Mikhayla Nazhia

Mikhayla Nazhia vlog pribadi

"Enggak Om. Aku gak mau u4ng jajan. Aku ... aku gak mau Om sakiti lagi. Aku ... berda rah, Om." -----HANYA GADIS KECILBa...
13/11/2025

"Enggak Om. Aku gak mau u4ng jajan. Aku ... aku gak mau Om sakiti lagi. Aku ... berda rah, Om."

-----

HANYA GADIS KECIL

Bab 1

S4kit.

Ny3ri.

Hanya itu yang kurasakan. Hari ini dia melakukannya lagi. Entah sudah lima atau tujuh kali, aku tak menghitungnya dengan pasti. Hanya saja, akhir-akhir ini setiap pulang sekolah, ia menghadangku di sana, di samping gubuk tua itu.

Setelah melakukannya, ia tersenyum lalu menyodorkan selembar u4ng lima ribuan ke tanganku. Aku memang senang mendapatkan u4ng itu, karena sudah lama tak pernah lagi dikasih u4ng jajan sama Ibu. Ibu tak henti mengomel dan juga mengeluhkan u4ng belanja yang tidak rutin dikasih Bapak. Namun, rasa s4kit yang kurasakan di bawah sana, terkadang menjadikanku kapok untuk menuruti keinginan laki-laki itu.

Sebelum menyuruhku pergi, dia memilin lenganku dengan sangat kencang. Matanya bulat menatapku dengan am4rah, mengancam agar aku tidak mengadukan perbuatannya pada siapapun.

Aku bisa apa?

Tangis karena rasa p3rih menyayat, hanya bisa kutelan dalam-dalam.

***

Hari ini, dia melakukannya lagi. Percuma kalau aku melawan, karena jalan pulang sekolah di samping gubuk itu sangat sepi. Tidak ada sesiapa yang bisa menolong, meski aku berteriak sekuat tenaga. Rumah kecil kami berada jauh di pelosok kebun yang tidak terawat. Badanku yang kurus ceking takkan mampu melawan tubuhnya yang tinggi besar.

Hari ini rasa s4kit yang kurasakan, lebih dari biasanya. Bahkan kedua kaki serasa tak sanggup kulangkahkan. P3rihnya bak disayat-sayat. Namun, aku harus tetap kuat. Bekerja membersihkan rumah, dan mencuci pakaian dan piring adalah tugas yang tak bisa kuelakkan. Tak peduli, sesakit apapun yang ragaku tanggungkan. Ibu bisa marah jika ku hanya berdiam diri. Cu bitan, tam paran, jam bakan, bahkan han taman sapu ijuk sudah biasa kuterima, jika sedikit saja lalai dari tanggung jawab.

Mengadukan pada Bapak? Percuma. Semenit pun, beliau tak memberiku waktu untuk berkeluh kesah. Hanya h4rdikan yang kudapat, jika bersikeras menumpahkan segala keluh. Hari-harinya disibukkan oleh hal yang tidak pernah ku mengerti. Jikalau ada waktu beliau di rumah, semua hanya dihabiskan untuk tidur di kamar, atau di sofa butut tepat di belakang jendela.

Piring kotor masih sebaskom penuh menunggu untuk segera kubersihkan. S4kit menyayat kurasakan lagi di sekitaran pinggang hingga pahaku, diiringi rasa ingin buang air kecil. Kuurungkan membereskan cucian, dan beranjak ke kamar kecil, dengan kedua kaki gemetar menahan rasa s4kit.

Aku terp3kik, karena yang keluar bukannya air seni, tapi tetes-tetes dar4h. Aku tahu, sebenarnya ini bukan baik-baik saja.

"Naya!"

Suara teriakan Ibu menyentakkanku dari lamunan dan rasa takut itu. Segera kususut air mata yang entah sejak kapan membanjiri wajah.

Ibu muncul di depan pintu kamar kecil dengan berkacak pinggang. Matanya memerah menatap tajam.

"Ngapain kamu santai-santai di sini? Piring kotor itu sampai kapan kau pajang aja di sana? Hah!" Ibu mendorong kepalaku, hingga tubuhku terhuyung ke belakang.

"Aku ... aku sa ... kit, Bu." Gemetar ku menjawab, takut Ibu melayangkan tangan lagi.

"Sakit? Halaahh! Gak usah berpura-pura Naya. Kau pikir aku bakal kasian, lalu membebaskanmu dari tugas-tugas?" Ibu menarik tanganku agar berdiri sejajar dengannya.

Aku mulai menangis. "Tapi benar Bu, aku sakit, berd4 rah ... Om itu ...."

Tanpa menanggapi, Ibu menjambak kepangan rambutku yang menjuntai ke samping.

"Ibu gak mau mendengar alasan apa-apa lagi. Dengar?"

Ibu berlalu, meninggalkanku berdiri tergugu di sisi pintu. Berharap dikasihani, berharap pertolongan, tapi yang didapat malah rasa terabaikan. Aku harus bagaimana?

***

Kakiku gemetar mendekat ke arah gubuk. Tak ingin hal yang sama terulang lagi. Rasa sakit yang kurasakan belum mereda. Pun begitu dengan d4 rah yang selalu ikut menetes tiap kali keinginan buang air kecil datang.

Kali ini aku harus bisa lepas dari cengk3raman laki-laki itu. Harus. Tekad sudah bulat, menyiapkan kaki untuk berlari saat belokan menuju gubuk sepi itu. Aku bersyukur, karena yang tampak awalnya cukup sepi. Laki-laki berbadan gempal itu tidak ada di sana.

Aku bersiap, lalu lari.

Tepat di samping sebatang pohon, di sisi kiri gubuk, langkahku spontan terhenti. Dia ada di sana, menghadangku dengan kedua tangan dibuka di depan dada. Wajahnya menyeringai.

"Mau kemana gadis kecil? Lari?" Dia tertawa kencang.

"Tolong lepaskan aku kali ini, Om. Aku ... aku ...." Gugup aku berkata padanya.

Dia tertawa lagi.

"Aku ... s4kit, Om. Sa kit sekali."

"Apa? Sa.kit? Haalaah, jangan bohong. Ayolah, sebentar aja. Nanti u4ng jajannya Om lebihin deh. Sepuluh ribu, atau dua puluh?"

Aku menggeleng kuat. "Enggak Om. Aku gak mau u4ng jajan. Aku ... aku gak mau Om sakiti lagi. Aku ... berd4 rah, Om." Aku terus memohon padanya. Berharap belas kasihan, agar dibebaskan dari rasa s4 kit yang dihujamkan selama ini.

"Berd4 rah? Apanya? Yuk sini Om liat dulu. Nanti Om obatin ya!" Laki-laki itu menarik lenganku.

"Enggak, Om! Lepas! Aku mohon, tolong lepaskan! Tolong!"

Dia terus menarik tangan yang sudah sekuat tenaga aku pertahankan. Namun, percuma. Kekuatan ragaku kalah jauh dsri badan besarnya.

Dan, lagi-lagi aku menjadi santapannya.

***

Air mata basah membanjiri wajah. Rasa sakit ini semakin nyata, terasa meng0yak seluruh raga. P3rih dan menyayat. Bahkan kaki ini tak sanggup lagi kugerakkan.

Kulangkahkan kaki tanpa arah, menelusup ke dalam hamparan semak belukar. Aku sadar ini bukanlah jalan menuju rumah. Namun, untuk apa lagi aku pulang? Karena sebias sedih dan rasa s4 kit saja tak bisa kulampiaskan. Kemana pun pergi, aku akan tetap menjadi gadis kecil yang sepi, hanya sendiri.

Kepada siapa akan kuadukan segala gundah dan resah? Ibu tiada peduli, Bapak pun seperti tak menyayangi. Diri ini layaknya tenggelam dalam pusaran kesedihan yang mendalam. Rasa sa kit bertubi-tubi menerpa badan.

Di tengah lautan kesedihan, aku mendengar suara gemericik air. Terdengar merdu dalam kelamnya nestapa yang menimpa badan. Tak ubah ibarat nyanyian syahdu di tengah raungan kesedihan yang berpanjangan. Kupercepat langkah mencari dimana asal suara itu. Semakin lama, suara itu semakin terdengar jelas, jelas, dan semakin jelas.

Entah dimana aku sekarang. Di depanku terhampar sungai dengan dinding-dinding tanah yang curam. Di bawah sana, mengalir deras air di antara bongkahan-bongkahan batu yang besar.

Di sinikah penawar dari segala rasa sakitku? Wajah almarhumah Nenek, satu-satunya orang yang menyayangiku dengan tulus, tampak jelas di bawah sana. Seolah memanggil, membujuk, agar aku ikut bersamanya, melepaskan segala rasa sakit dan gundah tak berkesudahan.

Aku lelah. Wajah beringas laki-laki itu, gebu kan Ibu dan har dikan Bapak yang menggema, adalah makanan wajib yang harus kutelan setiap hari. Aku lelah. Hidup ini terasa sangat menyakitkan. Apalah dayaku yang hanya gadis kecil sepuluh tahun, yang bertubuh kurus ceking layaknya kurang gizi.

Seharusnya di usia ini, aku menikmati yang namanya masa kecil dengan limpahan kasih sayang. Namun, apa yang aku dapatkan? Hanya ke k3rasan. Tidak hanya kek3rasan verbal, fisik, tapi juga s3ksu4l.

Untuk apalagi aku hidup? Tidak ada satu alasan pun, yang membuatku semangat untuk bertahan dalam terpaan badai kehidupan ini.

Perlahan kakiku melangkah maju, menuju tepian sungai yang basah, bekas sisa hujan tadi pagi. Tuhan, ambil saja nyawaku! Semakin lama, tubuhku semakin mendekat di tepi sungai. Lambaian tangan Nenek semakin jelas terbayang di ruang mata. Tuhan, aku hanya anak sepuluh tahun. Ini sungguh berat untuk kupikul. Aku ingin bebas, bermain di taman syurgaMu, mereguk sebanyak-banyaknya kebahagiaan yang tak pernah kurasakan di dunia ini.

Dan, sekejap kupejamkan mata, tubuh ini sudah melayang di udara. Aku masih sempat tersenyum, bahagia lepas dari jerat kesedihan ini. Selamat tinggal, Dunia. Aku kembali pada Yang Maha Menyayangi.

Rasa s4 kit kembali menyerang. Lalu, gelap sempurna.

---

Bersambung

Sudah tamat di KBM App

Judul : Hanya Gadis Kecil (TAMAT)
Penulis : mikhaylanazhia

"Bersedia menikah denganku, berarti bersedia juga kujadikan BUDAK!"Bab 1."Kenapa harus aku?!"Kata-kata itu meluncur dari...
26/10/2025

"Bersedia menikah denganku, berarti bersedia juga kujadikan BUDAK!"

Bab 1.

"Kenapa harus aku?!"

Kata-kata itu meluncur dari mulutku, tak terkendali. Suaraku menggema, memecah kesunyian ruang tamu yang terasa pengap. Dadaku terasa seperti diremas, mataku perih menahan air mata.

Aku baru pulang kerja. Aroma pendingin ruangan minimarket masih menempel di kemeja kasirku yang lembap oleh keringat. Lelah merayap sampai ke tulang. Tapi rumah ini menyambutku dengan kabar gila yang membuat kepalaku nyaris meledak.

Di depanku, Bu Siska, ibu tiriku, menatapku. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Di sebelahnya, Ririn, adik tiriku, membuang muka sambil sibuk mengagumi kukunya yang baru di-manikur. Seolah mereka baru saja memutuskan menu makan malam, bukan menghancurkan sisa hidupku.

"Kamu akan menggantikan Ririn," ulang Bu Siska, seolah ia baru saja mengomentari cuaca. "Menikah dengan Elandra."

"Kalian sudah gila?!" Aku berteriak, tanganku bergetar hebat. "Kemarin, waktu dia masih kaya raya dan sempurna, kalian berebut menjodohkannya dengan Ririn! Sekarang, begitu dia kecelakaan, lumpuh, dan katanya bangkrut ... malah kalian lempar ke aku?!"

Napasku tersengal. "Apa aku ini tempat sampah bagi kalian, hah?!"

"Jaga mulutmu, Alea!" Suara Bu Siska meninggi. "Kamu pikir hidup ini selalu tentang maumu saja? Kalau bukan kamu, siapa lagi?"

Ia melemparkan selembar surat ke meja. Kertas itu berkop surat firma hukum mewah.

"Keluarga Elandra menuntut ganti rugi miliaran karena Ririn membatalkan pernikahan. Memangnya kamu punya uang untuk membayarnya?"

"Kalian yang buat masalah, kenapa aku yang harus diseret ke dalamnya?!"

Bu Siska tertawa. Bukan tawa terbahak, hanya desisan pelan dari tenggorokannya yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Kamu lupa, Alea?" desisnya. "Kamu lupa siapa yang melunasi semua hutang judi almarhum ayahmu? Siapa yang membiarkanmu tinggal di rumah ini? Kamu berhutang segalanya padaku!"

Aku tertegun. Kata-katanya menghantamku telak. Hutang. Belenggu yang membuatku tak bisa lari dari rumah ini.

"Anggap saja kau beruntung." Bu Siska melanjutkan, sudut bibirnya tertarik tipis. "Setidaknya masih ada yang mau. Seorang lumpuh pun masih lebih baik daripada kamu jadi perawan tua."

"Benar kata Mama." Ririn akhirnya bersuara, nadanya santai penuh keangkuhan. "Aku masih muda, cantik, punya masa depan. Aku tidak akan membuang hidupku hanya untuk mengurus laki-laki cacat."

Aku menatapnya tak percaya. Ririn menyeringai, sudut bibirnya terangkat penuh penghinaan. "Udahlah, Kak, terima aja. Kamu jelas lebih cocok untuk dia. Kamu tak punya apa-apa yang pantas dipertahankan. Setidaknya dengan menikah dengannya, kau masih dianggap berguna."

Tanganku mengepal sampai kuku menekan telapak. Amarah, rasa muak, dan keputusasaan bergolak menjadi satu di dadaku. Mereka benar. Aku terpojok. Aku tidak punya pilihan.

Bu Siska melihatku luruh. Ia tahu ia sudah menang.

"Keputusan sudah final," katanya, seolah menutup sidang sepihak itu. "Pernikahannya lusa. Bima, asisten Elandra, akan menjemputmu besok untuk mengurus surat-surat."

Aku tidak sanggup lagi. Aku benci diriku yang lemah. Aku benci ayahku yang bahkan setelah meninggal pun masih menyiksaku dengan warisan utangnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik. Aku mengabaikan tawa pelan Ririn di belakangku.

Aku berlari ke kamar, satu-satunya tempat persembunyianku, dan membanting pintu.

Begitu pintu tertutup, kakiku lemas. Aku rebah di lantai, membenamkan wajah ke bantal tipis di kasur, dan menangis sekeras-kerasnya. Bukan tangisan sedih. Ini tangisan amarah.

Aku meremas bantal itu erat-erat, mencoba meredam teriakanku.

Tak peduli seberapa keras aku melawan, aku hanyalah boneka di rumah ini. Dan hari ini, mereka memutuskan untuk membuangku.

---

Ada di KBM App
Judul : CEO Lumpuh Itu Suamiku
Penulis : Sylvia Basri

"Maksudmu apa? Kamu mau bilang kalau keberatan mengeluarkan uang untuk rumah ini?"UTANG SATU JUTABAB 1"Buk, aku kapan ma...
17/01/2025

"Maksudmu apa? Kamu mau bilang kalau keberatan mengeluarkan uang untuk rumah ini?"

UTANG SATU JUTA

BAB 1

"Buk, aku kapan mau dibelikan baju lebaran?"

Tangan Arum yang sedang menyiangi sayuran tertahan begitu saja mendengar pertanyaan anak sulungnya. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Mutia memberikan pertanyaan yang tidak tahu harus ia jawab dengan apa. Jangankan untuk berpikir membeli baju lebaran, untuk biaya makan sehari-hari saja, Arum masih berpikir panjang. Mau bagaimana lagi? Gaji suaminya sebagai buruh harian di toko bahan bangunan milik juragan Asep tidak seberapa. Gaji seratus ribu perhari jauh dari kata cukup.

Jika hanya mereka empat beranak yang dihidupi, mungkin gaji sebanyak itu masih bisa dibilang cukup. Bahkan mungkin masih bisa disisihkan beberapa ribu untuk ditabung. Akan tetapi, di rumah ini, di rumah sang ibu, ada tiga orang dewasa lain yang menumpang hidup dengan mereka. Mau tidak mau, karena posisi mereka memang menumpang di rumah orang tua, Arum dan Yahya, sang suami yang menanggung semuanya. Sang ibu, Mak Laila, memilih berlepas tangan untuk semua keperluan keluarga. Padahal walaupun seorang janda, beliau ada pendapat rutin setiap bulannya dari lima petak rumah yang disewakan. Setidaknya hampir empat juta yang diterimanya setiap awal bulan. Jangankan memikirkan lauk yang harus terhidang di meja makan setiap harinya. Untuk biaya tagihan listrik saja, beliau selalu meminta pada Arum. Padahal beliau tahu sendiri gaji perhari Yahya sudah habis terkuras untuk mencukupi biaya dapur.

Mak Laila selalu beralasan, uangnya habis untuk biaya kuliah Anggi, adik bungsu Arum. Padahal setahu Arum, biaya kuliah Anggi sudah dicover Alwi, adik laki-lakinya yang juga masih tinggal bersama mereka.

Tidak hanya itu, Asih yang tinggal tidak jauh dari rumah itu, setiap kali datang berkunjung, selalu saja ada yang diambilnya dari lemari dapur. Kalau tidak ada bahan mentah yang bisa dibawanya, bahkan tidak jarang lauk yang sudah dimasak Arum diembatnya. Jika Arum melarangnya, pasti akan dijawab dengan kalimat yang menyakitkan hati. Seakan-akan Arum dan suaminya, serta anak-anak mereka hidup bergantung pada sang ibu.

"Sok-sok berkuasa, padahal bisanya cuma nyedot darah orang tua. Dasar gak punya otak!" bentak sang kakak. Arum hanya bisa menekan dadanya yang terasa sangat sakit mendengar kata-kata itu. Bibirnya hanya bisa diam, meski banyak sanggahan yang ingin ia ucapkan. Jika ia berani menyanggah, maka sang ibu yang akan ikut bersuara.

"Sama saudara saja pelit! Makanya gak kaya-kaya! Sampai mati pun akan tetap miskin kayak gitu!"

Diam lebih baik untuk semuanya. Untuk keluarganya yang memiliki kuasa, dan juga untuk hatinya.

Alhasil, tidak ada sepeserpun, yang bisa Arum tabung dari gaji suaminya. Lalu, dengan apa ia akan membelikan membelikan Mutia baju lebaran?

"Kok Ibuk malah ngelamun?"

Mutia mengguncang pelan lengan sang ibu. Mata Mutia menatap penuh harap pada ibunya. Tahu apa anak seusianya dengan kesulitan hidup? Yang ia tahu, bagaimana ia bisa hidup sama dengan teman-temannya.

"Nanti ya, Nak. Ibuk belum punya uang. Kakak sabar dulu ya," jawab Arum sembari tersenyum pilu. Hatinya terluka melihat binar harapan pada mata anaknya.

"Tapi, kapan, Buk? Udah mau lebaran lho. Fara dan Rafa udah beli baju lebaran, banyak. Tadi mereka pamerin sama kakak."

"Nanti ibuk bilang sama bapak ya, biar dikasih uang untuk beli baju Kakak dan adek. Nanti kita pergi ke pasar bareng-bareng," janji Arum. Mau tidak mau, nanti malam ia harus bicara sama suaminya. Arum tidak tega melihat mata Mutia. Mata bening anak-anak yang menyiratkan harapan besar.

Mata Mutia berbinar terang. "Benar ya, Buk?"

Arum mengangguk.

"H**e!" teriak Mutia. Lalu dia bergerak cepat, berlari ke arah pintu dapur.

"Lho, Kakak mau ke mana?" panggil Arum.

Mutia kembali mendekat. "Ke tempat Fara lagi lho, Buk. Mau bilang sama dia, nanti kakak beli baju lebaran."

"Gak usah, Sayang. Udah ah, Kakak di sini aja bantu ibuk."

"Tapi, Buk, dia terus ngejek kakak belum punya baju lebaran. Kakak malu sama teman-teman yang lain. Gara-gara dia, kakak diketawain."

Hati Arum kembali berdenyut nyeri. Fara adalah anak Asih, berarti sepupu dekat dengan Mutia. Tetapi, kenapa justru dia yang tega melukai hati anaknya?

Arum tidak memiliki cara lagi untuk menahan Mutia untuk pergi. Ditatapnya punggung sang anak dengan hati yang gamang. Satu harapan terbesit dalam hatinya. Semoga ia dapat mewujudkan keinginan kecil anaknya itu, meski bagaimana pun caranya.

"Baju lebaran aja gak kebeli, gimana gak diejek?"

Belum pulih gamang hati Arum, suara sang ibu terdengar di belakangnya. Wanita bertubuh tinggi itu duduk di salah satu kursi meja makan. Matanya tidak melirik sedikit pun ke arah Arum. Selama ini, dia lebih banyak diam jika berhadapan dengan sang ibu. Akan tetapi, kali ini entah kenapa ia merasa harus bicara. Diputarnya tubuh agar dapat lebih leluasa menatap sang ibu.

"Gimana mau beli baju, Mak? Kalau gaji Bang Yahya setiap hari abis untuk biaya dapur saja?" ujar Arum pelan.

Tanpa Arum sangka sedikitpun, wajah Mak Laila berubah menjadi merah.

"Maksudmu apa? Kamu mau bilang kalau keberatan mengeluarkan uang untuk rumah ini?"

"Maksud Arum bukan gitu, Mak. Arum hanya ingin Mak tahu, kalau hidup kami ini sulit. Tolong prihatin sedikit sama Mutia. Ia cuma anak kecil." Arum tersedu.

"Makanya suruh suamimu itu bekerja lebih keras, biar pemasukan juga banyak. Bukan malah menyalahkan orang lain dengan kemiskinan kalian. Kalau kamu merasa berat hidup bersamaku, ya udah angkat kaki dari rumah ini! Hidup numpang tapi berlagak sok kaya!" Mak Laila menggebrak meja di hadapannya dengan kencang.

Satu persatu tetesan bening berjatuhan dari wajah Arum begitu saja. Kalimat sang ibu yang baru saja keluar itu, begitu tajam dan seketika menyayat relung hatinya yang paling dalam. Tega sekali ibunya itu mengucapkan kalimat sekejam itu padanya, padahal ibunya tidak mungkin tidak tahu seberapa berat hidup yang ia jalani. Tidakkah ada sedikit saja rasa empati untuk anaknya itu?

Tangan Arum dengan cepat menyapu wajahnya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melupakan luka hatinya, tapi begitu sulit. Setiap kali disapu, air mata dia wajahnya kembali bercucuran dengan deras. Andai saja dia memiliki kemampuan untuk pergi dari rumah yang terasa seperti neraka ini.

***

Sudah tamat di KBM App

Judul : Utang Satu Juta
Penulis : Sylvia Basri

Kenapa Kalian Membuang Ibu?Bab 4๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนKarena kaget, Zaydan spontan melempar botol parfum berbentuk bulat telur yang ada di ...
22/01/2024

Kenapa Kalian Membuang Ibu?

Bab 4

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

Karena kaget, Zaydan spontan melempar botol parfum berbentuk bulat telur yang ada di tangannya. Dan ....

Braaakkk ....

Botol kaca itu pecah!

Aroma parfum itu menguar memenuhi kamar. Darah Eliza mendidih. Emosinya tidak terkendali, karena melihat semuanya yang sudah berantakan. Padahal, ia hanya sebentar meninggalkannya. Itupun dalam keadaan tidur lelap. Akan tetapi, yang sebentar itu ternyata berakibat fatal baginya. Semua kosmetiknya hancur. Padahal untuk membeli semua itu, ia harus berjibaku, menghemat segala pengeluaran. Tujuannya agar ia juga bisa cantik di depan suami. Tetapi, dalam sekejap, Zaydan sudah menghancurkan.

Eliza meraih tubuh Zaydan, untuk menjauhkannya dari pecahan beling botol parfum itu. Tangannya bergerak ke arah paha Zaydan, lalu mencubitnya dengan keras.

Zaydan terpekik. Tangisnya pecah, dengan suara keras yang memenuhi rumah dengan tiga kamar itu.

---

Setiap sore, Eliza selalu memapah tubuh ibunya ke arah ruang tamu. Duduk di kursi sebelah dinding, yang ia hadapkan ke arah televisi. Eliza berpikir, ibunya itu pasti suntuk diam di kamar seharian. Jika berada di luar, banyak yang akan dilihatnya. Tingkah pola kedua cucunya, juga bisa membuatnya terhibur.

"Kalau ada apa-apa, panggil El ya Bu. El di belakang, mandiin anak-anak dulu," ujar Eliza, setelah menghidupkan televisi, sebagai hiburan untuk ibunya.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima. Eliza harus segera memandikan anak-anaknya. Sebentar lagi, Agung akan pulang dari bekerja. Jika sudah ada di rumah, akan susah mengajak anak-anaknya mandi. Mereka akan sibuk bersama sang ayah.

Saat membuka pakaian Zaydan, Eliza melihat bekas memar kemerahan di paha kiri anaknya itu. Rasa bersalah Eliza timbul di dadanya. Ternyata cubitannya gara-gara kosmetik tadi meninggalkan bekas. Pantas saja, Zaydan terpekik hingga sehisteris itu. Pasti sakit sekali yang anak itu rasakan.

Hampir setengah jam, Eliza baru bisa membawa kedua anaknya itu keluar dari kamar mandi. Seluruh tubuhnya basah. Ia menghela napas panjang. Ritual mandi saja umpama pertempuran bagi Eliza. Banyak drama di dalamnya.

Tepat saat ia menggend**g tubuh Zaydan untuk dibawa ke kamar, suara sepeda motor terdengar di halaman. Tentu saja Agung yang pulang dari bekerja. Mendengar suara itu, Zaydan langsung berontak ingin turun dari gend**gan Eliza. Meskipun ditahan sekuat tenaga, percuma saja. Ia semakin berontak, tidak peduli ia akan jatuh karena terlepas.

"Ya ... a ...ayah ...." teriaknya, khas suara anak yang baru belajar bicara.

Eliza terpaksa menurunkannya. Tetapi, Eliza urung langsung melepaskannya. Sebagian tubuh Zaydan masih basah. Apalagi kakinya. Berlari dalam keadaan seperti itu, pasti bahaya. Jari-jari anak seusia Zaydan masih belum kokoh untuk menahan tubuh. Bisa jadi ia akan terpeleset karena licin.

"Keringkan dulu tubuhmu, Nak ...." pinta Eliza, menahan sebelah tangan Zaydan. Tetapi, anak itu tidak paham akan bahaya yang bisa saja menghadangnya.

Tepat di saat Eliza sedang fokus pada anaknya, Minah terdengar bersuara dari depan.

"El ... El ...." teriaknya.

"Bentar, Bu!" jawab Eliza. Satu tangannya masih menahan tangan Zaydan, berusaha menyapu tubuh basah anaknya dengan handuk.

"Ibu mau kencing!" teriakan Minah terdengar lagi.

Perhatian Eliza terbagi. Fokusnya buyar. Hal itu dimanfaatkan Zaydan untuk lepas dari sang ibu. Ia merenggut tangannya dari genggaman Eliza, dan langsung berlari.

"Ya Allah, Dek!" Eliza segera berlari mengejar Zaydan yang sudah dengan cepat menghilang.

"Cepat d**g, El. Ibu mau kencing!"

Eliza membatalkan niatnya mengejar Zaydan, lalu beralih ke arah sang ibu. Toh, di depan sudah ada suaminya yang bisa menjaga Zaydan.

Eliza mulai memapah sang ibu yang terlihat sudah tidak sabar. Padahal bukan masalah jika ia kencing di tempatnya duduk. Toh, Eliza selalu memakaikannya diapers. Akan tetapi, begitulah selalu. Minah enggan sekali melakukannya.

Akan tetapi, baru saja ia bergerak. Tiba-tiba ....

Suara dentuman disertai pekik menyayat Zaydan terdengar kencang. Eliza terpekik. Ia kembali meletakkan sang ibu di tempat semula. Lalu, segera berlari menuju asal suara.

"Ya Allah, Nak!

Eliza melihat anaknya itu tertelungkup di sisi pintu. Suara dentuman itu jelas sekali, kalau kepala anaknya menghantam tepat di kusen pintu. Eliza meraih tubuh Zaydan. Tulang-tulangnya terasa lolos dari setiap sendi. Tubuhnya gemetar melihat darah yang mengucur dari dahi anaknya itu.

"Ya Allah!" Eliza hanya bisa berteriak, tanpa tahu harus melakukan apa. "Masss!!!" teriaknya lagi, memanggil sang suami yang entah kemana perginya. Padahal jelas sekali kalau ia sudah pulang.

Zaydan masih menangis kesakitan.

Agung datang dengan langkah tergopoh. Sehabis memarkirkan sepeda motornya di depan rumah, ia kembali ke luar. Pak Budi, tetangga sebelah kanan rumah mereka meminta bantuan sebentar.

Ia terkejut mendengar suara teriakan Eliza yang kencang.

"Ya Allah, Dek. Apa yang terjadi?" Agung langsung meraih tubuh Zaydan. "Kita bawa Zay ke klinik ...."

---

Ternyata kondisi Zaydan tidak begitu parah. Kulit dahinya hanya sobek sedikit, dapat dua jahitan. Selebihnya tidak ada masalah. Menurut pikiran Eliza, kepala Zaydan tadi membentur kusen pintu depan. Sehingga menyebabkan luka.

Eliza baru bisa tenang setelah luka Zaydan selesai di perban. Ia merasa menjadi ibu yang lalai. Tidak bisa menjaga anak dengan baik. Rasa bersalah juga menghinggapi sebagian ruang di dadanya. Tadi siang, anak bungsunya itu sudah mendapat cubitan, hingga meninggalkan bekas di pahanya. Dan, sekarang .... Eliza mengutuk dirinya.

Kalau saja, ibunya tidak mendesaknya tadi, semua ini tidak akan terjadi.

---

Link KBM App
๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

https://read.kbm.id/book/detail/e9cc41be-dbfc-3a1a-f309-d8aa7881fb14?af=ca825cf3-c6f1-cfc1-236e-e0c086c481d1

Air Mata BapakBag 1๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ"Jadilah anak yang baik. Turuti apa kata Bapakmu." Masih teringat jelas kalimat terakhir Ibu, sebe...
21/01/2024

Air Mata Bapak

Bag 1

๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ

"Jadilah anak yang baik. Turuti apa kata Bapakmu."

Masih teringat jelas kalimat terakhir Ibu, sebelum ia pergi. Pergi dengan mengoyak sebagian hati.

Aku tidak tahu ke mana Ibu. Bapak tidak pernah mengatakan sekali pun. Yang kutahu, kata Bapak, Ibu pergi ke kota, bekerja mengumpulkan rupiah, agar hidup bisa terangkat dari kemiskinan. Berulang kali kucoba bertanya, mengapa harus Ibu? Bukankah yang bertanggung jawab soal nafkah itu, seharusnya Bapak?

Hampir setiap malam aku menangis. Bantal tempat terlelap, selalu saja basah karena air mata. Rindu pada belaian tangan Ibu, sebelum terlelap, tiada dapat tergantikan. Bapak bilang, jangan menangis. Pantang bagi seorang laki-laki bermandi air mata, meski kesedihan melebihi dari apa yang sanggup ditanggung.

Namun, bagaimana aku bisa menahan kesedihan? Bapak dan Ibu jauh berbeda. Ibu bahkan lebih terasa dekat daripada urat nadi, sementara bapak tidak sama. Kita bagai dua individu asing yang tinggal berdua satu atap. Hanya sesekali interaksi yang terjadi, karena selebihnya hanya sepi.

***

"Pak, aku rindu Ibuk. Kapan ya Ibuk pulang?" tanyaku suatu malam. Saat itu Bapak sedang duduk di teras, melamun dengan sulutan rokok tiada lepas dari mulutnya. Asapnya mengepul memenuhi udara. Biasanya senja begini, Bapak selalu keluar, duduk di warung ujung jalan, dan pulang saat malam telah larut. Tiada waktu untukku bertanya soal apapun. Namun saat ini, gerimis menghambat langkahnya.

Bapak berdeham. Sekali lagi, ia sulut rokok kreteknya yang sedikit lagi tinggal puntung, lalu membuangnya ke genangan air di depan kami.

"Sudah empat bulan Ibuk di kota. Apa Ibuk ndak kangen sama kita ya, Pak?" tanyaku lagi. "Jangankan pulang, menelpon saja Ibuk ndak pernah," keluhku. Rasanya tenggorokan tercekat. Tangis seakan tengah berusaha untuk tumpah ruah.

"Bapak juga heran, Lif. Padahal Ibukmu udah janji akan sering menelpon. Tapi sampai saat ini, tiada pernah ada kabar darinya," jawab Bapak. "Besok kita ke rumah Mbok Yum ya, minta nomer hp Yanti, teman Ibukmu yang telah membawanya ke kota."

Ucapan Bapak umpama matahari yang seketika menerangi kegelapan hariku. Ada secercah cahaya dalam gelapnya kerinduan.

***

Tepat setelah bel pulang sekolah menggema, sigap aku meraih tas, lalu berlari dengan cepat. Tidak kupedulikan sorakan Bimo dan Jaya, yang tentu saja heran akan sikapku siang ini. Padahal biasanya, selalu saja ada rencana yang akan kami lakukan sepulang sekolah, untuk mengisi waktu luang.

Namun, beda kali ini. Kegiatan seru bersama dua sahabat karib itu tidak lagi menarik hati, dibanding setetes obat kerinduan pada Ibu. Biar tubuhnya belum bisa didekap, mendengar suaranya saja sudah lebih dari cukup.

Kaki berlari dengan cepat. Tidak kupedulikan ujung celana basah karena kecipratan genangan air sisa hujan, yang tidak sengaja kuinjak. Sepatu pun kotor berlumur lumpur.

Kulihat Bapak sudah menunggu di depan rumah. Mulutnya masih tidak henti menyulut rokok, meski batuk sesekali datang menjelang.

"Ganti bajumu, habis itu makan," seru bapak melihat kedatanganku yang tergesa-gesa.

Secepat kilat, aku masuk ke dalam rumah. Mudah saja mencari sepasang baju yang akan dipakai dalam keadaan terdesak ini. Baru saja tangan terjulur ingin menyentuh tudung saji, kutarik lagi dengan cepat. Selera makan hilang lenyap dibawa rasa tidak sabar.

Melihatku muncul lagi di depan pintu, Bapak mengernyitkan keningnya.

"Sudah makannya?"

"Nanti saja, Pak. Aku ... aku sudah ndak sabar mau nelpon Ibuk," pungkasku pelan.

Bapak akhirnya hanya mengendikkan bahunya. Tanpa bicara lagi, ia meraih sepeda motor butut yang sudah sedari tadi diparkir di samping rumah.

Sepeda motor berasap tebal dengan bunyi berisik itu melaju pelan, menuju sebuah harapan.

***

Setelah mendapat nomor telepon Mbak Yanti, ada sebuah kebingungan yang melanda. Di rumah kami tidak ada ponsel ataupun telepon. Pernah dulu, ada niat Bapak membeli ponsel, agar mudah baginya menerima telepon dari Ibu. Namun, keinginan itu terpaksa ditelan kembali. Tiada satu pun di antara kami yang bisa menggunakan benda itu. Bapak pun merasa malu belajar sama orang lain.

Dalam kebimbangan, berdua duduk di depan rumah, lewatlah Bang Jaka. Pemuda bergaya preman tapi sopan itu menyapa. Saat itulah aku menyikut Bapak, memberinya bahasa isyarat untuk meminjam ponsel Bang Jaka. Untung saja beliau cepat paham.

"Ka, saya mau minta tolong sesuatu sama kamu. Boleh?" tanya Bapak.

Jaka menghentikan langkahnya, lalu mendekat. "Ada apa, Pak Wahyudi? Kalau saya sanggup, pasti akan dibantu. Ngomong aja, ndak usah sungkan."

"Pinjam hpmu sebentar ya, mau nelpon Ibuknya Alif. Nanti biar saya isikan pulsa."

"Oo ... itu, Pak. Saya kira ada apa." Bang Jaka mengeluarkan ponsel dari dalam saku. "Sini nomer hpnya, biar saya hubungkan langsung. Kebetulan pulsa saya lagi banyak, Pak."

Bapak mendekatkan benda pipih persegi empat itu ke telinganya. Bunyi tut ... tut ... terdengar nyaring. Sengaja diloudspeakerkan Bang Jaka, atas permintaan Bapak, agar aku dan beliau bisa langsung bicara berdua sama Ibu.

"Halo." Terdengar suara dari seberang.

"Halo, i-ni Dik Yanti ya?"

"Iya, saya sendiri. Ini siapa?"

"Dik Yanti, ini Wahyudi, suaminya Puji. Ada Puji di sana? Saya mau bicara sama dia."

"Oo ... tunggu sebentar." Lalu tak lama, terdengar bisik-bisik. Aku dan bapak menunggu dengan sabar.

"Assalammualaikum." Terdengar suara Ibu dari seberang.

Secepat kilat, aku merebut ponsel itu dari tangan bapak. Nyaris saja benda mahal itu terjatuh, tapi aku tidak peduli. Kerinduan pada sosok pemilik suara itu telah menguasai seluruh jiwa.

Udah ending di KBM app ya

Satu ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน"Mas, tolong bawa ibu ke rumahmu d**g. Aku capek kalo begini terus ...." keluh Eliza di sambungan telepon pada E...
29/08/2023

Satu
๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

"Mas, tolong bawa ibu ke rumahmu d**g. Aku capek kalo begini terus ...." keluh Eliza di sambungan telepon pada Edo, Mas-nya yang tinggal beda kota dengannya.

Eliza sudah memikirkan hal ini sejak awal. Walau sebenarnya ia tidak ingin melewatkan bakti pada sang ibu, tapi ia tidak sanggup lagi menjalaninya. Tubuhnya benar-benar remuk. Lelah tidak hanya menerpa raganya, tapi juga membelit hati dengannya sangat erat.

Bagi Eliza, wajar saja jika ia meminta Edo untuk menjaga sang ibu. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari orang tuanya, Edo cukup sukses dengan hidupnya sekarang. Sejak menikah dengan anak tunggal bos tempatnya menjadi karyawan dulu, hidupnya nyaris berubah seratus delapan puluh derajat. Ia awalnya hanya ditugasi untuk mengurus perusahaan milik sang mertua. Akan tetapi, setelah mertuanya berpulang, otomatis perusahaan itu menjadi tanggung jawab Edo sepenuhnya.

Eliza hanya mendengar helaan napas panjang dari Edo. Beberapa saat menunggu, ia tidak kunjung mendapat jawaban.

"Mas ...." panggil Eliza lagi.

"Mas kerja, El. Gimana bisa Mas ngurus ibu?" elak Edo.

Eliza memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja sakit. Semua itu karena jawaban Edo yang tidak masuk akal. Semua orang tahu, kalau Edo memang bekerja. Seorang pekerja kantoran yang selalu sibuk. Akan tetapi, bukankah ia mempunyai istri? Rasanya wajar saja, seorang menantu perempuan mengurus mertuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Kalaupun sang istri tidak sanggup melakukan semua itu, mereka adalah orang kaya. Tidak akan mengurangi hartanya sedikitpun. Jika sedikit saja disisihkan untuk menyewa seorang pembantu, untuk mengurus ibu.

"Tapi, Mas. Gak mungkin juga semua ini dibebankan sama aku seorang. Meski tidak bekerja, tapi aku punya dua balita yang supee aktif. Aku benar-benar kewalahan mengurus ibu, Mas." Lagi-lagi Eliza berusaha membujuk. Ia masih berharap, Edo memikirkan lagi semuanya.

"Kamu coba hubungi Mbak Eva deh. Mana tahu, ia mau bawa ibu ikut dengannya. Anak-anaknya udah pada besar. Pasti gak masalah baginya untuk ngurus ibu." Hening beberapa saat. "Udah ya, El. Mas lagi sibuk nih!" Sambungan telepon dimatikan begitu saja.

Eliza membanting ponselnya ke arah ranjang dengan kasar. Ia benar-benar stres dua hari ini. Ibunya, Minah, yang memang sudah nyaris lumpuh, hari ini menguras emosi Eliza. Sejak pagi, ia bolak-balik minta diantar ke kamar mandi. Alasannya sakit perut. Padahal belum beberapa detik sampai di kamar mandi, ia minta ke kamar lagi. Begitu seterusnya, sampai berulangkali.

Jika Eliza bersuara keras sedikit karena kesal, ia akan menangis tersedu-sedu lalu akan mogok makan. Apapun yang disediakan Eliza di meja kecil samping ranjangnya, tidak akan disentuh. Lalu, ujung-ujungnya, ia akan mengeluhkan sakit perut.

Kalau saja, tugas Eliza hanya mengurus ibunya, mungkin ia bisa berupaya lebih sabar. Akan tetapi, dengan mengurus dua balita super aktif, seluruh tenaga Eliza benar-benar terkuras. Rasanya ia sudah tidak memiliki kemampuan lagi. Sementara, jika dipikir-pikir, ibunya itu bukanlah tanggung jawabnya seorang. Masih ada dua saudara, yang memiliki kewajiban yang sama.

Eliza merasa keadaan ini tidak adil untuknya.

---

"Kan hanya kamu yang dapat warisan dari ibu, ya kamu lah yang ngurus ibu," ujar Eva waktu pertama kali Minah divonis stroke.

"Warisan apa maksud Mbak? Rumah ini?"

Setelah menikah dengan Agung, suaminya, Eliza memang tidak pernah pindah dari rumah Minah. Minah sendiri yang memintanya untuk tetap tinggal bersama. Saat ini, Minah masih sehat. Ia kuat, dan bahkan masih aktif berjualan sarapan pagi di depan rumahnya. Usaha yang sudah ia geluti bertahun-tahun, untuk menghidupi anak-anaknya setelah suaminya meninggal.

Eliza menurut. Lagipula, ia tidak tega meninggalkan ibunya tinggal sendiri. Beliau pasti akan kesepian.

Begitulah yang ada dalam pikiran Eliza. Akaj tetapi, bukan berarti dia enak-enak saja menerima harta satu-satunya yang dianggap warisan oleh Eva. Rumah tua milik orang tuanya itu, sudah rusak di sana ini. Eliza dan Agung pun, sudah mengeluarkan banyak uang untuk merenovasi.

"Ya, begitulah ...."

"Jika memang begitu yang kalian inginkan, baiklah," jawab Eliza, sembari menatap dua saudara yang ada di hadapannya. Keduanya sama saja. Hanya menampilkan wajah yang datar, tanpa ekspresi rasa bersalah sedikitpun.

---

Sudah tiga tahun berlalu, sejak peristiwa itu. Hanya Eliza yang selalu sabar mengurus Minah. Kedua kakaknya, tidak pernah berinisiatif untuk menggantikan tugas Eliza. Semua beban yang berat itu, hanya terbeban di pundak Eliza seorang. Bahkan, ketika anak keduanya lahir, tidak sedikitpun mengubah keadaan. Edo dan Eva tetap bertahan pada keadaan yang membuat mereka nyaman. Tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana Eliza menjalani beratnya hidup.

Yang mereka berikan hanyalah berbentuk uang, untuk keperluan sang ibu. Membeli diapers, susu, hingga vitamin dan obat-obatan. Itupun tidak rutin. Terkadang, jika tidak diingatkan, Edo dan Eva akan lalai.

Sebagai istri dari seorang karyawan perusahaan kecil, Eliza jelas tidak sanggup untuk membiayai kebutuhan ibunya sendiri. Oleh sebab itu, ia terpaksa harus menebalkan muka untuk mengingatkan kedua kakaknya pada kewajibannya.

Dan, saat ini, Eliza telah sampai pada titik jenuh. Ia terlalu lelah. Bayi kecil yang ia lahirkan dua tahun yang lalu, benar-benar super aktif, hingga menguras energi Eliza setiap hari. Jika ditambah dengan urusan ibunya, Eliza nyaris ambruk, tidak bertenaga. Ia terlalu lelah. Tidak hanya tubuhnya yang lelah, tapi juga pikiran. Jika stres yang ia rasakan sangat berlebihan, maka dua balitanya yang akan jadi sasaran amuk. Amarahnya bisa membuncah dengan cepat.

Maka dari itu, malam ini, Eliza sengaja menghubungi Edo. Ia hanya butuh ketenangan beberapa saat saja. Untuk memberikan ruang pada otaknya agar bisa berpikir normal. Jika kondisi lebih memungkin, ia akan dengan senang hati mengurus ibunya kembali. Bukanlah ada ladang pahala, dari kondisi ibunya sekarang?

Akan tetapi, pada Edo, lelah itu tidak bisa ia adukan. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Edo melalaikan tanggung jawabnya. Ia mengelak untuk mengurus ibu, sejenak saja. Eliza tidak habis pikir pada pikiran mas-nya itu. Tidakkah ia ingat pada masa kecilnya dulu, ketika masih ada dalam rengkuhan kedua lengan ibunya?

Sekarang harta dan kesibukan, membuat Edo lupa pada segalanya. Padahal dulu, ia adalah anak kebanggaan ibunya. Tidak ada kata tidak, untuk segala keinginannya. Eliza saja sebagai anak bungsu, tidak jarang merasakan cemburu pada Edo.

"Gimana, Dek?"

Munculnya Agung dari balik pintu, mengagetkan Eliza. Ia segera menyapu sudut matanya yang entah sejak kapan basah. Perlahan, ia menggeleng. Hati Eliza nelangsa. Pada siapa lagi, akan ia adukan semua ini? Pada Eva pun, ia juga tidak yakin mendapatkan penawar pada problema dalam dadanya. Sikap Eva selama ini, bahkan lebih parah dari Edo. Anak sulung Minah itu, jangankan untuk pulang untuk melihat kondisi sang ibu, sekadar bertanya saja dalam telepon, bisa dihitung dengan jari sepanjang tahun.

"Aku akan hubungin Mbak Eva ...." lirihnya.

Agung hanya menatap Eliza dalam diam. Ia tidak bisa membantu apa-apa, atas permasalahan istrinya. Awalnya, ia menyarankan Eliza untuk bersabar. Merawat orang tua di masa sepuhnya adalah pekerjaan mulia. Akan berbalas surga, jika ia bisa ikhlas. Akan tetapi, kondisi Eliza terlihat sangat tidak memungkinkan belakangan ini. Dia terlihat stres mengurus segalanya sendiri. Hampir setiap Agung pulang dari bekerja, Eliza mengeluhkan banyak hal. Lelah fisik dan juga batin membuat emosi Eliza tidak terkendali.

Agung tidak habis pikir. Ternyata Edo tidak bisa memberikan solusi atas kondisi adik bungsunya itu. Sebagai laki-laki, seharusnya ia bisa mencarikan jalan keluar untuk semua ini. Tetapi, ia memilih untuk lepas tangan.

Eliza mendengkus dengan kasar. Panggilan teleponnya pada Eva, sudah dua kali tidak mendapatkan jawaban. Entah ada dimana kakaknya itu? Jelas sekali, kalau ia belum tidur. Masih terlalu senja. Jam dinding baru menunjuk ke pukul delapan. Apa jangan-jangan Eva sengaja tidak mengangkat telepon darinya? Benar-benar keterlaluan kakaknya itu! Gumam Eliza kesal.

"Gak diangkat?" Lagi, Agung bersuara.

Eliza mengangguk lemah.

"Coba lagi ...."

Eliza menuruti saran suaminya. Mencoba untuk menghubungi Eva kembali.

"Ada apa, El?" Nada ketus Eva terdengar dari seberang sana.

"Mbak, aku mau bicara ...." Mendengar nada tidak bersahabat dari Eva, Eliza jadi ragu untuk mengungkapkan semuanya. Rasanya ia sudah dapat membaca penolakan yang akan diterimanya.

"Katakanlah, ada apa?"

Eliza mengusap dadanya, berusaha agar emosinya tidak terpancing oleh nada bicara Eva.

"Mbak, kita gantian ngurus ibu ...."

"Apa?" Kalimat Eliza belum usai, tapi Eva sudah terdengar menyela.

"Iya. Kondisi aku lagi gak memungkinkan Mbak. Zaydan lagi aktif-aktifnya. Belum lagi si kakak. Sementara aku hanya sendiri tanpa ART. Aku benar-benar drop." Eliza menghela napasnya. "Mbak bawa dulu ibu ke sana. Beberapa bulan aja. Nanti, kalau kondisi memungkinkan, kami akan jemput ibu kembali ...."

"Gak bisa, El!" tandasnya seketika. Eliza cukup yakin, penolakan itu spontan, tanpa melalui pertimbangan sedikitpun. Benar sekali tebakan Eliza. Pasti lagi-lagi penolakan yang ia terima.

"Tapi, Mbak. Tolonglah .... Aku benar-benar gak sanggup, Mbak. Tubuhku remuk mengurus segalanya sendiri. Mencari ART, keuangan kami gak memungkinkan, Mbak. Kalau Mbak, kedua anak Mbak sudah besar. Mengurus ibu saja, jelas gak akan begitu merepotkan. Lagipula, sementara saja, Mbak. Gak akan selamanya ...." bujuk Eliza, dengan harapan kakaknya itu luluh, dan mengubah keputusan.

"Gak bisa, El. Mbak sibuk. Lagipula Shella dan Gilang gak akan betah tinggal bareng ibu yang sakit-sakitan," tambahnya lagi.

"Astaghfirullahal adziim, Mbak. Tega Mbak ngomong kayak gitu tentang ibu?" Setetes butiran bening dari mata Eliza mengalir begitu saja. Hatinya sakit mendengar penolakan yang tidak masuk akal dari Eva.

"Udah dulu ya, El. Mbak lagi sibuk. Assalamualaikum ...." Ia menutup telepon begitu saja. Tanpa menunggu Eliza menjawab salam yang ia ucapkan.

Tubuh Eliza luruh. Air matanya mengalir begitu saja. Ia tidak habis pikir sama isi kepala kedua kakaknya. Kehidupan duniawi telah menarik dan menenggelamkan mereka terlalu jauh. Hingga melupakan apa yang seharusnya menjadi kewajiban dan sebuah bakti di atas dunia ini.

---

Address

Jalan Engku Raja Lela Putra
Pelalawan
28381

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mikhayla Nazhia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share