09/06/2026
MEMBONGKAR KEDOK MUSUH TERBESAR UMMAT ISLAM HARI INI: BUKAN SENJATA, MELAINKAN KEBODOHAN
POSO โ Ada alasan kuat mengapa forum diskusi ilmiah yang digelar Panitia Diskusi Islam Wasathiyah di Kompleks Yayasan Wakaf Amanatul Ummah terasa begitu berbobot. Dua tokoh penting, Dr. M. Najih Arromadloni, M.Ag. (akademisi/pakar pemikiran Islam) dan Ir. Parawijayanto (Mantan Amir Jamaah Islamiyah), menyuarakan Islam adalah agama perdamaian, dan jalan menuju ke sana hanya bisa dirintis dengan satu halโilmu pengetahuan.
Berikut adalah rangkuman gagasan mendalam kedua pemateri yang dikemas agar esensinya mudah diresapi.
DR. M. NAJIH ARROMADLONI :
โPotensi Manusia Itu Seperti Tambang Emas"
Membuka paparannya, Dr. Najih mengutip sebuah hadis sarat makna tentang hakikat manusia. Rasulullah SAW bersabda bahwa manusia itu ibarat tambang:
ุชูุนูุฏูููู ุงููููุงุณู ู
ูุนูุงุฏูููุ ุฎูููุงุฑูููู
ู ููู ุงููุฌูุงูููููููุฉู ุฎูููุงุฑูููู
ู ููู
ุงููุฅูุณูููุงู
ู ุฅูุฐูุง ูููููููุง
โKalian akan mendapati manusia itu seperti tambang (emas dan perak). Orang yang terbaik di masa jahiliyah akan menjadi orang yang terbaik p**a di masa Islam, jika mereka paham (fiqih/ilmu).โ (HR. Bukhari & Muslim).
"Kalau dasarnya perak, akan jadi perak. Kalau dasarnya emas, tetap emas," urai Dr. Najih. Beliau mencontohkan bagaimana para pemimpin Quraisy di zaman Jahiliyah, ketika masuk Islam, kapasitas kepemimpinannya tidak hilangโjustru bertransformasi menjadi pemimpin Islam yang luar biasa. Contoh paling nyata adalah trah Muawiyah yang kelak membentuk Dinasti Umayyah, dinasti dengan wilayah kekuasaan terluas dan bertahan paling lama dalam sejarah Islam.
Analogi ini dilemparkan Dr. Najih untuk melihat realitas hari ini. "Sebagaimana dulu kapasitas itu digunakan untuk memimpin JI (Jamaah Islamiyah), sekarang potensi kepemimpinan yang luar biasa itu harus dialihkan untuk memimpin dakwah Wasathiyah (moderat)," tegasnya penuh semangat.
PERANG ITU DARURAT, DAMAI ITU PRINSIP
Dr. Najih meluruskan kesalahpahaman fatal mengenai konsep perang dalam Islam. Menengok sejarah Perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hudaibiyah), Rasulullah SAW justru memilih mengalah dalam klausul perjanjian demi tercapainya gencatan senjata. "Udahlah, yang penting damai," begitulah prinsipnya.
Bahkan, dalam sebuah riwayat disebutkan, tidak ada kewajiban yang paling utama setelah perkara fardu melainkan menuntut ilmu. Mengapa ilmu begitu agung? Dr. Najih menyebutkan perbandingan di akhirat kelak:
1 Pahala tetesan darah para syuhada yang gugur di medan perang.
2 Pahala goresan tinta para ulama.
"Pahala yang paling utama adalah tinta para ulama yang faedahnya bisa kita baca dan amalkan hingga hari ini. Inilah amal yang tidak terputus, 'ilmun yuntafa'u bihi (ilmu yang bermanfaat)," jelasnya.
Ir. Parawijayanto: "PERANG ITU MAHAL, DAMAI ITU MURAHโ
Parawijayanto membawa perspektif yang sangat praktis dan empiris dari pengalamannya di masa lalu. Sebagai mantan Amir JI, ia tahu betul betapa destruktifnya sebuah konflik bersenjata.
"Agama Islam itu adalah agama pertengahan (wasathiyah). Satu hal yang harus disadari: Perang itu mahal, dan damai itu murah," ujar Parawijayanto lugas.
Ia membuka memori masa lalu ketika kelompoknya mengirimkan personel ke Mindanao, Moro (Filipina), untuk terlibat dalam konflik bersenjata. "Perang itu ada sebabnya, jangan melaksanakan perang kalau tidak ada sebab (syar'i) yang sah. Dulu kita dikirim ke Moro mengikuti peperangan dengan biaya yang sangat banyak. Energi dan materi habis di sana."
PESANTREN SEBAGAI AGEN HARMONISASI SOSIAL
Bagi Parawijayanto, transformasi pemikiran harus mewujud dalam institusi pendidikan, khususnya pondok pesantren. Pesantren tidak boleh lagi dicitrakan sebagai tempat yang eksklusif, melainkan harus menjadi mediator dan jangkar kedamaian di tengah masyarakat.
"Di pesantren ada Ustaz, ada Kiai yang dihormati. Ketika ada konflik atau potensi gesekan di masyarakat, pondok pesantrenlah yang harus tampil sebagai mediator dan agen harmonisasi sosial. Menanamkan nilai-nilai kebangsaan, seperti upacara bendera, yang merupakan bagian dari ekspresi hubbul wathan (cinta tanah air)," paparnya.
Lebih jauh, ia mendorong pesantren untuk mengadopsi konsep pengabdian masyarakat mirip Kuliah Kerja Nyata (KKN) di perguruan tinggi. Santri dan pengajar harus turun langsung, membaur, dan menjadi solusi atas problem-problem riil yang dihadapi warga sekitar.
Garis Bawah