24/06/2026
Siang itu, lapangan desa sangat meriah dengan panggung pentas seni yang megah di bawah terik matahari. Anak-anak lain berlarian riang di atas rumput sambil memegang es krim yang mulai meleleh, balon karakter, dan aneka jajanan segar. Suara musik yang ceria beradu dengan riuh tawa penonton yang memadati lapangan.
Namun, di pinggir lapangan di bawah bayangan pohon yang agak teduh, seorang bapak dan anak laki-lakinya hanya duduk diam menikmati pertunjukan dari kejauhan.
Sang bapak terus meraba saku celananya, meremas selembar uang sepuluh ribu rupiah yang lecek. Di dalam hatinya, ia menangis perih, “Maafkan Bapak, Nak. Di tengah lapangan yang panas begini, Bapak bahkan tidak mampu membelikanmu segelas es sirup yang dingin. Uang ini hanya cukup untuk bensin kita pulang.”
Sang anak sebenarnya menyadari hal itu. Ia hafal betul kebiasaan bapaknya yang selalu memegang saku celana jika dompetnya kosong. Di dalam hatinya, sang anak berbisik lembut, “Bapak jangan bingung. Aku tidak butuh es krim atau mainan. Bisa duduk berdua berteduh di pinggir lapangan ini sambil melihat acara sudah membuatku sangat bahagia.”
Untuk memecah keheningan, sang bapak memberanikan diri bertanya sambil mengusap keringat di dahi anaknya, "Nak, kamu haus? Mau es?"
Sang anak menoleh, lalu tersenyum sangat tulus sambil menggelengkan kepala. "Tidak, Pak. Aku tidak haus. Lagipula es seperti itu terlalu manis, aku lebih s**a air putih yang kubawa di dalam tas ini," jawabnya berbohong demi menjaga perasaan bapaknya.
Mendengar itu, mata sang bapak berkaca-kaca menahan haru. Ia langsung merangkul pundak anaknya, menepis rasa panas lapangan yang menyengat. Di tengah kemeriahan acara siang itu, mereka berdua menemukan kesejukan sejati yang tidak butuh biaya: rasa saling mengerti yang tulus.
------------------------------
Siang itu.....