21/07/2026
Di saat banyak remaja seusianya sibuk bermain dan berkumpul bersama teman-teman, pemuda ini justru harus memikul tanggung jawab yang tidak ringan.
Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, ia menjadi satu-satunya harapan bagi sang adik. Demi tetap bisa bersekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia rela bekerja sebagai tukang panjat pohon kelapa sekaligus guru ngaji di kampungnya.
Upah yang ia terima pun jauh dari kata besar, hanya sekitar Rp20.000 per hari. Namun baginya, yang terpenting bukanlah dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa saya nggak makan, yang penting adik saya bisa makan."
Kalimat sederhana itu membuat banyak orang terdiam.
Yang lebih mengharukan, di tengah kerasnya perjuangan hidup, ia juga harus menghadapi kondisi kesehatan yang tidak mudah. la memiliki riwayat asma, sementara pekerjaannya mengharuskannya memanjat pohon tinggi dan beraktivitas di bawah terik matahari hampir setiap hari.
Meski napasnya sering terasa berat dan tubuhnya mudah lelah, ia memilih tetap bekerja demi masa depan adiknya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa masih banyak orang yang sedang berjuang dalam diam.
Mengeluh karena hal kecil terasa tidak sebanding dengan perjuangan mereka yang setiap hari harus memilih antara kebutuhan diri sendiri atau orang yang mereka sayangi.
Semoga langkahnya dimudahkan, kesehatannya dijaga, dan cita-citanya untuk menyelesaikan pendidikan serta membahagiakan adiknya dapat terwujud🙏