18/05/2026
Di balik seragam penegak hukum yang
dihormati, terkadang tersimpan kerapuhan yang tak terlihat oleh dunia luar. Begitulah yang terjadi pada keluarga Brigadir Esco Faska Rely dan istrinya, Briptu Rizka Sintiani, sesama anggota kepolisian di Nusa Tenggara Barat. Apa yang tampak dari luar sebagai keluarga mapan, ternyata menyimpan bom waktu berupa tekanan finansial dan kebuntuan komunikasi yang siap meledak kapan saja.
I. Bara Api di Balik Diam (19 Agustus 2025)
Petaka ini bermula dari hal yang sangat manusiawi: urusan uang. Pada pagi hari tanggal 19 Agustus 2025, Briptu Rizka dirundung kepanikan. Ada tanggungan utang pegadaian sebesar Rp2,7 juta yang bunganya terus menumpuk. Di saat yang sama, ia tahu bahwa suaminya, Brigadir Esco, baru saja menerima pencairan dana remunerasi sebesar Rp10 juta.
Sejak pagi, Rizka mencoba menghubungi suaminya untuk menagih uang tersebut demi menutupi utang. Namun, respons yang ia terima hanyalah kebungkaman. Pesan tak dibalas, telepon tak diangkat. Sikap Esco yang menghindar
ini perlahan membakar emosi Rizka. la bahkan sampai
menghubungi rekan kerja suaminya karena merasa begitu frustrasi.
Baru pada pukul 17.30 WITA, Esco membalas dengan sebuah janji, "lya, sekarang dikirimin". Rizka yang sudah terlanjur dikuasai kepanikan membalas dengan desakan tajam, "Kirim becatan" (Kirim sekarang juga). Namun nahas, hingga malam tiba, uang itu tak kunjung masuk, dan Esco kembali memutus komunikasi.
II. Malam Kelam di Rumah Sendiri
Akumulasi amarah dari pagi hingga malam itu menemui titik didihnya ketika Rizka tiba di rumah pada pukul 19.48 WITA.
la mendapati motor suaminya terparkir, dan saat masuk ke kamar anak pertama mereka, ia melihat suaminya sedang tertidur santai di lantai.
Melihat pria yang mengabaïkan kepanikannya sepanjang hari justru terlelap tanpa beban, akal sehat Rizka runtuh.
Penganiayaan brutal pun terjadi. Rizka yang kalap langsung menginjak ulu hati suaminya yang baru terbangun. la menendang dan memukul wajah suaminya berkali-kali dengan benda tumpul hingga tulang hidung korban patah.
Tidak berhenti di situ, ia mengambil gunting dan menusuk kaki serta beberapa bagian tubuh Esco yang merintih kesakitan.