04/08/2026
Ada satu kata yang sering terdengar ketika orang Jawa menghadapi kejadian buruk, yaitu untunge. Kata yang berarti βuntungnyaβ itu justru muncul saat seseorang baru mengalami kecelakaan, kehilangan barang, rumah rusak, atau rencana hidupnya berantakan.
Kendaraan mungkin rusak, tetapi masih ada rasa lega karena tubuh hanya lecet. Rumah mungkin roboh, tetapi keluarga berhasil menyelamatkan diri. Barang mungkin hilang, tetapi masih ada kesempatan untuk mencarinya kembali atau menggantinya perlahan.
Musibahnya tidak dianggap sebagai keberuntungan. Kerugian tetap kerugian, rasa sakit tetap terasa, dan masalah tetap harus diselesaikan. Namun, di tengah keadaan tersebut, orang Jawa terbiasa mencari bagian yang masih bisa disyukuri.
Kebiasaan ini bukan sekadar cara untuk menghibur diri. Di balik kata untunge, terdapat cara berpikir yang berusaha menjaga pikiran agar tidak dikuasai sepenuhnya oleh satu kejadian buruk. Masalah diakui, tetapi tidak dibiarkan menjadi kesimp**an atas seluruh kehidupan.
Cara pandang seperti ini tumbuh dari pemahaman bahwa hidup tidak selalu berjalan secara hitam dan putih. Sebuah kejadian tidak harus sepenuhnya disebut baik atau sepenuhnya dianggap buruk. Dalam kerugian, terkadang masih ada sesuatu yang tersisa dan patut dijaga.
Orang Jawa juga memahami bahwa keadaan dunia mudah berubah. Hari ini seseorang bisa merasa aman, besok ia dapat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, masalah yang hari ini terasa berat belum tentu selamanya menjadi jalan buntu.
Karena itulah, kesenangan tidak perlu dirayakan sampai lupa diri. Kesedihan pun tidak perlu dipelihara sampai kehilangan arah. Setiap keadaan dijalani dengan kesadaran bahwa hidup selalu bergerak dan manusia harus mampu menyesuaikan diri.
Dalam pemikiran Jawa dikenal ungkapan bahwa sesuatu yang benar belum tentu selalu tepat. Maksudnya, sebuah tindakan tidak cukup hanya dinilai dari benar atau salah. Waktu, tempat, cara, dan akibatnya juga perlu dipertimbangkan.
Kejujuran memang baik, tetapi menyampaikan kekurangan orang di depan banyak orang belum tentu bijaksana. Isi perkataannya mungkin benar, tetapi caranya dapat mempermalukan. Kebenaran yang tidak memakai pertimbangan bisa berubah menjadi luka.
Membantu orang juga merupakan perbuatan baik. Namun, bantuan yang diberikan terus-menerus tanpa batas dapat membuat seseorang bergantung. Niat yang baik tetap membutuhkan ukuran agar manfaatnya tidak berbalik menjadi masalah.
Begitu p**a dengan kerja keras. Kesungguhan bekerja memang penting, tetapi mengabaikan kesehatan dan keluarga bukan pencapaian yang patut dibanggakan. Sesuatu yang dilakukan terlalu jauh dapat kehilangan tujuan awalnya.
Cara berpikir tersebut membuat orang Jawa cenderung tidak terlalu kaku dalam melihat kehidupan. Mereka memahami bahwa ukuran kesopanan, kebiasaan, dan kepantasan dapat berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.
Di Jawa, bersendawa keras setelah makan biasanya dianggap kurang sopan. Namun, dalam sebagian kebudayaan lain, kebiasaan tersebut pernah dipahami sebagai tanda bahwa hidangan dinikmati. Perilaku yang dianggap tidak pantas di satu tempat belum tentu memiliki arti yang sama di tempat lain.
Perbedaan itu mengajarkan bahwa manusia tidak bisa memakai ukurannya sendiri untuk menilai semua keadaan. Prinsip tetap diperlukan, tetapi penerapannya harus melihat situasi. Inilah yang membuat keluwesan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Keluwesan bukan berarti mudah berubah pendirian atau selalu mengalah. Luwes berarti mampu menempatkan sikap sesuai keadaan. Seseorang tetap bisa tegas tanpa harus kasar dan tetap bisa berbeda pendapat tanpa harus merendahkan.
Pemahaman ini dekat dengan prinsip ngono ya ngono, ning ojo ngono. Secara sederhana, boleh bersikap demikian, tetapi jangan sampai berlebihan. Marah boleh, membela diri boleh, mencari keuntungan juga boleh, tetapi semuanya memiliki batas.
Marah seharusnya digunakan untuk memperjelas masalah, bukan menghancurkan hubungan. Kritik seharusnya membantu memperbaiki keadaan, bukan menjadi kesempatan untuk mempermalukan. Keuntungan seharusnya diperoleh melalui usaha, bukan dengan mengorbankan orang lain.
Prinsip tersebut mengajarkan ukuran yang pas. Tidak terlalu banyak, tetapi juga tidak terlalu sedikit. Tidak selalu mengalah, tetapi juga tidak menjadikan setiap perbedaan sebagai pertengkaran.
Untuk mengetahui ukuran itulah orang Jawa sering berbicara tentang penggunaan rasa. Rasa bukan hanya soal sedih, senang, takut, atau marah. Rasa juga merupakan kepekaan untuk membaca suasana dan memperkirakan akibat dari sebuah tindakan.
Kepekaan ini membantu seseorang memahami kapan harus berbicara, kapan harus bertindak, dan kapan perlu menenangkan diri terlebih dahulu. Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan suara keras. Namun, tidak semua keadaan juga boleh dibiarkan hanya demi menghindari benturan.
Dari cara berpikir tersebut, kata untunge mendapatkan tempatnya. Ketika musibah datang, rasa digunakan untuk mengakui kesedihan tanpa membiarkannya menguasai seluruh pikiran. Bagian yang masih tersisa kemudian menjadi pegangan untuk melanjutkan langkah.
Ketika kehilangan pekerjaan, seseorang memang kehilangan penghasilan. Namun, kemampuan, pengalaman, dan kesehatan mungkin masih dimiliki. Semua itu dapat digunakan untuk mencari kesempatan baru meskipun prosesnya tidak selalu mudah.
Ketika usaha gagal, modal mungkin berkurang dan tenaga banyak terbuang. Namun, kegagalan tersebut dapat menunjukkan kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat. Pengalaman itu menjadi bekal agar keputusan berikutnya dibuat dengan lebih hati-hati.
Saat rumah rusak akibat bencana, kerugiannya tentu nyata. Akan tetapi, keselamatan keluarga membuat perjuangan membangun kembali masih memiliki arti. Harta yang hilang memang berat, tetapi kehilangan nyawa tentu tidak dapat diganti.
Di sinilah kata untunge menjadi cara untuk membedakan antara sesuatu yang hilang dan sesuatu yang masih dimiliki. Pikiran tidak hanya berhenti pada kerusakan, tetapi juga menghitung kekuatan yang tersisa. Dari sanalah muncul tenaga untuk kembali bergerak.
Namun, kebiasaan ini tidak boleh dipakai untuk mengecilkan penderitaan orang lain. Seseorang yang sedang berduka tidak selalu membutuhkan penjelasan bahwa keadaannya masih lebih baik dibandingkan orang lain. Kesedihan tidak menjadi ringan hanya karena ada orang yang mengalami nasib lebih buruk.
Ada luka yang membutuhkan waktu sebelum bisa dilihat dengan lebih tenang. Ada kehilangan yang tidak bisa langsung diterima hanya dengan nasihat agar bersyukur. Memberi ruang bagi kesedihan juga merupakan bagian dari sikap yang manusiawi.
Karena itu, kata untunge akan lebih menguatkan ketika tumbuh dari kesadaran pribadi. Setelah emosi mulai tenang, seseorang perlahan mampu melihat bahwa tidak semua bagian hidupnya ikut hilang. Harapan muncul bukan karena masalahnya tidak ada, tetapi karena masih ada sesuatu yang bisa diperjuangkan.
Mencari sisi baik juga bukan alasan untuk berhenti bertindak. Kendaraan yang rusak tetap harus diperbaiki, luka harus diobati, dan kesalahan perlu dievaluasi. Bersyukur hanya membantu pikiran tetap jernih agar tindakan berikutnya tidak dikuasai kepanikan.
Menerima kenyataan juga berbeda dengan menyerah. Ada keadaan yang memang tidak bisa diubah, tetapi ada p**a masalah yang harus diperjuangkan penyelesaiannya. Orang yang tenang bukan berarti tidak peduli, sebab ketenangan justru dapat membuat keputusan menjadi lebih terarah.
Nilai ini terasa semakin penting di tengah kehidupan yang penuh reaksi berlebihan. Hari ini, masalah kecil dapat segera berubah menjadi tontonan. Kesalahan seseorang mudah disebarkan, dipotong dari konteksnya, lalu dipakai untuk menilai seluruh kehidupannya.
Media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu menunjukkan reaksi paling keras. Kemarahan dianggap sebagai keberanian, sedangkan sikap tenang sering dinilai sebagai kelemahan. Padahal, emosi yang besar belum tentu menghasilkan penyelesaian yang baik.
Kata untunge menawarkan jeda sebelum pikiran ikut terbawa keadaan. Jeda itu bukan untuk lari dari masalah, melainkan untuk melihat masalah secara lebih lengkap. Apa yang rusak dihitung, apa yang tersisa juga diperhatikan, kemudian langkah berikutnya ditentukan.
Manusia memang tidak dapat memilih semua kejadian yang datang dalam hidupnya. Musibah bisa muncul tanpa rencana, usaha dapat gagal meskipun telah dipersiapkan, dan sesuatu yang dijaga dengan baik tetap dapat hilang. Namun, manusia masih memiliki pilihan dalam menentukan cara meresponsnya.
Melihat hikmah bukan berarti menyukai musibah. Bersyukur bukan berarti menolak kenyataan. Tetap tenang juga bukan berarti membiarkan kesalahan dan ketidakadilan.
Kebiasaan mengatakan untunge adalah cara sederhana untuk menjaga agar satu masalah tidak menutup seluruh pandangan. Ada kesadaran bahwa keadaan memang sedang buruk, tetapi belum tentu semuanya berakhir. Selama masih ada sesuatu yang tersisa, masih ada kemungkinan untuk bangkit.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari kebiasaan tersebut. Ketenangan tidak selalu lahir karena hidup bebas dari masalah. Ketenangan tumbuh ketika manusia mampu mengakui kesulitan, melihat apa yang masih dimiliki, lalu memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.