Historylogi

Historylogi Menghadirkan kembali potongan kehidupan masa lalu melalui footage lama dan kisah sejarah, agar kenangan dan pelajaran zaman dulu tetap hidup hingga hari ini

Letusan Krakatau 1883: Suara yang Mengguncang DuniaPada akhir abad ke-19, dunia menyaksikan salah satu bencana alam pali...
24/04/2026

Letusan Krakatau 1883: Suara yang Mengguncang Dunia
Pada akhir abad ke-19, dunia menyaksikan salah satu bencana alam paling dahsyat dalam sejarah, letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda, Indonesia.
Pada tanggal 27 Agustus 1883, terjadi empat ledakan besar yang begitu kuat hingga suaranya terdengar ribuan kilometer jauhnya. Bahkan, ini disebut sebagai suara terkeras yang pernah tercatat dalam sejarah manusia.
Ledakan tersebut menghancurkan sebagian besar pulau Krakatau dan memicu tsunami raksasa setinggi puluhan meter yang menyapu pesisir Jawa dan Sumatra. Lebih dari 36.000 jiwa dilaporkan meninggal dunia.
Namun dampaknya tidak berhenti di Indonesia. Abu vulkanik menyebar ke atmosfer dan menyebabkan perubahan iklim global. Langit di berbagai belahan dunia berubah menjadi merah, ungu, bahkan muncul fenomena "bulan biru" selama berbulan-bulan.
Letusan Krakatau bukan hanya tragedi, tetapi juga pengingat betapa dahsyatnya kekuatan alam. Hingga kini, "Anak Krakatau" yang muncul dari sisa letusan tersebut masih aktif dan terus dipantau oleh para ilmuwan.














06/04/2026

Awal abad ke 20, tepatnya tahun 1914, dataran tinggi Priangan sudah dipenuhi hamparan kebun teh yang dikelola perusahaan kolonial, dengan para perempuan Sunda memetik pucuk di lereng antara Bandung, Garut, hingga Cianjur, hasilnya dikirim jauh ke pasar Eropa.

02/04/2026

Lori tebu menjadi bagian penting industri gula di Hindia Belanda pada dekade 1920an. Dengan rel sempit dan lokomotif uap kecil, rangkaian lori ini mengangkut tebu langsung dari kebun menuju pabrik gula agar proses giling berjalan cepat dan hasil gula tetap maksimal. Sistem transportasi ini tersebar luas di wilayah sentra perkebunan, terutama di Pulau Jawa, dan menjadi tulang punggung logistik perkebunan pada masa kejayaan industri gula kolonial. Hingga kini, jejak lori tebu masih dikenang sebagai simbol era mekanisasi awal pertanian dan industri di Indonesia.

27/03/2026

Dijalanan Batavia tahun 1941, mobil-mobil modern melintas berdampingan dengan kereta kuda di tengah hiruk pikuk kota kolonial.

26/03/2026

Film klasik Indonesia Lewat Djam Malam (1954) karya sutradara Usmar Ismail menampilkan sebuah momen menarik ketika lagu rakyat Maluku “Rasa Sayange” terdengar dinyanyikan dalam suasana santai para tokohnya. Lagu yang sudah hidup lama di masyarakat Nusantara.

24/03/2026

Surabaya tahun 1927, aat trem listrik masih melintas, delman berbagi jalan dengan mobil awal, dan wajah kota pelabuhan ini mulai modern,
Dari pusat ekonomi Hindia Belanda hingga jadi kota besar hari ini, perubahan apa yang paling kamu rasakan?

23/03/2026

Suasana Pelabuhan Tanjung Priok pada 1920an selalu penuh cerita kapal uap besar merapat, asap mengepul dari cerobongnya, penumpang berdiri di dek sementara orang-orang di dermaga menunggu .

18/03/2026

warung makan rakyat di pasar Nusantara pada era 1920an ini memperlihatkan bagaimana pedagang dan pekerja harian mengisi tenaga dengan nasi dan lauk sederhana di tengah hiruk-pikuk aktivitas pasar pada masa Hindia Belanda. Warung seperti ini menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai tempat makan murah, tetapi juga ruang interaksi sosial dan denyut ekonomi kecil rakyat.

17/03/2026

Ditengah panas kota Hindia Belanda pada 1920an, penjual limun keliling menjadi pemandangan akrab, memikul tabung minuman berkarbonasi dan melayani siapa saja yg haus, dari warga kampung hingga pekerja kota, menjadikan segelas limun dingin sebagai kemewahan kecil dikeseharian masyarakat.

15/03/2026

Suasana Pelabuhan Tanjung Priok pada 1920an selalu penuh cerita kapal uap besar merapat, asap mengepul dari cerobongnya, penumpang berdiri di dek sementara orang-orang di dermaga menunggu .

09/01/2026

Lagu tradisional “Rasa Sayange” yang berasal dari Maluku terdengar dalam film klasik Indonesia Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail, memberikan nuansa kehangatan budaya di tengah kisah berat tentang kehidupan para mantan pejuang setelah kemerdekaan. Film ini dikenal sebagai salah satu tonggak perfilman nasional karena berani menampilkan konflik batin, kegelisahan sosial, dan realitas pahit pascaperang yang jarang diangkat pada masanya.
Kehadiran lagu rakyat ini bukan sekadar musik latar, tetapi menjadi simbol identitas dan nostalgia, memperkuat kontras antara kenangan kebersamaan masa lalu dan kerasnya kehidupan setelah revolusi. Hingga kini, adegan ini masih dikenang sebagai perpaduan kuat antara sinema dan warisan budaya Indonesia.

Address

Purwokerto

Telephone

089668503999

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Historylogi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share