Ayahnya Miyesha

Ayahnya Miyesha Kreator Pemula
Konten Random
Masih belajar jangan di bully, mohon bantuannya suhu

"Kurir Nyawa: Pesanan Dari Masa Lalu"-------‐------------------------------------------------------Bab 1: Paket yang Seh...
10/07/2026

"Kurir Nyawa: Pesanan Dari Masa Lalu"
-------‐------------------------------------------------------

Bab 1: Paket yang Seharusnya Mati

Hujan di daerah Jakarta malam itu tidak seperti biasanya. Ia tidak hanya sekadar turun; ia menghujam, seolah-olah langit sedang mencoba untuk mencuci bersih dosa-dosa yang telah melekat pada aspal beton di dalam setiap jalan-jalan ibu kota yang sangat pengap.

Di sudut sebuah gudang logistik yang lampu neonnya berkedip-kedip seperti sedang sekarat, Awan berdiri menyandarkan punggungnya pada tumpukan palet kayu.

Napasnya terasa berat, meninggalkan uap yang tipis di atas udara yang terasa dingin. Aroma bahan bakar bensin, kardus yang basah, dan bau keringat yang telah mengering menjadi oksigen sehari-harinya selama tiga tahun terakhir ini.

Awan menatap layar ponselnya yang telah retak. Pukul 22.45 WIB. Seharusnya dia sudah p**ang, merebahkan tubuhnya yang remuk di atas kasur tipis kontrakannya. Namun, notifikasi di aplikasi kurirnya masih menyala merah—sebuah peringatan yang tidak bisa diabaikan. Satu paket yang masih tersisa.

"Kenapa belum jalan?" sebuah suara parau mengejutkannya.

Awan menoleh. Pak Subro, seorang manajer operasional yang biasanya sangat cerewet dan penuh dengan amarah, berdiri di ambang pintu kantor yang remang. Namun, malam ini Pak Subro tampak berbeda.

Wajahnya pucat pasi, seperti kertas yang direndam air. Matanya tidak menatap Awan, melainkan menatap kosong ke arah kegelapan di luar gudang.

"Paket terakhir, Pak. Alamatnya aneh. GPS tidak bisa mengunci koordinatnya," jawab Awan sambil menunjukkan layar ponselnya.

Pak Subro berjalan mendekat. Langkah kakinya tidak terdengar, seolah dia sedang melayang di atas lantai semen yang lembap. Ia menyerahkan sebuah bungkusan yang sejak tadi didekapnya.

Paket itu tidak menggunakan plastik polimer standar perusahaan, melainkan dibungkus oleh kain kafan kusam yang sudah mulai menguning. Tidak ada label pengiriman digital.

Hanya ada tulisan tangan kasar di atas kertas merang yang ditempelkan dengan getah pohon:

"Untuk Suryo Laya – Segera."

"Antarkan ini sekarang," bisik Pak Subro.

Suaranya terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu.

"Jika paket ini tidak sampai sebelum subuh, bukan hanya pekerjaanmu yang hilang, Awan. Sesuatu yang lebih berharga akan diambil darimu."

Awan merasakan tengkuknya kian meremang. Saat tangannya menyentuh paket itu, rasa dingin yang luar biasa merambat naik dari ujung jarinya, menembus tulang, dan seolah membekukan detak jantungnya sejenak.

Paket itu terasa berat, namun bukan berat benda mati. Ada denyut halus di dalamnya, seperti detak jantung seekor burung yang sedang sekarat.

"Suryo Laya? Saya tidak pernah mendengar desa itu di pinggiran Jakarta, Pak," tanya Awan, suaranya sedikit bergetar.

Pak Subro tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan kembali ke dalam kegelapan kantornya tanpa menoleh lagi. Awan berdiri sendirian di bawah lampu neon yang akhirnya mati total, menyisakan kegelapan pekat yang hanya dipecahkan oleh kilatan petir di kejauhan.

Dengan perasaan tidak enak yang mengendap di dasar perutnya, Awan menyalakan mesin motor tuanya. Suara knalpotnya yang kasar membelah kesunyian gudang.

Ia meletakkan paket aneh itu di dalam boks belakang motornya, menguncinya rapat-rapat, seolah takut sesuatu di dalamnya akan keluar jika ia lengah.

Perjalanan dimulai.

Awan memacu motornya menembus badai. Awalnya, jalanan terasa akrab. Jalan protokol yang masih menyisakan satu-dua kendaraan.

Namun, setelah melewati pinggiran kota yang biasanya ramai dengan warung kopi pinggir jalan, suasana berubah secara drastis. Kabut tebal mulai turun, menelan cahaya lampu jalan satu per satu.

Sinyal di ponsel Awan mendadak hilang. Peta digital yang tadinya menunjukkan rute lurus tiba-tiba berputar-putar seperti sebuah kompas yang telah kehilangan kutub nya.

Jalan aspal yang ia lalui kini perlahan-lahan mulai berubah menjadi tanah merah yang dipenuhi oleh genangan-genangan air yang kotor dan yang sangat becek, dijepit oleh pohon-pohon beringin raksasa yang dahan-dahannya menjuntai rendah, tampak seperti tangan-tangan keriput yang mencoba menarik jaket kurirnya.

"Gila... di mana ini?" gumam Awan di balik helmnya.

Ia mencoba mengerem, berniat untuk putar balik. Namun, saat ia melirik ke kaca spion, jantungnya hampir copot. Di belakangnya, di tengah kabut yang remang, ia melihat sebuah lampu depan motor tunggal.

Cahayanya yang bersinar redup, kekuningan, dan tidak bergoyang sama sekali mengikuti guncangan jalan. Yang lebih mengerikan adalah suaranya—bukan suara mesin motor modern, melainkan suara geraman mesin tua yang berat, dug-dug-dug, ritmis dan mengancam.

Itu adalah Sang Pengumpul.

Awan memacu gasnya lebih dalam. Ia tidak tahu siapa atau apa yang ada di belakangnya, tapi instingnya berteriak bahwa ia sedang diburu. Paranoia mulai menguasai pikirannya.

Setiap bayangan pohon yang tertimpa oleh sinar lampu motornya tampak seperti sosok manusia yang sedang berdiri diam menatapnya. Ia merasa seolah-olah ribuan pasang mata yang sedang mengintip dari balik kegelapan hutan.

Tiba-tiba saja, mesin motor Awan terbatuk. Tenaganya hilang perlahan hingga akhirnya mati total tepat di depan sebuah gapura kayu yang sudah lapuk.

Sunyi seketika menyergap. Hujan yang tadinya turun dengan deras kini berubah menjadi gerimis halus yang terasa seperti sebuah jarum yang sedang menusuk-nusuk di atas kulitnya.

Awan turun dari motor dengan kaki yang gemetar. Ia mencoba untuk menyalakan ponselnya, tapi layarnya hanya menampilkan garis-garis statis berwarna abu-abu. Di keheningan itu, ia mendengar suara yang membuatnya membeku.

Dari arah belakang, suara mesin motor tua itu perlahan-lahan mulai kian mendekat.

Dug... dug... dug...

Suara motor itu berhenti sekitar lima puluh meter darinya. Awan tidak berani untuk menoleh. Ia bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk punggungnya.

Bau busuk, seperti daging yang dibiarkan membusuk di dalam kantong plastik selama berminggu-minggu, kini mulai tercium oleh penciumannya yang terbawa oleh angin.

Di depannya, sebuah papan kayu tua yang tertanam miring di tanah menarik perhatiannya. Dengan bantuan sinar cahaya senter kecil dari kunci motornya, Awan membaca tulisan yang terukir kasar di sana:

"SELAMAT DATANG DI SURYO LAYA. MOHON SEGERA ANTARKAN PESANAN ANDA. JANGAN MENOLEH, JANGAN MENJAWAB, JANGAN BERHENTI BERLARI."

Awan menelan ludah. Ia merasakan ada sesuatu yang sedang merayap di atas pundaknya—sebuah sensasi seperti jemari dingin yang tidak terlihat. Di saat yang sama, ia mendengar bisikan halus yang seolah-olah berasal dari dalam kepalanya sendiri.

"Awan... tolong... panas..."

Itu suara ibunya. Suara yang seharusnya sudah tidak ia dengar lagi sejak pemakaman tiga tahun yang lalu.

Awan mencengkeram stang motornya erat-erat. Ia tahu, perjalanan ini baru saja akan dimulai. Dan di desa ini, batas antara yang hidup dan yang mati hanyalah selembar kain kafan yang kini tersimpan di dalam boks motornya.

Ia melangkah masuk dengan melewati gapura, dan membiarkan kegelapan Suryo Laya menelannya bulat-bulat.
*****
Bersambung...

Catatan Penulis: Ketegangan dimulai. Awan kini berada di wilayah di mana logika tidak lagi berlaku. Sang Pengumpul sedang mengamati dari kegelapan, menunggu Awan melakukan satu kesalahan kecil.

Salam interaksi dan salam sksd ya sobat qu semuanya, lanjutkan di aplikasi fizzo nya ya sobat qu...

Assalamu'alaikum selamat sore sobat qu semuanya...Tetap berhati2 bagi yang p**ang dari bekerja dengan berkendara, jaga j...
26/06/2026

Assalamu'alaikum selamat sore sobat qu semuanya...

Tetap berhati2 bagi yang p**ang dari bekerja dengan berkendara, jaga jarak aman, dan utamaka keselamatan jangan kecepatan...

*TERUNTUK YANG BACA*
semoga , kehidupanmu lebih baik dari sebelumnya , dimurahkan rezeki yang tak putus seperti air yang mengalir ,
segala kesusahanmu di gantikan dengan kesenangan ,dan segala kesedihan dan kekecewaan mu di gantikan dengan kebahagiaan .

Aamiiin..🤲🏻🤲🏻

Assalamu'alaikum selamat pagi dan selamat beraktivitas sobat fbpro semuanya...*TERUNTUK YANG BACA* semoga , kehidupanmu ...
26/06/2026

Assalamu'alaikum selamat pagi dan selamat beraktivitas sobat fbpro semuanya...

*TERUNTUK YANG BACA*
semoga , kehidupanmu lebih baik dari sebelumnya , dimurahkan rezeki yang tak putus seperti air yang mengalir ,
segala kesusahanmu di gantikan dengan kesenangan ,dan segala kesedihan dan kekecewaan mu di gantikan dengan kebahagiaan .

Aamiiin..🤲🏻🤲🏻

Assalamu'alaikum selamat pagi dan selamat beraktivitas sobat fbpro semuanya...*TERUNTUK YANG BACA* semoga , kehidupanmu ...
24/06/2026

Assalamu'alaikum selamat pagi dan selamat beraktivitas sobat fbpro semuanya...

*TERUNTUK YANG BACA*
semoga , kehidupanmu lebih baik dari sebelumnya , dimurahkan rezeki yang tak putus seperti air yang mengalir ,
segala kesusahanmu di gantikan dengan kesenangan ,dan segala kesedihan dan kekecewaan mu di gantikan dengan kebahagiaan .

Aamiiin..🤲🏻🤲🏻

24/06/2026
Assalamu'alaikum sobat fbpro qu semuanya... Selamat malam dan selamat beristirahat sobat qu semuanya...Semoga Allah sela...
15/06/2026

Assalamu'alaikum sobat fbpro qu semuanya...

Selamat malam dan selamat beristirahat sobat qu semuanya...

Semoga Allah selalu melindungi dan memberikan sehat wal'afiat dan sukses selalu kepada kita semuanya, aamiin 3x ya rabbal alamiin

*TERUNTUK YANG BACA*
semoga , kehidupanmu lebih baik dari sebelumnya , dimurahkan rezeki yang tak putus seperti air yang mengalir ,
segala kesusahanmu di gantikan dengan kesenangan ,dan segala kesedihan dan kekecewaan mu di gantikan dengan kebahagiaan .

Aamiiin..🤲🏻🤲🏻

"WARISAN YANG TERLUPAKAN" Novel Horor Psikologis Karya: spectrum dilemaBab. 1: Kedatangan di SukadamaiAngin dingin berhe...
24/05/2026

"WARISAN YANG TERLUPAKAN"

Novel Horor Psikologis
Karya: spectrum dilema

Bab. 1: Kedatangan di Sukadamai

Angin dingin berhembus dan berdesir, membawa serta bau aroma tanah basah dan dedaunan yang lapuk yang menusuk indera penciuman yaitu hidung Nino. Jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh malam lebih sedikit, namun kegelapan yang terasa sudah sangat pekat menyelimuti Desa Sukadamai.

Hanya lah lampu depan mobil sedan tua nya yang selalu setia membelah malam yang gelap nan gulita, menyoroti dan menyinari jalanan setapak yang berbatu yang belum mengenal aspal sama sekali, dan yang nyaris tak tampak terlihat oleh mata.

Perjalanan dari kota besar tanpa dia sadari dan tanpa dia berhenti sejenak untuk mengambil istirahat, sangat lah memakan waktu yang tidak bisa di bilang sebentar. Melebihi ekspetasi Nino, karena perhitungan nya sangat lah meleset.

Lebih dari delapan jam perjalanan nya yang sudah dia tempuh, belum lah terlihat pintu gerbang desa, dan setiap kilometer yang telah dia tempuh terasa sangat dan semakin membawa nya menjauhkan diri nya dari suatu peradaban yang sangat dia kenal.

Nino menghela dan menghembuskan nafas nya, mencoba untuk mengusir rasa lelah nya, dan kegelisahan yang mulai merayapi nya. Selepas kepergian ayah nya, kabar kematian atas meninggal nya ayah nya yang sangat mendadak dan penuh misterius, telah menyeret nya dan membawa nya kembali ke tempat yang selalu dihindari nya: rumah peninggalan kakek buyut nya yang berada dan terletak di Desa Sukadamai.

Sebuah desa yang jauh dari kota besar, jauh dari kata hiruk pikuk nya kota. Jauh dari kata ramai pada malam hari dan yang penuh kerlap kerlip lampu, sebuah tempat yang hanya dia dengar dari cerita - cerita samar dan bisikan - bisikan aneh di masa kecil nya dahulu.

Ayah nya tidak pernah mau dan selalu enggan untuk membicarakan perihal tentang desa ini, dia selalu mengalihkan topik pembicaraan dimana setiap kali Nino bertanya. Kini, Nino benar - benar mengerti kenapa dan mengapa ayah nya selalu menghindar kerap kali dia akan bertanya tentang perihal desa tersebut.

Saat mobil nya memasuki gerbang desa yang terbuat dari kayu - kayu tua, Nino merasakan beberapa tatapan - tatapan yang sangat aneh dari beberapa penduduk yang masih berkeliaran di sekitar desa.

Mereka berhenti sejenak dari setiap aktivitas nya, memandangi mobil nya dan menatap nya dengan sorotan mata yang sangat sulit diartikan -- campuran rasa ingin tahu, penuh rasa ketakutan, dan mungkin, sebuah rasa yang sarat akan kebencian.

Nino berusaha dan mencoba untuk tersenyum dengan ramah, namun sama sekali tak ada balasan dari mereka. Mereka hanya lah terdiam, seolah - olah kedatangan nya adalah suatu pertanda yang sangat buruk dan yang akan terjadi menimpa mereka.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda," suara yang serak dari seseorang lelaki yang tua tiba - tiba muncul dari balik semak - semak di samping mobil nya.

Nino terlonjak kaget. Lelaki itu, dengan wajah yang telah keriput dan mata yang cekung, mendekat ke jendela mobil nya dan lalu kemudian berkata.

"Sudah sangat lama sekali tidak ada keluarga Bapak di sini."

"Saya Nino, Pak" jawab Nino, mencoba untuk berusaha menjaga ketenangan hati nya. "Saya sengaja hari ini datang untuk mengurus rumah peninggalan kakek buyut saya, Pak"

Lelaki tua itu mengangguk pelan, namun tatapannya tetap dan tidak berubah.

"Rumah itu... memiliki cerita yang sangat banyak. Tuan Muda. Berhati - hatilah."

Setelah lelaki tua itu mengucapkan kalimat nya itu, lelaki tua itu pun berbalik dan kembali ke semak - semak yang pertama kali dia terlihat. Dan kemudian menghilang dalam kegelapan nya malam, meninggalkan Nino dengan penuh perasaan yang semakin tidak enak dan tidak nyaman.

Nino lalu kemudian melanjutkan perjalanan nya, mengikuti petunjuk arah yang telah diberikan oleh notaris. Tak lama berselang hanya seperkian menit kemudian, sebuah siluet rumah besar yang megah nan angker telah muncul di hadapan nya.

Dikelilingi oleh rimbun nya pohon - pohon beringin yang sangat tua yang menjulang tinggi, rumah itu tampak seperti raksasa yang tengah tertidur lelap dan enggan di ganggu. Rumah itu di selimuti oleh lumut - lumut hijau yang tumbuh subur, dan jaring laba - laba di setiap tempat dan ruangan, sangat terlihat kalau rumah besar itu tidak terawat jauh dari kata rapi dan bersih.

Jendela - jendela yang telah pecah diibaratkan seperti mata - mata kosong yang menatap nya tajam dan menusuk. Dan kemudian pintu utama yang terbuat dari kayu jati yang sangat tebal tampak seakan - akan dan seolah - olah tidak pernah dibuka oleh siapa pun selama berpuluh - puluhan tahun lamanya dan mungkin seperti berabad - abad.

Dia kemudian memarkirkan mobil nya di halaman yang ditumbuhi ilalang - ilalang yang setinggi pinggang. Begitu dia telah mematikan mesin mobil sedan tua nya, keheningan yang sangat mencekam langsung menyergap diri nya. Hanya suara - suara jangkrik dan desiran angin yang bertiup yang kemudian terdengar, seolah - olah alam pun ikut menahan napas nya.

Nino meraih tas ransel nya, mengambil kunci yang telah diberikan oleh notaris, dan melangkah keluar dari dalam mobil nya. Udara malam yang terasa lebih dingin dari seperti biasa nya, dan bulu kuduk nya pun mulai berdiri dan meremang.

Dengan langkah yang ragu, Nino mendekati pintu utama. Lalu kemudian mengambil kunci di dalam saku nya, kunci yang sudah berkarat itu berputar dengan susah payah nya di dalam lubang pintu, penuh s**a cita mengeluarkan bunyi derit panjang yang memekakkan telinga. Pintu kemudian terbuka, menampakkan kegelapan yang pekat di dalam nya.

Aroma apek, debu, dan sesuatu hal yang lain -- sesuatu yang sangat busuk dan sangat manis secara serentak bersamaan -- langsung menyergap indera nya. Nino menyalakan senter ponsel nya, menyorotkan sinar cahaya nya ke dalam setiap penjuru rumah.

Debu - debu yan tebal menyelimuti di setiap sudut ruangan. Perabotan - perabotan yang terlihat sudah sangat tua yang ditutupi kain putih tampak seperti hantu - hantu yang bersembunyi.

Di tengah - tengah ruangan, sebuah tangga kayu yang besar menjulang ke lantai dua, bayangan nya tampak menyeramkan di bawah sorotan senter.

Nino melangkahkan kaki nya memasuki ruangan tersebut, merasakan lantai kayu yang berderit di bawah kakinya. Setiap langkah nya terasa seperti mengganggu tidur panjang sesuatu yang sudah lama bersemayam di sana.

Tiba-tiba, sebuah suara " tok... tok... tok... " terdengar dari suatu tempat di dalam rumah. Suara itu pelan, namun jelas, seolah - olah ada seseorang yang mengetuk dinding dari dalam. Nino membeku, jantung nya berdebar keras dan kencang.

Dia menoleh ke segala arah, namun tidak menemukan apa - apa. Suara itu berhenti secepat dia muncul secepat itu p**a dia menghilang, meninggalkan Nino dalam keheningan yang lebih menakutkan dari sebelum nya.

Dia mencoba meyakinkan diri nya bahwa itu hanya suara angin atau mungkin tikus. Namun, naluri nya mengatakan hal yang berbeda. Dia tidak sendirian di rumah ini.
*****
Bersambung...

Lanjut membaca di aplikasi fizzo nya ya sobat qu semuanya...

*TERUNTUK YANG BACA*
semoga , kehidupanmu lebih baik dari sebelumnya , dimurahkan rezeki yang tak putus seperti air yang mengalir ,
segala kesusahanmu di gantikan dengan kesenangan ,dan segala kesedihan dan kekecewaan mu di gantikan dengan kebahagiaan .

Aamiiin 3x ya rabbal 'alamiin...🤲🏻🤲🏻

Assalamu'alaikum sobat qu semuanya... Selamat malam dan selamat beristirahat sobat qu semuanya... Hati-hati ya gaes kalo...
23/05/2026

Assalamu'alaikum sobat qu semuanya...

Selamat malam dan selamat beristirahat sobat qu semuanya...

Hati-hati ya gaes kalo ada "Tamu Tanpa Wajah Jangan Pernah Buka Pintunya"

Takutnya kalian bakaln diambil wajah dan identitas kalian loh...

Assalamu'alaikum sobat fbpro qu semuanya... Selamat malam minggu, kata orang malam yang panjang... Padahal ya sama.aja s...
23/05/2026

Assalamu'alaikum sobat fbpro qu semuanya...

Selamat malam minggu, kata orang malam yang panjang...

Padahal ya sama.aja sama malam2 yang lainnya kan?! Waktunya ya juga sama, apa nya coba yang bikin panjang sendiri?

Jangan lupa cek ricek review di app fizo ya sobat qu semuanya...

Baca dan langsung terjun ke jurang... ek salah terjun ke dunianya "Warisan yang Terlupakan"

Simak terus kisah-kisahnya, bantu dukung dan support nya untuk author baru kita ini yang naik pohon, oke gaes...

Oke deh gaes terimakasih udah lewat beranda kalian ya gaes...

Assalamu'alaikum sobat qu semuanya... Selamat sore, dan tetap waspada dalam berkendara ya bagi kalian yang p**ang abis k...
23/05/2026

Assalamu'alaikum sobat qu semuanya...

Selamat sore, dan tetap waspada dalam berkendara ya bagi kalian yang p**ang abis kerja...

Jangan lupa selalu perhatikan rambu-rambu lalu lintas, dan satu yang paling penting, bensinnya jangan lupa dilihat masih ada atau nggak. Ntar malah jalan baremg berdampingan lagi sama motornya...

Dan jangan lupa cek ricek review di aplikasi fizzo buat baca kelanjutan ceritanya "Bayangan di Jam 03.25"

Staycun dan pantengin terus semua karya-karyanya spectrum dilema oke gaes. Terimakasih...



Address

Jalan Kertawibawa
Purwokerto
53161

Opening Hours

Monday 09:00 - 21:00
Tuesday 09:00 - 21:00
Wednesday 09:00 - 21:00
Thursday 09:00 - 21:00
Friday 09:00 - 21:00
Saturday 09:00 - 21:00
Sunday 09:00 - 21:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ayahnya Miyesha posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share