Infoku

Infoku “Akses Infoku — Akses cepat, info tepat.”
-like
-share
-komentar
-save

“Jangan Kebanyakan Program, Kalau Ladang Masih Kosong”Mandailing Natal hari ini tidak kekurangan ide.Yang kurang adalah ...
11/05/2026

“Jangan Kebanyakan Program, Kalau Ladang Masih Kosong”

Mandailing Natal hari ini tidak kekurangan ide.
Yang kurang adalah eksekusi.

Dalam dua tahun terakhir, satu per satu program pertanian diluncurkan dengan penuh optimisme. Pisang abaka, pisang kepok (sitabar), hingga serai wangi. Semuanya hadir dengan narasi besar: investasi, hilirisasi, dan kesejahteraan petani.

Di atas kertas, semuanya terlihat menjanjikan. Tapi di ladang, belum terasa.

Program pisang kepok misalnya, sudah masuk tahap serius: rapat teknis, pelibatan akademisi, hingga penandatanganan MoU dan MoA dengan kampus . Bahkan lokasi pengembangan seperti Sipalangka dan Aek Marian sudah ditinjau bersama tim profesor untuk konsep budidaya terintegrasi .

Namun satu hal yang belum terlihat jelas: penanaman dalam skala nyata oleh petani.

Pola yang sama juga tampak pada serai wangi. Program ini bahkan dirancang cukup ambisius menyasar sembilan kecamatan dengan skema investor sebagai mitra . Sosialisasi sudah berjalan, konsep sudah disusun.

Tapi lagi-lagi, ia masih berada di tahap rencana.

Sementara itu, pisang abaka lebih dulu digaungkan melalui kerja sama dengan pihak swasta . Namun hingga kini, gaungnya belum berbanding lurus dengan geliat di lapangan.

Tiga komoditas.
Satu pola yang sama.

Ramai di rapat.
Sunyi di ladang.

Ini bukan soal salah memilih komoditas. Abaka, kepok, dan serai wangi punya potensi ekonomi. Masalahnya ada pada ritme kerja: terlalu cepat mencanangkan, terlalu lambat menanam.

Pemerintah daerah terlihat sibuk di fase awal, rapat, MoU, peninjauan. Seolah-olah itu sudah cukup menjadi indikator keberhasilan.

Padahal, itu baru garis start.

Pertanian tidak butuh seremoni berulang. Ia butuh konsistensi.

Butuh keberanian untuk menuntaskan satu program sampai panen, sebelum membuka program baru. Karena bagi petani, ukuran keberhasilan itu sederhana: bukan konsep, tapi hasil.

Jika setiap tahun program baru terus muncul tanpa hasil nyata dari program sebelumnya, yang tumbuh bukan kesejahteraan melainkan keraguan.

Kepercayaan publik tidak hilang dalam sehari. Ia terkikis pelan-pelan.

Dan ketika kepercayaan itu hilang, program sebagus apa pun akan sulit berjalan.

Pertanyaannya sederhana:
mengapa terus menambah program, jika yang lama belum selesai?

Mandailing Natal tidak butuh banyak komoditas unggulan di atas kertas. Yang dibutuhkan adalah satu program yang benar-benar hidup di lapangan.

Jika hari ini belum ada yang ditanam secara luas, maka belum ada yang bisa dibanggakan.

Saatnya berhenti berlari di atas kertas. Dan mulai berjalan di tanah.

Tanam.
Dampingi.
Panen.
Ulangi.

Sesederhana itu, tapi justru itu yang belum terjadi.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan. Ini pengingat:

Bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak diukur dari berapa banyak kerja sama yang ditandatangani, melainkan dari berapa banyak petani yang benar-benar merasakan hasilnya.

Jika hari ini belum ada yang ditanam secara luas, maka belum ada yang bisa dibanggakan.

Sudah saatnya berhenti berlari di atas kertas. Dan mulai berjalan di tanah.

Address

Panyabungan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Infoku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Infoku:

Share