Belajar ID

Belajar ID belajar dengan santai mudah dan menyenangkan

30/08/2026

Cerita selanjutnya di kbm
Judul : aku anak pungut
Penulis : haneybee

26/08/2026

Cerita selanjutnya di kbm app
Judul : aku anak pungut
Penulis : haneybee

Mereka terus saja memperbincangkan Dara, menjadikannya bahan gosip dan menertawakan semau mereka."Nggak tau juga, siapa ...
22/08/2026

Mereka terus saja memperbincangkan Dara, menjadikannya bahan gosip dan menertawakan semau mereka.

"Nggak tau juga, siapa nanti lelaki yang mau sama Dara. Sudah kurus kering begitu. Cuma lulusan SMA."

"Haha.... haha..." suara riuh tawa terdengar. Mereka tidak tau saja jika Dara sudah menguping pembicaraan mereka sedari tadi.

Tapi seandainya tau, pasti keluarga besarnya tetap akan menghinanya.

"Dara! Apa yang kamu lakukan!" Ibunya kembali berteriak.

"Kamu nggak tau kalo kerjaan lagi banyak-banyaknya, malah bengong di sana!"

Dara tak menyahut, dia memilih bekerja. Mengadupun percuma, ibunya tak akan membelanya.

"Dara! Mana baju-bajuku yang kamu cuci!" Kini Aira yang berteriak.

Tak bisakah anggota keluarganya bicara baik-baik. Gendang telinganya terasa mau pecah.

"Baju yang mana mbak?" Dara segera berlari menuju mbaknya. Jika telat sedikit, mbaknya akan mengoceh panjang lebar.

"Baju yang tadi pagi kamu cuci. Kamu budeg ya!" Lagi, Aira berteriak. Padahal jarak mereka sangat dekat.

"Baju yang tadi pagi aku cuci belum ku angkat dari jemuran."

"Ya sudah sana ambil! Lelet banget jadi orang!"

"Aku kan baru pulang kerja Mbak."

"Siapa yang nanyak!" Sentak Aira.

Dara memilih pergi, tak ingin mendengar omelan dari kakak perempuannya itu.

"Jangan lupa disetrika yang rapi!" Teriak Aira lagi.

Dara menghela nafas dengan lelah. Pekerjaannya seakan tak ada habisnya. Belum selesai satu, sudah ada pekerjaan yang lain. Seolah-olah tak ada orang saja di rumah ini.

Suara alunan musik terdengar, mereka mulai menyetel sound system untuk menyambut tamu nanti malam.

Dara masih bergelut dengan baju-baju Aira yang menggunung dan harus disetrika semua sore ini.

"Padahal aku nggak pernah deket sama Raka loh tante. Aku nggak tau juga ternyata Raka menyukaiku diam-diam." Suara Aira terdengar dari ruang tengah. Keluarga besar mengelilinginya.

"Kamu beruntung sekali Aira. Jangan sia-siakan Raka. Selain PNS, dia juga tampan. Keluarganya juga kaya raya. Maklum, mantan Kepala Desa." Sahut seorang diantara mereka.

"Ya tentu d**g, aku tau mana yang terbaik untukku." Suara Aira sangat manja. Seolah dibuat-buat.

"Lalu nanti kamu kemanakan pacarmu itu." Kali ini suara Mela yang terdengar. Mela adalah sepupu mereka.

"Ya tinggal diputusin. Gitu aja repot."

"Kan sayang, dia tampan juga."

"Kalo kamu mau, ambil aja."

"Dih, ogah."

Mereka semua tertawa serempak. Entah mengapa mereka berkumpul, seolah tak ada kerjaan saja. Padahal acaranya sudah nanti malam.

Dara meletakkan baju-baju Aira di kamarnya. Kemudian dia ingin pergi ke ruang tengah. Berkumpul bersama keluarga besarnya. Ingin ngobrol santai juga.

"Mau kemana kamu Dara?" Tanya ibunya.

"Mau kumpul di sana Bu," tunjuk Dara ke keluarga besarnya.

"Enak saja, dari tadi kerjamu cuma duduk. Tuh di dapur masih banyak kerjaan."

"Tapi Bu...."

"Tapi apa, jangan s**a membantah ya kamu. Semua keluarga sudah bekerja dari pagi. Kamu belum kerja sama sekali malah mau malas-malasan."

"Aku kan baru pulang Bu. Aku kerja juga, hasil aku kerja juga diambil ibu semua."

"Heh, perhitungan ya kamu sekarang. Cuma uang tak seberapa yang kamu berikan itu, kamu sudah berani sama ibu! Sana pergi! Di dapur masih banyak kerjaan, cucian juga menumpuk!"

Dara mengusap punggungnya yang sakit, meski menyetrika hanya duduk, tapi lelah juga mengerjakan semuanya.

Setetes air mata lolos juga dari matanya. Bukan hanya lelah, tapi hatinya sakit diperlakukan seperti pembantu oleh keluarganya sendiri. Bahkan mungkin lebih parah dari pembantu.

Dara segera menghapus air mata itu. Dia tak membiarkan ada orang yang melihat, karena Dara tau konsekuensinya, dia akan dicibir dan dihina lebih dalam lagi.

Adzan magrib berkumandang, Dara baru selesai dengan pekerjaannya. Dia mengambil handuk yang tergantung, dia baru sempat mandi.

"Daraaaa!" Ibunya kembali berteriak.

"Apa Bu?" Dara menghentikan langkahnya.

"Kenapa kue-kue itu tidak ditata di depan!"

"Bu, aku baru selesai cuci piring. Banyak anggota keluarga yang lain. Kenapa Ibu tak menyuruh mereka saja?"

"Enak saja kamu membantah, cepat tata kue-kue itu!"

"Bu, sudah adzan magrib. Aku belum sempat mandi. Aku juga mau Sholat."

"Alasan saja kamu itu. Ibu tau, kamu cuma ingin bersantai."

"Bu, selepas Sholat nanti aku tata."

"Daaaraaaa!" Ibunya kembali mengomel, tapi kali ini tak Dara hiraukan.

Dia lebih memilih melakukan kewajibannya, pekerjaan tak akan selesai begitu saja. Jika dia tak menyempatkan solat, maka sampai tengah malampun dia tak akan punya waktu untuk solat.

Keluarga Raka mulai berdatangan. Mereka dari keluarga berada, mobil yang mereka gunakan juga mobil-mobil mewah.

Sangat timpang dengan keadaan keluarga ini. Rumah merekapun hanya berdinding bata sebagian dan sebagian besar berdinding triplek.

"Selamat datang pak," Pak Malik, ayah Dara menyambut kedatangan mereka dengan senang.

"Mohon maaf dengan keadaan keluarga kami, ya beginilah gubuk kami." Ucap Pak Malik merendah.

"Tak masalah toh Pak. Kami tidak melihat orang dari statusnya. Oh ya Pak, dimana calon tunangan Raka? Sepertinya Raka sudah tak sabar bertemu calon istrinya itu." Kini pak Agus, ayah Raka yang bicara.

"Ayo nak, keluar. Keluarga calon tunanganmu sudah datang." Pinta Pak Malik pada Aira.

Aira keluar dengan gaya khas yang anggun. Baju kebayanya menampilkan sosok dirinya yang begitu cantik.

"Loh pak, yang ingin kami lamar anak bungsu bapak, Dara. Bukan yang ini." Ucapa Pak Agus membuat suasana menjadi hening seketika.

SI BUNGSU
Penulis HANEYBEE
selengkapnya di KBM

"Kamu nuduh mama nyelewengin ua-ng spp kamu?" Mata Mama Ratih berkaca-kaca saat Mita mengatakan ua-ng pemberiannya hilan...
15/08/2026

"Kamu nuduh mama nyelewengin ua-ng spp kamu?" Mata Mama Ratih berkaca-kaca saat Mita mengatakan ua-ng pemberiannya hilang.-

"Aku gak nuduh mama gitu, tapi aku bilang ua-ng sppku di tas hilang. Aku cuma mau nanyak, apa mama lupa taruknya?" Mita tak kalah sedih.

Pihak sekolah meminta Mita melunasi u_ang spp. Atau Mita tidak dapat ijazah SMA.

Mita sudah menunggak enam bulan. Kata Mama Ratih, dia sudah meletakkan SPP Mita di tas setiap bulan. Tapi Mita tak pernah menemukan.

Mita sudah lulus SMA, tapi ijazahnya tertahan. Dulu Mita minta pada ayah, sekolah di sekolah negeri saja agar gratis. Tapi Mama Ratih tak setuju.

Anak juragan kebun mana mungkin sekolah di sekolah biasa. Nanti Mama Ratih yang kena gosip para tetangga. Dianggap membedakan anak sendiri dan anak tiri.

"Kamu nanyak seperti itu, kayak nuduh mama. Mama gak mungkin lupa. Tiap bulan mama taruk ua-ngnya di tas kamu. Mama memang bukan ibu kandung kamu, tapi mama gak mungkin biarin SPP kamu nunggak." Air mata mulai luruh. Mama Ratih mulai terisak.

"Apa ini kok ribut!" Ayah yang baru pulang dari kebun menghampiri mereka.

"Mita bilang, aku gak kasih dia ua_ng SPP." Mama Ratih langsung mengadu pada suaminya.

Pak Bahar melotot pada Mita. Dia berkacak pinggang sambil menghampiri putrinya itu.

"Apa kamu bilang?" Sentak Pak Bahar.

Mita mundur selangkah. Dia menautkan jari-jari. Wajahnya mulai berkeringat.

"Aku gak bilang gitu yah." Belanya.

"Trus bilang gimana?" Pak Bahar melotot tajam.

"Aku takut ada yang salah paham padaku. Aku cuma ibu tiri. Nanti aku dikira pilih kasih, gak becus urus anakmu." Mama Ratih menyela. Dia mengusap air mata yang menggenang.

Mita menggeleng.

Terjadi lagi.

Ayah tidak akan percaya ucapannya. Terahir, dia akan dihukum atas kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.

"Aku kemaren-kemarennya sering liat Mita duduk di Kantin sama teman-teman. Kayaknya ua_ngnya habis buat teraktir mereka deh yah." Aluna datang memperkeruh suasana.

Aluna adalah anak bawaan Bu Ratih. Dia satu sekolah dengan Mita.

"Aku gak gitu. Temen-temen yang traktir aku soalnya aku gak dapat uang saku." Mita mulai mundur. Badannya terantuk dinding.

Dia terpojok.

Padahal Mita hanya ingin minta uang SPP yang sudah nunggak.

"Jadi kamu mau bilang mama gak ngasih uang saku sama kamu. Kamu mau fitnah mama lagi. Mama memang bukan ibu kamu. Tapi kenapa kamu perlakukan mama seperti ini." Bu Ratih menangis lagi.

Tiba-tiba.

'Plak.' Pak Bahar menam-par p**i Mita.

Kepala Mita terasa berdengung. Rasa sakitnya menjalar sampai ke tenggorokan. Pipinya terasa panas. Ada sesuatu mengalir di sudut bibirnya.

"Kamu berani fitnah mamamu. Mama sudah membesarkan kamu, tapi kamu jadi anak yang nakal. SPP kamu buat foya-foya. Kamu malah nuduh mama gak ngasih kamu ua-ng saku." Pak Bahar marah besar. Putrinya jadi anak urakan.

Mita menggeleng, seribu kalipun dia memberi alasan, ayah tidak akan percaya padanya. Semua berahir seperti yang sudah-sudah.

"Kamu harus dikasih pelajaran biar nurut. Jadi anak perempuan kok nakal." Pak Bahar menyeret tubuh mungil anaknya ke halaman samping.

Sedang Bu Ratih dan Aluna mengikuti mereka dari belakang.

Sesekali Aluna menutup mulutnya yang ingin tertawa.

Pak Bahar mengambil sabuk yang biasa dia gunakan untuk mencambvk Mita.

"Jangan yah. Aku mohon." Mita sudah ketakutan. Pukvlan Pak Bahar yang kemaren masih belum sembuh, kini ayahnya ingin memukvlnya lagi.

Tiba-tiba ponsel Pak Bahar berdering. Dia mengambilnya di saku celana.

Merasa panggilan itu penting, Dia menyeret Mita ke belakang rumah.

Dia melempar Mita ke dalam gudang kemudian menguncinya dari luar.

"Tidak boleh ada yang buka kecuali ayah." Pak Bahar kemudian pergi.

Bu Ratih dan Aluna tersenyum senang. Bahkan Aluna berjingkrak-jingkrak merayakan kemenangan.

"Makan tuh!" Ejek Aluna.

"Sssuuutt, jangan keras-keras. Ayahmu belum jauh." Bu Ratih meletakkan telunjuk di bibir, kemudian mengajak anaknya pergi.

Sedang di dalam gudang, Mita meringkuk ketakutan.

Meski sudah biasa dikurung di dalam sana, tapi Mita tak pernah betah. Gudang itu gelap, banyak tikus lewat. Belum lagi binatang melata lainnya.

Mita melihat gudang yang posisinya berubah dari terahir kali dia tempati.

Mita ingat jika eyang yang sudah mengambil beberapa barang dua hari yang lalu.

Gudang menjadi lebih lega.

Malam semakin larut., Mita gelisah. Tak ada tanda-tanda ayah akan menghentikan hukuman.

Mita pindah ke bagian pinggir, di depan pintu sangat dingin. Dia mencari tempat yang sekiranya hangat.

Mita memeluk lututnya. Saat seperti ini, dia ingat dengan almarhum bunda.

Mita mengambil kalung berbandul bunga kayu, buatan tangan pemberian terahir Bunda. Satu-satunya peninggalan berharga dari bunda yang tak diambil Aluna.

"Bunda, aku kangen." Lirihnya.

Mita memeluk dirinya sendiri. Semenjak bunda tiada, hidupnya makin menderita.

Mita mengantuk, tapi tak ada tempat untuk tidur. Dia tetap dalam posisi duduk.

Hingga tanpa sadar bandul itu terlepas dari tangan. Bandul itu terantuk lantai dan menciptakan bunyi.

Mita mengernyit heran. Dia pindah dari posisinya. Dia mengetuk-ngetuk lantai, seperti ada ruang kosong di bawah.

Mita memperhatikan pola lantai dari semem. Berbentuk jajar genjang tak beraturan di setiap sisi.

Dengan penerangan seadaanya dari cahaya bulan, Mita coba mengangkat kemudian mendorong lantai yang dia tempati.

Hingga tanpa sadar, lantai itu bergeser.

Mita menemukan lorong gelap berbentuk lingkaran menuju suatu tempat.

Penulis
Judul
Selengkapnya di KBM

Walau aku menagis darah itu semua percuma saja Mamaku lebih berkuasa.Mama menjodohkanku dengan anak Almarhum temannya. P...
07/07/2026

Walau aku menagis darah itu semua percuma saja Mamaku lebih berkuasa.

Mama menjodohkanku dengan anak Almarhum temannya. Padahal saudaraku yang lain tidak ada yang dijodohkan.

Acara masih lama tapi rombongan yang mengiringiku ke acara pertunangan sudah hampir tiba di lokasi acara.

Aku terus saja melihat arloji di pergelangan tangan berharap akan datang terlambat di acara pertunangan.

Ah, mama tak tau saja jika aku sudah punya calon yang cantik jelita. Namanya Elisabet, orang kota, tinggi semampai, rambut pirang lurus, kulit putih halus nyamuk aja meleset ketika hinggap, dan yang pasti pendidikannya tinggi.

Mama selalu menolak bertemu jika aku ingin perkenalkan pacarku. Padahal aku yakin, gadis desa yang akan dijodohkan denganku pasti standarnya jauh lebih jelek dari Elisabet.

Namanya saja gak ada dikamus bahasa Indo. Mamaku manggilnya Mila..., ih Aku pasti malu di depan teman-temanku nanti.

Ah, beberapa kali aku mencengkram tanganku untuk meluapkan kekesalanku pada Mama. Jika teringat dengan pacarku yang cantik jelita malah aku tukar dengan Mila yang buruk rupa.

"Hiiik..hiik...hiik.., Lap peluhmu Mas. Aku tau kamu gerogi bertemu dengan Mila." Indra, adikku menyerahkan selembar tisu padaku, setelahnya dia terkikik menahan tawa.

"Plaaass....! Tak ada yang lucu," aku menyambar tisu itu kemudian mengelap keringat yang menggenang di wajah. Padahal AC sudah menyala, tapi rasa panas menjalar di sekujur tubuhku. Kekesalanku atas pertunangan ini penyebabnya.

Indra tau aku terpaksa dijodohkan, aku mati-matian menolak tapi mama dengan seribu jurus tetap memaksaku.

"Biar satu sembunyi didasar laut, satu diatas langit kalau sudah jodoh didepan penghulu pasti kan bertemu" mama sering menyanyikan lagu itu di depanku, tapi dengan mata melotot dan tod**gan sapu yang dipegangnya. Ahirnya aku luluh saat mama mengatakan kedai ayam sungkem yang sudah iaku ikut bangun dan memiliki lima puluh cabang akan diberikan pada mbak dan adikku, padahal mereka tak ikut andil sedikitpun memajukan usaha itu.

Mama tak adil, padahal Indra bebas memilih istri sendiri. Ya, meski berstatus adik, dia sudah menikah mendahuluiku. Saat itu Indra membawa calon istrinya ke rumah dan mama langsung setuju. Tapi kenapa saat aku ingin memperkenalkan pacarku mama selalu menolak.

"Sudah sampai," Indra menghentikan mobilnya. Memang hanya dia yang semobil denganku. Yang lainnya menggunakan mobil yang berbeda.

Aku tertegun, secepat itukah. Padahal aku ingin datang terlambat.

Aku melihat ke luar, suasana sudah ramai dengan orang-orang yang mau menyambutku. Tapi kok aneh ya?, masak cuma tunangan kok ada dekor dan suara sound besar segala, kayak mau nikahan aja. "Uhhhg, dah lah." Ku coba hiraukan apa yang ku lihat barusan.

Sial, kenapa malah sampai tepat waktu sih. Kenapa tidak ada halangan di sepanjang jalan. Padahal tadi aku berharap mobil kita mogok, biar aku tak jadi tunangan.

"Aghhhh.....!," aku mengacak rambutku dengan kesal.

'Tok tok tok,' terdengar ketukan dari kaca luar mobil. Ada mama yang datang dengan senyumnya.

Aku menurunkan kaca, "ada apa Ma?" Tanyaku dengan malas.

"Ayo turun. Kenapa rambutmu berantakan. Calon tunangan harus rapi." Mama mulai lebbay, ia mengambil sisir di tasnya kemudian menyisir rambutku. Kenapa gak sekalian bedak sama pemerah bibirnya sekalian.

penulis SATE LALAT
judul MELELEH BAHAGIA






"Kamu harus menikah dengan Angga!" Ucap Bu Amel tanpa memberikan pilihan."Tapi Ma, Mbak Dila baru saja meninggal. Kubura...
18/06/2026

"Kamu harus menikah dengan Angga!" Ucap Bu Amel tanpa memberikan pilihan.

"Tapi Ma, Mbak Dila baru saja meninggal. Kuburannya masih basah dan Mama ingin aku menikahi suaminya?" Tanya Bella tak percaya.

Angga adalah suami dari kakaknya. Dan kakaknya baru saja menjnggal empat puluh hari yang lalu bersama janinya yang baru berusia tujuh bulan. Sekarang mamanya meminta Bella menikah dengan sang kakak ipar.

"Kenapa tidak, laki-laki tak punya masa iddah. Tidak ada halangan bagi Angga untuk segera menikah." Bu Amel masih mempertahankan argumennya.

"Ma, Mbak Dila anak mama juga. Dia anak kesayangan Mama. Dia baru meninggal, kita juga masih berduka. Kenapa mama malah memintaku menikah dengan suaminya. Kita masih berkabung Ma." Bella masih terus menolak.

Ya, Dila adalah anak kesayangan keluarganya. Bahkan orang tuanya menitipkan Bella pada sang kakek saat Bella masih kecil karena alasan Dila yang sering sakit-sakitan.

Mereka mengambil Bella lagi karena kakeknya meninggal. Tapi tak membuat perhatian mereka tercurah pada Bella. Bella terus merasakan bagaimana dirinya dianak tirikan oleh orang tuanya.

"Sekarang empat puluh hari meninggalnya Mbakmu. Tidak ada masalah jika kamu menikah seminggu lagi. Angga lelaki baik-baik. Mama tidak ingin kehilangan menantu sebaik dia. Bu Santi sendiri yang meminta agar mama bicara sama kamu. Dia ingin kamu menjadi menantunya. Atau dia akan mencarikan Angga wanita lain. Mama tidak ingin melewatkan kesempatan ini."

"Ma, aku liat sendiri bagaimana Kak Angga begitu mesra pada Mbak Dila. Aku yakin, dia masih berduka. Dia pasti tidak ingin menikah secepat ini." Bella masih saja berargumen.

"Kamu pikir, kamu masih punya pilihan?" Ucap Bu Amel memaksa.

"Seumur hidup harus dihabiskan dengan orang yang tidak mencintai kita itu terlalu lama Ma. Kak Angga jelas-jelas tak pernah melihatku. Aku berbeda jauh dengan Mbak Dila. Dia tak akan mau menikah denganku."

Penampilan Bella memang sangat berbeda dengan Dila. Bella memakai hijab, bajunya selalu kebesaran. Sedang Dila selalu berpenampilan modis. Rambutnya terurai indah. Dila juga lebih cantik dibanding Bella.

"Itu hanya teori kamu. Jangan mendebat mama! Sudahlah, pernikahanmu akan berlangsung satu minggu lagi." Bu Arum kemudian meninggalkan Bella seorang diri.

Bella menganga tak percaya, bagaimana mereka yang masih berduka malah merancang pernikahan dalam waktu satu minggu.

Hari ini adalah empat puluh hari meninggalnya Dila. Acara diadakan di rumahnya. Semua keluarga termasuk keluarga Angga ada di sana. Bella tak nyaman jika rencana mamanya malah terdengar oleh keluarga Angga.

# # # # #

Hari pernikan yang direncanakan ahirnya tiba. Semua serba mendadak. Pernikahan diadakan secara sederhana.

Tak masalah buat Bella, menikah sederhana memang impiannya. Tapi karena tak mendapat hak untuk bicara, itu yang jadi masalah buatnya.

Mama dan papanya tak mendengarkan dia sama sekali. Ingin rasanya kabur, tapi dia tak punya keluarga lain.

"Semua sudah siap. Bagaimana perasaanmu?" Tanya Bu Amel pada putrinya.

Kini, Bella sudah memakai riasan pengantin.

"Ma, boleh aku menolak pernikahan ini." Rengek Bella.

"Sekarang sudah hari pernikahan tapi kamu malah mau menolak. Kamu nggak kasian sama mama."

"Tapi aku sudah menolak rencana ini sejak awal."

"Sudahlah! Mama tidak mau membahas ini lagi. Rombongan pengantin pria akan segera tiba. Kamu bersiap saja!"

"Ma, aku tak yakin Kak Angga mau menikah denganku. Aku mohon, batalkan saja rencana ini." Bella ingin menangis saja, tapi dia tahan.

Bu Amel memilih pergi dari pada mendengar rengekan Bella.

Suara ramai mulai terdengar. Sepertinya rombongan pria sudah datang.

Bella hanya bisa menautkan jari-jarinya saat suara lantang Angga mengucapkan ijab kabul terdengar nyaring hingga ke kamarnya.

Saat para saksi mengucapkan 'sah,' Bella tergugu. Kini, dia tak sendiri lagi. Tapi Bella masih galau, dia tak yakin Angga memang menginginkan pernikahan ini.

Pintu kamar Bella dibuka, beberapa orang termasuk orang tua Angga masuk ke kamar sempitnya. Tapi tak nampak sosok lelaki yang baru sah menjadi suaminya.

Bu Santi membawa mahar seperangkat alat solat, dia tersenyum pada Bella.

"Maaf ya, Angga buru-buru pergi. Ada urusan mendadak." Bu Santi kemudian menyerahkan mahar itu.

Deg.

Benar dugaan Bella, pernikahan ini tak diinginkan Angga.

Cerita selanjutnya di kbm app
Judul : buku catatan pengagum rahasia
Penulis : haneybee

Address

Pamekasan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Belajar ID posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Belajar ID:

Shortcuts

Share

Category