17/08/2013
Mesir Jadi Negara
Pertama Akui
Kemerdekaan Indonesia
Sebelum tanggal 22 MARET 1946
Indonesia selalu diklaim Belanda
sebagai masalah dalam negeri
negara penjajah itu. Belanda tetap
mengklaim Indonesia sebagai
wilayah jajahannya.
Sebelum 22 MARET 1946 belum
lengkap syarat negara Indonesia
secara de jure walaupun secara de
facto Indonesia sudah berdiri sejak
17 Agustus 1945.
Sebelum 22 MARET 1946, negara-
negara di luar Indonesia dan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
tidak mau ikut campur urusan
Indonesia karena dianggap sebagai
masalah dalam negeri Belanda.
Sebelum 22 MARET 1946, dunia
internasional belum mau mengurusi
masalah Indonesia walaupun terjadi
peperangan di Indonesia dan banyak
korban jiwa.
Sebelum 22 MARET 1946, delegasi
Indonesia seperti Sutan Sjahrir, Haji
Agus Salim, Soedjatmoko, LN Palar,
tidak boleh masuk ke Sidang Majelis
Umum PBB
Apa yang terjadi pada 22 Maret
1946? Itu adalah tanggal ketika ada
sebuah negara mengakui
kemerdekaan Indonesia untuk
pertama kalinya. Negara itu adalah
Mesir. Bahkan setahun sebelum
kemerdekaan diproklamirkan,
Palestina, melalui M***i Besarnya,
Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini
sudah menyatakan dukungannya
untuk Indonesia.
Pada 6 September 1944, Radio Berlin
berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan
selamat’ dari Syaikh Amin Al-
Husaini ke seluruh dunia Islam untuk
mendukung kemerdekaan Indonesia.
Sejak Mesir dan Palestina mengakui
dan mendukung kemerdekaan
Indonesia, negara-negara di Timur
Tengah berduyun-duyun mengakui
kemerdekaan Indonesia. Bukan
hanya itu, India pun kemudian
mengikuti langkah Mesir dan
Palestina.
Selain kepiawaian Haji Agus Salim
untuk melobi negara-negara Timur
Tengah, juga karena dukungan dari
gerakan-gerakan Islam di Timur
Tengah pada umumnya dan Mesir
pada khususnya.
Berawal dari Mansur Abu Makarim,
seorang informan Indonesia yang
bekerja di Kedutaan Belanda di
Kairo, Mesir yang membaca di
Majalah Vrij Netherland yang
memberitakan bahwa Negara
Indonesia sudah memproklamirkan
kemerdekaannya, kemudian
memberitahukannya kepada koran-
koran dan radio di Mesir.
Rakyat Mesir dan anggota-anggota
organisasi Islam menyambut
gembira. Koran-koran dan radio
Mesir mengatakan bahwa ini adalah
awal kebangkitan di dunia Islam.
Juga dinyatakan ini adalah awal dari
kemerdekaan negara-negara di
dunia Islam untuk terbebas dari
belenggu penjajahan negara-negara
Barat.
Pada 16 Oktober 1945 sejumlah
ulama di Mesir dan Dunia Arab
dengan inisiatif sendiri membentuk
‘Lajnatud Difa’i'an
Indonesia’ (Panitia Pembela
Indonesia). Ikhwanul Muslimin yang
berpusat di Mesir dan dipimpin oleh
Hasan Al Banna saat itu menjadi
unsur utama gerakan ini.
Sejak itu Ikhwanul Muslimin sering
mengadakan demo besar-besaran
mendesak pemerintah Mesir untuk
mengakui kemerdekaan Indonesia.
Para kelasi kapal yang bekerja di
kapal-kapal Inggris banyak yang
melakukan pemogokan bahkan
berhenti bekerja dan mengajukan
tuntutan kepada pemerintah Inggris
supaya berhenti membantu Belanda.
Bahkan ada mahasiswa Indonesia
yaitu Mohammad Zein Hassan yang
bekerja di kapal Inggris di Tunisia,
berhenti bekerja di kapal Inggris itu
dan berjalan kaki dari Tunisia ke
Mesir.
Ketika ditanya kenapa ia berjalan
kaki sejauh itu, Zein Hassan
menjawab, “Seluruh perusahaan
transportasi dari Tunisia ke Mesir
adalah milik Inggris dan ulama-
ulama di Mesir mengharamkan
bekerjasama dengan Inggris yang
membantu Belanda menghalang-
halangi kemerdekaan Indonesia!”
Saat itu Ikhwanul Muslimin juga
membuka ruang seluas-luasnya bagi
mahasiswa-mahasiswa Indonesia di
Mesir untuk menulis tentang
kemerdekaan Indonesia di koran-
koran dan majalah milik Ikhwan.
Ketika terjadi pertempuran Surabaya
10 November 1945 dan banyak koran
Indonesia memberitakan, Ikhwanul
Muslimin dan gerakan Islam lainnya
mengadakan shalat ghaib berjamaah
di banyak tempat di Mesir.
Atas desakan ikhwanul Muslimin
dan gerakan Islam lainnya akhirnya
Negara Mesir di bawah pimpinan
Raja Farouk ketika itu mengakui
kemerdekaan Indonesia pada 22
Maret 1946. Setelah itu pemerintah
Mesir mengirimkan utusan
khususnya yang membawa surat
pengakuan itu untuk menemui
Presiden Soekarno di ibukota RI,
Yogyakarta.
Ini adalah perjuangan berat karena
saat itu Indonesia diblokade
Belanda. Perlu keberanian dan
keterampilan khusus seperti John
Lie untuk menembus blokade
Belanda
Ketika Belanda melakukan agresi
militer pertama pada 1947, para
buruh anggota Ikhwanul Muslimin
sering mencegat kapal-kapal
Belanda di Terusan Suez yang saat
itu dinyatakan milik internasional.
Ketika kapal Belanda Volendam
mendarat di Port Said, beberapa
motor boat yang dikendarai buruh
pelabuhan dan anggota-anggota
Ikhwanul Muslimin, mengelilingi
kapal itu dan mencegah kapal-kapal
lain mendekat dan menyuplai air
minum untuk kapal Belanda
tersebut.
Pemerintah Mesir juga menyalurkan
bantuan lunak berupa uang kepada
pemerintahan Indonesia yang kas-
nya masih kosong. Sungguh sebuah
bantuan yang sangat berarti. Hal ini
kemudian diikuti oleh negara-negara
Timur Tengah lainnya.
Jadi Peran Mesir yang dipelopori
oleh Ikhwanul Muslimin sangatlah
besar dan berarti buat Indonesia.
Maka, sangatlah wajar kalau
pemerintah dan rakyat Indonesia
saat ini membantu Mesir dan
Palestina dalam menyelesaikan
masalah mereka karena hubungan
historis yang sangat kuat. Di Mesir
juga ada Jalan Ahmad Soekarno
yang diambil dari nama Presiden
Pertama Republik Indonesia.