Halo Pandeglang

Halo Pandeglang Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Halo Pandeglang, News & Media Website, Pandeglang.

Namanya Empan Supandi…seorang guru honorer yang mungkin tak pernah masuk berita besar, tapi diam-diam menjadi alasan ban...
01/05/2026

Namanya Empan Supandi…
seorang guru honorer yang mungkin tak pernah masuk berita besar, tapi diam-diam menjadi alasan banyak mimpi an4k2 tetap hidvp.

Setiap hari, saat sebagian orang masih terlelap, beliau sudah melangkah—menembus dinginnya subuh, menyusvri jalan sejauh 12 kilometer… dengan kaki, bukan kendaraan. Tiga jam perjalanan bukan sekadar angka, itu adalah bukti cinta yang tak pernah ia ucapkan, tapi selalu ia perjuangkan.

Bayangkan… 14 tahun lamanya.
14 tahun berjalan tanpa lelah, tanpa keluhan berarti, hanya dengan gaji 200 ribu rupiah.
Jumlah yang bahkan mungkin habis dalam sekali belanja, tapi bagi beliau… cukup untuk tetap bertah4n, cukvp untuk tetap mengabdi.

Ia tak pernah menuntut lebih.
Tak pernah berhenti bersyukur, meski waktu habis di jalan, meski hidup tak selalu mudah.
Karena baginya, melihat an4k2 memahami pelajaran… adalah kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan apapun.

Ia berangkat setelah azan subuh, agar bisa tiba tepat waktu.
Bukan karena dia harus… tapi karena dia memilih untuk bertanggung jawab.

Di balik langkah-langkah yang melelahkan itu, ada harapan sederhana:
semoga suatu hari, ada yang melihat perjuangannya…
semoga ada tangan yang tergerak untuk mengharg4i pengabdiannya.

Pak Empan bukan sekadar guru.
Beliau adalah bukti nyata bahwa pahlawan tidak selalu memakai seragam kehormatan—
kadang, mereka hanya berjalan kaki… dalam diam… demi masa depan an4k bangsa.

Semoga kebaikan beliau tidak hanya menjadi cerita,
tapi juga menjadi panggilan bagi kita semua untuk lebih peduli.

Gemetar Tangan Renta di Balik Pahitnya Daun Singkong: "Kisah Abah Rustam dan Wina"Di saat kita sibuk memilih menu makan ...
01/05/2026

Gemetar Tangan Renta di Balik Pahitnya Daun Singkong: "Kisah Abah Rustam dan Wina"

Di saat kita sibuk memilih menu makan siang melalui aplikasi ponsel, di sudut kecil sebuah gubuk yang nyaris roboh, ada seorang lelaki tua yang sedang berjuang melawan perih di lambungnya.

Namanya Abah Rustam. Usianya sudah 83 tahun. Kulitnya sudah keriput dimakan usia, dan langkah kakinya tak lagi tegak. Namun, Abah tidak punya kemewahan untuk sekadar beristirahat di masa tuanya.

Setiap pagi, dengan mata yang mulai rabun, Abah meraba dinding rumah, berjalan ke belakang untuk memetik beberapa helai daun singkong. Bukan sebagai lalapan pelengkap ayam goreng, tapi itulah satu-satunya menu utama yang bisa ia hidangkan di atas piring seng yang sudah berkarat.

"Hanya ini yang Abah punya, Nak. Kadang kalau tidak ada, ya kita minum air putih saja yang banyak supaya perut tidak bunyi," ucapnya pelan dengan suara bergetar.

Mengapa Abah Tak Bisa Menyerah?

Alasannya adalah Wina. Putri tercintanya yang kini sudah dewasa namun memiliki kebutuhan khusus. Wina tidak bisa mencari nafkah, bahkan untuk mengurus dirinya sendiri pun sulit. Bagi Abah, Wina adalah dunianya.

Seringkali, Abah memberikan porsi rebusan daun singkong yang lebih banyak untuk Wina, sementara ia sendiri memilih menelan ludah, menahan lapar yang melilit demi memastikan sang anak tidak menangis karena perut kosong.

Potret Pilu di Tengah Negeri

Ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Di tengah gedung-gedung tinggi dan kemewahan yang sering kita pamerkan di media sosial, masih ada Abah Rustam yang:

Berusia 83 tahun tapi masih memikul beban hidup yang berat.

Makan seadanya hanya dari hasil alam di belakang rumah.

Sering berpuasa paksa karena benar-benar tidak ada beras sebutir pun.

Mari buka mata, buka hati. 💔

Terkadang, Tuhan menitipkan rezeki orang lain melalui tangan kita. Jangan biarkan Abah Rustam berjuang sendirian di sisa usianya. Kisah ini bukan sekadar narasi, tapi kenyataan pahit tentang kemiskinan yang nyata di depan mata kita.. .

Semoga dipertemukan sama orang dermawan mau membantu Abah dn anaknya.. Aamiin 🥹🤲

Untung : Guru Tanpa Tangan yang Mengajar dengan Hati dan KakiDi sebuah sudut Kabupaten Sumenep, Madura, hiduplah seorang...
01/05/2026

Untung : Guru Tanpa Tangan yang Mengajar dengan Hati dan Kaki

Di sebuah sudut Kabupaten Sumenep, Madura, hiduplah seorang pria yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik hanyalah dinding tipis yang bisa ditembus oleh tekad baja. Ia adalah Untung, pria kelahiran Desa Batang-batang Daya yang terlahir tanpa kedua belah tangan. Namun, di balik kekurangan itu, ia memikul tanggung jawab besar sebagai pelita bagi murid-muridnya.

Melawan Keraguan, Menembus Batas

Perjalanan Untung menjadi guru bukanlah jalan yang bertabur bunga. Saat kecil, ibunya sempat melarangnya bersekolah karena takut putra tercintanya menjadi sasaran ejekan. Namun, api cita-cita di dada Untung tak bisa padam. Ia sering mencuri-curi kesempatan untuk berangkat sekolah diam-diam bersama kakaknya.
"Dulu ibu melarang, tapi saya nekat pergi. Ejekan orang tentang kondisi saya itu biasa, yang penting saya harus punya pendidikan, pekerjaan, lalu menikah dan punya anak seperti orang lain," kenangnya dengan nada teguh.

Mengajar dengan Kaki, Menyentuh dengan Nurani
Kini, di usianya yang menginjak 51 tahun, Pak Guru Untung menjadi sosok sentral di MI dan MTs Miftahul Ulim Sumenep. Tak ada yang kurang dari caranya mengajar. Meski harus menggunakan kedua kakinya untuk menulis dan beraktivitas, ia dengan fasih mengampu mata pelajaran Al-Qur'an dan Bahasa Arab.

Bicara soal kesejahteraan, honor Rp600 ribu per bulan mungkin bagi sebagian orang terasa kecil. Namun bagi Untung, keberkahan adalah segalanya.

"Kalau dibilang kurang, tidak akan ada habisnya. Syukuri saja, yang penting berkahnya," ujarnya tulus. Dan benar saja, ketulusan itu membawanya dan keluarga mendapat hadiah umrah serta haji dari pihak-pihak yang tersentuh oleh dedikasinya.
Hujan Penghargaan: Dari Daerah hingga Nasional
Dunia akhirnya melihat cahaya yang terpancar dari kegigihan Untung. Tak hanya satu, berbagai penghargaan telah ia kantongi. Puncaknya, ia meraih Madrasah Award dan penghargaan ADIKTIS 2021 (Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam) kategori Unsur Masyarakat Peduli Madrasah di Jakarta.

Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Muhammad Ali Ramdhani, bahkan menyebut Untung sebagai simbol inovasi "without the box". Baginya, Untung adalah pengingat bahwa seorang pembelajar sejati tidak akan berhenti pada titik keterbatasan, melainkan terus beradaptasi dan menciptakan keajaiban.

Pesan untuk Masa Depan

Bagi Pak Guru Untung, profesi guru adalah panggilan jiwa untuk menginspirasi rekan-rekan difabel lainnya di seluruh Indonesia agar tidak menyerah.

"Kita mengajar untuk masa depan, bukan masa lalu. Jangan putus asa, tetaplah berkarya," pesannya singkat namun sarat makna.

Kisah Pak Guru Untung adalah pengingat bagi kita semua: bahwa yang membuat seseorang "lumpuh" bukanlah fisiknya, melainkan ketika ia kehilangan semangat untuk belajar dan memberi manfaat bagi sesama.


Di usia 16 tahun,saat remaja lain sibuk sekolah dan bermain,Dela justru harus berjuang di jalanan.Ia tak bisa melihat se...
18/04/2026

Di usia 16 tahun,
saat remaja lain sibuk sekolah dan bermain,
Dela justru harus berjuang di jalanan.

Ia tak bisa melihat sejak lahir.

Namun setiap hari,
ia tetap melangkah…
menyusuri jalan, menjajakan cemilan dari satu tempat ke tempat lain.

Namanya Rhianty Adella.

Seorang gadis tunanetra
yang memilih kuat di tengah keterbatasan.

Saat berjualan, ia bahkan harus menyebut dirinya “Riyan”.
Bukan tanpa alasan—
itu ia lakukan demi keamanan saat berkeliling sendirian.

Langkahnya penuh risiko.
Tanpa penglihatan, ia harus mengandalkan insting dan keberanian.

Namun hidup tak memberinya banyak pilihan.

Orang tuanya telah berpisah.
Kini hanya sang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga,
bekerja sebagai buruh rumah tangga dengan penghasilan tak menentu.

Kadang hanya Rp20.000–Rp30.000 per hari…
bahkan sering kali tidak cukup.

Karena itu, Dela turun tangan.

Dengan keuntungan hanya Rp1.000–Rp2.000 per bungkus,
ia harus berjalan lebih jauh… bahkan hingga ke luar kota.

Tak jarang, ia naik kereta api sendiri
demi menjual dagangannya.

Namun hasilnya tetap kecil.

Kadang hanya 3 bungkus yang terjual.

Artinya…
hampir tak ada yang bisa dibawa pulang.

Kini, mereka hanya menumpang di rumah kerabat.
Hidup dalam keterbatasan yang tak pernah benar-benar usai.

Tapi di balik semua itu,
Dela menyimpan mimpi besar.

Ia sangat mencintai musik.

Dengan keterbatasannya,
ia mampu memainkan alat musik… terutama keyboard.

Bahkan, ia pernah tampil di sekolah karena bakatnya.

Namun hidup kembali menguji.

Keyboard yang ia cintai…
terpaksa dijual demi kebutuhan sehari-hari.

Sejak saat itu,
mimpinya seolah ikut terhenti.

Namun tidak benar-benar hilang.

Di dalam hatinya,
Dela masih menyimpan harapan:

Ia ingin kembali bermain musik.
Ia ingin punya keyboard lagi.
Ia ingin menjadi guru musik.

Dan yang paling penting—
ia ingin tetap sekolah dan membantu ibunya keluar dari kesulitan.

Di balik gelapnya dunia yang ia lihat,
Dela tetap menyalakan cahaya harapan.

Ia tak meminta banyak.

Hanya kesempatan…
untuk hidup lebih baik,
dan meraih mimpi yang sempat tertunda.

Kaki Gemetar & Nafas Tersengal, Abah Karna Tetap Paksa Diri Jualan Hingga Belasan KMDi usianya yang sudah menginjak 86 t...
18/04/2026

Kaki Gemetar & Nafas Tersengal, Abah Karna Tetap Paksa Diri Jualan Hingga Belasan KM
Di usianya yang sudah menginjak 86 tahun, Abah Karna asal Cireunghas-Sukabumi seharusnya sudah beristirahat tenang di rumah yang nyaman. Namun, kenyataan hidup memaksanya untuk terus melangkah. Sudah hampir setengah abad, Abah menggantungkan hidupnya sebagai penjual roti keliling. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Abah menyusuri kampung demi kampung, memikul beban dagangan demi menyambung nyawa bersama istri tercinta.
Langkah kaki Abah kini tak lagi tegak. Rasa nyeri seringkali menyerang kakinya, memaksa Abah untuk sering terhenti di pinggir jalan hanya untuk sekadar mengatur napas dan mengusir rasa sakit. Perjuangan berat itu pun seringkali hanya dihargai dengan pendapatan yang sangat minim. Dalam sehari, Abah biasanya hanya membawa pulang Rp20.000 - Rp30.000 saja. Jumlah yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, apalagi untuk memperbaiki tempat tinggal mereka yang kian memprihatinkan.
Kondisi rumah Abah Karna sangat jauh dari kata layak. Ia dan istrinya tidur di atas lantai yang hanya beralaskan karpet tipis. Langit-langit rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu sudah mulai lapuk, membuat air hujan leluasa masuk dan membasahi seisi rumah.
Yang lebih menyedihkan, Abah tidak memiliki fasilitas MCK di rumahnya sendiri. Abah masih harus berjalan beberapa kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih atau sekadar mandi.

Di usia 70 tahun, Abah Amun masih berjualan kopi Rp5.000 demi bisa makan.Berjualan hingga malam tak menjamin hasil, kare...
18/04/2026

Di usia 70 tahun, Abah Amun masih berjualan kopi Rp5.000 demi bisa makan.

Berjualan hingga malam tak menjamin hasil, karena penghasilannya sering tak sampai 10 gelas per hari—bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan yang layak.

Ada hari di mana ia menahan lapar, hanya minum air, bahkan pernah makan nasi dengan garam karena tak ada pilihan.

Teman Baik, yuk bantu Abah Amun agar bisa hidup lebih layak dan tidak lagi menghadapi hari-hari dengan perut kosong🥹

🥹🤲🏻

Di sebuah tempat persingahan mobil dumptruck yang panasnya minta ampun, seorang sopir dump lagi santai nunggu giliran be...
18/04/2026

Di sebuah tempat persingahan mobil dumptruck yang panasnya minta ampun, seorang sopir dump lagi santai nunggu giliran berangkat angkut material. Tiba-tiba datang razia dari polisi, lengkap, rapi, dan bikin semua sopir dump langsung pasang muka “aman terkendali”.

“Tes urin ya, Pak,” kata petugas dengan senyum ramah tapi tegas agar membawa bahan materialnya aman
Si Joko salah satu sopir dump langsung panik dalam hati:
“Waduh… bukan karena narkob4 sih… tapi gimana kalau hasilnya aneh-aneh…”

Akhirnya, dengan ide yang menurutnya “jenius”, kebetulan istrinya joko sedang ikut muatan, dia pinjam sampel dari istrinya di WC umum tempat singgahan,
“Yang penting bersih,” pikirnya percaya diri.
Tes pun dilakukan. Semua sopir tegang. Petugas mulai membaca hasil satu per satu.

“Negatif… negatif… negatif…”
Sampai akhirnya tiba si sopir yang bernama joko tadi.
Petugas mengernyitkan dahi, lihat alatnya, lalu lihat lagi orangnya.

“Pa Joko” katanya pelan.
“Iya, Pak?” jawab si sopir mulai berkeringat.
“Ini hasilnya… bukan nark*ba sih…”
Sopir Joko langsung lega:
“Nah kan! Saya bilang juga bersih!”
Petugas lanjut, dengan wajah serius tapi menahan tawa:
“Selamat ya, Pak Joko… Anda dinyatakan… hamil.”
Suasana langsung hening…

1 detik…
2 detik…
kemudian Teman-teman sopir di belakang langsung pecah ketawa bruakaakaka.... 😀
Sopir yang bernama joko, itu bengong, lalu nyeletuk:
“Waduh… pa berarti saya ini statusnya apa??? ya, Pak…”
Petugas sampai ikut ketawa:
“Makanya Pak, kalau tes jangan ‘nitip’… nanti malah nambah status baru!”

Sejak hari itu, si sopir punya julukan baru di terminal:
“Pak Sopir 2 Jalur—darat sama kandungan.” 😁😅😄

Dulu, ia di4ntar ke wisuda n4ik becak.Hari ini, ia berdiri sebagai doktor di negeri orang. 🥹Siapa sangka, dari kayuhan s...
18/04/2026

Dulu, ia di4ntar ke wisuda n4ik becak.
Hari ini, ia berdiri sebagai doktor di negeri orang. 🥹
Siapa sangka, dari kayuhan sederhana seorang ayah, lahir perjalanan luar biasa yang menembus batas dunia.
Raeni, wisudawan terbaik UNNES 2014 dengan IPK 3,96, bukan hanya mengejar mimpi—ia membuktikan bahwa doa orang tua dan kerja keras benar-benar mampu mengubah takdir.
Dari kampus sederhana di Semarang,
melangkah jauh ke University of Birmingham dengan beasiswa LPDP,
hingga akhirnya meraih gelar doktor (S3) di bidang Akuntansi pada tahun 2023.
Semua ini berawal dari satu hal sederhana:
cinta dan pengorbanan seorang ayah.
Ia mengayuh becak setiap hari, bukan sekadar mencari nafkah,
tetapi mengantar masa depan anaknya sedikit demi sedikit.
Kini, Raeni bukan hanya kebanggaan keluarga,
tapi juga pengingat bagi kita semua—
bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Di balik toga itu,
ada tangan lelah yang tak pernah menyerah,
ada cinta yang tak pernah meminta balasan. ❤️
Kalau hari ini kamu merasa lelah,
ingatlah…
mimpi besar sering lahir dari perjuangan kecil yang tak pernah berhenti.

Di Desa Songoran, berdiri sebuah rum4h kecil yang hampir nggak terlihat dari jalan⁉️🥹😭🥲Rumah itu begitu sederhana, hanya...
18/04/2026

Di Desa Songoran, berdiri sebuah rum4h kecil yang hampir nggak terlihat dari jalan⁉️🥹😭🥲

Rumah itu begitu sederhana, hanya satu ruangan dengan kasur tipis dan kayu yang mulai l4puk.

Di sanalah Nenek Jumilah, 85 tahun, menjalani hari-harinya seorang diri. Sudah 15 tahun ia hidvp tanpa su4mi, tanpa an4k, tanpa siapa pun yang menemani.

Namun, di balik tvbvh rent4nya, Nenek Jumilah masih berju4n9 setiap hari.

Ia mencari kayu bakar di hutan kecil dekat rumahnya, mengikatnya, lalu berjalan jauh menjual dari rumah ke rumah. “Kayu bakar, buk..dua puluh ribu saja seikat” ujar nenek Jumilah.

Tapi, kadang ada yang beli, kadang nggak. Saat nggak ada yang laku, ia hanya bisa men4h4n l4p4r dan berdiam sambil berdo4 semoga esok ada rezeki untuknya bisa makan.

Di usi4 senj4nya, ia masih ku4t dan berju4n9 untuk mencari sesuap nasi tanpa meminta bel4s kasihan. Nenek Jumilah harus ku4t dan sab4r.

Namanya Ika Musyafira…Seorang an4k kecil kelas 4 SD yang hidvpnya terlalu ber4t untuk dipikvl sendiri 🥹Sejak dalam k4ndu...
16/04/2026

Namanya Ika Musyafira…
Seorang an4k kecil kelas 4 SD yang hidvpnya terlalu ber4t untuk dipikvl sendiri 🥹

Sejak dalam k4ndun94n, ia sudah kehil4ngan sos0k ayah.
Dan di usia 5 tahun… ibunya pergi merant4u—tanpa kabar, tanpa kembali.

Sejak saat itu, Ika belajar arti hidvp… sendirian.

Sepulang sekolah, saat an4k2 lain tertawa dan bermain,
Ika justru menyusvri kebun-kebun warga…
Mengumpulkan dan mengik4t daun pisang, lalu menjualnya dari kampung ke kampung.

Seharian berjalan di bawah terik matahari,
hasil yang ia dapat hanya sekitar Rp4.000…
bahkan belum cukup untuk membeli beras.

Ika tidak punya tas sekolah.
Tidak punya sepatu.
Buku pun hanya satu.

Makan sehari-hari⁉️
Seringkali hanya nasi…
bahkan kadang nasi sisa kemarin.

Ada hari-hari di mana dagangannya tak laku…
dan ia pulang dengan tangan k0s0n9…
menah4n lap4r, menah4n sed1h… sendirian.

Di usia yang seharusnya dipenvhi tawa dan mimpi,
Ika justru belajar bertah4n hidvp.

Ini bukan tentang an4k yang lem4h.
Ini tentang seorang an4k kecil…
yang dipaksa dewasa terlalu cepat oleh keadaan.

Hari ini…
kita mungkin tidak bisa mengub4h masa lalunya.
Tapi kita bisa menjadi alasan Ika tetap melangkah.

Kita bisa jadi harapan…
yang selama ini tidak pernah ia miliki.

🤍 Karena kadang, satu kebaikan kecil…
bisa menjadi segalanya bagi seseorang yang sudah kehil4ngan semuanya.

Address

Pandeglang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Halo Pandeglang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share