15/05/2026
De Britto Jogja: Sekolah Gondrong yang Membungkam Stereotip
Di tengah hiruk-pikuk Kota Yogyakarta, berdiri sebuah sekolah yang sejak lama dikenal nyeleneh, berbeda, bahkan kerap dianggap “melawan arus” dunia pendidikan Indonesia. Sekolah itu adalah SMA Kolese De Britto — atau yang akrab disebut “JB”.
Sekilas, suasana di sekolah ini mungkin membuat orang terkejut. Banyak siswanya berambut gondrong, berpakaian santai, aktif bermusik, berdiskusi, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan seni. Namun siapa sangka, di balik penampilan yang jauh dari kesan formal itu, tersimpan salah satu sekolah dengan prestasi akademik terbaik di Indonesia.
De Britto selama bertahun-tahun dikenal sebagai sekolah yang berhasil mematahkan stigma lama bahwa rambut gondrong identik dengan kenakalan atau kemalasan. Di sini, kebebasan justru dijadikan sarana pendidikan karakter.
Filosofi tersebut lahir dari nilai pendidikan Jesuit yang dianut sekolah ini. Sejak era 1970-an, De Britto mulai memberi kebebasan kepada siswa untuk menentukan gaya rambut mereka sendiri. Bukan tanpa alasan, sekolah ingin menanamkan rasa tanggung jawab dan kemandirian berpikir.
Pesan yang dibangun sederhana namun kuat: “Kamu bebas menentukan apa yang ada di luar kepalamu, tetapi kamu juga harus bertanggung jawab atas apa yang ada di dalam kepalamu.”
Karena itu, kebebasan di De Britto bukan berarti tanpa aturan. Para siswa tetap dituntut disiplin dalam berpikir, belajar, bersikap, dan menghormati sesama. Penampilan boleh santai, tetapi kualitas intelektual tidak boleh sembarangan.
Tak heran jika sekolah ini konsisten masuk jajaran sekolah terbaik nasional. Prestasi siswa De Britto kerap muncul dalam berbagai ajang olimpiade sains, debat internasional, karya ilmiah, hingga kompetisi akademik tingkat dunia. Banyak alumninya kemudian dikenal sebagai tokoh nasional di bidang hukum, seni, aktivisme, media, politik, hingga akademisi.
Salah satu tradisi paling ikonik dari SMA Kolese De Britto adalah perayaan kelulusan mereka yang berbeda dari kebanyakan sekolah lain. Jika banyak pelajar merayakan kelulusan dengan konvoi motor, knalpot bising, atau aksi corat-coret seragam, siswa De Britto justru memilih berjalan kaki bersama-sama dari kawasan sekolah di Jalan Solo menuju Tugu Yogyakarta.
Tradisi long march ini telah menjadi ciri khas yang melekat kuat di masyarakat Jogja dan hanya berlangsung setahun sekali setiap momen kelulusan. Ratusan siswa berseragam putih abu-abu tampak memenuhi jalanan kota dengan langkah kaki, spanduk angkatan, nyanyian persahabatan, dan semangat kebersamaan.
Di sekitar bundaran Tugu Jogja, suasana berubah menjadi lautan manusia. Para siswa berdiri berjejer memenuhi kawasan ikon kota tersebut sambil merayakan kelulusan dengan tertib dan penuh kegembiraan. Rambut gondrong, wajah lelah setelah berjalan jauh, serta sorak sorai penuh haru menjadi pemandangan yang khas.
Namun yang membuat tradisi ini begitu dihormati bukan sekadar euforianya, melainkan nilai yang dibawa di dalamnya.
Alih-alih ugal-ugalan di jalan, para siswa memilih merayakan kelulusan dengan aksi sosial. Banyak di antara mereka membagikan makanan kepada tukang becak, pengamen jalanan, pekerja informal, hingga masyarakat yang membutuhkan di sepanjang perjalanan. Bahkan, setelah acara selesai, tidak sedikit siswa yang memungut sampah di area sekitar sebagai bentuk tanggung jawab terhadap ruang publik.
Tradisi ini juga dikenal minim aksi corat-coret seragam sekolah. Bagi mereka, kelulusan bukan tentang pelampiasan liar, melainkan bentuk rasa syukur atas perjalanan pendidikan yang telah dilalui bersama.
Budaya inilah yang membuat perayaan kelulusan De Britto sering dianggap sebagai salah satu tradisi kelulusan paling positif dan menginspirasi di Yogyakarta. Sebuah selebrasi yang tetap meriah tanpa kehilangan nilai kedisiplinan, empati, dan rasa hormat terhadap masyarakat sekitar.
SMA Kolese De Britto bukan hanya dikenal karena siswa gondrong atau prestasi akademiknya semata. Sekolah ini menjadi simbol bahwa kebebasan bisa berjalan berdampingan dengan tanggung jawab, dan bahwa anak muda dapat merayakan kebahagiaan tanpa harus merugikan orang lain.
Di tengah budaya seragam dan stigma lama tentang kenakalan remaja, De Britto hadir sebagai bukti bahwa karakter kuat tidak selalu lahir dari aturan yang kaku, melainkan dari kepercayaan, kesadaran, dan pendidikan nilai yang ditanamkan sejak dini. (Awesome)