18/04/2026
Di usia 16 tahun,
saat remaja lain sibuk sekolah dan bermain,
Dela justru harus berjuang di jalanan.
Ia tak bisa melihat sejak lahir.
Namun setiap hari,
ia tetap melangkahā¦
menyusuri jalan, menjajakan cemilan dari satu tempat ke tempat lain.
Namanya Rhianty Adella.
Seorang gadis tunanetra
yang memilih kuat di tengah keterbatasan.
Saat berjualan, ia bahkan harus menyebut dirinya āRiyanā.
Bukan tanpa alasanā
itu ia lakukan demi keamanan saat berkeliling sendirian.
Langkahnya penuh risiko.
Tanpa penglihatan, ia harus mengandalkan insting dan keberanian.
Namun hidup tak memberinya banyak pilihan.
Orang tuanya telah berpisah.
Kini hanya sang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga,
bekerja sebagai buruh rumah tangga dengan penghasilan tak menentu.
Kadang hanya Rp20.000āRp30.000 per hariā¦
bahkan sering kali tidak cukup.
Karena itu, Dela turun tangan.
Dengan keuntungan hanya Rp1.000āRp2.000 per bungkus,
ia harus berjalan lebih jauh⦠bahkan hingga ke luar kota.
Tak jarang, ia naik kereta api sendiri
demi menjual dagangannya.
Namun hasilnya tetap kecil.
Kadang hanya 3 bungkus yang terjual.
Artinyaā¦
hampir tak ada yang bisa dibawa pulang.
Kini, mereka hanya menumpang di rumah kerabat.
Hidup dalam keterbatasan yang tak pernah benar-benar usai.
Tapi di balik semua itu,
Dela menyimpan mimpi besar.
Ia sangat mencintai musik.
Dengan keterbatasannya,
ia mampu memainkan alat musik⦠terutama keyboard.
Bahkan, ia pernah tampil di sekolah karena bakatnya.
Namun hidup kembali menguji.
Keyboard yang ia cintaiā¦
terpaksa dijual demi kebutuhan sehari-hari.
Sejak saat itu,
mimpinya seolah ikut terhenti.
Namun tidak benar-benar hilang.
Di dalam hatinya,
Dela masih menyimpan harapan:
Ia ingin kembali bermain musik.
Ia ingin punya keyboard lagi.
Ia ingin menjadi guru musik.
Dan yang paling pentingā
ia ingin tetap sekolah dan membantu ibunya keluar dari kesulitan.
Di balik gelapnya dunia yang ia lihat,
Dela tetap menyalakan cahaya harapan.
Ia tak meminta banyak.
Hanya kesempatanā¦
untuk hidup lebih baik,
dan meraih mimpi yang sempat tertunda.