02/03/2016
Bersatulah Para JOMBLO
“ Pada tahun tahun yang akan datang akan semakin banyak populasi lajang di indonesia “
Kalimat diatas sudah seperti perkataan seorang paranormal yang meramalkan nasib keadaan masa depan, tapi biarkanlah karena sebagai prolog tentu harus menarik dan membuat penasaran pembacanya
Jomblo sebuah kata yang akrab dan lazim kita dengar, sebuah kata yang menunjukan status sosial seseorang yang tidak memiliki pasangan baik resmi ( pernikahan ) maupun tidak ( pacaran ) , dari segi jumlah mungkin banyak jumlah tapi jumlah pastinya penulis kesulitan mencari referensi nya, terutama di google mungkin kerena google nya juga jomblo hehehe, tanpa disadari kehidupan sehari hari kita sangat erat dengan kata jomblo ini, entah sebagai alat iklan di media massa sampai acara acara tv , sinetron sampai film nya juga ada, motivator sekaliber mario teguh juga sering mengulas kata jomblo ini. Menarik memang apalagi penulis saat ini juga lagi jomblo hehehe, sudah jangan tertawa (anda yang baca juga tidak jaminan tidak jomblo )
ditelisik agak kedalam ternyata banyak motif kenapa orang jomblo, setidaknya ada beberapa penyebab mulai dari motif ekonomi sampai motif keyakinan/iman. Kalau motifnya keyakinan saya sangat menghargai itu, tapi dalam tulisan ini saya sedikit mengulas dari prespektif ekonomi nya yaa
oke...kenapa sih kalian jomblo ?
a. Sulit mendapatkan pasangan karena fisik kurang menarik
b. Belum menemukan pasangan yang cocok
c. Fokus pada karier ( pendidikan/pekerjaan )
d. Karena kesulitan keuangan
e. TAKDIR
Biasa nya sih alasanya kenapa jomblo seperti itu, ya gak jauh jauh lah. tapi karena kehidupan jomblo itu woles woles aja kita hampir gak mau mikir lebih dalam, udah jomblo suruh mikir lagi hehehe
Perkembangan tekhnologi terutama jejaring sosial seharusnya memudahkan para jomblo jomblo ini menemukan pasangan nya, walaupun pada realita nya memang lebih memudahkan tetapi kenapa populasi jomblo juga tidak menurun drastis, faktanya sangat mudah menemukan para jomblo ini disekitar kita,berserakan. Atau perlukah pemerintah mengeluarkan kebijakan status jomblo berbayar seperti plastik berbayar yang kontroversial itu hehehe
Dalam menjalin suatu relationship ( hub**gan ) baik pacaran maupun pernikahan tidak hanya sebatas berbicara tentang dinamika romantika nya saja, kasih sayang, cinta suci sejati satu satu nya nan abadi. Tapi dibalik itu ada realitas yang harus dipahami bahwa dalam proses menjalin hub**gan itu semua butuh logistik yang mencukupi ( baca : biaya ), pulsa,bensin,makan,nonton, karokean,nongkrong bareng kekasih hati, yang kalau dikalkulasikan tidak sedikit tentunya
( terutama kalau alasanya jomblo pada point D )
tentu kita tidak bisa menafikan ini semua, toh kita sering dengar begini “ kalau sudah banyak uang ( kaya ) , perempuan pasti ngikut “ sebagai jomblo saya menafsirkan begini “ kalau ekonomi nya sudah mapan, mencari pasangan akan mudah ” apalagi ditambah dengan bayangan ideal dalam fikiran kita para jomblo bahwa dalam sebuah pernikahan ideal nya di mulai dari sebuah resepsi yang megah nan elegan , bagaimana tayangan televisi sangat gencar membangun kesadaran palsu ini, bagaimana pernikahan pernikahan mewah para artis artis terkenal ini dikeas dan ditayangkan bahkan secara live (sudah kayak pertandingan bola aja ya ) ditayangkan berhari hari, sangat membius terutama bagi perempuan sehingga menjadi bayangan pernikahan impian,sangat didambakan dan terkesan membanggakan semakin mewah semakin membanggakan, sehingga kita lupa esensi pernikahan itu sendiri.
Nah kalau resepsi mewah yang jadi STANDARISASI nya kan sangat MENYERAMKAN ( terutama bagi anda yang alasan jomblo nya pada point D )
maksudnya apa sih ?? untuk lebih sederhanya seperti ini
Status jomblo bertalian erat pada keadaan ekonomi seseorang
Agak menyedihkan memang, tapi kita lihat siapakah mayoritas jomblo ini? , tentu jawaban mayoritas para jomblo ini adalah mereka yang berada pada usia produktif atau yang biasa disebut PEMUDA, pemuda yang permasalahan pokok nya adalah lapangan pekerjaan diranah ekonomi dan pendidikan diranah kebudayaan. Sulitnya mencari pekerjaan walaupun sudah bergelar sarjana,masih ingatkan fenomena stadion glora b**g karno yang dipenuhi oleh para pencari kerja untuk mendaftar jadi tukang ojek ( baca Gojek ). Atau teman teman kita yang kebingungan mendapatkan pekerjaan setelah lulus, sudah dapat pekerjaan pun masih bermasalah pada upah atau gaji yang rendah, kepastian status pekerjaan ( sistem kontrak/outsourching ) sampai PHK sepihak, apalagi bicara pendidikan kita saat ini yang semakin mahal , walaupun digembor gemborkan program entreprenuership/kewirausahaan tapi tidak sedikitpun menghilangkan esensi pendidikan kita yang hanya mencetak lulusan lulusan yang berorientasi mencari pekerjaan dan tenaga lulusan yang berkualitas rendah dan siap digaji murah. Betul apa bener.... keadaan ini tentu tidak alamiah terjadi begitu saja pasti ada penyebab nya, istilahnya sudah di desain
Dan kondisi seperti ini apabila dibiarkan terus menerus akan berakibat semakin banyak nya jomblo jomblo baru, dan akhirnya menjadikan populasi lajang di indonesia semakin banyak, nah jadi jelas kan kenapa para jomblo harus bersatu, Jomblo adalah kaum yang sangat berkepentingan untuk merubah keadaan ini,dengan apa?? Pastinya dengan persatuan dan persatuan itu hanya akan didapat dengan berorganisasi, bangunlah organisasi jomblo yang progresif yang tidak hanya berbicara romantika percintaan saja, tapi peduli akan kondisi sosialnya. masih bingung??? dasar JOMBLO
Kamis, 3 maret 2016
Ditulis oleh : Muhammad Halil
Mahasiswa Jurusan ilmu komunikasi
Universitas Muhammadiyah Riau
( kontak 085364168893 )