29/04/2026
Perjalanan Donat Pompom tidak dimulai dari ambisi besar, melainkan dari kesunyian yang perlahan diolah menjadi harapan. Di masa ketika dunia terasa melambat, Putri Ramanda justru menemukan ritmenya sendiri—di dapur rumah, di antara tepung, gula, dan doa-doa kecil yang tidak pernah diucapkan keras. “Kami tidak sedang membangun bisnis waktu itu,” ujarnya pelan, “kami hanya mencoba bertahan.” Namun justru dari titik bertahan itulah, sesuatu yang lebih besar mulai tumbuh.
Di Bukittinggi, semuanya dimulai dengan cara yang nyaris tidak terlihat sebagai bisnis. Open pre-order melalui WhatsApp, posting sederhana di Facebook, dan jaringan keluarga yang bekerja dalam diam. Tidak ada toko, tidak ada branding, hanya kepercayaan. Pesanan datang satu per satu, lalu bertambah, lalu berlipat. Dari setengah kilo menjadi puluhan lusin. Dari garasi rumah, lahir sebuah ritme produksi yang pelan namun pasti. “Kami bahkan tidak sadar kapan ini berubah jadi serius,” katanya.
Di balik layar, ada orkestrasi keluarga yang berjalan tanpa banyak teori. Putri mengelola operasional, ibunya menjaga kualitas rasa, sementara adiknya menghidupkan dunia digital—konten, desain, hingga promosi. Kombinasi ini menjadi kekuatan yang tidak dibuat-buat, melainkan tumbuh secara organik. Sebuah model bisnis keluarga yang menemukan bentuknya sendiri. “Kami tidak punya blueprint,” kata Putri, “tapi kami punya rasa saling percaya.”