23/12/2023
BUKAN ANAK HARAM
Part 3
Amadeus Mozart. Sejak orang tuanya bercerai, dia dipanggil Mo oleh sang ibu. Seorang arsitek muda yang dua tahun belakangan mendirikan kantornya sendiri. Studionya bernama RuangNyaman. Berdiri di sebuah bangunan artistik yang cantik di salah satu sudut Jakarta.
Pukul sebelas pagi, Mo bersama anak buahnya ada janji bertemu klien di sebuah kafe di daerah Cilandak. Minggu lalu dia hampir kehilangan proyek desain untuk pembangunan coffee shop ini. Kliennya seorang wanita tua yang ingin menghadiahkan tempat usaha tersebut untuk cucunya yang baru wisuda S2.
Desain yang diusulkan David--anak buah Mo--tidak disukai wanita tua tersebut. Katanya terlalu 'rame'. Klien lantas berubah pikiran, menginginkan kesan yang lebih kalem. Perubahan raut muka David yang terkejut, ditangkap perempuan tua itu sebagai sikap yang kurang bisa menerima aspirasi.
"Di meeting pertama kan klien bilang si cucu maunya coffee shop yang punya kesan ceria dan kreatif gitu. Jadi gue bikin dua desain, yang satu bernuansa retro, satunya ala-ala Santorini, putih-putih biru gitu. Lah, ditolak semuanya, Mas!" keluh David beberapa hari lalu, di meja rapat RuangNyaman.
Akhirnya Mo harus turun tangan langsung untuk meeting dengan wanita tersebut. Dan di sinilah dia kini berada.
Ketika tiba di hadapan klien, wanita tua itu justru lekat-lekat memandang Mo. Bibirnya tersenyum, matanya berbinar teduh. Tangannya meraih wajah Mo yang terpahat tampan.
"Namamu siapa, Le? Ngganteng banget, anaknya siapa ini?" tutur perempuan itu masih mengusap p**i Mo, membuat Mo tersenyum malu lantas menunduk.
"Salam kenal, saya Mo dari RuangNyaman. Ini David, Ibu sudah pernah ketemu sebelumnya, benar?"
Perempuan itu tersenyum menyambut uluran tangan Mo. Namun, ketika menatap David yang rambut gondrongnya diikat tidak rapi, dia langsung melengos. Tampak masih menyimpan dendam kesumat dengan arsitek muda itu.
"Mo? Namanya lucu. Salam kenal, nama eyang Wulan Ndari, tapi Nak Mo panggil Eyang saja. Silaka