10/08/2026
Malam itu hujan turun pelan.
Dina berdiri di teras sebuah kafe, menatap jalan yang basah sambil menggenggam ponselnya. Pesan terakhir dari Arga masih terbuka.
"Aku datang. Lima menit lagi."
Dina tahu seharusnya ia menghapus pesan itu.
Ia juga tahu seharusnya ia tidak datang.
Sebab Arga bukan lelaki yang bebas.
Ia sudah menikah.
Ketika sebuah mobil berhenti di depan kafe, jantung Dina berdegup lebih cepat. Arga turun, berjalan mendekatinya dengan wajah yang tampak lelah.
"Kamu tahu kita seharusnya nggak ketemu lagi," katanya.
Dina tersenyum tipis.
"Kalau memang tahu, kenapa kamu datang?"
Arga terdiam.
Pertanyaan sederhana itu justru menghantam lebih keras daripada kemarahan.
"Aku cuma ingin melihat kamu untuk terakhir kali."
Dina menatap matanya.
"Jangan bohong."
Arga mendekat beberapa langkah.
"Aku takut kalau terus dekat sama kamu, aku akan kehilangan kendali."
Dina menunduk.
"Dan aku takut kalau terus menjauh, aku akan kehilangan kamu."
Hening.
Tak ada yang menyentuh satu sama lain. Namun jarak beberapa langkah di antara mereka terasa jauh lebih berbahaya daripada sebuah pelukan.
Arga akhirnya berkata pelan,
"Kalau kita bertemu sebelum aku menikah..."
Dina langsung memotong.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena aku nggak mau hidup dari kalimat 'seandainya'."
Arga menatapnya lama.
Dina kemudian mengambil tasnya.
"Kita memang saling mencintai, Ga. Tapi cinta bukan selalu alasan untuk mengambil sesuatu yang bukan milik kita."
Ia berjalan pergi.
Arga tetap berdiri di bawah hujan.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari istrinya muncul di layar:
"Kamu sudah sampai rumah?"
Arga menatap pesan itu cukup lama.
Lalu mengetik:
"Belum."
Ia berhenti.
Menghapusnya.
Kemudian menulis lagi:
"Sebentar lagi pulang."
Untuk pertama kalinya malam itu, Dina tersenyum.
Bukan karena mendapatkan Arga.
Tetapi karena akhirnya ia memilih pergi sebelum cinta mereka berubah menjadi alasan untuk menghancurkan hidup orang lain.