14/06/2026
/ Wajah Pendidikan Negeri Saat Ini: Dari Pencetak Ilmuwan ke Pemasok Buruh /
Penulis: Chairunnisa Rahmawati, S.Pd.
Puan Riau Bersyariah, OPINI — Pendidikan sejatinya adalah pilar peradaban. Dari dunia pendidikan, lahir para ilmuwan, pemikir, dan pemimpin yang membangun kemajuan umat manusia. Oleh karenanya, pendidikan tidak hanya berfungsi menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter, pola pikir, dan visi hidup manusia.
Namun hari ini, orientasi pendidikan mulai bergeser, bahkan berubah. Alih-alih menjadi pusat pengembangan ilmu dan lahirnya pemikir besar, pendidikan negeri dan perguruan tinggi lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Keberhasilan pendidikan pun sering kali diukur dari cepatnya lulusan terserap industri, hingga muncul wacana penghapusan jurusan yang dianggap tidak relate dengan kebutuhan tersebut.
Akibatnya, pendidikan menghadapi dilema: antara mempertahankan idealismenya untuk melahirkan manusia berilmu, kritis, dan berintegritas; atau tunduk pada kebutuhan industri yang menyempitkan makna ilmu hanya pada nilai ekonomi.
- Paradigma Sekuler Mengerdilkan Peran Pendidikan -
Tidak dimungkiri, arah kebijakan pendidikan kian menunjukkan keberpihakannya kepada kepentingan industri dan pasar kerja. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai sarana membangun manusia berkepribadian mulia dan bervisi peradaban, melainkan untuk mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan ekonomi modern. Berbagai kebijakan pendidikan akhirnya diarahkan untuk menghasilkan lulusan sesuai kebutuhan industri dengan indikator keberhasilan yang lebih menekankan kesiapan kerja. Alhasil, kampus berubah layaknya pabrik pemasok buruh.
Mahasiswa juga didorong memiliki keterampilan yang dibutuhkan perusahaan, tetapi kurang dibekali kemampuan memahami persoalan masyarakat secara mendalam. Tidak heran jika banyak lulusan akhirnya unggul secara teknis, tetapi lemah dalam identitas, visi hidup, dan tanggung jawab sosial. Mereka siap bekerja dalam sistem, tetapi tidak dipersiapkan untuk mengkritisi kerusakan sistem itu sendiri. Pendidikan akhirnya melahirkan generasi yang kompetitif di pasar kerja, tetapi miskin arah peradaban.
Fenomena ini tidak terlepas dari dominasi paradigma sekuler liberal dalam sistem pendidikan. Sekularisme memisahkan agama dan nilai spiritual dari kehidupan publik, termasuk pendidikan. Sementara itu, liberalisme menjadikan kebebasan individu dan mekanisme pasar sebagai dasar utama pengaturan kehidupan sosial dan ekonomi. Dalam paradigma semacam ini, pendidikan dianggap berhasil tatkala mampu menghasilkan lulusan yang terserap pasar kerja, bukan dari kemampuannya membentuk manusia berkualitas dan menghadirkan solusi bagi problem masyarakat.
Negara juga mengalami pergeseran peran. Ia tidak lagi menjadi penanggung jawab utama dalam membangun pendidikan yang berorientasi pada kemaslahatan umat, melainkan sekadar regulator dan fasilitator bagi industri dan mekanisme pasar dalam menentukan arah pendidikan. Akibat dominasi mekanisme pasar, kebijakan pendidikan menjadi pragmatis dan reaktif terhadap kebutuhan industri. Kurikulum terus berubah mengikuti permintaan pasar, bukan berdasarkan kepentingan strategis umat dan arah pembangunan peradaban.
- Pendidikan dalam Pandangan Islam -
Dalam Islam, pendidikan merupakan sarana membentuk kepribadian dan membangun peradaban. Ilmu tidak dinilai berdasarkan keuntungan materi, melainkan dari manfaatnya dalam mendekatkan manusia kepada Allah Swt. serta mengelola kehidupan sesuai syariat.
Allah Swt. berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11).
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim).
Kedua dalil tersebut menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan tinggi bukan karena nilai ekonominya, melainkan karena perannya dalam membentuk manusia beriman dan bertakwa, serta melahirkan peradaban yang mulia.
Menurut Imam Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, pendidikan memiliki posisi strategis dalam membangun peradaban Islam. Pendidikan bukan sekadar sarana mencetak tenaga kerja atau memenuhi kebutuhan industri, melainkan proses membentuk kepribadian Islam, serta menyiapkan generasi yang mampu memikul risalah Islam ke seluruh dunia. Oleh sebab itu, pendidikan tidak boleh dipisahkan dari akidah Islam sebagai landasan utama kehidupan.
Tujuan pendidikan adalah membentuk pola pikir (akliah) dan pola sikap (nafsiah) Islam pada diri setiap individu. Dengan pendidikan berbasis akidah, seseorang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketakwaan, adab, dan kesadaran bahwa ilmu adalah sarana meraih rida Allah serta membangun kemaslahatan umat. Inilah yang membedakan pendidikan Islam dengan pendidikan sekuler.
Peradaban Islam lahir dari sistem pendidikan yang benar, yakni ilmu sebagai kebutuhan mendasar umat. Wajib bagi negara untuk memberikan perhatian besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Dari sistem inilah lahir para ulama, mujtahid, ilmuwan, dokter, ahli matematika, astronom, dan berbagai tokoh besar yang berkontribusi bagi dunia.
Negara pun tidak boleh menyerahkan pendidikan kepada mekanisme pasar atau kepentingan kapitalisme. Pendidikan harus dijamin dan dikelola demi membangun generasi unggul. Jika pendidikan tunduk pada kepentingan materi dan industri, tentu ilmu akan kehilangan kemuliaannya dan pendidikan tinggi hanya menjadi tempat mencetak buruh pekerja.
Dalam kitab Muqaddimah ad-Dustur dijelaskan bahwa pendidikan merupakan sarana strategis untuk membentuk kepribadian Islam sekaligus melahirkan generasi unggul yang mampu memimpin peradaban. Oleh karenanya, kurikulum dan mata pelajaran dalam sistem pendidikan Islam tidak disusun berdasarkan kepentingan pasar atau industri, melainkan dibangun di atas akidah Islam sebagai asas utama kehidupan.
Akidah Islam tidak hanya diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi menjadi landasan berpikir dalam seluruh proses pendidikan. Seluruh materi pelajaran diarahkan untuk membentuk akliah dan nafsiah Islam pada diri peserta didik. Ilmu-ilmu syariah (seperti tafsir, hadis, fikih, usul fikih, bahasa Arab, dan tsaqafah Islam) menjadi fondasi utama pembentukan kepribadian. Adapun sains dan teknologi dipelajari sebagai wasilah memudahkan kehidupan manusia dan mendukung kemajuan peradaban, bukan untuk eksploitasi atau kerusakan. Dalam Islam, pengembangan ilmu pengetahuan selalu terikat dengan standar halal-haram serta kemaslahatan umat dan ketaatan pada Allah Taala.
- Proses Pembelajaran dalam Islam -
Dalam Islam, proses pembelajaran pendidikan tinggi menitikberatkan pada pengajaran learning by teaching (berbasis talaqqi dan pembinaan langsung, ed.) dibanding sekadar penelitian formal administratif. Fokus utama pendidikan bukan sebatas transfer ilmu, melainkan ilmu dipelajari secara mendalam agar mampu membentuk kepribadian Islam. Melalui metode ini, peserta didik didorong memahami ilmu secara serius hingga mencapai tingkat kepakaran dalam waktu yang efektif. Tradisi talaqqi (menerima secara langsung), diskusi ilmiah, penulisan karya, serta pembinaan langsung oleh para ulama dan ilmuwan, menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Oleh karenanya, orientasi pengembangan penelitian diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi umat dan negara.
Fakultas, universitas, dan lembaga pendidikan juga diatur secara terstruktur oleh negara guna menghasilkan generasi yang cemerlang dan berkualitas tinggi. Negara bertanggung jawab menyediakan fasilitas pendidikan terbaik, guru yang kompeten, perpustakaan, laboratorium, hingga dukungan finansial agar proses pendidikan berjalan optimal. Pengaturan mata kuliah dan program pembelajaran dilakukan secara sistematis agar peserta didik memperoleh pemahaman mendalam sesuai bidangnya tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Jurusan atau program studi dirancang berdasarkan spesialisasi untuk melahirkan tenaga ahli yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan negara. Pendidikan tidak diarahkan sekadar menghasilkan sarjana umum, melainkan mencetak pakar di berbagai bidang, seperti kedokteran, teknik, pertanian, ekonomi, militer, astronomi, dan lainnya. Setiap individu didorong untuk mendalami bidang tertentu sesuai kemampuan dan potensi yang dimiliki. Dengan demikian, negara mampu memenuhi kebutuhan strategis umat secara mandiri tanpa bergantung kepada negara lain.
Meski mendalami sains dan teknologi, peserta didik tetap dibekali pemahaman syariat Islam secara integratif. Seorang dokter, misalnya, tidak hanya memahami ilmu kedokteran, tetapi juga paham syariat terkait profesinya. Demikian p**a ilmuwan, insinyur, atau ekonom, semua terikat dengan nilai-nilai Islam dalam menjalankan keahliannya. Integrasi ini bertujuan agar ilmu tidak melahirkan kerusakan atau kesombongan, melainkan sarana membangun kemaslahatan manusia dan mendekatkan diri kepada Allah Taala.
Sejarah pun mencatat keberhasilan sistem pendidikan Islam dalam melahirkan ilmuwan besar yang memimpin perkembangan sains dunia. Ibnu Sina menjadi rujukan kedokteran selama berabad-abad. Al-Khawarizmi meletakkan dasar aljabar dan algoritma. Al-Biruni dan Ibnu al-Haytham memberikan kontribusi penting dalam astronomi, optik, dan metode eksperimen ilmiah. Tidak hanya sains, sistem pendidikan Islam juga melahirkan ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Al-Ghazali yang berkontribusi besar dalam bidang fikih, usul fikih, akhlak, dan pemikiran Islam.
- Khatimah -
Selama pendidikan tetap tunduk pada kepentingan pasar dan industri, pendidikan negeri/tinggi tidak akan melahirkan pembangun peradaban, melainkan sekadar tenaga kerja bagi sistem kapitalisme global. Oleh karenanya, perubahan pendidikan tidak cukup dilakukan pada kurikulum semata, tetapi harus menyentuh sistem kehidupan yang menjadi fondasinya.
Kurikulum berbasis akidah, jaminan pendidikan oleh negara, hingga arah pembangunan peradaban, tidak mungkin berjalan dalam sistem sekuler kapitalistik yang tunduk pada mekanisme pasar. Seluruh konsep pendidikan Islam tersebut hanya bisa diterapkan secara utuh melalui institusi negara yang menerapkan Islam secara kafah, yakni Khilafah.
Dalam institusi inilah pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi yang memadukan ketakwaan dengan kecerdasan, kuat secara syahsiah, unggul dalam ilmu pengetahuan, serta mampu menghasilkan karya nyata yang bermanfaat besar bagi peradaban manusia. Wallahualam.
Sumber: muslimahnews[dot]net
—————————
Silakan bagikan dengan mencantumkan sumber Puan Riau Bersyariah - Saatnya Muslimah Cerdas Politik
——————————
Follow kami di
Facebook:
Instagram:
Channel Telegram:
https://t.me/puanriaubersyariah
Saluran Whatsapp:
https://whatsapp.com/channel/0029VaigCsf3wtbFPeJ7fL1C
—————————