Love Advice

Love Advice Daily Vlog Asrianidr 🄰
(1)

Nasuha (15), ia hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya meninggal. Ayahnya meningg4l saat ia masih didalam kandung...
13/05/2026

Nasuha (15), ia hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya meninggal. Ayahnya meningg4l saat ia masih didalam kandungan dan ibunya karena kecel4kaan lalu lintas 10 tahun kemudian.😄

Saat itu, ia tinggal bersama kakek dan neneknya namun, mereka pun meningg4l karena s4kit-s4kitan.
Tidak lama kemudian ia tinggal bersama bibinya, namun ia di usir dan sekarang Nasuha harus tinggal sendirian dirumah kontrakan. Nasuha sekarang benar-benar sendirian.

Setiap hari ia harus berjualan abu cuci piring demi bisa makan dan terus sekolah.

Nasuha hanya seorang buruh upahan, hanya 20 ribu per hari yang didapat. Itulah yang digunakan untuk membeli beras daan membayar kontrakan. Sisanya ia tabung.
Sedangkan, Nasuha harus segera membayar tunggakan di sekolah dan terancam tak bisa ikut ujian. Ia harus terus keliling jualan demi bisa membayar tunggakan sekolah, ia tak mau sampai berhenti sekolah.

Raut Bocah 10 tahun ini berjualan mie demi bisa makan dan melanjutkan sekolah.Ayahnya sudah meninggal saat ia berumur 12...
13/05/2026

Raut Bocah 10 tahun ini berjualan mie demi bisa makan dan melanjutkan sekolah.
Ayahnya sudah meninggal saat ia berumur 12 hari, sedangkan ibunya, Sri (41) berjualan sarapan (mie goreng, nasi goreng, dan lain-lain) di sekolah Raut.
Raut juga membantu sang ibu untuk berjualan mie goreng di salah satu pasar tak jauh dari rumahnya.
Mie tersebut dibuat oleh ibunya dan sang kakak, Putra (14). Kemudian, di bungkus lalu dijual.

"Setiap hari kami makan mie instan kak. Ibu beli 4 bungkus yang harganya 5 ribu. 2 bungkus untuk siang, 2 bungkus lagi untuk malam,"
Raut juga bercerita bahwa ia ingin sekali memilki sepatu sekolah baru. Pasalnya, sepatu yang kini ia pakai sudah bolong, dan kaos kakinya kerap basah jika terkena air.

Rangga (12) sejak usianya 2 tahun ia harus kehilangan ayah nya karena s4kit yang diderit4, sejak itulah ibunya harus ber...
13/05/2026

Rangga (12) sejak usianya 2 tahun ia harus kehilangan ayah nya karena s4kit yang diderit4, sejak itulah ibunya harus berjuang mencari nafkah sendirian.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ibunya bekerja menjadi pelayan di rumah makan orang lain, upah yang didapat pun dalam sehari hanya 30 ribu.
Tak ingin melihat ibu nya berjuang sendirian, sudah 1 tahun ini ia membantu ibunya mencari uang dengan keliling menjual makanan yang ada di rumah makan tempat ibunya bekerja. Ia setiap hari harus berjalan menawarkan makanan yang dijual nya kepada orang yang ditemui nya tanpa alas kaki karena ia cerita ga punya sandal.
Rangga cerita, ia keliling berjualan dari siang hingga sore,semua itu dilakukan nya setelah p**ang sekolah. Setelah p**ang sekolah, ia langsung bergegas berjualan, upah yang didapat pun hanya 500 rupiah dari setiap bungkus makanan yang terjual, paling dalam sehari ia hanya mendapat 5-10 ribu.
Hasil jualan nya, Rangga berikan kepada ibu nya untuk membantu kebutuhan sehari-hari dan sekolah nya.

Gurat lelah terpancar dari raut wajahnya, tangannya membawa kotak dagangan buah nanas yang masih penuh belum laku terjua...
13/05/2026

Gurat lelah terpancar dari raut wajahnya, tangannya membawa kotak dagangan buah nanas yang masih penuh belum laku terjual hingga sore hari.
Di usia 15 tahun, seharusnya Fahmi menikmati masa remaja bersama teman sebaya, dan fokus belajar di sekolah. Namun hidup berkata lain, sang ayah meninggal4l dunia karena kecel4kaan ketika Fahmi dalam kandungan sang ibu.
Fahmi dan kedua adiknya tumbuh tanpa kasih sayang sang ayah, sang ibu yang dulunya sebagai tulang punggung keluarga, sudah 2 tahun ini sakit-sakitan karena penyakit jantung yang dideritanya. Dengan terpaksa Fahmi harus putus sekolah dan mengantikan peran sang ibu menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan.
Anak sekecil ini harus menghabiskan separuh hidupnya untuk berjuang menafkahi ibu dan kedua adiknya, belum lagi ia juga harus merawat sang nenek yang sudah sangat renta. Beban di pundaknya begitu berat.
Setiap hari dari pagi hingga sore Fahmi berkeliling menjajakan dagangannya dan pada siang harinya sang adik menemani Fahmi berjualan.
Tak setiap hari buah nanas yang dijualnya laku. Bisa dapat 30-40 ribu sehari saja sudah Alhamdulillah. Tapi untuk dapat penghasilan tersebut amatlah sulit. Tak jarang jika dagangannya belum habis terjual, Fahmi harus p**ang sampai malam. Namun dibalik perjuangan tersebut, ia selalu sisihkan sedikit tabungan untuk sekolah adiknya.
Namun sayang, binar wajahnya sedikit memudar saat ia bercerita duka yang ia alami. Rasa khawatir terus mendera batinnya. Ada perasaan takut ditabrak pengendara motor, takut diusir dan dimarahi. Namun sekuat tenaga ia lepas perasaan takut itu. Karena Fahmi harus berjuang keras agar keluarga kecilnya dapat bertahan hidup.

Langkah berat Abah Aton, seorang difabel yang tak pernah menyerah, terus menyusuri hari demi sesuap nasi.Di usianya yang...
13/05/2026

Langkah berat Abah Aton, seorang difabel yang tak pernah menyerah, terus menyusuri hari demi sesuap nasi.
Di usianya yang telah menginjak 73 tahun, seharusnya Abah Aton bisa beristirahat dengan tenang dan menikmati masa tua bersama istri tercinta. Namun takdir berkata lain.
Dengan tubuh yang semakin renta, langkah yang terseok-seok, dan satu tangan yang tak sempurna, Abah Aton masih harus mengayuh hidup. Setiap hari ia berkeliling kampung menjajakan sayuran. Keranjang berat di pundaknya terasa jauh lebih berat dibanding usianya yang kian menua.
Di sela napas yang tersengal, Abah Aton tetap berusaha tersenyum saat ada tetangga yang membeli dagangannya. Namun hasil dari kerja keras seharian itu hanya sekitar Rp20.000 per hari, jumlah yang bahkan tak cukup untuk mengisi perutnya dan sang istri tercinta.

Sejak lahir, Abah Aton memang hidup dengan keterbatasan fisik. Tangan kanannya kecil layaknya tangan anak-anak sehingga ia hanya bisa mengandalkan tangan kirinya yang normal. Penglihatannya pun semakin menurun dimakan usia. Bola mata sebelah kiri tak pernah ia miliki, dan kini mata kanannya perlahan mulai rabun.
Namun di balik semua keterbatasan itu, masih ada penderitaan lain yang jauh lebih menyesakkan dada.

Di rumah gubuk kecil yang lapuk dan penuh lubang, Abah Aton harus merawat istrinya yang menderita radang usus. Peny4kit tersebut muncul karena terlalu sering menahan lapar.
Betapa pedih hati seorang suami ketika melihat istrinya meringis kesakitan, bukan karena kecelakaan ataupun penyakit bawaan, melainkan karena perut yang terlalu sering kosong.
Dengan suara lirih dan mata yang berkaca-kaca, Abah Aton menyampaikan harapannya:
Kalau ada modal, pingin saya bisa jualan di dekat rumah. Jadi tidak harus keliling, ninggalin istri yang lagi sakit di rumah.

Di umur 82 tahun Abah Bonin masih harus pegang cangkul Berkerja dikebun dengan sisa tenaganya. Abah Bonin hidup berdua s...
13/05/2026

Di umur 82 tahun Abah Bonin masih harus pegang cangkul Berkerja dikebun dengan sisa tenaganya. Abah Bonin hidup berdua sama istrinya, Emak Sunih. Usia Emak juga udah 68 tahun. Harusnya mereka istirahat tapi kenyataannya, mereka masih harus berjuang buat sekadar makan hari ini.
Badan Abah udah ringkih banget. Jalan aja harus pakai tongkat. Nafasnya sering sesak… tapi tiap pagi tetap maksain diri ke kebun. Nanam sayur walaupun sedikit, Kadang harus berhenti, duduk di tanah, nahan capek sama sakit di dadanya. Semua itu cuma biar mereka bisa makan.
Kalau lagi panen, Emak yang turun jualan. Dengan langkah pelan, Emak keliling kampung… dari satu rumah ke rumah lain. Bawa hasil kebun, berharap ada yang beli. Tapi seringnya p**ang dengan tangan kosong karena dagangannya gak laku. Paling banyak Emak cuma dapet Uang 20 sampai 30 ribu. Itu pun kadang gak cukup buat makan sehari.
Mereka cuma hidup berdua, Gak punya anak, Gak ada tempat bergantung. Cuma saling jaga… di tengah keadaan yang serba kekurangan. Jangan tunggu sampai mereka benar-benar gak kuat lagi…

Di usia 59 tahun, Mak Nonok menjalani hidup dengan keterbatasan fisik sejak lahir. Ia adalah seorang lansia difabel. Nam...
13/05/2026

Di usia 59 tahun, Mak Nonok menjalani hidup dengan keterbatasan fisik sejak lahir. Ia adalah seorang lansia difabel.
Namun keterbatasan itu tak pernah membuatnya lemah atau bergantung pada belas kasihan siapa pun.

Setiap pagi, Mak Nonok bangun lebih awal. Dengan kondisi fisik yang terbatas, ia menyiapkan jajanan kue kering untuk dijajakan keliling.
Dari pagi hingga siang, ia berjualan Kue Kering dari satu tempat ke tempat lain sejauh kurang lebih 3km.
Penghasilannya pun tidak menentu kadang hanya Rp50.000, kadang bisa mencapai Rp80.000 jika dagangannya laku dan tu penghasilan kotor belum dipotong untuk modal pembuatan Kue keringnya. Tak jarang, Mak Nonok p**ang dengan hasil yang sangat minim.
Mak Nonok tidak hidup sendirian. Ia tinggal bersama kakak kandungnya, Mak Aning, 73 tahun. Sejak kecil, Mak Aning lah yang merawat Mak Nonok, terutama sejak kedua orang tua mereka meningg4l dunia.

Meski demikian kasih sayang Mak Aning tak pernah pudar. Hingga kini, di usia senjanya, ia tetap menjadi satu-satunya keluarga yang merawat dan menemani Mak Nonok di sebuah rumah sempit peninggal kedua Orang tuanya.

Tanpa banyak bicara, Mak Nonok melakukan hal kecil namun penuh makna. Di lapak jualannya, ia menuliskan sebuah pesan sederhana
ā€œSebagian hasil penjualan akan disisihkan untuk korban bencana di Sumatra.ā€

Meski penghasilannya pas-pasan, Mak Nonok tetap menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah. Baginya, berbagi bukan soal seberapa besar yang dimiliki, tetapi seberapa tulus niat di dalam hati.

Mak Nonok tidak memiliki suami, tidak memiliki anak. Dalam hidupnya, hanya Mak Aning yang ia miliki.

Di tengah panas terik yang memb4kar kulit, seorang pria paruh baya harus meny3ret tubuhnya di atas aspal yang panas. Buk...
13/05/2026

Di tengah panas terik yang memb4kar kulit, seorang pria paruh baya harus meny3ret tubuhnya di atas aspal yang panas. Bukan karena ia mencari belas kasihan. Bukan p**a karena ingin dikasihani. Tapi karena hanya dengan cara itu, ia bisa bertahan hidup dan menjaga ibunya yang sudah renta, agar tidak tidur dalam keadaan lapar.
Pak Uus (45) lahir dengan kaki lumpuh. Ia tak pernah tahu rasanya berdiri tegak. Sejak kecil, satu-satunya cara berpindah hanyalah dengan merangkak. Tangannya yang kasar jadi pengganti kaki, menopang dan menyeret seluruh tubuhnya ke mana pun ia pergi.
Setiap hari, Pak Uus berjualan kopi keliling. Dengan termos di satu tangan, dan sandal lusuh di tangan satunya untuk melindungi telapak tangan dari panas aspal dan tajamnya kerikil.
Hasil perjuangannya paling banyak Rp70.000 sehari, itu pun belum dipotong modal untuk esok harinya. Kalau hujan terurun terus menerus, ia pun terpaksa harus p**ang tanpa sepeserpun. Kalau ibunya sakit, ia harus tinggalkan dagangan, yang berarti hari itu tak ada penghasilan, tak ada makanan di meja.

Tak jarang, Pak Uus terpaksa mengetuk pintu tetangga untuk meminjam segenggam beras.
Namun, meski hidup menekannya tanpa henti, ia tak pernah menyerah. Tak pernah menyalahkan nasib. Satu hal yang selalu ia simpan hanyalah sebuah mimpi sederhana.

Akbar, Bocah 8 Tahun Jadi Tulang Punggung, Hidup Hanya dari Nasi Tanpa Lauk Yatim Sejak Kecil, Akbar Kerja Keliling Kamp...
13/05/2026

Akbar, Bocah 8 Tahun Jadi Tulang Punggung, Hidup Hanya dari Nasi Tanpa Lauk
Yatim Sejak Kecil, Akbar Kerja Keliling Kampung Demi Kakek Sal4kit-S4kitan.
Akbar dulu masih punya ayah. Meski hidup sederhana, ia tetap bisa bermain tanpa memikirkan besok makan apa. Sampai hari itu datang… ayahnya meningg4l karena komplikasi penyakit gula dan stroke. Belum sempat luka itu sembuh, ibunya pergi merantau… dan tak pernah kembali memberi kabar.
Kini, hanya ada Akbar dan sang kakek. Kakeknya sudah tua. Tubuhnya lemah dan sering s4kit-s4kitan. Tak ada lagi tenaga untuk bekerja. Tak ada lagi penghasilan tetap. Mau tak mau, Akbar yang masih duduk di bangku sekolah dasar harus turun tangan.
Setiap p**ang sekolah, saat teman-temannya bermain, Akbar justru memanggul nampan gorengan. Ia berjalan dari gang ke gang, mengetuk pintu demi pintu. Upahnya? Hanya Rp5.000 sehari. Lima ribu rupiah untuk dua orang. Kadang mereka hanya mampu membeli beras setengah liter. Lauk tak ada. Telur tak mampu. Tempe pun jarang.
Yang ada hanya nasi putih… ditaburi micin agar terasa sedikit ā€œberasaā€.

Darma adalah seorang anak berusia 10 tahun yang telah menjadi tulang punggung bagi 6 anggota keluarganya. Sejak kelas 1 ...
12/05/2026

Darma adalah seorang anak berusia 10 tahun yang telah menjadi tulang punggung bagi 6 anggota keluarganya. Sejak kelas 1 SD, saat anak-anak lain sedang terlelap, Darma justru baru memulai perjuangannya. Setiap hari, mulai pukul 5 sore hingga tengah malam, ia mengayuh sepeda tuanya untuk menjajakan cireng buatan ibunya demi membantu ekonomi keluarga yang sangat memprihatinkan.
Kehidupan keluarga Darma penuh dengan keterbatasan yang memilukan. Ayahnya, seorang tukang parkir dengan penghasilan hanya Rp20.000 - Rp40.000 per hari, harus menahan sakit akibat wasir selama 20 tahun. Karena tak ada biaya operasi, sang ayah terpaksa mengganjal lukanya dengan popok agar tetap bisa bekerja. Sementara itu, ibunya sering mengalami sesak napas akut jika kelelahan. Kondisi ini membuat mereka sering kali hanya mampu makan setengah kilogram beras untuk 7 orang, bahkan pernah terpaksa mencuci kembali nasi sisa yang sudah dibuang untuk dimasak lagi karena tidak mampu membeli beras baru.

Keluarga ini hidup dalam bayang-bayang pengusiran karena sering menunggak biaya kontrakan sebesar Rp700.000 per bulan. Darma yang hanya tidur beralaskan karpet tipis (dan baru mendapat kasur bekas pemberian baru-baru ini) memiliki mimpi besar: ia ingin sekolah sampai kuliah, membelikan rumah agar keluarganya tidak lagi diusir, dan membuka toko agar ibunya tidak perlu lagi kelelahan.

Bejo Samio, 74 tahun, harus ikhlas menjalani masa tuanya seorang diri.Istrinya sudah berp**ang beberapa tahun lalu, seme...
12/05/2026

Bejo Samio, 74 tahun, harus ikhlas menjalani masa tuanya seorang diri.
Istrinya sudah berp**ang beberapa tahun lalu, sementara anak-anaknya sudah menikah dan tinggal dengan keluarga masing-masing.
Jadilah Mbah Bejo seperti hidup sebatang kara. Tinggal di rumah geribik sederhana, dengan kegiatan sehari-hari mengurus kambing milik tetangga.
Dengan pekerjaan itulah Mbah Bejo bertahan hidup. Meski upah yang didapat tak seberapa, tetapi cukup menenangkan karena ia bisa membeli beras untuk makan.
Yang membuat Mbah Bejo risau adalah ketika sakit tuanya kambuh dan ia tak bisa menjalankan tugasnya merawat kambing. Jelas ia tak akan mendapat upah dan posisinya bisa digantikan orang lain.
Karena itu, ia sering tak memperdulikan kondisi lututnya yang terkadang terasa nyeri, atau badannya yang tidak fit.
Dengan tertatih, ia tetap berusaha mencari pakan kambing dan merawat hewan ternak milik tetangganya itu dengan sepenuh hati. Entah sampai kapan...
Bagi Mbah Bejo, berkeluh kesah pada anak adalah hal tabu. Ia tak ingin membebani anak-anaknya yang notabene juga hidup dalam kesederhanaan. Apapun yang terjadi, ia memilih diam meski perutnya menahan lapar.

Address

Mattampa
Pangkajene

Telephone

+82290238556

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Love Advice posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share