27/05/2026
Cerita Wak Barap & Wak Uban Sapi APBN dan Pahala Pribadi
Di warung kopi ujung pasar, tempat kipas angin bunyinya lebih ribut dari suara TV, Wak Barap duduk santai sambil menyeruput kopi hitam. Di sebelahnya ada sahabat lamanya: Wakil Uban, lelaki setengah tua yang rambutnya tinggal separuh hitam separuh pengalaman hidup.
Di meja mereka terbuka koran dengan judul besar soal 1.098 sapi kurban bantuan Presiden.
“Bah…,” gumam Wak Barap.
Wakil Uban langsung menghela napas panjang.
“Kalau kau sudah bilang ‘bah’, berarti sebentar lagi negara dalam bahaya satire.”
Ujang yang lagi bakar rokok langsung mendekat.
“Katonyo nilai sapinyo hampir seratus miliar, Wak.”
Wak Barap mengangguk.
“Iyo.”
“Dari duit pribadi Presiden?”
Wak Barap menyeruput kopi dulu sebelum menjawab pelan,
“Dari APBN.”
Warung langsung hening dua detik.
Lalu…
“Hahahahaha!”
Pak Kumis sampai tersedak gorengan.
“Hebat nian zaman kini,” katanya sambil batuk kecil.
“Kurban ribuan sapi, dompet pribadi tetap sehat walafiat.”
Wakil Uban ikut tertawa.
“Ini namonyo ekonomi syariah kreatif. Rakyat bayar pajak, negara beli sapi, elite panen Masya Allah.”
Ujang menimpali cepat,
“Teknologi pahala modern!”
Semua kembali ngakak.
Wak Barap mengaduk kopi perlahan.
“Dulu waktu kecil aku diajari guru ngaji, kurban itu pengorbanan pribadi. Ada rasa kehilangan karena keluar dari hasil keringat sendiri.”
Wakil Uban langsung nyeletuk,
“Kalau sekarang yang berkeringat rakyat bayar pajak.”
“HAHAHA!”
Mang Din yang dari tadi main HP ikut menyambar,
“Kalau utang negara disebut utang negara, kenapo sapi APBN berubah jadi kemurahan hati pribadi?”
“Karena ini sapi level nasional,” jawab Wakil Uban cepat.
“Sapi demokrasi premium.”
“Sapi pencitraan edition!” tambah Ujang.
Warung makin ribut oleh tawa.
Di televisi tampak gambar sapi jumbo dengan pita merah. Kamera menyorot kandang, wartawan bicara penuh semangat, narasi tentang kepedulian pemimpin terus diputar.
Wakil Uban geleng-geleng kepala.
“Lengkap nian paketnyo. Ada sapi, ada kamera, ada drone, tinggal tambah backsound religi.”
Pak Kumis tertawa sambil menepuk meja.
“Daging habis sehari. Videonya bisa diputar lima tahun.”
Wak Barap mulai serius sedikit.
“Sebetulnyo membantu rakyat itu bagus. Peternak terbantu, masyarakat dapat daging. Tidak ada yang salah.”
“Nah itu,” sahut Wakil Uban.
“Tapi jangan rakyat disuruh terharu seolah duit keluar dari celengan pribadi.”
“Betul,” kata Wak Barap.
“Kalau uang negara dipakai untuk rakyat, bilang bae bantuan negara. Jangan dibungkus macam sedekah sultan.”
Di pojok warung, seorang bapak tua yang sedari tadi diam tiba-tiba bicara.
“Kalau begitu,” katanya santai, “berarti kami ikut patungan pahala?”
“Hahahaha!”
“Minimal dapat bangku plastik depan pintu surga,” jawab Wakil Uban cepat.
Semua hampir menumpahkan kopi karena ketawa.
Mang Din lalu membaca berita lain dari HP-nya.
“Eh, katanya harta Presiden lebih dari dua triliun dan tak punya utang pribadi.”
Warung langsung gaduh lagi.
“Waduh…” kata Pak Kumis.
“Hartonyo dua triliun, kurbannyo APBN. Ini gotong royong spiritual tingkat dewa.”
Ujang berdiri sambil pura-pura pidato.
“Dari rakyat…”
“oleh negara…”
“untuk pahala pemimpin!”
“HAHAHAHA!”
Kipas angin tua tetap berdecit. Asap kopi naik perlahan. Tawa mulai reda.
Wakil Uban menatap televisi yang masih menampilkan parade sapi jumbo.
“Kadang aku heran,” katanya pelan.
“Rakyat diminta hemat demi fiskal. Tapi kalau musim kurban datang, APBN mendadak jadi kendaraan menuju citra kesalehan.”
Wak Barap mengangguk.
“Hidup rakyat sekarang berat. Harga naik diam-diam, kerja susah, anak muda bingung masa depan. Tapi televisi sibuk memperlihatkan sapi ukuran lemari.”
Pak Kumis tertawa kecil.
“Di negeri ini simbol kadang lebih kenyang daripada isi.”
Semua diam sebentar.
Lalu bapak tua di pojok kembali bersuara dengan wajah datar,
“Yang paling bingung nanti malaikat.”
“Kenapo lagi?” tanya Ujang.
Bapak tua itu menyeruput kopi terakhirnya lalu berkata pelan,
“Karena mereka harus menentukan… pahala kurbannya dicatat atas nama Presiden, kementerian, atau bendahara negara.”
Warung kopi pun kembali pecah oleh tawa panjang sampai kipas angin pun terasa ikut bergetar.