19/02/2026
KAU MENUKAR AKHIRAT DENGAN LIKE DAN PUJIAN
Kau bangun pagi, bukan untuk tahajud—tapi untuk cek notifikasi.
Kau gelisah bukan karena iman melemah—tapi karena engagement menurun.
Senyummu rapi di kamera.
Kata-katamu teduh di caption.
Doamu panjang di komentar.
Tapi sajadahmu sering dingin tak tersentuh.
Kau ingin terlihat baik.
Bukan benar-benar menjadi baik.
Riya itu tak selalu lantang.
Ia halus.
Ia menyusup dalam niat.
Ia membisikkan, “Bagus… biar orang tahu.”
Dan tanpa sadar, kau sedang menukar pahala dengan pujian.
Menukar keikhlasan dengan validasi.
Menukar akhirat yang kekal
dengan tepuk tangan yang fana.
Allah telah memperingatkan dengan tegas dalam Al-Qur'an:
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4, 6)
Perhatikan—bukan orang yang meninggalkan shalat, tapi yang shalatnya tercemar niat.
Betapa mengerikan.
Ibadah dilakukan.
Gerakan sempurna.
Bacaan fasih.
Tapi langit tak mencatatnya sebagai amal.
Karena yang kau cari bukan ridha-Nya.
Tapi sorot mata manusia.
Hari ini kau panen pujian.
Besok, pujian itu hilang ditelan timeline.
Tapi dosa riya…
ia tetap tinggal dalam catatan.
Ingatlah—di hari ketika semua topeng runtuh, ketika tak ada filter dan tak ada editan, yang dinilai bukan seberapa banyak yang melihatmu,
tapi seberapa jujur hatimu saat tak ada yang melihat.
Jangan sampai amalmu ramai di dunia, tapi kosong di hadapan Allah.
Karena satu sujud yang sunyi dan tulus lebih berat di timbangan
daripada seribu postingan religius yang dibangun di atas ingin dipuji.