Sejuta fakta

Sejuta fakta FAKTA MENARIK DARI SELURUH DUNIA

Pemerintah Kabupaten Bantul dikabarkan akan menggalakkan budidaya tanaman sorgum sebagai upaya memperkuat ketahanan pang...
05/08/2026

Pemerintah Kabupaten Bantul dikabarkan akan menggalakkan budidaya tanaman sorgum sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus menyediakan sumber karbohidrat alternatif pengganti beras. Tanaman ini sebenarnya pernah sukses dikembangkan di Bantul pada periode 2013 hingga 2015 dengan produktivitas tinggi mencapai 6–7 ton per hektare. Sayangnya, kegiatan budidaya tersebut sempat terhenti akibat kendala rantai pemasaran dan tingkat harga jual yang tergolong rendah pada saat itu.

Kini, budidaya sorgum dihidupkan kembali dengan memanfaatkan lahan-lahan marginal yang selama ini belum produktif di Kalurahan Karangtengah, Imogiri. Langkah ini dinilai sangat strategis karena memberikan nilai ekonomi ganda bagi para petani. Selain bijinya dimanfaatkan sebagai bahan pangan kaya nutrisi, bagian batang dan daunnya juga dapat diolah menjadi pakan ternak. Pemkab Bantul berharap terobosan ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani lokal sekaligus menekan angka ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi beras secara bertahap.

Di berbagai daerah Jawa, sorgum sebenarnya bukan hal asing dan lebih dikenal dengan sebutan canthel. Sajian sego canthel hangat yang disantap bersama gurihnya sayur lodeh atau tumis tempe lombok ijo selalu berhasil membangkitkan kenangan nostalgia masa kecil. Kalau di daerahmu, biasanya sorgum atau canthel ini diolah menjadi makanan apa?

Dulu, nyari cupang Jawa atau Betta picta di parit dan sawah itu gampang banget. Tinggal bawa serok, sebentar juga sudah ...
05/08/2026

Dulu, nyari cupang Jawa atau Betta picta di parit dan sawah itu gampang banget. Tinggal bawa serok, sebentar juga sudah dapat.

Tapi sekarang kondisinya jauh berbeda. Menurut IUCN, cupang Jawa berstatus Near Threatened atau hampir terancam. Bukan karena sudah punah, melainkan karena habitat alaminya di Pulau Jawa terus menyusut akibat alih fungsi lahan, pencemaran pestisida, hingga praktik penangkapan ikan menggunakan setrum.

Akibatnya, ikan endemik asli Indonesia ini kini semakin sulit ditemukan di alam. Padahal dulu keberadaannya begitu akrab di perairan sawah dan parit.

Kalau kamu, masih ingat pernah menemukan cupang Jawa di alam? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar.

Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Riau setelah gajah binaan Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas bernama Jovi (46) diny...
04/08/2026

Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Riau setelah gajah binaan Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas bernama Jovi (46) dinyatakan mati pada Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB, usai tim dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berjuang memberikan perawatan medis intensif selama 34 hari berturut-turut.

Gajah jantan dewasa yang selama ini berjasa besar membantu penanganan konflik manusia dan satwa liar di Provinsi Riau tersebut menghembuskan napas terakhir akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang memicu kelemahan otot berat atau miopati. Jovi bahkan sempat menjadi sorotan publik saat bertugas sebagai "petugas upacara" pembacaan teks UUD 1945 pada peringatan HUT ke-80 RI tahun lalu.

Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Ujang Holisudin, menjelaskan gejala sakit mulai terlihat sejak 1 Juli 2026, ditandai kelemahan umum, hilangnya nafsu makan, tremor, kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor, hingga kesulitan berdiri. Tim medis segera memberikan penanganan intensif sesuai standar operasional, meliputi terapi cairan infus selama 24 jam, pemberian vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta pemeriksaan laboratorium berkala.

Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, mengungkapkan sempat ada secercah harapan selama masa perawatan, ketika kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor Jovi berangsur berkurang, nafsu makannya membaik, bahkan pada hari keenam ia sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah, disertai penurunan tingkat infeksi berdasarkan hasil laboratorium darah berkala.

Di balik suara kicauannya yang merdu dan gerakannya yang lincah, sikatan kipas merupakan salah satu burung kecil yang me...
04/08/2026

Di balik suara kicauannya yang merdu dan gerakannya yang lincah, sikatan kipas merupakan salah satu burung kecil yang memiliki peran penting bagi lingkungan. Burung ini dikenal sebagai pemburu serangga alami, termasuk nyamuk dan berbagai serangga kecil yang sering berada di sekitar rumah.

Dengan ekornya yang dapat dikembangkan seperti kipas, burung ini memiliki penampilan yang mudah dikenali. Sikatan kipas sering terlihat bergerak cepat dari satu ranting ke ranting lain, lalu tiba-tiba menyambar serangga yang sedang terbang di udara.

Namun, pemandangan sikatan kipas di pekarangan rumah kini mulai semakin jarang ditemukan. Perubahan lingkungan, berkurangnya pepohonan, penggunaan pestisida, serta hilangnya ruang hijau membuat burung ini semakin sulit mencari tempat berlindung dan sumber makanan.

Padahal, keberadaan sikatan kipas memberikan manfaat besar bagi manusia. Sebagai predator alami, burung ini membantu mengendalikan jumlah serangga tanpa perlu menggunakan bahan kimia. Kehadirannya di pekarangan sebenarnya menjadi tanda bahwa lingkungan masih cukup sehat dan memiliki keseimbangan ekosistem.

Selain membantu mengurangi nyamuk, sikatan kipas juga berperan dalam menjaga rantai makanan di alam. Hilangnya burung pemakan serangga dapat menyebabkan pop**asi serangga tertentu meningkat dan mengganggu keseimbangan lingkungan.
Untuk menjaga agar sikatan kipas tetap hadir di sekitar kita, masyarakat dapat menyediakan ruang hijau kecil di rumah, menanam pohon atau tanaman yang menarik serangga sebagai sumber makanan, serta mengurangi penggunaan racun serangga secara berlebihan.

Burung kecil ini mungkin terlihat sederhana, tetapi perannya sangat besar. Jika sikatan kipas semakin jarang terlihat di pekarangan, bisa jadi itu adalah tanda bahwa alam di sekitar kita mulai kehilangan salah satu penjaga kecilnya.

Di antara ribuan jenis ular yang hidup di bumi, hanya satu yang diketahui mampu membangun sarang layaknya burung. Ular i...
04/08/2026

Di antara ribuan jenis ular yang hidup di bumi, hanya satu yang diketahui mampu membangun sarang layaknya burung. Ular itu adalah kobra raja, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Ophiophagus hannah. Jika ular pada umumnya hanya meletakkan telurnya di celah batu, lubang tanah, atau tumpukan daun yang sudah ada, kobra raja betina justru bersusah payah mengumpulkan bahan, menyusun, dan memadatkannya hingga menjadi gundukan yang kokoh dan berbentuk seperti sarang buatan sendiri.

Kobra raja sendiri merupakan ular berbisa terpanjang di dunia, yang tubuhnya dapat tumbuh hingga mencapai tiga hingga empat meter. Ia tersebar luas di kawasan Asia, mulai dari India, Asia Tenggara, hingga sebagian wilayah Indonesia. Meski disebut kobra, sesungguhnya ia bukan kerabat dekat kobra biasa, melainkan satu-satunya jenis dalam kelompoknya yang berdiri sendiri.
Alasan mengapa kobra raja bersusah payah membangun sarang ternyata berkaitan erat dengan nasib telur-telurnya. Di dalam gundukan daun yang menumpuk itu, proses pembusukan menghasilkan panas yang menjaga suhu tetap hangat dan stabil, sehingga telur dapat berkembang dengan baik meskipun cuaca di luar berubah-ubah.

Selain itu, tumpukan daun yang tebal dan padat juga melindungi telur dari gangguan hewan pemangsa serta menjaganya agar tidak terlalu lembap atau terendam air hujan. Setelah sarang selesai dibangun dan telur diletakkan, induknya pun tidak pergi begitu saja. Ia akan tetap berada di dekat sarang dan menjaganya sepanjang masa pengeraman yang berlangsung sekitar tiga bulan lebih. Perilaku unik ini ternyata berkaitan p**a dengan jumlah telur yang dihasilkan. Kobra raja hanya mengeluarkan sekitar dua puluh hingga empat puluh butir telur dalam satu kali bertelur. Dengan jumlah yang relatif sedikit, sangat masuk akal jika induknya berusaha sekuat tenaga menjaga dan melindungi setiap butir telur agar peluang menetas menjadi lebih besar.

Sebaliknya, ular lain yang bertelur jauh lebih banyak biasanya cukup menyebarkan telurnya di berbagai tempat tersembunyi, sehingga meskipun sebagian hilang, sebagian lainnya tetap dapat bertahan hidup. Cara kobra raja membangun sarang pun cukup menarik. Induknya akan menyapu dan mengumpulkan daun kering serta serasah menggunakan tubuhnya, lalu menyusunnya lapis demi lapis hingga terbentuk gundukan yang tinggi dan padat. Di bagian dalam gundukan itu, ia membuat ruang khusus sebagai tempat meletakkan telur-telurnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa kobra raja tidak memilih tempat secara sembarangan. Ia justru sangat teliti menentukan lokasi yang memiliki ketebalan serasah yang tepat, suhu yang sesuai, serta kelembapan yang mendukung agar telur-telurnya dapat menetas dengan baik.

Sayangnya, meskipun memiliki keistimewaan yang luar biasa, kobra raja kini semakin jarang ditemui dan dikategorikan sebagai satwa yang rentan punah. Penyebab utamanya adalah rusaknya hutan tempat tinggalnya serta konflik dengan manusia. Padahal keberadaan kobra raja di alam sangatlah bermanfaat, terutama karena ia merupakan pemangsa bagi berbagai jenis ular lain, sehingga membantu menjaga keseimbangan alam. Perilaku membangun sarang yang dimilikinya juga menjadi bukti betapa rumit dan luar biasanya makhluk hidup ini, sekaligus mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga kelestariannya agar terus dapat ditemukan di alam liar.

Bayangkan melihat sebuah bus sekolah berhenti di depan rumah. Namun yang naik bukan anak-anak berseragam, melainkan anji...
04/08/2026

Bayangkan melihat sebuah bus sekolah berhenti di depan rumah. Namun yang naik bukan anak-anak berseragam, melainkan anjing-anjing yang duduk rapi menunggu giliran berangkat. Pemandangan unik ini benar-benar ada di Kanada dan telah menarik perhatian jutaan orang di media sosial.

Layanan tersebut merupakan bagian dari penitipan dan rekreasi anjing yang menyediakan antar-jemput menggunakan bus khusus. Setiap pagi, anjing dijemput dari rumah pemiliknya, lalu dibawa ke area bermain yang aman dan berpagar untuk berlari, bersosialisasi, serta beraktivitas bersama anjing lain. Setelah seharian bermain, mereka diantar kembali ke rumah dalam keadaan lelah namun bahagia.

Beberapa penyedia layanan bahkan memodifikasi bus sekolah agar lebih aman bagi penumpang berkaki empat. Bus dilengkapi sekat, sabuk pengaman atau sistem pengikat khusus, serta pengawasan dari staf yang berpengalaman dalam menangani anjing. Tujuannya bukan sekadar transportasi, tetapi juga memberikan stimulasi fisik dan sosial bagi hewan peliharaan yang sering ditinggal pemiliknya bekerja seharian.

Fenomena “bus sekolah anjing” ini semakin populer setelah video-video yang menampilkan puluhan anjing duduk rapi di dalam bus viral di internet. Banyak warganet mengaku terhibur melihat tingkah lucu para anjing yang tampak antusias setiap kali bus datang menjemput mereka. Bahkan sejumlah video berhasil meraih jutaan hingga puluhan juta penayangan.

Bagi para pemilik, layanan ini menjadi solusi praktis agar anjing tidak merasa bosan atau kesepian saat harus ditinggal di rumah. Sementara bagi anjing, setiap hari terasa seperti pergi bertamasya bersama teman-temannya.

Sumber:
The Doggie Bus (Kanada)

Seekor Owa Ungko (Hylobates  agilis) jantan berusia sekitar delapan tahun yang sebelumnya  menjadi korban penembakan pem...
04/08/2026

Seekor Owa Ungko (Hylobates agilis) jantan berusia sekitar delapan tahun yang sebelumnya menjadi korban penembakan pemburu liar, kini dilaporkan mulai menunjukkan kondisi yang membaik setelah menjalani perawatan intensif di Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.

Satwa dilindungi tersebut ditemukan warga pada 26 Juli 2026 di Desa Guruh Baru, Kecamatan Mandiangin Timur, Kabupaten Sarolangun, dalam kondisi lemah akibat luka tembak pemburu Rakus. Tim BKSDA bersama tenaga medis kemudian segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan agar kondisinya stabil.

Owa Ungko merupakan primata endemik Sumatra yang berstatus Terancam Punah (Endangered) menurut IUCN Selain menghadapi ancaman hilangnya habitat, perburuan dan pembantaian terhadap satwa liar masih menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup spesies ini. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa satwa liar adalah bagian penting dari ekosistem yang harus kita lindungi, bukan disakiti.
Pemburu liar itu hobi yang merusak dan membahayakan.
Jangan normalisasi para pemburu liar di lingkungan sekitar.

Di tengah menjamurnya kopi spesial dari berbagai belahan dunia, ada satu jenis kopi asal Brasil yang berhasil menarik pe...
03/08/2026

Di tengah menjamurnya kopi spesial dari berbagai belahan dunia, ada satu jenis kopi asal Brasil yang berhasil menarik perhatian para pecinta kopi premium. Bukan karena cara menyangrainya atau varietas bijinya, melainkan karena proses alaminya yang melibatkan burung liar bernama jacu.

Kopi ini dikenal sebagai Jacu Bird Coffee atau kopi jacu. Biji kopinya berasal dari buah kopi matang yang dimakan oleh burung jacu, kemudian dikeluarkan kembali bersama kotorannya dalam kondisi biji masih utuh. Setelah dikumpulkan, biji kopi dibersihkan, disterilkan, dikeringkan, lalu diproses seperti kopi pada umumnya.

Burung jacu merupakan satwa asli Hutan Atlantik Brasil yang dikenal sangat selektif dalam memilih buah kopi. Burung ini hanya memakan buah yang benar-benar matang, sehingga secara tidak langsung melakukan seleksi alami terhadap biji kopi berkualitas tinggi. Proses inilah yang membuat kopi jacu memiliki cita rasa yang lebih lembut, tingkat keasaman seimbang, serta aroma yang kompleks.

Menariknya, keberadaan burung jacu awalnya dianggap sebagai hama oleh para petani kopi. Namun, setelah terinspirasi dari kopi luwak Indonesia, salah satu perkebunan di Brasil justru mengubah "masalah" tersebut menjadi peluang bisnis bernilai tinggi. Kini, burung-burung itu dibiarkan hidup bebas di habitat alaminya tanpa dipelihara dalam kandang, sehingga proses produksinya dinilai lebih ramah terhadap kesejahteraan satwa.

Produksi kopi jacu sangat terbatas karena sepenuhnya bergantung pada musim panen dan kebiasaan makan burung liar. Seluruh proses pengump**an kotoran hingga pemisahan biji dilakukan secara manual, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Kelangkaan inilah yang membuat harganya melambung tinggi.

Saat ini, harga Jacu Bird Coffee dapat mencapai sekitar Rp1,5 juta per kilogram di Brasil, bahkan di pasar internasional bisa dijual jauh lebih mahal tergantung kualitas dan negara tujuan ekspor. Produk ini menjadi salah satu kopi paling eksklusif di dunia dan dipasarkan ke berbagai negara di Eropa, Asia, hingga Timur Tengah.

Meski sering disebut sebagai salah satu kopi termahal di dunia, Jacu Bird Coffee bukanlah yang paling mahal secara absolut. Beberapa kopi langka lain, seperti Black Ivory Coffee dari Thailand, masih memiliki harga yang lebih tinggi. Namun, kopi jacu tetap menempati jajaran kopi premium dunia berkat proses produksinya yang unik, jumlahnya yang sangat terbatas, dan kualitas rasa yang dihasilkan.

Kisah kopi jacu membuktikan bahwa inovasi dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan. Burung yang dulu dianggap merugikan kini justru menjadi bagian penting dalam menghasilkan salah satu kopi paling eksklusif yang diburu para penikmat kopi di berbagai penjuru dunia.

Di sejumlah negara Eropa, sebagian peternak menggunakan rompi berduri khusus untuk membantu melindungi domba dari serang...
03/08/2026

Di sejumlah negara Eropa, sebagian peternak menggunakan rompi berduri khusus untuk membantu melindungi domba dari serangan serigala. Rompi ini dibuat dari bahan sintetis yang kuat dan dilengkapi duri-duri plastik fleksibel di bagian luar.

Fungsinya bukan untuk melukai serigala, melainkan membuat predator lebih sulit menggigit atau mencengkeram tubuh domba saat menyerang. Dengan begitu, penggembala atau anjing penjaga ternak memiliki lebih banyak waktu untuk datang dan mengusir serigala sebelum domba mengalami luka yang lebih parah.

Penggunaan rompi pelindung seperti ini semakin dikenal di beberapa wilayah Eropa seiring meningkatnya kembali pop**asi serigala dalam beberapa dekade terakhir. Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mengurangi kehilangan ternak tanpa harus membahayakan satwa liar, sehingga peternakan dan konservasi dapat berjalan berdampingan.

Burung Ini Sudah Lama Dianggap Pembawa Pertanda di Tanah Jawa. Benarkah?Di tengah masyarakat Jawa, ada satu burung yang ...
03/08/2026

Burung Ini Sudah Lama Dianggap Pembawa Pertanda di Tanah Jawa. Benarkah?

Di tengah masyarakat Jawa, ada satu burung yang sejak dulu sering dikaitkan dengan berbagai pertanda. Burung itu dikenal sebagai burung dares atau manuk dares. Banyak orang menganggap kemunculannya bukan sekadar kebetulan, melainkan membawa pesan tertentu.

Menariknya, burung dares sebenarnya adalah burung hantu lumbung (Tyto alba). Burung ini mudah dikenali dari wajahnya yang berbentuk hati, mata hitam pekat, serta bulu berwarna putih kecokelatan dengan bercak-bercak gelap. Dahulu mereka hidup di hutan dan bersarang di lubang pohon besar. Namun karena habitatnya semakin berkurang, kini burung ini lebih sering ditemukan di bangunan tua, gudang, lumbung, hingga menara yang sepi.

Sebagai pemburu malam, makanan utamanya adalah tikus, curut, katak, kadal, serangga, dan hewan kecil lainnya. Karena kemampuannya memangsa tikus dalam jumlah banyak, burung ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi petani dan sering dimanfaatkan sebagai pengendali hama secara alami.

Meski begitu, berbagai kepercayaan turun-temurun masih melekat pada burung ini. Di sejumlah daerah di Jawa, suara burung dares dipercaya memiliki makna tertentu. Ada yang meyakini jika suaranya terdengar melintang melintasi arah desa pada malam hari, itu menjadi pertanda akan ada warga yang meninggal. Sebaliknya, jika suara itu terdengar memanjang searah desa, sebagian masyarakat menganggapnya sebagai pertanda akan ada kelahiran.

Di daerah lain, yang dipercaya bukan suaranya, melainkan kehadirannya. Burung dares yang hinggap di atap rumah sering dianggap sebagai pertanda akan datangnya musibah atau kabar buruk. Karena itulah, sebagian warga berusaha mencegah burung ini bersarang di sekitar rumah mereka.

Terlepas dari berbagai kepercayaan tersebut, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa burung dares dapat membawa pertanda baik maupun buruk. Yang pasti, burung ini merupakan predator alami yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengendalikan pop**asi tikus dan hewan pengerat lainnya.

Lalu bagaimana menurutmu? Apakah burung dares hanyalah burung hantu biasa yang diselimuti mitos, atau kamu pernah mendengar cerita serupa dari daerahmu?

Address

Jalan Raya Labuan
Pandeglang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sejuta fakta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sejuta fakta:

Shortcuts

Share