Qolbu.ZR

Qolbu.ZR ✍️Education ✍️Motivation ✍️Inspiration ✍️Quotes

KAU MENUKAR AKHIRAT DENGAN LIKE DAN PUJIANKau bangun pagi, bukan untuk tahajud—tapi untuk cek notifikasi.Kau gelisah buk...
19/02/2026

KAU MENUKAR AKHIRAT DENGAN LIKE DAN PUJIAN

Kau bangun pagi, bukan untuk tahajud—tapi untuk cek notifikasi.
Kau gelisah bukan karena iman melemah—tapi karena engagement menurun.

Senyummu rapi di kamera.
Kata-katamu teduh di caption.
Doamu panjang di komentar.
Tapi sajadahmu sering dingin tak tersentuh.

Kau ingin terlihat baik.
Bukan benar-benar menjadi baik.

Riya itu tak selalu lantang.
Ia halus.
Ia menyusup dalam niat.
Ia membisikkan, “Bagus… biar orang tahu.”

Dan tanpa sadar, kau sedang menukar pahala dengan pujian.
Menukar keikhlasan dengan validasi.
Menukar akhirat yang kekal
dengan tepuk tangan yang fana.

Allah telah memperingatkan dengan tegas dalam Al-Qur'an:

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4, 6)

Perhatikan—bukan orang yang meninggalkan shalat, tapi yang shalatnya tercemar niat.

Betapa mengerikan.
Ibadah dilakukan.
Gerakan sempurna.
Bacaan fasih.
Tapi langit tak mencatatnya sebagai amal.

Karena yang kau cari bukan ridha-Nya.
Tapi sorot mata manusia.
Hari ini kau panen pujian.
Besok, pujian itu hilang ditelan timeline.
Tapi dosa riya…
ia tetap tinggal dalam catatan.

Ingatlah—di hari ketika semua topeng runtuh, ketika tak ada filter dan tak ada editan, yang dinilai bukan seberapa banyak yang melihatmu,
tapi seberapa jujur hatimu saat tak ada yang melihat.

Jangan sampai amalmu ramai di dunia, tapi kosong di hadapan Allah.
Karena satu sujud yang sunyi dan tulus lebih berat di timbangan
daripada seribu postingan religius yang dibangun di atas ingin dipuji.

SAAT KUBUR MENJADI RUMAH PERTAMABukan villa. Bukan apartemen. Bukan rumah yang kau cicil mati-matian.Tapi liang sempit. ...
17/02/2026

SAAT KUBUR MENJADI RUMAH PERTAMA

Bukan villa. Bukan apartemen. Bukan rumah yang kau cicil mati-matian.

Tapi liang sempit. Gelap. Sunyi. Dan tak bisa kau dekorasi dengan gengsi.

Saat itu— jas mahalmu tertinggal. Gelar panjangmu tak ikut masuk. Followers tak bisa menemani.

Yang ikut hanya amal. Yang bicara hanya iman. Yang menjawab hanya keyakinan.

Tak ada kasur empuk. Tak ada lampu terang. Tak ada notifikasi masuk. Tak ada “nanti saja”.

Hanya tanah yang memeluk tubuhmu. Dan dua makhluk yang datang tanpa janji. Pertanyaan yang tak bisa kau googling. Jawaban yang tak bisa kau karang dadakan.

Di situlah nyata janji Allah dalam Al-Qur'an: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan di akhirat…” (QS. Ibrahim: 27)

Bukan hafalan yang menyelamatkan. Tapi iman yang hidup. Bukan status Islami. Tapi hati yang benar-benar tunduk.

Karena kubur bukan dongeng. Ia gerbang pertama. Bukan akhir perjalanan— tapi awal penentuan.

Di sana, waktu tak bisa diundur. Taubat tak bisa ditawar. Penyesalan tak bisa dibayar.

Hari ini kau masih bisa memilih. Masih bisa sujud. Masih bisa menangis. Masih bisa memperbaiki.

Sebab saat kubur menjadi rumah pertama, yang kau harapkan bukan lagi dunia— tapi rahmat-Nya.

Dan hanya satu yang membuat tanah itu lapang: iman yang kau rawat sebelum jasadmu dirawat.

INI BUKAN SOAL MENAKUT-NAKUTI. INI SOAL REALITA.Bukan untuk membuatmu panik.Bukan untuk membuatmu lemah.Tapi untuk menya...
15/02/2026

INI BUKAN SOAL MENAKUT-NAKUTI. INI SOAL REALITA.

Bukan untuk membuatmu panik.
Bukan untuk membuatmu lemah.
Tapi untuk menyadarkanmu—bahwa hidup ini bukan panggung sandiwara.

Neraka bukan simbol kiasan yang bisa ditertawakan.
Ia bukan metafora untuk sekadar “perasaan bersalah”.
Ia adalah janji. Dan janji Tuhan tidak pernah kosong.

Hisab bukan dongeng pengantar tidur.
Ia bukan cerita untuk anak kecil agar patuh.
Ia adalah hari ketika semua yang kau sembunyikan ditarik keluar tanpa sensor, tanpa edit, tanpa pembela.

Kubur bukan mitos urban.
Ia bukan sekadar liang tanah yang ditutup bunga.
Ia adalah ruang tunggu panjang yang sepi dari tepuk tangan, sunyi dari pujian, dan hanya ditemani amal yang dulu sering kau tunda.

Dan waktu…tidak pernah kompromi.

Ia tak peduli kau siap atau tidak.
Ia tak peduli kau masih ingin menikmati sedikit lagi.
Ia berjalan. Diam-diam. Pasti.
Menggerus usia, mengikis kesempatan, menghapus satu demi satu jatah nafasmu.

Hari ini kau merasa aman.
Besok belum tentu kau masih sempat merasa apa-apa.

Allah sudah mengingatkan:
Maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu,.” (QS. Al-Baqarah: 24)

Perhatikan kalimatnya—peliharalah dirimu.
Artinya tanggung jawab itu pribadi.
Bukan ustazmu.
Bukan orang tuamu.
Bukan pasanganmu.
Dirimu.

Bukan soal siapa paling religius.
Bukan soal siapa paling terlihat baik.
Tapi siapa yang sungguh-sungguh menjaga dirinya
saat tak ada yang melihat.

Karena pada akhirnya, realita tidak peduli pada alasan.
Hisab tidak menerima pembenaran.
Dan penyesalan…selalu datang ketika pintu sudah tertutup.
Ini bukan ancaman kosong.
Ini cermin.

Kalau hari ini hatimu masih bisa bergetar, itu bukan karena kau ditakut-takuti—itu karena fitrahmu tahu bahwa yang kau baca adalah kebenaran.
Dan kebenaran, meski pahit, lebih menyelamatkan daripada kenyamanan yang menipu.

KAU MENERTAWAKAN PERINGATAN, NANTI KAU MENANGISI KENYATAANSekarang ayat kau skip.Scroll lebih cepat dari rasa takutmu pa...
14/02/2026

KAU MENERTAWAKAN PERINGATAN, NANTI KAU MENANGISI KENYATAAN

Sekarang ayat kau skip.
Scroll lebih cepat dari rasa takutmu pada akhirat.
Nasihat kau anggap konten basi.
Kematian kau jadikan bahan bercanda.
Seolah kubur itu mitos.
Seolah azab hanya dongeng pengantar tidur.

Padahal yang kau tertawakan hari ini
bisa jadi adalah pintu keselamatan terakhir yang Allah kirimkan padamu.

Kau bilang,
“Ah, nanti saja taubat.”
“Nanti kalau sudah tua.”
“Nanti kalau sudah tenang.”
Padahal tidak ada satu pun dari kita
yang memegang jadwal kematian.

Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan kesombongan itu:

“Dan mereka berkata: ‘Kapan janji itu (azab) jika kamu orang-orang yang benar?’ Katakanlah: ‘Boleh jadi telah dekat kepada kamu sebagian dari apa yang kamu minta agar disegerakan itu.’” (Al-Qur'an, QS. An-Naml: 71–72)

Mereka menantang azab.
Mereka mengejek ancaman.
Mereka merasa aman.
Dan justru karena merasa aman itulah
mereka paling dekat dengan kehancuran.

Tertawa dalam dosa itu menipu.
Ia membuatmu merasa kuat,
padahal kau sedang rapuh.
Ia membuatmu merasa bebas,
padahal kau sedang terikat.

Hari ini kau tertawa saat mendengar ayat.
Besok bisa jadi ayat itu menjadi saksi yang menuntutmu.

Hari ini kau mengejek orang yang mengingatkan.
Besok bisa jadi kau berharap satu nasihat saja
untuk menunda satu detik hisab.

Kau kira waktu masih panjang.
Kau kira tubuhmu selalu sehat.
Kau kira jantungmu tak pernah berhenti.
Padahal satu detik saja Allah cabut izin,
selesai.

Dan saat itu terjadi,
tidak ada tombol “undo”.
Tidak ada “ulang dari awal”.
Tidak ada “beri aku kesempatan sekali lagi”.

Tertawa itu akan diganti jerit.
Candaan itu akan diganti penyesalan.
Sombong itu akan diganti tunduk—tapi sudah terlambat.

Renungan ini bukan untuk menakut-nakuti.
Ini untuk membangunkan.

Sebelum kenyataan membangunkanmu dengan keras.
Sebelum kubur menjadi ruang sunyi yang tak bisa kau tolak.
Sebelum kau benar-benar memahami
bahwa setiap peringatan yang kau tertawakan
adalah bentuk kasih sayang Allah yang kau sia-siakan.

Hari ini kau masih bisa memilih.
Masih bisa berhenti.
Masih bisa menangis sebelum dipaksa menangis.

Karena yang paling menyedihkan bukan orang berdosa.
Tapi orang yang berdosa…
lalu menertawakan peringatan tentang dosanya.

Dan jika hari ini hatimu masih terusik membaca ini—itu tanda ia belum mati.

KAU TERBIASA DENGAN DOSA, SAMPAI TAK LAGI MERASA BERDOSAAwalnya kau gemetar.Jantungmu berdebar.Ada rasa takut saat melan...
14/02/2026

KAU TERBIASA DENGAN DOSA, SAMPAI TAK LAGI MERASA BERDOSA

Awalnya kau gemetar.
Jantungmu berdebar.
Ada rasa takut saat melanggar.
Ada malu saat berbuat salah.
Ada bisikan kecil yang berkata, “Berhenti.”

Tapi kau tak berhenti.

Sekali kau ulangi.
Dua kali kau rasakan.
Tiga kali kau mulai terbiasa.
Dan yang dulu membuatmu takut, kini terasa biasa.
Yang dulu membuatmu menangis, kini jadi bahan candaan.

Dosa itu licik.
Ia tidak langsung membunuh.
Ia hanya menumpulkan.

Awalnya hati seperti kaca bening—
Setiap noda terlihat jelas.
Setiap salah terasa berat.
Tapi ketika noda dibiarkan,
Ia menumpuk.
Menghitam.
Menebal.

Sampai kau tak lagi melihatnya sebagai noda.
Kau menyebutnya “kebiasaan.”
Kau menyebutnya “semua orang juga begitu.”
Kau menyebutnya “zaman sekarang memang begini.”

Dan perlahan…
Yang salah berubah menjadi wajar.
Yang haram terasa netral.
Yang maksiat terasa manusiawi.

Inilah yang diingatkan dalam firman Allah:
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Mutaffifin: 14)

Dalam Al-Qur'an, ayat ini menjelaskan tentang “ran” — karat hati.
Bukan satu dosa yang mematikan hati.
Tapi dosa yang dibiarkan.
Dosa yang diulang.
Dosa yang dibela.

Karat itu tidak terasa saat ia tipis.
Tapi saat ia menebal,
Cahaya tak lagi tembus.
Nasihat tak lagi masuk.
Ayat tak lagi menyentuh.
Ancaman tak lagi menakutkan.

Kau masih hidup.
Tapi hatimu tak bereaksi.

Lebih mengerikan dari sering berdosa
adalah ketika kau berdosa tanpa rasa bersalah.

Karena rasa bersalah adalah tanda iman masih bernapas.
Gemetar adalah tanda hati masih hidup.
Tangisan adalah bukti nurani belum mati.

Jika hari ini kau masih merasa tersentak saat diingatkan—
Bersyukurlah.
Itu artinya Allah belum mencabut kepekaanmu.

Tapi jika dosa sudah jadi hiburan,
Jika maksiat jadi kebanggaan,
Jika teguran kau anggap serangan—
Maka bukan dosanya yang paling berbahaya,
Tapi matinya rasa.

Dan hati yang mati
tak langsung dikuburkan di tanah—
Ia dikuburkan di dada pemiliknya sendiri.

Sebelum benar-benar gelap,
Sebelum benar-benar beku,
Sebelum benar-benar tak peduli…

Kembalilah.
Karena selama kau masih bisa merasa bersalah,
Pintu taubat masih terbuka.

HATI YANG MATI ADALAH BENCANA TERBESARBukan bangkrut yang paling mengerikan.Bukan kehilangan yang paling menyakitkan.Buk...
14/02/2026

HATI YANG MATI ADALAH BENCANA TERBESAR

Bukan bangkrut yang paling mengerikan.
Bukan kehilangan yang paling menyakitkan.
Bukan difitnah, bukan dijatuhkan, bukan diremehkan.

Tapi ketika ayat dibaca—kau tak tersentuh.
Ketika diingatkan—kau merasa biasa saja.
Ketika dosa dilakukan—kau tidur nyenyak tanpa gelisah.

Itulah bencana yang tak terlihat.
Bencana yang tak masuk berita.
Bencana yang tak membuatmu panik—karena hatimu sudah tak lagi peka.

Hati yang hidup akan bergetar saat nama Allah disebut.
Hati yang hidup akan perih saat tergelincir.
Hati yang hidup akan malu saat lalai.

Namun hati yang mati…
ia kebal terhadap nasihat.
Ia bosan pada kebenaran.
Ia tersinggung saat ditegur.
Ia nyaman dalam maksiat.

Engkau bisa kaya tapi hatimu mati.
Engkau bisa terkenal tapi hatimu kering.
Engkau bisa terlihat religius—tapi di dalam, kosong dan sunyi dari rasa takut kepada-Nya.

Ketika ayat hanya jadi suara.
Ketika doa hanya jadi rutinitas.
Ketika tangisan hanya ada untuk dunia—itulah tanda alarm sedang berbunyi.

Allah berfirman:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun?” (QS. Al-Hadid: 16)

Ayat ini bukan untuk mereka yang jauh.
Ia untuk yang merasa dekat tapi tak lagi tersentuh.
Untuk yang mengaku beriman tapi hatinya keras seperti batu, bahkan lebih keras dari itu.

Karena batu saja bisa pecah dan memancarkan air.
Tapi hati yang mati—tak mengalirkan air mata.
Tak melahirkan taubat.
Tak merasa takut pada hari kembali.

Hati yang mati adalah awal dari semua kehancuran.
Dari situlah lahir sombong.
Dari situlah tumbuh iri.
Dari situlah ringan berbuat zalim.
Karena tak ada lagi rem bernama rasa takut kepada Allah.

Dan yang paling mengerikan—orang yang hatinya mati sering merasa dirinya baik-baik saja.

Ia tidak merasa sakit.
Padahal ia sedang sekarat.
Maka sebelum jasad dimasukkan ke liang kubur, pastikan hati belum lebih dulu dikubur.

Bangunkan ia dengan istighfar.
Basahi ia dengan Qur’an.
Lunakkan ia dengan sujud panjang di sepertiga malam.

Karena ketika hati masih bisa menangis—itu tanda Allah belum meninggalkanmu.

Dan selama hati masih bisa tersentuh—pintu kembali masih terbuka.

HARI ITU TAK ADA YANG PEDULI PADAMUTak ada followers.Tak ada pasangan.Tak ada keluarga membela.Semua sibuk menyelamatkan...
13/02/2026

HARI ITU TAK ADA YANG PEDULI PADAMU

Tak ada followers.
Tak ada pasangan.
Tak ada keluarga membela.
Semua sibuk menyelamatkan diri.
Dan kau berdiri sendiri.

Hari itu bukan tentang siapa yang pernah memujimu.
Bukan tentang siapa yang pernah mencintaimu.
Bukan tentang siapa yang pernah membelamu di kolom komentar.

Hari itu adalah tentang dirimu…
dan amal yang kau bawa.

Di dunia, kau bisa bersembunyi di balik keramaian.
Di balik status.
Di balik jabatan.
Di balik nama besar keluarga.

Tapi di akhirat, semua topeng dilepas.
Semua gelar ditanggalkan.
Semua relasi dipisahkan.

Anak lari dari ayah.
Istri lari dari suami.
Sahabat tak sempat menoleh.

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,Bdari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 34–36)

Kau tak lagi dikenal sebagai siapa-siapa.
Kau hanya satu hamba…
yang ditanya tentang hidupnya.

Tentang shalat yang kau tunda.
Tentang lisan yang kau tajamkan.
Tentang hati yang kau kotori dengan iri dan sombong.
Tentang waktu yang kau habiskan untuk hal sia-sia.

Hari itu, tak ada yang bisa berkata,
“Dia ikut-ikutan.”
Tak ada yang bisa berkata,
“Dia hanya korban keadaan.”
Karena setiap jiwa memikul dirinya sendiri.
“Dan tiap-tiap mereka datang kepada-Nya pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam: 95)

Sendiri…
tanpa pengacara.
tanpa pembela.
tanpa pengikut.

Maka hari ini, sebelum hari itu datang—tanyalah pada dirimu:
Jika kau berdiri sendirian di hadapan Allah,
apa yang benar-benar kau banggakan?
Apa yang bisa kau jadikan jawaban?
Apa yang bisa menyelamatkanmu?

Perbanyak yang sunyi tapi dicatat langit.
Perbaiki yang tersembunyi tapi diketahui Allah.
Karena yang menyelamatkanmu nanti
bukan siapa yang mengenalmu di dunia…
tapi apakah Allah ridha padamu.

Hari itu tak ada yang peduli padamu.
Maka hari ini, pedulilah pada akhir hidupmu.

KAU TERTAWA DALAM DOSA, MENANGIS DALAM AZABDi dunia kau santai.Seolah waktu tak akan habis.Seolah maut masih jauh.Seolah...
12/02/2026

KAU TERTAWA DALAM DOSA, MENANGIS DALAM AZAB

Di dunia kau santai.
Seolah waktu tak akan habis.
Seolah maut masih jauh.
Seolah Allah tak melihat.

Di dunia kau bangga.
Bangga pada maksiat yang kau jadikan candaan.
Bangga pada dosa yang kau unggah sebagai hiburan.
Bangga saat hati tak lagi bergetar mendengar ayat.

Di dunia kau merasa aman.
Aman karena belum dihukum.
Aman karena masih diberi sehat.
Aman karena rezeki tetap mengalir.

Padahal belum dihukum bukan berarti dibiarkan.
Belum jatuh bukan berarti tak akan dijatuhkan.
Belum dibuka aib bukan berarti tak dicatat.

Akhirat bukan panggung sandiwara.
Tak ada akting.
Tak ada pencitraan.
Tak ada pengikut yang bisa membela.

Ia adalah pengadilan tanpa suap.
Tanpa koneksi.
Tanpa jeda.
Semua bukti diputar ulang.
Semua niat dibongkar terang-terangan.

Saat itu, tawa yang dulu keras… menjadi sesak.
Kesombongan yang dulu tinggi… menjadi hina.
Kenyamanan yang dulu memanjakan… berubah jadi penyesalan.

Allah telah mengingatkan:
“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak,
sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka kerjakan.”
(QS. At-Taubah: 82)

Ayat ini bukan sekadar ancaman.
Ia adalah tamparan lembut yang sering kita abaikan.
Bahwa tawa dalam maksiat adalah hutang air mata.
Bahwa kelalaian hari ini bisa menjadi tangisan abadi.

Jangan tunggu sampai tertawa tak lagi bisa.
Jangan tunggu sampai menangis tak lagi diterima.
Karena ada tangis yang menyelamatkan di dunia.
Dan ada tangis yang tak berguna di akhirat.

Hari ini kau masih bisa memilih:
Menangis karena taubat…
atau tertawa karena lalai.

Sebab pada akhirnya,
yang selamat bukan yang paling banyak tertawa,
tetapi yang paling takut saat sendiri bersama Tuhannya.

AKHIR PERJALANAN BUKAN TENTANG TEPAT DI MATA MANUSIA, TAPI SELAMAT DI HADAPAN ALLAHBukan siapa yang paling kaya.Karena h...
11/02/2026

AKHIR PERJALANAN BUKAN TENTANG TEPAT DI MATA MANUSIA, TAPI SELAMAT DI HADAPAN ALLAH

Bukan siapa yang paling kaya.
Karena harta tak ikut menembus liang lahat.
Ia hanya tinggal, diwariskan, diperebutkan.
Sementara kau sendirian menghadapi hisab.

Bukan siapa yang paling dipuji.
Karena tepuk tangan tak bisa menjawab pertanyaan malaikat.
Popularitas tak bisa menawar siksa.
Nama besar tak otomatis membuatmu selamat.

Bukan siapa yang paling viral.
Karena trending hanya bertahan sehari.
Sedang akhirat kekal tanpa jeda.
Yang kau kejar di layar, bisa jadi tak bernilai di hadapan-Nya.

Akhir perjalanan bukan panggung.
Ia adalah pengadilan.
Bukan tentang citra.
Tapi tentang isi dada.

Berapa banyak yang terlihat hebat, namun hatinya penuh iri.
Berapa banyak yang tampak religius, namun lisannya melukai.
Berapa banyak yang rajin terlihat, namun riya diam-diam menggerogoti.

Di hari itu, tak ada filter.
Tak ada pencitraan.
Tak ada pembelaan dari follower.
Yang tersisa hanya amal dan hati.

Allah telah mengingatkan:
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna,
kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 88–89)

Hati yang bersih.
Bukan hati yang tak pernah salah.
Tapi hati yang mau kembali.
Yang cepat bertaubat saat tergelincir.
Yang takut saat berbuat dosa.
Yang tidak tenang saat menyakiti.

Hati yang bersih bukan tanpa noda.
Ia dibersihkan berkali-kali.
Dengan istighfar.
Dengan sujud panjang di sepertiga malam.
Dengan menahan iri saat orang lain diberi lebih.
Dengan memaafkan saat mampu membalas.

Karena pada akhirnya, kau tak akan ditanya berapa pengikutmu.
Tapi bagaimana shalatmu.
Bukan seberapa luas bisnismu.
Tapi seberapa jujur transaksimu.
Bukan seberapa terkenal namamu.
Tapi seberapa ikhlas niatmu.

Akhir perjalanan bukan tentang menjadi yang paling terlihat.
Tapi menjadi yang paling selamat.

Dan selamat itu mahal.
Ia dibeli dengan sabar.
Dibayar dengan taubat.
Dijaga dengan keikhlasan.

Maka sebelum perjalanan ini benar-benar selesai, periksa hatimu.
Bersihkan sebelum dipanggil.
Luruskan sebelum ditutup.

Karena saat pintu itu benar-benar tertutup, tak ada lagi revisi.
Tak ada lagi kesempatan kedua.

Yang ada hanya satu pertanyaan sunyi:

Datang dengan apa kau hari ini?
Dengan harta? Atau dengan hati yang bersih?

PENYESALAN SELALU DATANG SAAT SEMUA DITUTUPPenyesalan itu tidak berisik.Ia datang pelan, tapi menghantam paling keras.Da...
10/02/2026

PENYESALAN SELALU DATANG SAAT SEMUA DITUTUP

Penyesalan itu tidak berisik.
Ia datang pelan, tapi menghantam paling keras.
Datang justru ketika semua pintu sudah terkunci.

Saat amal tak lagi bisa ditambah, bukan karena tak mau,
tapi karena waktu sudah dicabut.

Saat taubat tak bisa diulang, bukan karena Allah menolak,
tapi karena kesempatan telah diambil kembali.

Saat lidah tak lagi berjanji, tak bisa berkata “nanti”, tak bisa berdalih “sebentar lagi”.
Semua alasan mati lebih dulu.

Baru di titik itu kau ingin kembali.
Bukan untuk dunia—tapi untuk satu sujud yang dulu diremehkan.
Untuk satu istighfar yang dulu ditunda.
Untuk satu kebaikan kecil yang dulu kau anggap sepele.

Namun dunia sudah berpaling.
Waktu tak menoleh.
Dan hidup tak mengenal ulang.

Ayat itu bukan kisah orang lain.
Itu jeritan jiwa yang terlambat sadar.
“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku.”
Bukan untuk menikmati hidup, tapi untuk menambal kelalaian.

Sayangnya, penyesalan selalu jujur—tapi sering datang terlambat.
Maka selama pintu masih terbuka, jangan tunggu sampai semuanya ditutup.
Karena saat penyesalan menjadi satu-satunya suara,
tak ada lagi jawaban.

Address

Pendopo, Tanah Abang
Pendopo
31314

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Qolbu.ZR posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share