20/06/2020
.ins
---
Pesan Habib Ali Kwitang Terkait Lambang NU
Pada sebuah siang, para kiai berkumpul di Kantor Partai Nahdatul Ulama. Mereka duduk di atas karpet yg digelar di sebuah ruangan besar. Mereka bermusyawarah di dalamnya untk menjawab masalah2 sosial keagamaan & kebangsaan yg muncul di era Sukarno. Pd musyawarah ini tampak hadir Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau lbh terkenal dgn Habib Ali Kwitang, Al-Habib Ali bin Husein Al-Athas atau Habib Ali Bungur, Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Athas. Habib Ali Kwitang memenuhi undangan anak angkatnya, KH Idham Chalid yg kala itu mrpkn Ketua Umum PBNU. Selesai musyawarah, semua hadirin tampak msh pd tempat duduk msng2. Mrk akn menyantap hidangan ala kadarnya yg disediakan tuan rumah.
Abdullah & bbrp pemuda NU ketika itu terlihat mengantrkn makanan & minuman yg disediakan. Pd gilirannya Abdullah berusaha duduk bersimpuh di hadapan Habib Ali. Ia pun menurunkan nampan kaleng bermotif warna-warni berisi makanan & minuman. Habib Ali Kwitang curiga dgn motif di balik nampan. Ia meminta Abdullah untk mengangkat nampan tersebut. Ktk diangkat, tampak lambang NU di pantat nampan. “Ini kok bisa begini. Maksudnya apa ini?” tanya Habib Ali Kwitang kpd Abdullah dgn suara pelan.
Ruangan mendadak senyap. Semua perbincangan para kiai dan segala aktivitas seisi ruangan berhenti. Semua mata tertuju pada Habib Ali Kwitang dan Abdullah.
“Iya bib, ini adalah penanda bahwa nampan ini milik Partai NU,” jawab Abdullah.
Habib Ali mengangguk. Ia kemudian memanggil anak angkatnya KH Idham Chalid. "Jangan kalian berani-berani membuat jatuh perkumpulan ini dengan meletakannya di bawah," kata Habib Ali menasihati penuh kasih syng layaknya org tua & anak.
Nasihat ini disaksikn dr dekat oleh Habib Ali bin Husein Al-Athas (Habib Ali Bungur), Habib Muhammad bin Ali Al-Athas, KH Muhammad Naim (Guru Naim Cipete), KH Falak Bogor, & para kiai lain yg duduk dekat dgn Habib Ali Kwitang.
Menangkap isyarat trsbt, Kiai Idham Chalid kemudian meminta pr pemuda untk mengganti nampan dgn piring sbg wadah makanan. Stlh insiden itu ruangan kembali ramai olh perbincangan para kiai. Semua hadirin menyantap mknn & minuman sblm bubar meninggalkn ruangan.
Sumber: NU ONLINE