19/09/2025
Rodiyah, , mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi. Hatinya remuk redam setelah mengetahui kebenaran pahit tentang suaminya, Hasan, yang selama ini ia percayai. Air mata menjadi teman setianya, menemani hari-harinya yang penuh perjuangan di negeri orang.
Lima tahun sudah Rodiyah meninggalkan kampung halaman, meninggalkan orang tua dan seorang anak semata wayangnya. Tujuannya hanya satu, yaitu mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk membangun rumah impian mereka di kampung. Setiap bulan, tanpa lelah, ia mengirimkan sebagian besar gajinya kepada Hasan. Ia percaya, suaminya akan amanah mengelola uang tersebut untuk membangun rumah yang layak bagi mereka.
Hasan, di mata Rodiyah, adalah sosok suami yang penyayang dan bertanggung jawab. Setiap kali Rodiyah mengirimkan uang, Hasan selalu memberikan kabar gembira. Ia mengirimkan foto-foto rumah mewah yang katanya sedang dibangun. Rodiyah terharu dan semakin bersemangat bekerja. Ia membayangkan, kelak ia akan hidup bahagia bersama keluarganya di rumah baru yang megah.
Namun, takdir berkata lain. Setelah lima tahun berlalu, Rodiyah memutuskan untuk pulang kampung. Ia sudah tidak sabar ingin melihat rumah impiannya dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Dengan membawa koper berisi oleh-oleh dan harapan yang membuncah, Rodiyah tiba di Pontianak.
Setibanya di rumah, Rodiyah terkejut bukan kepalang. Rumah yang ia lihat di foto ternyata hanyalah ilusi belaka. Rumahnya masih berupa gubuk bambu reyot, jauh dari kata mewah. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan hati hancur, ia bertanya kepada tetangga tentang Hasan.
"Hasan? Oh, dia sering terlihat bersenang-senang dengan teman-temannya. Uang kiriman dari kamu habis dipakai untuk berfoya-foya," kata seorang tetangga dengan nada prihatin.
Rodiyah lemas mendengar penjelasan tetangganya. Ia merasa dikhianati oleh orang yang paling ia cintai. Selama ini, ia telah bekerja keras membanting tulang di negeri orang, namun suaminya justru menghambur-hamburkan uangnya untuk kesenangan pribadi.
Dengan langkah gontai, Rodiyah mencari Hasan. Ia menemukannya di sebuah warung kopi, sedang asyik bermain kartu dengan teman-temannya. Tanpa basa-basi, Rodiyah langsung menghampiri Hasan dan menanyakan kebenaran tentang rumah yang selama ini ia impikan.
Awalnya, Hasan mengelak dan berusaha menutupi kebohongannya. Namun, Rodiyah tidak menyerah. Ia terus mendesak Hasan hingga akhirnya pria itu mengakui semua perbuatannya. Hasan mengaku, uang kiriman dari Rodiyah telah habis dipakai untuk berfoya-foya, membeli motor baru, dan berjudi. Foto rumah mewah yang selama ini ia kirimkan hanyalah foto rumah tetangga yang ia ambil secara diam-diam.
Mendengar pengakuan Hasan, hati Rodiyah hancur berkeping-keping. Ia tidak menyangka, orang yang selama ini ia cintai dan percayai tega mengkhianatinya. Air mata Rodiyah kembali tumpah, membasahi pipinya yang sudah keriput karena usia dan kerasnya kehidupan.
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Hasan? Kenapa kamu menghancurkan impianku?" tanya Rodiyah dengan suara bergetar.
Hasan hanya bisa tertunduk malu. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Rodiyah. Ia sadar, telah melakukan kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan.
Rodiyah memutuskan untuk menggugat cerai Hasan. Ia tidak bisa lagi hidup dengan pria yang telah mengkhianatinya. Ia juga bertekad untuk bangkit dari keterpurukan dan memulai hidup baru. Dengan bantuan keluarga dan teman-temannya, Rodiyah mulai mencari pekerjaan di Pontianak. Ia ingin membuktikan kepada Hasan, bahwa ia bisa sukses tanpa bantuan pria itu.
Kisah Rodiyah adalah cerminan dari kehidupan banyak TKW di Indonesia. Mereka rela meninggalkan keluarga dan bekerja keras di negeri orang demi mencari nafkah. Namun, tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi korban penipuan dan pengkhianatan oleh orang-orang terdekatnya.
Semoga kisah Rodiyah bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan pernah menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain. Hargailah setiap pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang kita cintai. Dan yang terpenting, jangan pernah berhenti berharap dan berjuang untuk meraih impian, meskipun badai menerpa.