JheePay

JheePay "Papua Merdeka!"
bukan sekadar kata, tapi darah dan cinta. Jheepay

13/01/2026

PERNYATAAN SIKAP MAHASISWA DAN PELAJAR INTAN JAYA SEMARANG & SALATIGA

INTAN JAYA KRISIS KEMANUSIAAN DAN DARURAT MILITER DEMI KEPENTINGAN INVESTASI

POIN TUNTUTAN

PEMERINTA INTAN JAYA SEGERA TEGAKAN INPRASTRUKTUR DAN SUPRASTRUKTUR
MENDESAK KEPADA KOMNAS HAM-RI USUT TUNTASKAN KASUS SOANGAMA BERDARA
PEMERINTA INTAN JAYA SGERA PULANGKAN PENGUNGSI KE KAMPUNGNYA
MENDESAK KEPADA PRESIDEN RI PRABOWO SUBIANTO,SEGERA TARIK 32 POS MILITER DARI INTAN JAYA
PEMERITA INTAN JAYA ,SEGERA TEGAKAN PEMBANGUNAN EKONOMI RAKYAT
PEMERINTA INTAN JAYA ,MENGANTIKAN 42 SEKOLAH YANG LUMPUH SELAMA 6 TAHUN

Semarang 13 Januari 2026

Bahlil Lahadalia, orang Sulawesi yang mengklaim diri sebagai “anak Papua” memainkan peran yg secara teoritis dapat kita ...
05/06/2025

Bahlil Lahadalia, orang Sulawesi yang mengklaim diri sebagai “anak Papua” memainkan peran yg secara teoritis dapat kita sebut sbg agen apropriatif kolonial, atau individu yg melakukan klaim identitas demi legitimasi proyek hegemonik pusat atas wilayah pinggiran. Sebagai Menteri Investasi, ia menjelma menjadi agen ideologis dan teknokratis kapitalisme kolonial.

Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua adalah mega-infrastruktur of dispossession, yaitu infrastruktur raksasa yg berfungsi sbg mekanisme primitive accumulation dalam versi abad ke-21. PSN adalah wajah mutakhir dari kapitalisme kolonial, sebuah mesin perampasan yang bekerja atas nama negara, investasi, dan kepentingan global.

Di Merauke, negara merampas 2,3 juta hektare lahan adat untuk klaster pangan dan energi. Di klaster 2 (Wogikel–Wanam, 283.000 ha) dan klaster 3 (Tanah Miring–Jagebob, 39.579 ha), mesin-mesin Jhonlin Group menggunduli hutan adat dengan kekuatan represif negara sebagai pelindungnya. Sementara di Fakfak, dibangun Kawasan Industri Pupuk seluas 2.000 hektar. Ini adalah ekosida yg dilegalkan, di mana aparat dan undang2 hanya menjadi alat pendukung bagi korporasi.

Oligarki2 seperti Jhonlin Group adalah aktor predatorik dalam struktur kapitalisme Indonesia. Mereka adalah corporate raiders, bukan investor. Mereka tdk membangun, mereka menjarah. Istilah yang lebih tepat bagi mereka adalah perampok ekologis (ecological looters) dan kapitalis parasit (parasitic capitalists), yg menciptakan surplus bukan dari inovasi, melainkan dari perampasan wilayah hidup rakyat kecil.

Dalam paradigma accumulation by dispossession (Harvey, 2005), tanah adat, hutan, dan kehidupan masyarakat dikomodifikasi, diubah menjadi nilai tukar, dan dimasukkan ke dalam sirkuit kapital. Dalam proses ini, yg dihancurkan bukan hanya ekologi, tapi juga ontologi hidup masyarakat adat Papua, atau cara hidup, sistem makna, dan spiritualitas yg berakar dalam tanah dan ruang.

Lebih jauh, proyek ini menunjukkan logika necropolitik (Mbembe, 2003): negara menciptakan kondisi di mana kehidupan rakyat Papua tidak layak hidup, sambil memberikan legitimasi kekerasan atas nama “pembangunan nasional”. Di sini, teknokrasi pembangunan beraliansi dengan militerisme, menciptakan apa yang bisa disebut sebagai rezim militer-kapitalis: suatu tatanan politik di mana kekuatan senjata dan uang bekerja simultan dalam menduduki dan menguasai ruang-ruang rakyat.

Dalam konteks ini, proyek-proyek PSN bukan kebijakan pembangunan, tapi alat kolonisasi ekonomi. Elite seperti Bahlil tdk bisa lagi disebut sebagai pejabat negara biasa, tetapi sebagai manajer kapitalisme kolonial, sekaligus pencuri identitas politik rakyat Papua. Dengan menyamar sebagai “anak Papua”, ia melakukan apropriasi politik identitas, sebuah bentuk kekerasan simbolik yg menyamarkan kolonialisme sebagai representasi.

Sementara, bupati, gubernur, DPRP, MRP, dan elite adat adalah kolaborator lokal dalam proyek kolonialisme neoliberal. Mereka adalah bagian dari apa yang Frantz Fanon (1961) sebut sebagai “kelas menengah terjajah yg bermimpi menjadi penjajah”, mereka meniru gaya, retorika, dan brutalitas kolonialisme yang menindas bangsanya sendiri demi sedikit kekuasaan dan akses pd meja makan para tuan besar. Mereka adalah klas kolaborator, pelumas mesin penghancur yang bernama PSN.

Dalam logika Gramscian, mereka adalah agen hegemonik, yg mereproduksi kekuasaan kapitalis dari dalam struktur lokal. Mereka menyulap eksklusi menjadi “partisipasi”, menyamarkan perampasan menjadi “kemajuan”. Tapi di balik semua itu, mereka adalah pengkhianat kelas, penjilat kuasa pusat yg rela menjadi pemandu jalan bagi kolonialisme baru yg membunuh hutan, merampok tanah, dan membungkam perlawanan.

Mereka juga datang dengan jubah intelektual dan kitab suci di tangan, menyelipkan kekuasaan dalam wacana "pengetahuan" dan "kebenaran rohani". Maka lahirlah satu lapisan pengkhianat baru: kaum intelektual penjinak dan pemuka iman kooptatif. Mereka adalah apa yg Edward Said sebut sebagai “intelektual organik kekuasaan kolonial”, mereka tidak netral, mereka berpihak, dan keberpihakan mereka adalah kpd penindas.

Para akademisi penjinak dan pemuka agama kooptatif adalah ideolog kekuasaan, penjaga narasi resmi kolonialisme. Mereka menabur kebingungan dlm benak rakyat, menekan kesadaran kritis, dan menyamarkan perlawanan sebagai dosa atau irasionalitas.

Mereka adalah bagian dari blok historis hegemonik: aparatus ideologis yang diproduksi untuk menjinakkan radikalisme, melucuti semangat pembebasan, dan mengamankan proyek kolonialisme dan kapitalisme ekstraktif di Papua. Mereka bukan sekadar penonton pasif; mereka adalah koordinator ilusi, plindung moral palsu bagi penguasa.

Jadi, mari bongkar dan lawan para elite komprador yang menjadi perpanjangan tangan Jakarta. Ungkap dan hadapi pemuka agama dan akademisi kooptatif sebagai bagian dari mesin pembius rakyat. Tunjuk para pengusaha dan investor predatorik sebagai penjarah ruang hidup dan musuh rakyat.

Bangsa Papua harus keluar dari jebakan kolonialisme pembangunan dan ilusi negara kesejahteraan. Jalan kita adalah jalan pembebasan. Tidak ada kemerdekaan tanpa kesadaran. Tidak ada pembebasan tanpa perlawanan. Dan tidak ada perlawanan yang menang tanpa organisasi rakyat yang ideologis dan revolusioner.

Oleh. Tn Victor Yeimo
Greenpeace Indonesia

INFO NEWS.....TNI–POLRI PASANG BOM DI JALAN UMUM, WARGA SIPIL TERANCAM BAHAYAPasukan TNI dan Polri memasang bom tangan d...
28/05/2025

INFO NEWS.....

TNI–POLRI PASANG BOM DI JALAN UMUM, WARGA SIPIL TERANCAM BAHAYA

Pasukan TNI dan Polri memasang bom tangan di sejumlah titik jalan umum di Distrik Gome Utara, Kabupaten Puncak papua, Papua Tengah.

Pemasangan bom ini terkait dengan operasi pengejaran terhadap Komandan Perang TPNPB–OPM Wilayah Puncak papua, Yosua Maiseni. Beberapa warga di lapangan melaporkan bahwa mereka sempat melihat langsung aparat Militer indonesia memasang bahan peledak di sejumlah jalan umum.

“Saya sendiri melihat TNI–Polri memasang bom di setiap jalan di Distrik Gome Utara, Kabupaten Puncak papua” keterangan warga.

Situasi ini meningkatkan ancaman terhadap keselamatan warga sipil, khususnya para pengungsi yang terpaksa melintasi jalur-jalur umum untuk mencari perlindungan atau mengamankan diri dan keluarga dari kontak tembak antara TPNPB dan tni/polri.

Tni/polri wajib menjaga warga sipil selama perang melawan Tuan Tanah TPNPB di West Papua bukan pasang bom di setiap jalan untuk bunuh warga sipil.



Para pengungsi Masyarakat distrik Gome, Kabupaten Punca Kartens, Provinsi Papua Tenga. Mengusi akibat TNI POLDRI lakukan...
28/05/2025

Para pengungsi

Masyarakat distrik Gome, Kabupaten Punca Kartens, Provinsi Papua Tenga. Mengusi akibat TNI POLDRI lakukan penyerangan secara brutal terhadap masyarakt sipil.

Mohon dukungan Doa🙏🏿😌

@sorotan
Senin/26 05/2025

Di setiap langkah kaki para pejuang, bersama kebenaran sejarah sang Bintang Kejora, ada api yang tak pernah padam di med...
28/05/2025

Di setiap langkah kaki para pejuang, bersama kebenaran sejarah sang Bintang Kejora, ada api yang tak pernah padam di medan juang.
Karena kami tak pernah lelah dan mimpi kami tak bisa dipadamkan.




🌹✊🔥

28/05/2025

Jangan bisu saat luka ditutupi. Di atas tanah Papua, darah mengalir bukan karena salah, tapi karena dibungkam. Kawan, ketidakadilan bukan hal biasa—ia harus disadari, dilawan, dan disuarakan.

Jika kau anggap biasa dgn ketidakadilan yang terjadi di atas tanah Papua, maka kau sedang berdiri di sisi penindas. Diam bukan netral, diam adalah sikap.

Papua bukan hanya tentang gunung dan emas tapi tentang manusia yang tiap harinya di tindas. Kawan, saatnya buka mata, hati, dan suara.

Keadilan bukan pilihan. Ia adalah hak setiap insan atau manusia. Jangan biarkan kebiasaan membuat kita mati rasa terhadap jeritan bangsa Papua.

28/05/2025

Teriak Merdeka bukan sekadar seruan, itu sikap, pemikiran, dan tindakan. Jang ko jadikan simbol perlawanan hanya sebatas gaya, sementara nurani dijual murah demi kenyamanan sebentar.

Address

Paniai

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when JheePay posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share