12/05/2026
Pada April 2026, sebuah pe*bunuhan mengerikan terjadi di Tampa, Florida. Para korban adalah pasangan asal Bangladesh, Zamir Limon dan Nashida Bristi. Keduanya berusia 27 tahun,mereka adalah mahasiswa doktoral (PhD) di Universitas South Florida (USF). Zamir yang akan segera lulus dalam Ilmu Geografi, dikenal sebagai orang yang cerdas dan tenang, sementara Nashida adalah mahasiswa yang cerdas di bidang Teknik Kimia. Pasangan itu dilaporkan berencana untuk kembali ke tanah air mereka sebagai dosen sebelum nyawa mereka direnggut secara brutal.
Misteri hilangnya mereka dimulai pada 16 April 2026. Nashida terakhir terlihat dalam rekaman CCTV meninggalkan kampus mengenakan kemeja merah muda dan membawa payung menuju apartemen Avalon Heights tempat Zamir tinggal. Kekhawatiran mulai meningkat ketika Nashida tidak datang untuk pemeriksaan mata dan tidak menghubungi keluarganya di Bangladesh. Pada tanggal 18 April, teman-teman mereka yang curiga melaporkan hilangnya Nashida kepada polisi setelah upaya untuk menghubungi pasangan tersebut gagal.
Investigasi awal polisi di apartemen tersebut mengarah pada penemuan beberapa petunjuk yang mencurigakan. Teman sekamar mereka, Hashim Abugharbieh, 26 tahun, memberikan pernyataan yang meragukan. Polisi menemukan keset pintu hilang dan beberapa peralatan dapur serta perlengkapan kebersihan tidak lagi berada di tempatnya. Ketika tim forensik menggunakan cairan kimia BlueStar, rahasia mengerikan di dalam apartemen terungkap. Meskipun lantai tampak bersih dengan mata telanjang, lampu neon menunjukkan noda darah yang luas di dapur dan di sepanjang koridor menuju kamar tidur Hashim. Bahkan ada noda darah yang membentuk bentuk tubuh manusia yang meringkuk di karpet di kamar tersangka.
Bukti digital adalah kunci untuk mengungkap niat jahat tersangka. Melalui pemeriksaan ponsel pintar Hashim, yang ia coba hapus, para ahli forensik digital berhasil mengungkap riwayat pencarian yang mengerikan. Tersangka ditemukan telah menggunakan platform kecerdasan buatan, ChatGPT, untuk mencari saran tentang cara membuang mayat. Di antara pertanyaan yang diajukan adalah efektivitas memasukkan mayat manusia ke dalam kantong sampah, cara menembus tengkorak manusia dengan pi*au, dan tingkat kedap suara dinding apartemen. Perencanaan ini terdeteksi telah dimulai sejak 7 April, seminggu sebelum kejadian.
Kebrutalan tersangka terbukti sepenuhnya ketika mayat kedua korban ditemukan di lokasi berbeda dalam kondisi yang memilukan. Mayat Zamir ditemukan pada 24 April di dalam kantong sampah hitam di sisi Jembatan Howard Frankland. Hasil otopsi mengungkapkan bahwa Zamir telah ditikam berkali-kali di punggung, dan kakinya telah dipotong di paha hanya untuk memungkinkan tubuhnya dimasukkan ke dalam kantong plastik sempit.
Dua hari kemudian, tubuh Nashida ditemukan oleh seorang nelayan di hutan bakau Teluk Tampa, sudah mulai membusuk setelah terendam air laut.
Motif di balik pem*unuhan tersebut diyakini sebagai rasa dendam dan kecemburuan yang mendalam. Hashim, seorang mahasiswa putus sekolah dengan riwayat ketidakstabilan mental, dikatakan telah tertekan oleh kesuksesan akademis Zamir dan hubungannya yang bahagia. Situasi menjadi semakin tegang ketika Zamir dilaporkan mengajukan pengaduan resmi kepada manajemen apartemen tentang perilaku aneh Hashim dua minggu sebelum kejadian.
Hashim sekarang menghadapi dua dakwaan pe*bunuhan tingkat pertama tanpa jaminan. Jika terbukti bersalah, ia menghadapi hukuman mati atau penjara seumur hidup.