26/12/2025
- Ismail, bukan nama sebenarnya, mengaku heran dengan sikap aparat TNI/Polri yang menuding para relawan membawa Bendera Bulan Bintang. Ismail mengatakan mereka hanya ingin segera sampai ke Aceh Tamiang untuk membantu para penyintas di daerah itu.
“Kami datang dengan damai. Tidak ada tujuan politik. Semua untuk kemanusiaan. Tapi kami diperlakukan tidak manusiawi,” kata Ismail, Kamis, 25 Desember 2025.
Ismail mengatakan dia melintasi jalan itu bersama sekitar 1.000 lebih relawan. Mereka datang dari Banda Aceh, Pidie, Bireueun, dan beberapa daerah lain untuk membawa logistik bantuan. Di Aceh Tamiang, mereka berencana membantu warga membersihkan permukiman dari lumpur dan kayu yang menumpuk.
Ismail mengatakan mereka berkumpul di Beureuneun, Pidie dan dihentikan oleh aparat negara, bersenjata lengkap, di Gampong Mane Tunong, Aceh Utara. Mereka menumpang sekitar 200 kendaraan untuk tiba di Aceh Tamiang.
Di lokasi, ratusan aparat negara menghentikan satu per satu truk bantuan sejak sekitar pukul 18.30 WIB. Sebagian dari mereka menolak cara aparat negara memaksa untuk memeriksa mereka.
Namun aparat negara menanggapi penolakan itu dengan kekerasan. Aparat negara itu tidak ragu memukulkan popor senjata mereka ke tubuh relawan. Sebagian dari relawan juga disepak dan dipukuli hingga lembam dan cedera.
Tak hanya relawan, aparat negara juga memukul seorang warga yang hendak melerai aksi kekerasan itu. “Seorang relawan terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Fauziah karena terluka parah di bagian kepala,” kata Ismail.
Saat ini, tidak terlihat lagi aparat negara melakukan sweeping. Namun mereka tetap berjaga di lokasi itu.***