18/07/2026
๐ Legenda Asal-Usul Candi Sambisari
Kisah Cinta, Pengorbanan, dan Candi yang Terkubur
Di tanah datar yang subur di wilayah Sleman, Kabupaten Sleman, dahulu kala terbentang sebuah kerajaan makmur yang bernama Kerajaan Kalingga. Di bawah pemerintahan Raja Prabu Wasugeni, rakyat hidup damai, tenteram, dan makmur. Raja memiliki seorang putri tunggal bernama Dewi Sambisari, seorang wanita cantik jelita yang cerdas, lembut hatinya, dan sangat dicintai oleh seluruh rakyat.
Kabar kecantikan dan kebijaksanaan Dewi Sambisari terdengar sampai ke berbagai penjuru negeri. Banyak pangeran dan raja dari kerajaan tetangga datang untuk meminangnya, namun tak ada satu pun yang mampu menyentuh hati sang putri. Hati Dewi Sambisari justru tertambat pada seorang pemuda sederhana namun gagah berani dan bijaksana bernama Raden Banjaransari. Ia bukanlah seorang bangsawan, melainkan seorang pemuda yang bekerja sebagai ahli pertanian dan pengelola lahan kerajaan.
Cinta mereka tumbuh subur dan tulus, namun hal ini menimbulkan kecemburuan dan kemarahan dari para pelamar yang gagal, terutama dari seorang pangeran sombong dan berkuasa bernama Prabu Darmawijaya. Ia merasa terhina karena ditolak dan kalah oleh seorang pemuda biasa. Dengan penuh dendam, Prabu Darmawijaya mengumpulkan pasukannya dan menyerang Kerajaan Kalingga dengan niat untuk merebut paksa Dewi Sambisari dan menaklukkan wilayah itu.
Perang pun tak terelakkan. Pasukan musuh datang dengan jumlah yang sangat banyak. Raden Banjaransari yang sangat mencintai Dewi Sambisari dan tanah kelahirannya, segera memimpin rakyat dan prajurit untuk mempertahankan kerajaan. Sebelum berangkat ke medan perang, Raden Banjaransari berjanji kepada Dewi Sambisari:
"Saya akan pulang membawa kemenangan atau gugur sebagai pahlawan. Jangan bersedih, Dewi, karena cinta kita akan abadi melampaui waktu."
Pertempuran berlangsung sengit dan berdarah-darah. Meski gagah berani, Raden Banjaransari akhirnya gugur di medan laga setelah berhasil melumpuhkan kekuatan utama musuh. Berita duka itu sampai ke istana, membuat Dewi Sambisari hancur hatinya. Ia menangis tiada henti, meratapi kepergian kekasih hatinya yang telah berkorban demi negaranya.
Untuk mengenang kesetiaan, keberanian, dan cinta abadi mereka, Dewi Sambisari memerintahkan para pembuat bangunan dan para pendeta untuk mendirikan sebuah bangunan suci yang indah dan kokoh. Bangunan itu dibangun di atas tanah tempat mereka pertama kali bertemu dan berjanji setia. Candi itu dihiasi dengan ukiran-ukiran kisah cinta dan perjuangan mereka, serta dijadikan tempat pemujaan dan doa agar jiwa Raden Banjaransari tenang dan damai. Bangunan suci itu kemudian dinamakan Candi Sambisari, diambil dari nama sang putri yang menjadi lambang kesetiaan cinta.
Namun, takdir berkata lain. Beberapa tahun setelah candi itu selesai dibangun, Gunung Merapi yang gagah perkasa di sebelah utara meletus dengan dahsyat. Awan panas dan material vulkanik turun meluncur, menyelimuti seluruh wilayah di sekitarnya. Debu dan pasir vulkanik yang tebal perlahan menutupi bangunan suci itu, hingga akhirnya Candi Sambisari tertimbun tanah setebal lebih dari enam meter, hilang dari pandangan mata, dan tertidur lelap di bawah tanah selama berabad-abad lamanya.
Warga sekitar pun lama-kelamaan melupakan keberadaannya, hanya menyisakan kisah-kisah dongeng yang diwariskan dari mulut ke mulut tentang sebuah bangunan indah yang tersembunyi di dalam bumi.
Hingga pada suatu hari di tahun 1966, seorang warga desa yang sedang mencangkul tanah di kebunnya menemukan tumpukan batu bata dan andesit yang tersusun rapi. Penemuan itu segera dilaporkan, dan tim arkeologi pun turun tangan. Setelah digali dan diteliti, ternyata itulah Candi Sambisari yang legendaris itu. Bangunan yang tersembunyi di dalam tanah itu ternyata masih utuh, kokoh, dan indah, seolah-olah alam telah merawat dan melindunginya selama berabad-abad agar tetap lestari hingga ditemukan kembali.
Kini, Candi Sambisari berdiri kembali dengan megah di tengah hamparan sawah hijau di Sleman. Berbeda dengan candi-candi lain yang berdiri di atas bukit atau tanah tinggi, candi ini justru berada di dataran rendah, sedikit tersembunyi di bawah permukaan tanah saat ini. Ia menjadi saksi bisu kisah cinta yang tulus, pengorbanan seorang pahlawan, dan kekuatan alam yang hebat.
Konon, siapa pun yang datang berkunjung ke sini dengan hati yang tulus dan bersih, akan merasakan suasana damai dan tenang, seolah Dewi Sambisari masih menjaga tempat itu sebagai peringatan bahwa cinta dan kebaikan hati akan tetap abadi, meski tertimbun waktu sekalipun.
Catatan Sejarah:
Secara ilmiah, Candi Sambisari diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno, beraliran Hindu Siwa. Candi ini tertimbun material letusan Merapi dan endapan tanah selama ratusan tahun, sehingga baru ditemukan kembali pada tahun 1966. Keunikan utamanya adalah posisinya yang berada di bawah permukaan tanah sekarang, membuatnya terasa seperti "permata yang tersembunyi".
๐๐