28/05/2026
Langkah kaki Yali terhenti di batas bukit. Angin pegunungan bertiup kencang, membawa aroma tanah basah bercampur bau solar dari mesin-mesin raksasa di bawah sana. Matanya menatap nanar. Di hadapannya kini terbentang garis pemisah yang teramat kejam: di sebelah kanan, hutan adatnya masih berdiri megah dan hijau; namun di sebelah kiri, tanah leluhurnya telah dikuliti, menyisakan lereng gundul berwarna cokelat gersang yang dipenuhi batang-batang pohon tumbang berserakan.
Yali meraba busur dan anak panah yang tersandang di bahunya. Hiasan kepala dari bulu burung cenderawasih yang dikenakannya terasa lebih berat dari biasanya. Kepalanya dipenuhi oleh gema ucapan mendiang ayahnya, sebuah mantra hidup yang dipegang teguh oleh sukunya sejak ribuan tahun lalu:
"Hutan ini adalah supermarket kita, Yali. Jika kau lapar, dia menyediakan sagu dan babi hutan. Hutan ini adalah apotek kita. Jika kau demam, daun-daun di sana adalah obatnya. Budaya kita lahir dari desau angin di sela pohon-pohon ini. Dan yang terpenting, Ibu Bumi memberikan semuanya dengan gratis. Kita hanya perlu menjaganya."
Kini, "supermarket" dan "apotek" itu sedang sekarat.
Yali melangkah mundur, kembali masuk ke dalam rimbunnya hutan yang masih tersisa. Ia memetik selembar daun obat untuk ibunya yang sedang sakit di kampung. Di bawah rindangnya pohon matoa yang besar, ia terduduk lesu. Suara raungan ekskavator di kejauhan terdengar bagai jeritan minta tolong dari pepohonan yang tumbang satu demi satu.
Bagi orang-orang yang datang dengan mesin-mesin besi itu, hutan ini hanyalah tumpukan angka, kubikasi kayu, dan lahan tambang yang menjanjikan kertas-kertas bernama uang. Mereka tidak mengerti bahwa ketika sebatang pohon roboh, sebagian dari jiwa, sejarah, dan masa depan suku Yali ikut terkubur bersamanya.
"Jika hutan ini habis," bisik Yali pada kesunyian rimba, "ke mana anak-cucu kami akan berbelanja? Apotek mana yang akan menyembuhkan luka kami? Dan tanpa hutan, siapakah kami yang tersisa?"
Air mata Yali menetes pelan, membasahi tanah subur tempat kakinya berpijak. Ia bertekad, selama busur di tangannya belum patah dan napasnya belum habis, ia akan terus berdiri menjadi benteng terakhir bagi rimba yang telah menghidupinya tanpa meminta bayaran sepeser pun.