22/08/2026
Mereka terus saja memperbincangkan Dara, menjadikannya bahan gosip dan menertawakan semau mereka.
"Nggak tau juga, siapa nanti lelaki yang mau sama Dara. Sudah kurus kering begitu. Cuma lulusan SMA."
"Haha.... haha..." suara riuh tawa terdengar. Mereka tidak tau saja jika Dara sudah menguping pembicaraan mereka sedari tadi.
Tapi seandainya tau, pasti keluarga besarnya tetap akan menghinanya.
"Dara! Apa yang kamu lakukan!" Ibunya kembali berteriak.
"Kamu nggak tau kalo kerjaan lagi banyak-banyaknya, malah bengong di sana!"
Dara tak menyahut, dia memilih bekerja. Mengadupun percuma, ibunya tak akan membelanya.
"Dara! Mana baju-bajuku yang kamu cuci!" Kini Aira yang berteriak.
Tak bisakah anggota keluarganya bicara baik-baik. Gendang telinganya terasa mau pecah.
"Baju yang mana mbak?" Dara segera berlari menuju mbaknya. Jika telat sedikit, mbaknya akan mengoceh panjang lebar.
"Baju yang tadi pagi kamu cuci. Kamu budeg ya!" Lagi, Aira berteriak. Padahal jarak mereka sangat dekat.
"Baju yang tadi pagi aku cuci belum ku angkat dari jemuran."
"Ya sudah sana ambil! Lelet banget jadi orang!"
"Aku kan baru pulang kerja Mbak."
"Siapa yang nanyak!" Sentak Aira.
Dara memilih pergi, tak ingin mendengar omelan dari kakak perempuannya itu.
"Jangan lupa disetrika yang rapi!" Teriak Aira lagi.
Dara menghela nafas dengan lelah. Pekerjaannya seakan tak ada habisnya. Belum selesai satu, sudah ada pekerjaan yang lain. Seolah-olah tak ada orang saja di rumah ini.
Suara alunan musik terdengar, mereka mulai menyetel sound system untuk menyambut tamu nanti malam.
Dara masih bergelut dengan baju-baju Aira yang menggunung dan harus disetrika semua sore ini.
"Padahal aku nggak pernah deket sama Raka loh tante. Aku nggak tau juga ternyata Raka menyukaiku diam-diam." Suara Aira terdengar dari ruang tengah. Keluarga besar mengelilinginya.
"Kamu beruntung sekali Aira. Jangan sia-siakan Raka. Selain PNS, dia juga tampan. Keluarganya juga kaya raya. Maklum, mantan Kepala Desa." Sahut seorang diantara mereka.
"Ya tentu d**g, aku tau mana yang terbaik untukku." Suara Aira sangat manja. Seolah dibuat-buat.
"Lalu nanti kamu kemanakan pacarmu itu." Kali ini suara Mela yang terdengar. Mela adalah sepupu mereka.
"Ya tinggal diputusin. Gitu aja repot."
"Kan sayang, dia tampan juga."
"Kalo kamu mau, ambil aja."
"Dih, ogah."
Mereka semua tertawa serempak. Entah mengapa mereka berkumpul, seolah tak ada kerjaan saja. Padahal acaranya sudah nanti malam.
Dara meletakkan baju-baju Aira di kamarnya. Kemudian dia ingin pergi ke ruang tengah. Berkumpul bersama keluarga besarnya. Ingin ngobrol santai juga.
"Mau kemana kamu Dara?" Tanya ibunya.
"Mau kumpul di sana Bu," tunjuk Dara ke keluarga besarnya.
"Enak saja, dari tadi kerjamu cuma duduk. Tuh di dapur masih banyak kerjaan."
"Tapi Bu...."
"Tapi apa, jangan s**a membantah ya kamu. Semua keluarga sudah bekerja dari pagi. Kamu belum kerja sama sekali malah mau malas-malasan."
"Aku kan baru pulang Bu. Aku kerja juga, hasil aku kerja juga diambil ibu semua."
"Heh, perhitungan ya kamu sekarang. Cuma uang tak seberapa yang kamu berikan itu, kamu sudah berani sama ibu! Sana pergi! Di dapur masih banyak kerjaan, cucian juga menumpuk!"
Dara mengusap punggungnya yang sakit, meski menyetrika hanya duduk, tapi lelah juga mengerjakan semuanya.
Setetes air mata lolos juga dari matanya. Bukan hanya lelah, tapi hatinya sakit diperlakukan seperti pembantu oleh keluarganya sendiri. Bahkan mungkin lebih parah dari pembantu.
Dara segera menghapus air mata itu. Dia tak membiarkan ada orang yang melihat, karena Dara tau konsekuensinya, dia akan dicibir dan dihina lebih dalam lagi.
Adzan magrib berkumandang, Dara baru selesai dengan pekerjaannya. Dia mengambil handuk yang tergantung, dia baru sempat mandi.
"Daraaaa!" Ibunya kembali berteriak.
"Apa Bu?" Dara menghentikan langkahnya.
"Kenapa kue-kue itu tidak ditata di depan!"
"Bu, aku baru selesai cuci piring. Banyak anggota keluarga yang lain. Kenapa Ibu tak menyuruh mereka saja?"
"Enak saja kamu membantah, cepat tata kue-kue itu!"
"Bu, sudah adzan magrib. Aku belum sempat mandi. Aku juga mau Sholat."
"Alasan saja kamu itu. Ibu tau, kamu cuma ingin bersantai."
"Bu, selepas Sholat nanti aku tata."
"Daaaraaaa!" Ibunya kembali mengomel, tapi kali ini tak Dara hiraukan.
Dia lebih memilih melakukan kewajibannya, pekerjaan tak akan selesai begitu saja. Jika dia tak menyempatkan solat, maka sampai tengah malampun dia tak akan punya waktu untuk solat.
Keluarga Raka mulai berdatangan. Mereka dari keluarga berada, mobil yang mereka gunakan juga mobil-mobil mewah.
Sangat timpang dengan keadaan keluarga ini. Rumah merekapun hanya berdinding bata sebagian dan sebagian besar berdinding triplek.
"Selamat datang pak," Pak Malik, ayah Dara menyambut kedatangan mereka dengan senang.
"Mohon maaf dengan keadaan keluarga kami, ya beginilah gubuk kami." Ucap Pak Malik merendah.
"Tak masalah toh Pak. Kami tidak melihat orang dari statusnya. Oh ya Pak, dimana calon tunangan Raka? Sepertinya Raka sudah tak sabar bertemu calon istrinya itu." Kini pak Agus, ayah Raka yang bicara.
"Ayo nak, keluar. Keluarga calon tunanganmu sudah datang." Pinta Pak Malik pada Aira.
Aira keluar dengan gaya khas yang anggun. Baju kebayanya menampilkan sosok dirinya yang begitu cantik.
"Loh pak, yang ingin kami lamar anak bungsu bapak, Dara. Bukan yang ini." Ucapa Pak Agus membuat suasana menjadi hening seketika.
SI BUNGSU
Penulis HANEYBEE
selengkapnya di KBM