25/04/2026
Pertandingan perempat final Bupati Cup 4 yang mempertemukan RSUD GAG FC melawan Ripon FC di Stadion Hinang Golloa, Kamis sore (23/4/2026), harus berakhir dengan cara yang antiklimaks. Laga yang seharusnya menjadi ajang unjuk sportivitas ini terhenti di babak pertama setelah skuat RSUD GAG FC memilih walk out sebagai bentuk protes atas kepemimpinan pengadil lapangan yang dinilai kehilangan kendali dan kebijaksanaan.
Ketegangan mulai terasa saat laga memasuki menit ke-20. Meski tengah berupaya mengejar ketertinggalan 1-0, RSUD GAG FC merasa setiap momentum serangan mereka kerap terganjal oleh keputusan wasit yang inkonsisten. Puncaknya, atmosfer pertandingan mendadak keruh ketika wasit langsung merogoh saku belakang dan mengacungkan kartu merah kepada salah satu pemain RSUD GAG FC dalam sebuah insiden yang dinilai banyak pihak masih berada dalam wilayah "abu-abu".
Keputusan tersebut dianggap sebagai vonis sepihak yang terlalu ekstrem. Alih-alih mengelola tensi pertandingan dengan komunikasi atau peringatan, wasit justru mengambil langkah paling radikal yang langsung mematikan peluang RSUD GAG FC untuk bersaing secara adil. Kecewa karena ruang dialog di lapangan tertutup rapat, seluruh pemain dan ofisial akhirnya meninggalkan lapangan hijau.
"Kami tidak menyangkal adanya benturan, namun sepak bola punya gradasi hukuman. Wasit seolah-olah hanya punya satu opsi: kartu merah. Padahal, ada kartu kuning atau teguran keras yang jauh lebih bijak untuk menjaga ritme permainan tetap hidup. Dengan langsung mengusir pemain, wasit tidak lagi menjadi penengah, melainkan penentu hasil laga," ungkap salah satu pemain RSUD GAG FC dengan nada kecewa.
Langkah walk out ini menjadi sinyal keras bahwa tanpa kepemimpinan yang objektif, nilai-nilai olahraga di turnamen sebesar Bupati Cup terancam terdegradasi.
sumber