlalu tanpa kesadaran,
Hingga lenyap kesempatan.
Seakan engkau melihat para pemenang,
Telah sampai pada tujuan gemilang.
Sedang engkau tertinggal di belakang,
Terputus dari rombongan orang-orang berjuang.
Tidakkah celaan ini menggugah hati?
Ataukah telinga enggan memahami?
Bagaimana seorang mukmin tidak bersedih,
Saat Ramadan pergi tanpa kembali?
Air mata pantas jatuh bercucuran,
Saat bulan mulia meninggalkan insan.
Karena tiada yang tahu umur manusia kapan,
Apakah ia akan bertemu lagi dengannya tahun depan.
Jika ini kesedihan orang yang beruntung,
Yang telah bersungguh-sungguh dan berjuang.
Lalu bagaimana keadaan yang merugi,
Yang menyia-nyiakan malam dan hari?
Apa arti tangisan setelah kelalaian,
Saat musibah telah datang beriringan.
Kerugian besar telah terjadi,
Sedang hiburan jauh menghampiri.
Betapa sering orang malang dinasihati,
Namun hatinya enggan memahami.
Betapa sering ia diajak berdamai,
Namun seruan itu tak ia balas kembali.
Berapa banyak ia melihat para pemenang,
Telah sampai ke tujuan yang terang.
Sedang ia tetap jauh tertinggal,
Di jalan yang tak pernah ia tempuh dengan amal.
Berapa banyak rombongan para pejalan,
Telah berlalu menuju tujuan.
Sedang ia duduk tak beranjak langkah,
Dalam kelalaian yang tak berkesudah.
Hingga waktu menjadi semakin sempit,
Dan kemurkaan Tuhan semakin dekat.
Barulah ia menyesali kelalaiannya,
Namun penyesalan tiada lagi berguna.
Ia ingin memperbaiki yang telah berlalu,
Namun waktu telah meninggalkannya jauh.
Demikianlah akhir orang yang menunda,
Hingga kesempatan pun sirna.
Penggubah: Muhammad Frandani
(Dari Kitab _Latha'iful Ma'arif_ karya Ibnu Rajab Al Hanbali, hal. 486-487)
sumber https://whatsapp.com/channel/0029VafqRs63wtb55GUYSY43