Harian Banyuasin

Harian Banyuasin Koran Kebanggaan Masyarakat Banyuasin
Sumatera Ekspress Grup
Palembang Pos Grup Harian Banyuasin.

Koran lokal di Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumsel dalam satu grup Fajar Indonesia Network dan Sumatera Ekspress Grup. Berisi semua berita pembangunan, pendidikan, kriminal, daerah, hingga olahraga

1 M Per hari bro, alangke lapangnyeeee...wajar badannya makin getong
04/06/2026

1 M Per hari bro, alangke lapangnyeeee...wajar badannya makin getong

Tinggal Giliran KopdesssDeretan dugaan pengadaan bermasalah di BGN mulai menjadi sorotan publik.Mulai dari pengadaan 21....
03/06/2026

Tinggal Giliran Kopdesss

Deretan dugaan pengadaan bermasalah di BGN mulai menjadi sorotan publik.

Mulai dari pengadaan 21.801 unit motor listrik senilai sekitar Rp1 triliun, 32.000 pasang sepatu, puluhan ribu tablet, hingga 5.400 unit televisi 75 inch diduga tidak sesuai ketentuan dan terindikasi mark up harga.

Publik tentu berharap adanya transparansi, audit menyeluruh, dan penegakan aturan agar anggaran negara benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan menjadi celah penyimpangan.

Horor sekali jalan ini pak Prabowo Subianto. Jalan lintas timur (Jalintim) dari Palembang sampai Betung bagaikan ranjau
03/06/2026

Horor sekali jalan ini pak Prabowo Subianto. Jalan lintas timur (Jalintim) dari Palembang sampai Betung bagaikan ranjau

Penentuan Lokasi dapur MBG pun jadi ladang korupsi. Skrng lagi siru kepala BGN ditangkap Kejagung. Pak Prabowo Subianto ...
03/06/2026

Penentuan Lokasi dapur MBG pun jadi ladang korupsi. Skrng lagi siru kepala BGN ditangkap Kejagung. Pak Prabowo Subianto anggaran MBG bangunkan jalan Banyuasin yang rusak bnyak Nelan korban jiwa

Tronton mogok depan SPBU PANGKALAN BALAI. Jalanan macet panjang
02/06/2026

Tronton mogok depan SPBU PANGKALAN BALAI. Jalanan macet panjang

31/05/2026
30/05/2026

Harga Getah karet mahal...tikus2 maling beku berkeliaran. Waspada bae yg punya beku

29/05/2026

Banyak sudah jalan lintas timur (Jalintim) Palembang -Betung makan korban jiwa. Kapan pak Prabowo Subianto diperbaiki total, silahkan MBG dilanjukan. Asal jalan tetap bagus

Cerita Wak Barap & Wak Uban Sapi APBN dan Pahala PribadiDi warung kopi ujung pasar, tempat kipas angin bunyinya lebih ri...
27/05/2026

Cerita Wak Barap & Wak Uban Sapi APBN dan Pahala Pribadi

Di warung kopi ujung pasar, tempat kipas angin bunyinya lebih ribut dari suara TV, Wak Barap duduk santai sambil menyeruput kopi hitam. Di sebelahnya ada sahabat lamanya: Wakil Uban, lelaki setengah tua yang rambutnya tinggal separuh hitam separuh pengalaman hidup.

Di meja mereka terbuka koran dengan judul besar soal 1.098 sapi kurban bantuan Presiden.

“Bah…,” gumam Wak Barap.

Wakil Uban langsung menghela napas panjang.
“Kalau kau sudah bilang ‘bah’, berarti sebentar lagi negara dalam bahaya satire.”

Ujang yang lagi bakar rokok langsung mendekat.
“Katonyo nilai sapinyo hampir seratus miliar, Wak.”

Wak Barap mengangguk.
“Iyo.”

“Dari duit pribadi Presiden?”

Wak Barap menyeruput kopi dulu sebelum menjawab pelan,
“Dari APBN.”

Warung langsung hening dua detik.

Lalu…

“Hahahahaha!”

Pak Kumis sampai tersedak gorengan.

“Hebat nian zaman kini,” katanya sambil batuk kecil.
“Kurban ribuan sapi, dompet pribadi tetap sehat walafiat.”

Wakil Uban ikut tertawa.
“Ini namonyo ekonomi syariah kreatif. Rakyat bayar pajak, negara beli sapi, elite panen Masya Allah.”

Ujang menimpali cepat,
“Teknologi pahala modern!”

Semua kembali ngakak.

Wak Barap mengaduk kopi perlahan.
“Dulu waktu kecil aku diajari guru ngaji, kurban itu pengorbanan pribadi. Ada rasa kehilangan karena keluar dari hasil keringat sendiri.”

Wakil Uban langsung nyeletuk,
“Kalau sekarang yang berkeringat rakyat bayar pajak.”

“HAHAHA!”

Mang Din yang dari tadi main HP ikut menyambar,
“Kalau utang negara disebut utang negara, kenapo sapi APBN berubah jadi kemurahan hati pribadi?”

“Karena ini sapi level nasional,” jawab Wakil Uban cepat.
“Sapi demokrasi premium.”

“Sapi pencitraan edition!” tambah Ujang.

Warung makin ribut oleh tawa.

Di televisi tampak gambar sapi jumbo dengan pita merah. Kamera menyorot kandang, wartawan bicara penuh semangat, narasi tentang kepedulian pemimpin terus diputar.

Wakil Uban geleng-geleng kepala.
“Lengkap nian paketnyo. Ada sapi, ada kamera, ada drone, tinggal tambah backsound religi.”

Pak Kumis tertawa sambil menepuk meja.
“Daging habis sehari. Videonya bisa diputar lima tahun.”

Wak Barap mulai serius sedikit.
“Sebetulnyo membantu rakyat itu bagus. Peternak terbantu, masyarakat dapat daging. Tidak ada yang salah.”

“Nah itu,” sahut Wakil Uban.
“Tapi jangan rakyat disuruh terharu seolah duit keluar dari celengan pribadi.”

“Betul,” kata Wak Barap.
“Kalau uang negara dipakai untuk rakyat, bilang bae bantuan negara. Jangan dibungkus macam sedekah sultan.”

Di pojok warung, seorang bapak tua yang sedari tadi diam tiba-tiba bicara.

“Kalau begitu,” katanya santai, “berarti kami ikut patungan pahala?”

“Hahahaha!”

“Minimal dapat bangku plastik depan pintu surga,” jawab Wakil Uban cepat.

Semua hampir menumpahkan kopi karena ketawa.

Mang Din lalu membaca berita lain dari HP-nya.

“Eh, katanya harta Presiden lebih dari dua triliun dan tak punya utang pribadi.”

Warung langsung gaduh lagi.

“Waduh…” kata Pak Kumis.
“Hartonyo dua triliun, kurbannyo APBN. Ini gotong royong spiritual tingkat dewa.”

Ujang berdiri sambil pura-pura pidato.

“Dari rakyat…”

“oleh negara…”

“untuk pahala pemimpin!”

“HAHAHAHA!”

Kipas angin tua tetap berdecit. Asap kopi naik perlahan. Tawa mulai reda.

Wakil Uban menatap televisi yang masih menampilkan parade sapi jumbo.

“Kadang aku heran,” katanya pelan.
“Rakyat diminta hemat demi fiskal. Tapi kalau musim kurban datang, APBN mendadak jadi kendaraan menuju citra kesalehan.”

Wak Barap mengangguk.
“Hidup rakyat sekarang berat. Harga naik diam-diam, kerja susah, anak muda bingung masa depan. Tapi televisi sibuk memperlihatkan sapi ukuran lemari.”

Pak Kumis tertawa kecil.
“Di negeri ini simbol kadang lebih kenyang daripada isi.”

Semua diam sebentar.

Lalu bapak tua di pojok kembali bersuara dengan wajah datar,

“Yang paling bingung nanti malaikat.”

“Kenapo lagi?” tanya Ujang.

Bapak tua itu menyeruput kopi terakhirnya lalu berkata pelan,

“Karena mereka harus menentukan… pahala kurbannya dicatat atas nama Presiden, kementerian, atau bendahara negara.”

Warung kopi pun kembali pecah oleh tawa panjang sampai kipas angin pun terasa ikut bergetar.

Address

Jln. Palembang-Jambi, Komp Ruko PTC No 15-16, Kel Kayuara Kuning, Banyuasin III
Palembang
30911

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00

Telephone

+6282377892829

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Harian Banyuasin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Harian Banyuasin:

Share